Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sianosis di Udara dan Ketakutan Sang Komandan
Adrenalin adalah penipu yang ulang. Hormon itu mampu menekan rasa sakit, mengabaikan kelelahan, dan memberikan ilusi bahwa tubuh baik-baik saja hingga misi benar-benar selesai.
Namun, ketika helikopter Black Hawk itu melesat membelah langit Sumatera meninggalkan situs megalitikum di bawah sana, hormon tersebut perlahan menguap dari aliran darah Dr. Lyra Andini. Dan saat ilusi itu runtuh, realitas biologis menagih utangnya dengan sangat brutal.
Awalnya hanya berupa deheman kecil.
Lyra, yang masih menyandarkan kepalanya di bahu bidang Kolonel Rayyan Aksara, terbatuk pelan. Ia menutupi mulutnya dengan punggung tangan.
Rayyan langsung menunduk menatapnya. Otot rahang pria itu menegang. “Lyra? Udara di kabin terlalu dingin?”
“T-tidak,” suara Lyra terdengar aneh, serak dan sedikit bergetar. Ia mencoba tersenyum meyakinkan. “Hanya… sisa debu batu di tenggorokan.”
Rayyan mengangguk pelan, meski tatapan matanya tidak lepas dari wajah gadis itu. Tangan Rayyan merengkuh bahu Lyra lebih erat, memberikan kehangatan tubuhnya.
Namun, satu menit kemudian, batuk kecil itu berubah menjadi rentetan batuk kering yang keras. Tubuh mungil Lyra berguncang hebat di setiap tarikan napasnya.
Rayyan segera menegakkan tubuhnya, menahan bahu Lyra dengan kedua tangannya. “Lyra, tatap aku.”
Lyra mendongak, dan apa yang dilihat Rayyan seketika membekukan darah di pembuluh nadinya.
Wajah Lyra yang tadi merona kini berubah sepucat kertas. Keringat dingin sebesar biji jagung membanjiri dahi dan pelipisnya. Yang paling mengerikan adalah bibir gadis itu; warna merah mudanya memudar cepat, berganti menjadi semburat kebiruan yang mematikan—sianosis. Tanda mutlak bahwa oksigen berhenti mengalir ke darahnya.
Dada Lyra naik-turun dengan sangat cepat namun dangkal. Sebuah suara wheezing yang bernada tinggi dan menyayat hati terdengar keluar dari tenggorokannya setiap kali ia mencoba meraup udara.
Gas amonia dan hidrogen sulfida purba yang ia hirup saat memberikan maskernya pada Rayyan di dalam piramida tadi tidak hanya mengiritasi; gas itu memicu reaksi peradangan ekstrem pada saluran pernapasan Lyra yang memang sudah memiliki riwayat asma. Tabung bronkialnya membengkak dan menyempit secara brutal.
“Medis!”
Raungan Rayyan menggelegar, mengalahkan deru mesin empat pendorong turboshaft helikopter. Suara itu bukan lagi teriakan komando sang Kolonel, melainkan jeritan panik seorang pria yang melihat dunianya hancur.
Letnan Jati dan Kopral Dito tersentak dari kursi mereka di seberang kabin. Prajurit medis penerbangan yang berjaga di dekat kokpit langsung melompat membawa tas darurat berwarna merah.
“Dia tidak bisa bernapas! Saluran napasnya menyempit!” Rayyan berteriak, matanya membelalak lebar. Tangannya yang biasa memegang senapan runduk tanpa bergetar sedikit pun, kini gemetar hebat saat meraba-raba saku rompi taktis Lyra.
Di mana inhaler-nya? Di mana?! Batin Rayyan.
Lyra mencengkeram kerah kemeja Rayyan dengan jari-jari yang memutih. Gadis itu terengah-engah, matanya memancarkan ketakutan murni saat ia merasa seolah ada sabuk baja yang mencekik paru-parunya. Ia membuka mulutnya, mencoba berbicara, namun tidak ada suara yang keluar selain bunyi mengi yang menyakitkan.
“Aku di sini, Lyra. Aku di sini. Jangan tutup matamu!” Rayyan menemukan tabung inhaler salbutamol biru kecil dari saku dada Lyra.
Dengan tangan gemetar, Rayyan membuka tutupnya, mengocoknya cepat, lalu menempelkan corong alat itu ke sela bibir Lyra yang membiru.
