NovelToon NovelToon
Pengganti Yang Dipilih

Pengganti Yang Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayyun

Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.

Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?

Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

“Sekarang lihat, kan?”

Suara pria itu tenang. Cuek. Ia melirik kemeja putihnya yang kini basah oleh kopi, noda cokelat menyebar tak beraturan di dada. Olivia membeku beberapa detik sebelum akhirnya sadar.

“Gue ganti,” katanya cepat, hampir refleks.

Ia berjongkok hendak mengambil gelas kopi yang terjatuh, tapi seorang pelayan kafe lebih dulu sigap menahannya.

“Tidak perlu, Nona. Biarkan kami yang membereskan.”

Olivia dan pria itu sama-sama terkejut melihat respons berlebihan itu. Pelayan tersebut bahkan memberi isyarat agar Olivia menjauh dari meja, sementara dua karyawan lain segera membersihkan lantai dan mengelap meja dengan cekatan.

Dari sudut matanya, Olivia menangkap wajah familiar—salah satu staf kampus yang tadi mengantarnya tur.

Ah.

Sekarang ia mengerti. Ia sedang diawasi. Bukan hanya oleh pesan misterius, tapi juga oleh sistem yang dibangun Oma. Olivia menghela napas pelan, lalu tanpa banyak bicara, ia meraih pergelangan tangan pria itu.

“Ayo,” katanya singkat.

Pria itu mengangkat alis, tapi tidak menolak saat Olivia menariknya keluar dari kafe elit itu. Angin siang menyambut mereka di luar gedung.

“Gue bilang gue ganti. Jadi ya gue ganti,” ucap Olivia tegas.

Pria itu menatapnya sekilas, sudut bibirnya nyaris terangkat namun tidak berkata apa-apa. Olivia tidak menanggapi. Ia sudah sibuk mengirim pesan pada sopir pribadinya.

Ke lobi gedung utama sekarang.

Tak lama kemudian, mobil hitam berhenti tepat di depan mereka. Sopir turun cepat, hendak membukakan pintu belakang seperti biasa.

Namun tangannya terhenti. Bingung, karena yang berdiri di samping Olivia bukanlah Juna. Melainkan pria asing dengan kemeja bernoda kopi.

“Ayo masuk,” kata Olivia tanpa ragu.

Pria itu masuk ke kursi belakang dengan santai, seolah hal ini bukan sesuatu yang aneh.

Sopir masih berdiri canggung. “Nona… Tuan Juna—”

“Lagi sibuk sama para penjilat,” potong Olivia enteng. “Gue udah izin kok.”

Itu bohong. Tapi nadanya begitu yakin. Sopir ragu beberapa detik, lalu akhirnya masuk ke kursi depan.

Mesin menyala. Mobil mulai bergerak. Di kursi belakang, suasana mendadak sunyi. Olivia baru menyadari betapa nekat tindakannya. Ia bahkan belum tahu pasti siapa pria ini.

Ia menoleh perlahan. Pria itu menatap lurus ke depan, wajahnya tenang. Olivia terdiam. Mobil melaju meninggalkan area kampus.

Di kejauhan, dari lantai dua gedung fakultas bisnis—Juna berdiri di balik dinding kaca. Percakapannya dengan ketua yayasan sudah selesai beberapa menit lalu. Ia mencari Olivia, dan menemukannya.

Dari atas, ia melihat jelas—Olivia menarik seorang pria keluar dari kafe. Berbicara, lalu masuk ke dalam mobil. Mobilnya, tanpa dirinya. Tatapan Juna berubah. Tidak marah. Tidak panik. Tapi sesuatu dalam sorot matanya mengeras.

Sangat pelan, ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

“Pantau mobilnya,” ucapnya singkat. “Sekarang.”

Di bawah sana, mobil hitam itu semakin menjauh dan Olivia sama sekali tidak tahu—bahwa seseorang yang baru saja diperingatkan untuk tidak ia percayai…sedang mengawasinya lebih dekat dari yang ia kira.

***

Mobil hitam itu melaju mulus menuju pusat kota. Di belakangnya, tanpa Olivia ketahui, satu mobil lain menjaga jarak. Instruksi Juna jelas dan singkat: pantau, jangan terlalu dekat, jangan sampai ketahuan.

Di dalam mobil, Olivia mencoba terlihat santai.

