Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jasad Ratna—2
Novita bergegas menyimpan uang dan emas batangan yang diberi oleh Genderuwo.
kini ia dapat menikmati harta yang melimpah itu seorang diri—tanpa berbagi dengan dengan ibunya.
Bayangan akan plesiran ke luar negeri sudah tergambar jelas di wajahnya. Ia tak sabar untuk menikmatinya.
Setelah menyembunyikan semua hartanya, ia melangkah menuju ke arah jasad Ratna. Ia tampak sedang berfikir keras, bagaimana cara menghindari bau bangkai yang pastinya akan sangat menyengat.
Tatapannya bukan lagi tentang kesedihan, tetapi lebih—bagaimana cara menyelamatkan dirinya.
"Freezer," tiba-tiba saja ia teringat akan benda berbentuk kubus tersebut.
Ia segera menuju dapur, tatapan tertuju pada lemari pembeku yang biasanya digunakan untuk menyimpan daging, ikan, dan frozen food—sebagai persediaan bahan pangan mereka.
"Aku pesan yang baru saja, dari tokonya kang Darto," ia melihat isi freezer yang penuh, beralih dengan niatnya semula.
Dengan cepat, ia membuka layar ponselnya, dan menghubungi tokoh perabot dan elektronik yang paling lengkap di Desa Getih.
"Hallo, Kang, ini Novita, apa di toko ada jual freezer yang biasa buat es krim?" tanyanya saat panggilan tersambung, sembari menjelaskan dengan detail.
"Waduh, gak ada, Nov. Baru saja dibeli sama pemilik warung sembako," jawabnya dari seberang telepon.
"Warung sembako Bi Inem?"
"Ya, si Inem,"
Jawaban itu membuat Novita sedikit putus asa.
"Ya—sudah, Kang. Nanti saya coba nawar le Bi Inem, mungkin saja dia mau kalau saya yang bayari," Novita memutus panggilan teleponnya.
Ia berfikir keras, mencoba mencari cara, agar Inem mau menjual freezer tersebut kepadanya.
"Aku akan kesana." ia beranjak dari tempatnya, dan menuju warung.
Sementara itu, Alawiyah sedang berjalan dengan perut yang terasa begah.
Langkahnya cukup lamban, dan sesekali menarik nafasnya yang terasa berat.
Saat bersamaan, Bagas yang akan berangkat ke sawah, memperlambat laju motornya.
"Roh, yuk, Mas anterin ke warung, lagian juga melewati." pemuda itu menghentikan motornya.
Alawiyah menatap Bagas yang menawarkan tumpangan padanya.
Ia mengatur nafasnya yang terasa berat, lalu menatap pria tersebut.
"Terimakasih, Mas. Saya mau sekalian olahraga, biar nanti lahirannya lancar," tolaknya dengan halus.
Bagas terdiam sejenak, lalu mengulas senyum datar.
"Oh, ya—Sudah. Saya jalan duluan." ia berpamitan, lalu melanjutkan perjalanannya.
Alawiyah merasa lega, setidaknya tak merasa sungkan, lagi pula, apa kata para tetangga, jika mereka berboncengan.
Ia melanjutkan langkahnya menuju warung, ingin membeli gula dan juga teh, serta minyak goreng.
Setibanya di sana, warung sembako itu tampak ramai, karyawannya yang berjumlah sepuluh orang, tampak sangat kewalahan.
Alawiyah mengatur nafasnya yang tersengal, lalu memilih untuk duduk sejenak.
Saat bersamaan, Novita turun dari motornya, dan tampak tergesa-gesa, hingga tak memperhatikan orang di sekitarnya.
"Bi, Bi Inem." wajahnya tampak begitu panik.
"Eh, Nov. Ada apa? Tumben kamu ke warung?"
Wajah wanita itu tampak sangat penasaran, sebab selama.ini, yang selalu ke warungnya adalah ibunya.
"Bi, saya mau beli freezer itu, noleh—ya?" ia tampak memaksa.
"Wah, gak bisa, Nov. Saya sangat butuh buat nyimpan stok barang dagangan saya," tolak Inem dengan cepat.
"Saya juga butuh, Bi. Soalnya mau nyimpen daging," Novita terus dengan mode memaksa.
Inem mendengkuskan nafasnya dengan kasar. Lalu menatap Novita dengan lekat.
"Nov, kamu kalau kelebihan nyimpan daging, ya di masak, di bagikan ke tetangga, biar gak mubazir," saran Inem pada gadis tersebut.
"Kalau punya saya, kan jelas untuk dagangan, jadi harus dalam bentuk fresh." Inem kembali menimpali ucapannya, dan terus menekan ucapannya.
