Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Perasaan aneh.
Malam telah naik sempurna ke permukaan langit Seoul. Gemerlap lampu kota memantul di jendela besar studio rekaman LYNX yang setengah terbuka, menampilkan bayangan samar seorang pria yang tengah duduk sendirian di depan dua monitor menyala.
Suara click dari mouse terdengar sesekali, namun jemarinya tak benar-benar bekerja — hanya bergerak tanpa arah di atas Muse pad, sementara layar menampilkan notasi dan potongan lirik yang belum tersentuh.
Junho bersandar perlahan di kursinya. Pandangannya kosong, sesekali menatap layar, sesekali pada cangkir kopi yang sudah dingin di sisi kanan. Ada banyak hal di kepalanya, tapi semuanya seperti kabur — seolah tak ingin diurai.
“Junho-ya…" Suara bariton yang familiar memecah kesunyian studio. Junho sontak menoleh cepat, hampir menjatuhkan pena yang ada di tangannya.
“A-ah, Hyung-nim... mengagetkan saja,” ucapnya setengah gugup, menatap dua sosok yang kini berdiri di ambang pintu.
Jinwoo dan Yoohan, dua member tertua SOLIX yang sekaligus paling gemar mengganggu ketenangannya. Keduanya tertawa pelan melihat ekspresi adik mereka itu. Jinwoo menepuk bahunya ringan.
“Kau tidak sadar kami masuk? Kami sudah berdiri di sini hampir satu menit,” ujar nya yang membuat Junho mendengus, berusaha menutupi keterkejutannya.
“Tahu, hanya saja kalian terlalu tiba-tiba menepuk bahu. Aku kira staf kebersihan masuk,” balas nya yang membuat Yoohan mengejek nya dengan wajah menyebalkan, sedangkan Jinwoo langsung berkata.
“Alasanmu itu,” timpal Jinwoo sambil menatapnya geli. “Jujurlah, kau pasti sedang melamun. Wajahmu bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda manusia yang sadar akan dunia nyata,” lanjut nya.
Namun Junho hanya mendecak, mencoba menahan senyum, lalu memutar kursinya sedikit menghadap mereka. Kedua hyung-nya sudah duduk santai di sofa studio dengan sekotak ayam goreng di meja. Aroma bumbu gurih memenuhi ruangan, mengalahkan bau mesin pendingin ruangan yang terlalu steril.
“Jadi, bagaimana rasanya setelah misi rahasiamu selesai?” ujar Jinwoo dengan nada menggoda.
“Misi apa lagi?” Junho menatap keduanya dengan heran, lalu mengambil sumpit dari kotak kayu kecil di meja.
Ia ikut mengambil sepotong ayam, menggigitnya tanpa ekspresi. Yoohan menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatapnya dengan pandangan tenang yang sering kali membuat orang salah tafsir antara kebijaksanaan dan keisengan.
“Misi merekrut penulis itu ke dalam tim kita, tentu saja. Kau terlihat… luar biasa bahagia akhir-akhir ini. Apa aku salah?” ujar nya jelas mengejek Junho, hal itu membuat Junho menurunkan sumpitnya perlahan, menatap dua kakaknya itu dengan ekspresi datar.
“Salah besar. Aku bahagia karena hal lain, bukan karena dia,” ujar nya yang membuat Jinwoo menaikkan satu alisnya.
“Begitukah? Padahal kupikir penulis itu cukup berhasil mengubah suasana tim sejak datang. Bahkan Hoseung saja bilang kau lebih sering tersenyum,” kata nya yang membuat Junho mendengus kecil.
“Jangan mulai, Hyung, aku tersenyum karena proyeknya berjalan lancar, bukan karena seseorang,” balas Junho datar, namun hal itu malah membuat Yoohan tertawa kecil.
“Lalu kenapa tadi saat orientation meeting, aku sempat menangkap kau menatap Nala-ssi cukup… lama, ketika dia berbicara dengan Jeongin?” tanya nya yang membuat Junho langsung menoleh dengan cepat.
“Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya… tidak sengaja melihat ke arah itu. Layar presentasi di belakangmu cukup silau,” ujar nya yang membuat Jinwoo dan Yoohan tertawa dengan alasan yang sangat tidak masuk akal itu.
“Silau, hm?” Jinwoo menyandarkan dagunya di tangan, menatapnya seolah menilai setiap ekspresi Junho. “Silau sampai membuatmu lupa kalau Jeongin sedang bercanda memintanya memanggil Oppa?” lanjut nya yang membuat Yoohan hampir tersedak tawa, memukul pelan paha Jinwoo.
"Jangan bilang kau juga mendengar itu?” tanya nya yang membuat Jinwoo mengangguk, karena rumor itu menyebar cepat ke seluruh gedung.
