Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Bayangan Masa Lalu
Renard tahu sebelum Sekar mengatakan apa pun.
Malam itu, ia datang ke Paviliun Mei tanpa pemberitahuan. Tidak lewat pintu depan yang biasa digunakan pelayan, melainkan dari koridor samping yang menghadap kebun. Sekar baru selesai mengganti perban tipis di jarinya ketika bayangannya jatuh di lantai.
"Kamu masuk ke koridor belakang."
Itu bukan pertanyaan.
Sekar berdiri. "Aku hanya melihat."
"Aku tidak bertanya apa yang kamu lakukan."
Suaranya rendah. Terlalu rendah. Sekar merasa kulit di belakang lehernya menegang.
"Aku tidak membuka pintunya."
Renard melangkah masuk. Wajahnya tenang, tetapi justru ketenangan itu membuat ruangan terasa mengecil.
"Jangan pernah masuk ke sana."
"Pintunya terkunci."
"Kamu punya kebiasaan buruk berdiri terlalu dekat dengan pintu yang seharusnya tidak kamu lihat."
Sekar menahan napas. "Kalau tidak boleh dilihat, kenapa memberiku kunci Rumah Tua?"
Mata Renard mengeras.
Untuk pertama kalinya sejak ia mengenalnya, Sekar melihat amarah Renard tidak dingin. Ia panas, mendadak, dan terlalu dekat dengan sesuatu yang retak.
"Karena aku memberimu kunci ke rumah," katanya. "Bukan ke kuburan."
Sekar membeku.
Kata itu jatuh terlalu berat.
"Apa yang ada di sana?" tanyanya pelan.
"Tidak ada yang perlu kamu tahu."
"Renard, goresan di pintu itu..."
"Cukup."
Satu kata itu memukul udara.
Sekar mundur setengah langkah tanpa sadar. Punggungnya menyentuh tepi meja rias. Ia membenci tubuhnya karena bereaksi seperti itu, tetapi suara Renard barusan bukan suara pria yang biasa mengancam dengan elegan. Itu suara seseorang yang hampir kehilangan kendali.
Renard melihat gerak mundurnya.
Amarah di wajahnya berhenti.
Tidak hilang. Hanya seperti ditahan paksa dengan kedua tangan.
Ia memalingkan wajah. Rahangnya bekerja keras.
"Jangan pernah masuk ke sana," ulangnya, kali ini lebih pelan. "Kalau kamu percaya padaku sedikit saja, ingat itu."
"Aku tidak takut pada pintunya," kata Sekar, meski suaranya tidak setegas yang ia inginkan.
Renard menatapnya kembali.
"Seharusnya takut."
Ia pergi setelah itu.
Sekar berdiri lama di kamar yang mendadak terlalu sunyi. Di atas meja, kunci Rumah Tua tergeletak seperti benda asing. Beberapa jam lalu ia menganggapnya izin. Sekarang ia tidak yakin apakah kunci itu diberikan untuk membuka dunia Renard, atau untuk menguji sejauh mana ia bisa bertahan sebelum dunia itu melukainya.
Pipinya tidak ditampar, tubuhnya tidak disentuh, tetapi rasa takut yang tertinggal hampir sama dengan setelah bertemu Lilian. Bedanya, ketakutan pada Lilian membuat Sekar ingin bersembunyi. Ketakutan pada Renard membuatnya ingin memahami kenapa seseorang yang bisa mengendalikan Bos Cao dan meja-meja gelap di Eclipse justru hampir hancur hanya karena sebuah pintu.
Ia membenci rasa ingin tahu itu.
Ia juga tahu ia tidak akan bisa membunuhnya.
Keesokan paginya, Hans menemuinya di kebun Rumah Tua.
Sekar sedang menyiram melati. Ia tidak tahu apakah Renard sudah memerintahkan Hans untuk mengawasi, tetapi pria itu datang membawa gunting tanaman dan ekspresi yang selalu sama.
"Tuan marah padamu," kata Hans.
"Aku sadar."
"Beliau jarang marah seperti itu."
"Haruskah aku merasa beruntung?"
Hans menatapnya. Kalau ia punya humor, ia menyimpannya di tempat yang sangat dalam.
"Nona melihat pintu itu."
