Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penangkapan
Devina sedang berada di dapur, mencoba menyeduh teh untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Bu Ines dan Pak Pamuji sudah terlelap di kamar atas, kelelahan oleh trauma yang bertubi-tubi. Tiba-tiba, lampu di seluruh rumah mati serentak. Kesunyian yang pekat menyergap, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang terdengar seperti bom waktu.
Kriet...
Pintu geser menuju teras belakang terbuka perlahan. Devina membeku. Ia mencengkeram erat pisau koki yang selalu ia bawa belakangan ini. Bau parfum yang sangat ia kenali—campuran aroma kayu cendana dan keringat dingin—menyusup ke indra penciumannya.
"Permainan petak umpetnya sudah selesai, Devina sayang," bisik Aris dari kegelapan ruang makan.
Devina membalikkan badan, menyalakan senter kecil di ponselnya. Cahaya itu menangkap sosok Aris yang berdiri dengan seragam keamanan yang kotor. Matanya merah, melotot penuh kegilaan. Ia memegang sebuah belati panjang yang berkilat tertimpa cahaya senter.
"Aris... hentikan semua ini! Polisi sudah di jalan!" teriak Devina, suaranya bergetar namun penuh perlawanan.
"Polisi? Mereka hanya sekumpulan pion di papanku!" Aris melangkah maju, menghancurkan vas bunga di atas meja makan dengan sekali sabetan. "Kamu pikir Gavin bisa menjagamu selamanya? Lihat! Aku ada di sini, di dalam bentengnya!"
Aris mulai mengamuk, ia menyabetkan belatinya ke sofa, memecahkan bingkai foto keluarga Devina, menciptakan kekacauan di rumah yang seharusnya aman itu. Ia ingin Devina merasakan ketakutan yang murni, ingin menghancurkan mental wanita itu sebelum ia membawanya pergi.
****
Namun, Aris meremehkan satu hal: teknologi pelacak yang dipasang Gavin pada setiap kartu akses keamanan. Begitu kartu itu digunakan secara tidak wajar, sinyal darurat langsung terkirim ke ponsel Gavin dan markas kepolisian terdekat.
Lampu sorot dari helikopter kepolisian tiba-tiba menghantam jendela rumah, mengubah kegelapan menjadi benderang seperti siang hari. Suara megafon menggelegar dari luar, merobek keheningan malam.
"ARIS WICAKSANA! LETAKKAN SENJATA ANDA! ANDA SUDAH TERKEPUNG!"
Gavin merangsek masuk melalui pintu depan bersama tim Brimob. "DEVINA! TIARAP!"
Aris yang terkejut mencoba menyambar Devina untuk dijadikan sandera, namun Devina dengan keberanian luar biasa melemparkan teh panas yang baru diseduhnya tepat ke wajah Aris. Aris mengerang kesakitan, matanya perih. Saat itulah, Gavin menerjang tubuh Aris hingga keduanya berguling di lantai yang penuh pecahan kaca.
BRAK! DAR!
Dua tembakan peringatan dilepaskan ke langit-langit. Lima petugas polisi langsung menindih tubuh Aris, memiting tangannya ke belakang dan memborgolnya dengan kasar. Pisau Aris terlempar jauh.
Gavin segera memeluk Devina yang gemetar hebat. "Sudah berakhir, Dev. Dia sudah tertangkap. Kamu aman sekarang."
****
Berita penangkapan Aris sampai ke telinga Bu Imroh di rumah aman lainnya hanya dalam hitungan menit. Wanita tua itu sedang bersujud di atas sajadahnya saat Gavin menelepon untuk memberikan kabar baik tersebut.
Bu Imroh menangis tersedu-sedu, namun kali ini bukan tangis duka. Ia mengusap wajahnya yang masih berbalut perban dengan tangan gemetar. "Alhamdulillah... Ya Allah, Engkau Maha Adil... Akhirnya iblis itu dirantai."
Ia menatap foto Salsa di samping tempat tidurnya. "Salsa, Nak... keadilan sudah datang. Ibu bisa bernapas sekarang."
Baginya, ditangkapnya Aris adalah akhir dari mimpi buruk panjang yang telah merenggut nyawa putrinya dan hampir merenggut nyawanya sendiri. Ia membayangkan hari-hari tenang di kampung halaman tanpa bayang-bayang ketakutan lagi.