“Tekan saat kau menarik napas, Lyra. Bersama-sama. Satu… dua… tiga!”
Psst!
Rayyan menekan tabung itu. Lyra mencoba menarik napas panjang, namun saluran napasnya terlalu bengkak. Obat itu hanya tertahan di tenggorokan dan ia kembali terbatuk keras, memuntahkan sisa udara di paru-parunya. Tubuhnya melemah, kepalanya terkulai ke depan, bertumpu pada dada Rayyan.
“Sialan! Obatnya tidak masuk!” Rayyan mengumpat frustasi. Ia menatap prajurit medis yang baru saja tiba di sampingnya. “Inhaler tidak mempan! Dia butuh oksigen tekanan tinggi dan bronkodilator intravena! Sekarang!”
“S-siap, Kolonel!” Prajurit medis itu, yang nyalinya sedikit menciut melihat kepanikan brutal komandannya, segera membuka tas merahnya. Ia mengeluarkan sebuah masker oksigen bening yang terhubung dengan tabung hijau portabel.
Rayyan merenggut masker itu dari tangan sang medis bahkan sebelum pria itu sempat menawarkannya.
Rayyan membuang inhaler yang tak berguna itu ke lantai kabin. Ia menangkup wajah Lyra dengan kedua tangannya, mengangkat wajah kekasihnya yang mulai kehilangan kesadaran itu, lalu menempelkan masker oksigen dengan rapat menutupi hidung dan mulutnya.
Ia memutar katup tabung oksigen ke aliran maksimal. Terdengar bunyi desisan tajam dari oksigen murni yang dipompa keluar.
“Lyra, dengarkan suaraku,” suara Rayyan bergetar, pertahanan bajanya runtuh tak bersisa. Ia mendekatkan wajahnya hingga hidungnya nyaris menyentuh plastik masker yang dikenakan Lyra. “Fokus pada mataku. Kau mendengarku?”
Kelopak mata Lyra bergerak pelan, setengah terbuka, menatap mata tajam Rayyan yang memerah karena panik dan menahan tangis.
“Ingat di dalam piramida tadi?” Bisik Rayyan parau, ibu jarinya mengusap pipi Lyra yang sedingin es dengan putus asa. “Kita berbagi napas. Tiga detik untukmu. Tiga detik untukku. Sekarang aku butuh kau melakukan hal yang sama. Jangan serahkan paru-parumu pada gas sialan itu. Ikuti ritmeku.”
Rayyan mengambil napas dalam-dalam, melebih-lebihkan gerakan dadanya agar Lyra bisa melihatnya.
“Tarik… satu… dua… tiga…” Rayyan memandu dengan suara beratnya, matanya menolak berkedip.
Lyra mencoba mengikuti instruksi tersebut. Dengan bantuan tekanan oksigen murni yang dipompa paksa ke hidungnya, setitik udara bersih berhasil menembus tabung bronkialnya yang bengkak. Dadanya terangkat sedikit.
“Bagus. Sangat bagus, Sayang.” Rayyan tanpa sadar memanggilnya dengan sebutan itu, keputusasaannya membuat semua saringan formalitasnya hilang. “Keluarkan pelan-pelan. Sekali lagi. Tarik.”
Di samping mereka, prajurit medis dengan cekatan mencari urat nadi di lengan Lyra dan menyuntikan dexamethasone cair untuk meredakan pembengkakan ekstrem di saluran napasnya dengan cepat.
Satu menit berlalu seperti satu abad bagi Rayyan. Ia tidak memedulikan Letnan Jati dan Kopral Dito yang berdiri kaku menahan napas di seberangnya. Ia tidak memedulikan guncangan helikopter. Seluruh dunianya, seluruh sisa kewarasannya, bergantung pada naik-turunnya dada mungil di bawah tangannya.
“Ayo, Lyra. Tetap bersamaku. Berjuanglah sedikit lagi,” bisik Rayyan, menyandarkan dahinya ke tepi masker plastik Lyra.
Perlahan, keajaiban dari farmakologi modern dan oksigen murni mulai bekerja.
Obat itu meredakan peradangan di paru-paru Lyra. Suara wheezing bernada tinggi itu perlahan mereda menjadi tarikan napas serak yang lebih panjang. Keringat dingin di dahinya mulai berkurang, dan yang paling melegakan bagi Rayyan… semburat biru di bibir Lyra perlahan memudar, digantikan oleh warna pucat yang jauh lebih normal.
