Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Hadiah Liontin
Selesai membagikan buku-buku yang Eva beli, dan memberikan pengajaran hari ini. Eva duduk di bangku kayu disana, menatap Byan yang sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Pria itu terlihat semakin senang ketika di bawa ke tempat ini.
"Kak Eva"
Suara panggilan yang lirih itu membuat Eva berbalik, dia melihat Citra berdiri di sampingnya dengan memegang sebuah buku. Eva langsung menghampirinya.
"Citra, kamu mau ikut belajar lagi?"
"Iya Kak, tapi jangan bilang Ibu sama Bapak ya"
Eva mengangguk, setidaknya masih ada keinginan untuk belajar dari anak ini meski sudah mendapatkan larangan dari orang tuanya yang tidak mementingkan pendidikan. Eva mengajak Citra untuk duduk, dia membuka bukunya dan memberikan beberapa soal padanya.
"Sebenarnya Citra ini cukup cepat tanggap. Belajar yang rajin saja ya, nanti pasti akan cepat bisa. Kakak juga tidak bisa sering-sering kesini, sekarang Kakak kerja"
"Iya Kak, terima kasih sudah peduli pada lingkungan kami"
Eva hanya tersenyum, dia mengelus kepala Citra dengan lembut. "Belajar yang rajin sampai orang tuamu bangga melihat kesuksesan kamu nanti"
Citra mengangguk sambil tersenyum, anak itu terlihat begitu semangat saat mengisi soal-soal yang diberikan oleh Eva. Sejatinya memang anak itu sangat rajin.
Setelah hari mulai sore, Eva memesan beberapa makanan untuk anak-anak disini, sebelum dia kembali pulang. Melihat mereka yang makan dengan lahap, membuat Eva tersenyum senang.
"Kita pulang sekarang?"
Eva menoleh pada Byan yang berdiri di sampingnya, dia mengangguk. Berpamitan pada anak-anak dan segera pergi. Berjalan di jalan gang kecil ini, Eva sesekali melirik pada Byan. Seharusnya sejak tadi dia mengatakan untuk membatalkan perjodohan ini. Tapi, situasi belum memungkinkan untuk itu.
"Masuklah" Byan sudah membukakan pintu mobil untuk Eva. Tanpa mengatakan apa-apa, Eva langsung masuk ke dalam mobilnya.
Ketika mobil melaju, beberapa kali Eva menghembuskan napas pelan. Dalam pikirannya masih terus mencoba merangkai kata yang tidak akan menyakiti Byan atau membuatnya marah jika Eva ingin membatalkan perjodohan ini. Karena jika tidak melakukannya sekarang, maka dia akan terus terjebak dalam sandiwara ini sampai akhirnya terbongkar dengan sendirinya. Ketika hal itu terjadi, maka Eva akan mendapatkan kemarahan yang besar dari segala sisi.
"Kita mampir makan dulu"
Tanpa menunggu persetujuan Eva, Byan sudah membelokan mobilnya ke sebuah Restoran. Memesan meja untuk mereka, kali ini memesan meja VVIP karena Byan ingin lebih leluasa berbicara dengan Eva.
Sudah duduk di ruangan VVIP ini, duduk saling berhadapan. Eva sudah berusaha tenang, semua rangkaian kata sudah dia siapkan dalam pikirannya.
"Em-"
"Untukmu"
Sebuah liontin berbentuk bunga matahari berada di depan matanya sekarang, Byan memegang ujung kalung itu. Kalung berwarna putih dengan liontin bunga matahari yang indah. Eva terdiam melihatnya.
"Mas, ini apa?"
Byan tersenyum, dia berdiri dari duduknya dan berjalan mengitari meja. Berdiri di belakang Eva, memasangkan kalung itu di lehernya. Membuat Eva tertegun dengan ini. Dia memegang liontin bunga matahari itu yang sekarang sudah terpasang di lehernya yang polos.
"Beberapa hari lalu saat aku pergi ke Luar Negara, tidak sengaja melihat kalung ini dan aku merasa ini cocok untukmu. Jadi aku membelinya. Bagaimana? Apa kau suka?"