Sekar mematikan selang. "Apa itu?"
Hans tidak langsung menjawab. Ia menunduk, memotong ranting mati dari semak bunga. Gerakannya rapi, hampir tanpa suara.
"Ada masa ketika Tuan Renard tidak tinggal di rumah ini."
"Aku tahu. Sorayat?"
Gunting di tangan Hans berhenti.
Sekar menangkap perubahan itu. "Jadi benar."
"Siapa yang memberi tahu Nona?"
"Tidak ada yang benar-benar memberi tahu. Potongan-potongan cerita hanya terlalu banyak untuk diabaikan."
Hans menatap kebun yang mulai hidup. "Sorayat bukan tempat yang pantas disebut dalam rumah ini."
"Kenapa?"
"Karena di sana, anak laki-laki diajari bahwa rasa takut harus dibunuh sebelum ia membunuhmu."
Sekar merasakan perutnya turun.
Hans melanjutkan dengan suara datar, tetapi ada ketegangan di ujung kalimatnya. "Arena Hitam. Tempat orang-orang berjudi pada manusia. Kadang pada hewan. Kadang pada keduanya."
Angin pagi terasa tiba-tiba lebih dingin.
"Itu ilegal," kata Sekar, bodoh, karena kata itu terlalu kecil.
"Banyak hal ilegal tetap hidup kalau orang yang menontonnya cukup kaya."
Sekar tidak punya jawaban.
Ia membayangkan arena tanah, lampu panas, suara orang tertawa, dan seorang anak yang dipaksa berdiri ketika tubuhnya ingin jatuh. Bayangan itu membuat dadanya sesak sampai ia harus memegang pinggir pot.
Jari Sekar mengencang di selang.
"Renard..."
"Masih terlalu muda."
Tidak ada usia disebut. Tidak perlu. Foto anak laki-laki dua belas tahun itu tiba-tiba muncul di benak Sekar. Mata keras kepala. Bahu kecil di bawah tangan ayahnya.
"Dia dipaksa bertarung?"
Hans tidak menjawab.
Diamnya cukup.
Sekar menoleh ke arah rumah. Koridor gelap. Pintu penuh goresan. Kuburan, kata Renard.
"Pintu itu berhubungan dengan Sorayat?"
"Ada luka yang tidak berhenti di tempat asalnya," kata Hans. "Kadang ia dibawa pulang. Kadang ia dikurung di kamar. Kadang orang yang menguncinya berpikir ia sudah menang, padahal ia hanya belajar mendengarnya menggaruk dari dalam."
Kalimat itu terlalu panjang untuk Hans.
Sekar menatapnya.
Hans sudah kembali memotong ranting, seolah tidak mengatakan apa pun.
"Kenapa kamu memberitahuku?"
"Karena Nona akan terus bertanya kalau tidak diberi batas." Hans mengangkat satu ranting mati. "Dan karena jika Nona salah membuka pintu, Tuan Renard mungkin bukan satu-satunya orang yang terluka."
Malam itu, Sekar tidak pergi ke Rumah Tua.
Ia duduk di Paviliun Mei dengan kunci di telapak tangan, memikirkan anak laki-laki yang dipaksa membunuh rasa takutnya sebelum sempat memahami apa itu aman.
Menjelang tengah malam, ada ketukan pelan di pintu balkon.
Sekar membukanya.
Renard berdiri di luar.
Tidak ada jas. Tidak ada amarah. Hanya wajah lelah yang ia sembunyikan terlalu lambat.
"Aku tidak akan masuk," katanya.
Sekar memegang gagang pintu. "Kalau mau mengambil kuncinya..."
"Bukan itu."
Ia diam sebentar.
Angin malam menggerakkan tirai di antara mereka.
"Maaf."
Satu kata itu lebih mengejutkan daripada amarahnya.
Sekar menatapnya, tidak tahu harus menjawab apa.
Renard tidak menunggu pengampunan. Ia hanya mengangguk sangat kecil, lalu berbalik pergi.
Sekar berdiri di ambang balkon sampai bayangannya hilang.
Di telapak tangannya, kunci tua itu tidak lagi hanya terasa berat.
Ia terasa seperti sesuatu yang pernah berdarah.