Lyra menarik napas panjang, paru-parunya akhirnya mengembang penuh. Ia memejamkan mata, air mata lolos dari sudut matanya akibat rasa sakit dan kelegaan yang datang bersamaan.
Tangan Lyra yang lemas terangkat pelan, menyentuh pergelangan tangan Rayyan yang masih memegangi masker oksigen di wajahnya.
Rayyan menahan napas. Ia melihat mata Lyra terbuka, menatapnya dengan kesadaran yang sudah kembali penuh.
“Saturasi oksigennya mulai naik, Kolonel. Angkanya mencapai sembilan puluh dua persen,” lapor prajurit medis sambil melihat alat oximeter yang dijepitkan di jari Lyra. Pria itu menghela napas lega hingga bahunya merosot. “Masa kritisnya sudah lewat. Dia stabil.”
Mendengar kata “stabil”, seluruh tenaga di tubuh Rayyan seolah tersedot habis.
Pria yang baru saja melumpuhkan paramiliter bersenjata lengkap tanpa berkedip itu kini menjatuhkan dagunya ke dadanya sendiri. Tangan Rayyan yang tidak memegang masker turun ke lantai kabin, menopang berat tubuhnya agar ia tidak merosot. Bahu besarnya bergetar halus.
Lyra, yang masih menghirup oksigen dari masker, menggeser tubuhnya mendekat. Mengabaikan selang hijau panjang yang menjuntai di wajahnya, ia melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Rayyan, menyandarkan kepalanya yang masih pening ke dada bidang pria itu.
Rayyan langsung bereaksi. Ia membuang jauh-jauh sisa jarak di antara mereka. Pria itu merengkuh Lyra ke dalam pelukannya dengan sisa tenaga yang ia miliki, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher dan bahu Lyra.
Cengkeraman Rayyan sangat erat, nyaris posesif, seolah ia sedang memastikan bahwa tubuh di pelukannya ini benar-benar nyata dan tidak akan memudar menjadi debu.
“Kau bodoh. Kau benar-benar wanita paling bodoh,” bisik Rayyan parau di telinga Lyra, suaranya dipenuhi oleh amarah yang lahir dari ketakutan tergelapnya. “Kau melepas maskermu di tengah gas beracun. Kau tahu paru-parumu sensitif dan kau tetap melakukannya untuk menyelamatkanku.”
Lyra tersenyum dibalik maskernya. Ia membelai rambut belakang Rayyan dengan lembut. Ia tidak bisa menjawab karena terhalang plastik pelindung, tetapi usapannya di punggung Rayyan mengisyaratkan satu hal: Aku akan melakukannya lagi jika itu berarti kau selamat.
Rayyan memundurkan wajahnya sedikit, menatap Lyra dengan mata yang memancarkan badai emosi.
“Jika kau melakukan hal seceroboh itu lagi,” Rayyan mengancam dengan nada rendah, ibu jarinya mengusap air mata di sudut mata Lyra. “Aku bersumpah, Lyra, aku akan mengurungmu di ruang arsip paling aman di markas besar dan membuang kuncinya. Aku tidak sanggup melihatmu berhenti bernapas.”
Lyra melepaskan sebelah tangannya dari pinggang Rayyan, menarik masker oksigennya sedikit ke bawah dagu hanya untuk satu detik.
“Kau tidak akan mengurungku, Komandan,” bisik Lyra serak, suaranya lemah namun matanya berkilat penuh kemenangan. “Karena obormu tidak akan bisa menyala tanpa pedangnya.”
Lyra segera memasang kembali maskernya, menghirup udara murni, lalu tersenyum manis dari balik plastik bening itu.
Rayyan menatapnya, tidak tahu harus marah atau tertawa melihat keras kepalanya sang arkeolog yang bahkan diambang kematian masih sempat membalas argumennya. Pada akhirnya, pertahanan sang komandan kembali luluh.
Rayyan menghela napas panjang, mengecup kening Lyra yang berkeringat dengan sangat lama dan penuh kelembutan. Ia kembali memeluk gadis itu, membiarkan deru mesin helikopter membawa mereka menjauh dari bahaya, menuju rumah.
“Ya,” bisik Rayyan pasrah, mengusap punggung Lyra dengan ritme yang menenangkan. “Kau menang, Lyra. Kau memenangkan semuanya.”