Novita terdiam sejenak, dan mencoba berfikir. "Iya, juga—ya?" ia membenarkan ucapan inem yang dianggapnya solusi paling gampang.
Dengan cepat ia menyetujuinya. "Baik, Bi. Makasih sarannya." ia berpamitan, dan saat bersamaan ia tertabrak tubuh Alawiyah yang saat itu baru saja selesai mengambil minyak goreng dan belanjaan yang dibutuhkannya.
Mata mereka saling beradu pandang, dan Novita tersenyum menyeringai, lalu memilih pergi dengan perasaan yang senang.
Alawiyah merasakan hal yang sangat tak biasa pada senyum itu, tetapi mencoba mengabaikannya.
Jujur saja, saat ini—ia sangat ingin makan mie instan dengan aroma dan rasa soto. Lalu menuju kasir dan membayarnya.
Inem menatapnya sangat dalam. "Kowe iki sopo, toh?"
"Menantunya Mbok Ratih," jawab Alawiyah dengan seramah mungkin.
"Oh, si Ratih." ia menganggukkan kepalanya. "Kamu istri nya Bagas atau Bayu?" ia kembali bertanya, rasa ingin tahu cukup besar bergelayut di hatinya.
"Bayu," jawab Alawiyah singkat. "Ini di hitung, berapa belanjaan saya, Mbak?"
Alawiyah menyodorkan belanjaannya, dan sejujurnya ia merasa sangat malas untuk saling sapa dengan warga sekitar, apalagi setelah tau mereka semuanya pemuja jin Ba'al, dan menjadikan keluarga mertuanya sebagai target tumbal.
"Oh, iya." Inem langsung menekan keyboard pada papan kalkulator. "Tujuh puluh ribu," sebutnya, lalu menatap pada perut Alawiyah yang membuncit.
Tatapannya seperti melihat makanan yang sangat nikmat.
"Ini uangnya." Alawiyah menyerahkan uang selembar seratus ribu, sembari memasukkan barang belanjaannya ke dalam kantong kresek.
Dengan cekatan Ia mengembalikan sisanya. "Namamu siapa?"
"Rohana." Alawiyah mengambil sisa uangnya.
"Nama ayahmu?"
"Tresno,"
Inem tersenyum lebar, dan wajahnya terlihat sangat sumringah.
"Ini, saya mau beri sedikit rezeki, buat calon bayimu, belilah apa yang kau inginkan," Inem memberikan uang dua ratus ribu rupiah kepada Alawiyah, dan meletakkannya paksa di telapak tangannya.
"Banyak bener, Mbak?" Alawiyah merasa sungkan.
"Sudah, jangan ditolak," Inem tampak memaksa.
Alawiyah hanya mengulas senyum tipis. Ia bingung harus sapa. "Makasih, Mbak." ia berpamitan.
Saat keluar dari warung, ia merasa seperti ada yang mengikutinya, dan punggungnya terasa menebal.
Ia menoleh ke arah belakang, dan tidak ada apapun, tetapi seolah sesuatu itu terus saja menempel dipunggungnya.
"Astaghfirullah." pekiknya tertahan, saat melihat sosok makhluk berambut panjang, dan mengenakan gaun merah sedang berdiri di depan warung, tatapannya begitu menakutkan.
Alawiyah bergegas pergi meninggalkan warung inem, yang ternyata menggunakan pesugihan Kuntilanak merah.
Sementara itu, Novita sedang sibuk dikamar mandi. Ia sedang mem—fillet sesuatu, hingga mengumpulkan daging sebanyak satu ember besar.
Dengan wajah lelah, akhirnya ia menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah tiba waktu hampir Maghrib, ia menghubungi Juminten, dan juga Gina.
[Bi, datang ke rumah saya, ya. Ada acara makan-makan, syukuran].
Pesan yang di kirimkan ke semua teman ibunya.
[Saya dan Gina lagi menuju Pesarean, jadi gak bisa datang. Maaf, ya.]
Gina mengirimkan pesan balasan, disertai foto mereka yang sedang berada di dalam mobil.
Sementara itu, Sarinah, Inem, Surti, Suketi, membalas pesan Novita, dan berjanji datang malam nanti.
Novita mengulas senyum simpul, dan tugasnya sudah beres.
"Kenapa kamu masak dagingnya?" tiba-tiba Genderuwo datang dengan wajah penasaran.
"Cara gampang menghilangkan jejak," jawab Novita.
"Heeem, tumben pinter. Baguslah. Semangat lagi ya, cari tumbalnya—ya," Genderuwo menyemangati Novita yang sudah hilang arah.
"Iya, makasih, kamu baik banget,"
"Ah, bisa saja," Genderuwo itu tersenyum malu-malu, lalu menghilang.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