“Mall,” katanya pada sopir. “Ke mall.”

Pria di sampingnya hanya menoleh sedikit. Olivia menyandarkan punggungnya. “Gue nggak suka punya utang.”

“Utang?”

“Kemeja lu.”

Pria itu tersenyum samar, tapi tidak berkomentar. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan mall milik Juna. Bangunan megah dengan fasad kaca tinggi dan logo besar yang berkilau di bawah matahari.

Begitu turun, Olivia berjalan percaya diri. Ia sudah terbiasa ke sini—ini salah satu tempat “normal” yang masih ia miliki sebelum semua berubah.

Ia masuk ke butik langganannya. Toko itu menjual pakaian anak muda—mahal, trendi, lengkap, dengan bahan premium dan potongan modern. Begitu pintu otomatis terbuka—

“Selamat datang, Nyonya Olivia.”

Beberapa pegawai langsung menyambut dengan hormat. Olivia refleks berhenti sepersekian detik mendengar sebutan itu. Nyonya. Ia belum pernah benar-benar terbiasa.

“Seperti biasa ya, Nyonya? Koleksi terbaru sudah datang,” ujar salah satu pegawai dengan senyum ramah.

Dan kemudian—bisikan kecil terdengar dari sudut kasir.

“Itu kan istri Pak Juna pemilik mall…”

“Iya ya, tapi kok sama laki-laki lain?”

Olivia mendengarnya. Jelas. Namun bukan kalimat tentang laki-laki lain yang membuatnya kaget. Melainkan fakta bahwa kabar pernikahannya sudah menyebar sampai ke tenant mall. Secepat ini?

Ia menoleh sekilas ke arah pegawai itu. Tatapannya datar. Tidak marah atau pun tersinggung. Lalu ia kembali santai. Seolah tidak peduli.

“Ambilin beberapa stel buat dia,” katanya ringan sambil menunjuk pria di sampingnya. “Ukuran L. Yang kasual tapi masih layak dipakai ketemu orang penting.”

Pegawai itu sempat terlihat bingung, tapi segera bergerak cepat mengambil beberapa pilihan pakaian.

Pria itu berdiri tenang, mengamati Olivia. “Lu udah nikah? Nggak terganggu mereka ngomong gitu?”

Olivia mengangkat bahu. “Orang selalu ngomong kan, kalau gue mikirin semua, gue bisa gila.”

Ia mengambil satu jaket hitam dan mendekatkannya ke tubuh pria itu untuk mengukur kasar.

“Lagipula,” lanjutnya santai, “gue cuma bantu orang yang bajunya gue rusakin.”

Pria itu menatapnya sedikit lebih lama. “Lu yakin cuma itu?”

Olivia berhenti sebentar. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang berbeda di mata pria itu—bukan sekadar rasa ingin tahu. Lebih seperti… menguji.

Sementara itu, di luar butik, seseorang berdiri cukup jauh. Mengawasi.

Mobil pengawas Juna di area parkir khusus. Laporan singkat sudah dikirim ke ponsel Juna.

Lokasi: Mall utama.

Subjek: Bersama laki-laki tak dikenal.

Status: Masuk butik premium.

Juna membaca laporan itu dengan wajah tanpa ekspresi.

Di dalam butik, pria itu akhirnya keluar dari ruang ganti dengan kemeja baru berwarna gelap yang pas di tubuhnya.

Olivia mengangguk puas. “Nah, gini kan lebih enak diliat.”

Pria itu menatap pantulan dirinya di cermin. “Lu sering kayak gini? Bawa laki-laki asing ke mall suami lu?”

Olivia tersenyum tipis. “Lu terlalu percaya diri nyebut diri lu penting.”

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nomor yang sama. Olivia langsung membeku, tapi tetap berusaha terlihat biasa. Ia membuka pesan itu diam-diam.

Hati-hati dengan apa yang kamu lakukan.

Napasnya tercekat. Pesan kedua masuk.

Tidak ada yang menjamin semua kebaikan itu berbalas baik

Jantung Olivia berdetak lebih cepat. Ia perlahan mengangkat pandangan ke arah pria di depannya. Pria itu sedang menatapnya. Tepat menatapnya. Seolah tahu ada sesuatu yang berubah di wajah Olivia.

1
Paradina
semangat kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!