“Seluruh ruangan mendengarnya, Yoon,” balas Jinwoo tanpa menatapnya. “Tapi tampaknya hanya satu orang yang tidak menganggapnya lucu.” Tatapannya melirik halus ke arah Junho.
Junho terdiam. Ia menatap layar laptop yang kini gelap, pantulan wajahnya samar di layar — dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tak tahu harus menjawab apa.
“Aku hanya... memastikan dia bisa menyesuaikan diri,” ujarnya akhirnya, suara pelan tapi tegas, seperti seseorang yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
“Menyesuaikan diri, menarik. Biasanya kau tidak pernah peduli pada karyawan baru, apalagi yang bukan bagian dari tim musik,” ulang Yoohan pelan, senyum samar terbentuk di wajahnya.
“Dia di Conceptual Storyline, Hyung. Semua proyek visual SOLIX ada di bawah tim itu, jadi wajar kalau aku ingin memastikan semuanya lancar,” balas Junho cepat, seolah itu alasan paling masuk akal di dunia.
“Ah, tentu,” gumam Jinwoo, mencondongkan tubuhnya. “Kau hanya memastikan semuanya lancar... termasuk kalau seseorang berbicara terlalu lama dengan Jeongin? Wajah mu merah Junho-ah... kau tidak bisa berbohong lagi,” lanjut nya yang membuat Junho menatapnya tajam entah karena kesal atau malu.
“Kau benar-benar terlalu banyak waktu luang, Hyung,” ujar nya yang membuat kedua kakaknya tertawa keras, puas dengan hasil godaan mereka.
Namun setelah tawa itu mereda, Yoohan menatap Junho sedikit lebih serius — dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya.
“Junho-ya… kau tahu, tidak apa-apa jika kau tertarik padanya. Tidak ada yang salah dengan itu. Dia gadis yang cerdas, tulus, dan punya cara bicara yang tenang. Tapi kalau memang bukan itu, maka berhentilah menatap seperti seseorang yang kehilangan arah setiap kali dia lewat,” Ucapan itu menancap halus, seperti paku kecil di dalam dada.
Junho tidak menjawab. Ia hanya menatap layar komputer di depannya, yang kini menampilkan berkas kosong bertuliskan: Untitled Song.
"Pulanglah jangan diam di sini, kita tidak semiskin itu sekarang," ujar nya sembari menepuk pundak Yoohan dan keluar dari ruangan tersebut.
Setelah pintu tertutup Junho kembali bersandar memejamkan mata nya sejenak hingga akhirnya dia menghela nafas panjang.
“Apa yang sebenarnya aku pikirkan…” bisiknya pada dirinya sendiri.
Namun bahkan setelah sepuluh menit berlalu, dia masih belum menemukan jawabannya.
════ ⋆★⋆ ════
“Hallo, Ma,” ujar Nala sembari duduk di tepi ranjang, badannya masih lelah setelah seharian bekerja di kantor barunya. Itu hari pertamanya, dan dia benar-benar kesulitan karena ternyata banyak orang di sana yang sama sekali tidak mengerti sepenuhnya bahasa Inggris. Hanya Eunseok, Hamin, dan Jeongin—teman-teman barunya—yang bisa memahami dengan baik.
“Hallo, Nyai... Ya Allah, iraha arek mulih ka Indonesia?” (Ya Allah, kapan mau pulang ke Indonesia?) tanya sang ibu dengan wajah khawatir di balik layar ponselnya.
Selama seminggu terakhir setelah acara penghargaan itu, Nala memang belum sempat mengabari lagi tentang pekerjaannya pada keluarga di Sukabumi. Bukan karena tidak mau, tapi karena terlalu banyak kesibukan—administrasi, orientasi kantor, dan seribu urusan kecil lainnya yang tak ada habisnya.
“Ma, Nala sepertinya akan sangat lama di sini... karena Nala menerima pekerjaan di sini,” ujar Nala pelan, sedikit canggung.
Sang ibu langsung terdiam beberapa detik, lalu mengerutkan kening.
“Heh? Jadi sekarang tinggal di sana, di Korea itu?" tanya nya bingung sedangkan Nala hanya bisa mengangguk pelan.
“Iya, Ma... Nala kerja di perusahaan musik besar, namanya LYNX Entertainment,” sahut Nala berusaha menjelaskan pelan pelan, meskipun sang ibu jelas menunjukkan kebingungan.
“LY... naon? Lenyepan? (LY... apa? Lenyepan?)" tanya nya bingung, namun ucapan itu malah membuat Nala tertawa geli, mendengar ucapan aneh dari ibu nya.
“LYNX, Ma... bukan lenyepan. Itu agency music yang cukup besar se asia,” ujar Nala namun Sumiati hanya menghela napas berat.