****
Namun, saat Aris diseret keluar dari rumah menuju mobil tahanan, suasana kemenangan itu mendadak mendingin. Aris, dengan wajah yang berlumuran darah dan luka bakar akibat teh panas, mendongak menatap Gavin dan Devina yang berdiri di teras rumah.
Meski tubuhnya ditarik paksa oleh petugas, ia mengeluarkan tawa yang terdengar sangat tidak waras—sebuah tawa yang lebih mirip dengan lengkingan burung malam yang membawa kabar duka.
"Kalian pikir jeruji besi bisa menghentikanku?" Aris meludah ke arah aspal. Matanya yang merah menatap tajam ke arah Devina, seolah ingin melubangi jiwa wanita itu. "Aku punya orang di dalam! Aku punya cara untuk menghancurkan kalian meski aku di balik tembok beton!"
Ia berhenti sejenak, memberikan tatapan yang paling mematikan sebelum masuk ke dalam mobil. "Ingat kata-kataku, Gavin... Devina... Ini bukan akhir. Ini hanyalah jeda. Aku akan kembali, dan saat itu terjadi, tidak akan ada satu pun dari kalian yang akan tersisa untuk menangis."
Pintu mobil tahanan dibanting tutup. Sirene meraung menjauh, membawa sang predator menuju sel gelapnya. Namun, kata-kata terakhir Aris menggantung di udara malam, meninggalkan rasa pahit di hati Devina dan Gavin.
Malam itu, meski Aris telah berbaju oranye, ketenangan yang mereka dambakan masih terasa sangat jauh di ufuk timur. Musuh mereka mungkin sudah tertangkap, namun dendamnya baru saja menemukan rumah baru di dalam kegelapan penjara.
****
Ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pagi itu terasa seperti kotak kaca yang kedap udara, pengap oleh ketegangan dan aroma debu kertas legal. Di kursi pesakitan, Aris Wicaksana duduk dengan punggung tegak, mengenakan kemeja putih yang kontras dengan rompi oranye tahanan. Wajahnya yang dulu selalu nampak ramah kini terlihat tirus dan dingin, matanya yang tajam menatap kosong ke arah hakim, seolah-olah seluruh proses hukum ini hanyalah sebuah teater membosankan yang tidak layak ia hadiri.
Di sisi lain, Bu Imroh didorong perlahan menggunakan kursi roda menuju meja saksi. Langkah kaki petugas pengadilan bergema di keheningan ruangan. Saat Bu Imroh mulai mengangkat sumpah di bawah Al-Qur'an, suaranya yang gemetar namun jelas memecah kesunyian.
"Saya melihatnya sendiri, Pak Hakim..." isak Bu Imroh, jemarinya yang keriput mencengkeram kain mukenanya. "Dia mendorong saya ke jurang itu. Dia bilang, 'Salsa sudah menunggumu'. Dia tidak hanya membunuh putri saya, dia juga ingin melenyapkan saksi terakhir dari dosanya."
Aris tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh saat Bu Imroh terisak hebat menceritakan detik-detik ia meregang nyawa di dasar Cadas Pangeran. Sebuah seringai tipis, nyaris tak terlihat, muncul di sudut bibir Aris. Baginya, kesaksian wanita tua itu hanyalah dongeng sebelum tidur.
Giliran berikutnya adalah Bu Ines dan Pak Pamuji. Dengan suara yang parau akibat trauma, mereka menceritakan teror penculikan di gudang pendingin. Pak Pamuji sesekali menyentuh bekas luka di pelipisnya, mengingatkan semua orang di ruangan itu akan kekejaman Aris yang nyata. Terakhir, Devina Maharani berdiri di podium saksi. Ia menatap Aris dengan tatapan yang tidak lagi mengandung rasa takut—hanya ada kemuakan yang mendalam.
"Pria ini adalah monster yang pandai memakai topeng," ucap Devina tegas, matanya berkilat di bawah lampu ruang sidang. "Dia mencuri kepercayaan kami, dia merusak keluarga kami, dan dia menghancurkan hidup wanita yang tulus mencintainya."
Setelah sidang ditutup dan hakim memutuskan untuk menunda pembacaan vonis hingga minggu depan, petugas sipir menarik lengan Aris untuk membawanya kembali ke mobil tahanan. Sebelum melangkah keluar, Aris sempat berpapasan dengan Gavin di lorong sempit.
"Nikmatilah kemenangan kecilmu, Gavin," bisik Aris dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti desisan ular. "Tembok penjara ini tidak akan bisa menampung naga sepertiku lebih lama lagi."