Eva sedikit menundukan pandangannya untuk melihat liontin itu. Tidak mungkin Eva tidak menyukainya, apalagi Byan adalah orang pertama yang memberinya hadiah tanpa alasan seperti ini.
"Kalungnya bagus Mas, tapi ini pasti mahal. Seharusnya kamu tidak menghamburkan uang untuk membeli barang mewah seperti ini untukku"
Byan tersenyum, dia memeluk Eva dari belakang. Membuat gadis itu membeku, detak jantungnya semakin kencang saja. Wajahnya pun mulai terasa panas, pelukan hangat dari Byan benar-benar membuatnya gugup.
"Hanya memberikan hadiah untuk calon istriku, bukankah itu wajar?"
Calon istri? Bahkan dia benar-benar sudah setuju dengan perjodohan ini, sampai menganggap aku adalah calon istrinya. Bagaimana ini?
Bahkan untuk berkata jujur akan keadaan yang sebenarnya, semakin sulit ketika Byan semakin menunjukan kepeduliannya. Sikap hangatnya yang akan sulit untuk di tolak perempuan mana pun.
Akhirnya hari ini hanya berakhir dengan makan bersama tanpa ada pembicaraan tentang pembatalan perjodohan itu. Eva tidak bisa merusak momen ini, ketika senyuman Byan begitu tulus saat memberikan hadiah kalung untuknya. Tidak mungkin Eva langsung menghancurkan momen ini hanya dalam sekejap.
*
Beberapa hari berlalu sejak hari itu, Byan lebih sering menghubunginya. Bahkan perhatiannya semakin besar, seperti menanyakan Eva sudah makan atau belum, sedang dimana, sedang apa. Semuanya menunjukan perhatian yang besar.
"Lihatlah, aku harus bagaimana sekarang Nona?"
Eva sengaja meminta Laila datang, menunjukan semua pesan yang di kirim Byan padanya. Dia juga menunjukan kalung yang dia pakai dari Byan itu.
"Sekarang begini, Eva apa kamu jatuh cinta padanya?" tanya Laila, sambil terus melihat isi percakapan mereka dalam pesan yang di kirim. "Melihat dari percakapan kalian, ini murni orang yang saling jatuh cinta"
Eva menunduk, dia tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Bahkan jika harus jujur dengan hatinya, dia juga ingin menolak perasaan yang tiba-tiba muncul entah sejak kapan itu.
Laila mendongak saat tidak mendapatkan jawaban apapun, lalu dia melihat Eva yang hanya menunduk diam. Laila menghela napas pelan, lalu dia tersenyum pada gadis itu. Berdiri dan memegang bahu Eva untuk duduk di sisi tempat tidur. Sekarang Laila yang berdiri di depannya dan menatapnya lekat.
"Eva, jika kamu jatuh cinta padanya tidak papa. Semua itu adalah hak semua orang untuk merasakan cinta. Tapi, kamu harus jujur dulu tentang semuanya. Tidak perlu sekarang, aku tahu butuh waktu. Kita tunggu waktu yang tepat dan kita akan jujur"
Eva menatap Laila dengan perasaan yang bersalah. Seharusnya dia tidak terjebak dengan pesona pria itu. Karena sejatinya Eva hanya berpura-pura menjadi Laila, mungkin jika Byan tahu siapa dia sebenarnya, dia juga tidak akan bersikap sama lagi.
"Maaf ya Nona, karena aku tidak bisa mengendalikan-"
"Tidak ada yang bisa mengendalikan perasaan cinta, Eva. Urusan hati tidak ada yang bisa mengendalikannya. Pokoknya kita akan cari waktu yang tepat untuk berkata jujur padanya. Sekarang kamu jalani saja dulu apa yang sedang kalian jalani, dan pastikan jika perasaanmu itu memang nyata, bukan hanya perasaan sesaat"
Eva mengangguk pelan, memang dia harus meyakinkan lagi tentang perasaan ini. Meski aku jatuh cinta padanya, aku akan tetap berusaha menerima jika nanti dia tidak akan memilihku setelah tahu kebenarannya.
Bersambung