“Aduh, Nala... Mama mah teu ngarti atuh. Anjeun teh sakola jauh-jauh, ayeuna kerja jauh deui. Nanti kumaha makanna? Sok ati-ati ulah dahar nu aneh-aneh. Kadaharan urang Sunda mah leuwih merenah keur awak urang. (Aduh, Nala... Mama tidak mengerti, kamu sekolah jauh-jauh, sekarang kerja jauh lagi. Nanti gimana makannya? Hati-hati jangan makan yang aneh-aneh. Makanan orang Sunda lebih cocok buat badan kita.)" ujar nya yang membuat Nala terkekeh.
“Iya, Ma, tenang aja. Nala masih masak sendiri kok,” balas Nala .
“Masak? Tapi bahannya beda dong! Jangan sembarangan, jangan makan daging yang tidak jelas halalnya! Kamu tuh perempuan, harus jaga diri. Ingat salat, ingat Tuhan, jangan cuma ingat tulisan saja. Harta dan ilmu tidak ada artinya kalau hati tidak ingat pada Sang Pencipta," Ujar nya khas ibu ibu kebanyakan yang tak pernah lupa menasihati anak nya, apalagi dia tinggal di tempat yang cukup bersinggungan dengan banyak hal.
“Yaampun, Ma... baru juga kerja sehari sudah dikuliahin,” Nala pura-pura manyun, tapi senyumnya lembut.
“Lah Mama mah ngomong teh lain kuliah, tapi pitutur,” jawab ibunya cepat. “Eta bédana kuliah mah kudu bayar, mun pitutur mah gratis, tapi kudu diinget,” (Lah ibu ngomong tuh bukan kuliah, tapi nasihat. Bedanya kuliah tuh harus bayar, kalau nasihat gratis, tapi harus diingat)." Lanjut nya yang membuat Nala tertawa lepas.
Sementara di ujung layar ibunya ikut tersenyum, bangga tapi juga sedih karena putri nya lagi lagi harus jauh dari nya, dahulu dia harus merelakan Nala tinggal di Jakarta meskipun usianya masih muda, dan sekarang malah semakin jauh dari dirinya.
“Pokoknya, jaga diri di sana ya, Nala. Kalau capek, istirahat. Kalau lapar, makan. Kalau kangen kami, video call lagi. Ingat kata Mama jangan tinggalkan ibadah apapun yang terjadi, jika bukan berlindung pada Tuhan lalu pada siapa lagi," ujar nya yang membuat Nala mengangguk cepat.
“Siap, Ma... nanti Nala kabarin terus,” ucap Nala lembut, sebelum akhirnya mereka menutup panggilan dengan doa panjang khas seorang ibu yang tidak pernah berhenti khawatir.
"Yasudah... Mama tutup ya, assalamu'alaikum," ujar nya yang membuat Nala tersenyum.
Setelah panggilan itu berakhir, layar ponselnya kembali gelap, hanya memantulkan wajah lelah yang disinari lampu kamar apartemen. Nala terdiam sejenak, menatap pantulan dirinya sendiri di layar. Ada rasa hangat di dada setiap kali mendengar suara ibunya — campuran antara rindu, haru, dan sedikit rasa bersalah karena selalu berada jauh dari rumah.
Dia berjalan pelan ke arah jendela, menarik gorden sedikit. Dari lantai dua puluh, kota Seoul terlihat seperti lautan cahaya yang tak pernah tidur. Mobil-mobil berbaris rapi di bawah sana, gedung-gedung tinggi menjulang dengan lampu-lampu berkilau.
“Indah, tapi… tidak sehangat rumah,” gumamnya kecil, sambil menyandarkan kepala di kaca dingin.
"Yaallah, apa pilihan ini tepat? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang besar akan terjadi padaku," ujar nya sembari menghela nafas panjang, hingga akhirnya beberapa detik kemudian, dia menghela napas panjang, lalu berbalik.
“Sudahlah, mandi saja sebelum semakin gelisah,” katanya sendiri.
Dia menuju kamar mandi, melepas cardigan kerjanya yang masih beraroma parfum kantor. Air hangat yang jatuh dari shower terasa seperti pelukan kecil setelah hari yang panjang—membilas letih, juga kerinduan.
Tak lama, dia keluar dengan rambut basah dan piyama tipis berwarna biru muda. Nala menyalakan aroma lavender di diffuser kecil di meja kerja, lalu meraih ponselnya sekali lagi. Foto keluarganya di Sukabumi terpampang di wallpaper layar — ibu, ayah, Raka, dan Alya dengan senyum khas mereka.
“Ma, Nala janji bakal kuat di sini…” bisiknya pelan, sambil menarik selimut sampai ke dagu.
Beberapa detik kemudian, matanya mulai terpejam. Suara mesin kota di luar jendela perlahan memudar, tergantikan oleh irama napas tenang dari seseorang yang baru saja memulai babak baru dalam hidupnya.