NovelToon NovelToon
LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Sistem / Misteri / Psikopat
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."

Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.

Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.

Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.

Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.

Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 LABIRIN ASAL MULA DAN KETERASINGAN JIWA

[11:15 PM] PINGGIRAN KOTA METROPOLITAN

Hujan badai yang mengguyur sejak semalam telah berubah menjadi gerimis yang menusuk tulang, menyisakan kabut tebal yang merayap di atas jalanan aspal yang retak. Lampu jalan di kawasan pinggiran kota ini banyak yang mati, membiarkan kegelapan menelan separuh dari realitas visual. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, mobil sedan hitam milik Dr. Saraswati membelah kabut, melaju bak hantu yang sedang menuju ke peristirahatan terakhirnya.

Tangan Saraswati mencengkeram kemudi dengan kekuatan yang membuat buku-buku jarinya memutih. Matanya yang biasanya memancarkan ketajaman analitis kini dibayangi oleh kelelahan yang luar biasa dan ketegangan psikologis yang nyaris mencapai titik didih. Waktu di dasbor mobilnya menunjukkan pukul 11:15 PM. Ia memiliki kurang dari empat puluh lima menit sebelum hitung mundur Sang Pembebas berakhir.

Pikirannya berpacu, mencoba mati-matian mempertahankan struktur logika Aristotelian yang selama ini menjadi sauh kewarasannya. Ia menyusun silogisme dalam kepalanya berulang-ulang, mencoba mencari rasionalitas dari kegilaan ini. Premis Mayor: Pelaku membunuh orang-orang yang merepresentasikan kemunafikan sistemik elit (Kapitalis, Hukum, dan Media). Premis Minor: Pelaku menuntun Saraswati kembali ke Panti Asuhan Tunas Abadi, tempat masa kecilnya. Kesimpulan: Ketiga elit yang mati memiliki benang merah yang tersembunyi dengan panti asuhan tersebut.

Namun, logika sebab-akibat itu terasa hambar saat berhadapan dengan teror yang mendidih di dalam dadanya. Sigmund Freud merumuskan bahwa trauma masa kecil yang direpresi tidak akan pernah benar-benar mati; ia hanya bersembunyi di alam bawah sadar, menunggu pemicu untuk meledak kembali ke permukaan. Apa yang sedang dilakukan Saraswati malam ini adalah bentuk paling murni dari kompulsi pengulangan (repetition compulsion), sebuah dorongan bawah sadar di mana seseorang secara kompulsif mereka ulang atau kembali ke situasi masa lalu yang traumatis. Sang Pembebas tidak perlu menyeretnya secara fisik; psikologi Saraswati sendirilah yang memaksanya kembali ke "lemari" gelap itu, didorong oleh hasrat neurotik untuk akhirnya mengalahkan monster yang dulu tak bisa ia lawan.

Mobilnya berbelok ke sebuah jalan tanah berbatu, dan di ujung jalan itu, berdirilah gerbang besi berkarat yang menjulang tinggi. Papan nama besinya yang melengkung dan dimakan usia bertuliskan: PANTI ASUHAN TUNAS ABADI.

Bangunan bergaya kolonial Belanda di balik gerbang itu tampak seperti mausoleum raksasa. Kaca-kaca jendelanya pecah, cat dindingnya terkelupas, dan sulur-sulur tanaman liar mencekik pilar-pilarnya. Panti asuhan ini telah ditutup belasan tahun yang lalu setelah serangkaian skandal penggelapan dana, meninggalkan struktur kosong yang menyimpan jeritan masa lalu.

[11:28 PM] PANTI ASUHAN TUNAS ABADI

Saraswati mematikan mesin mobilnya. Ia merogoh ke dalam mantelnya, memastikan Glock 19 miliknya terisi penuh, lalu mengokang senjatanya. Bunyi logam yang bergesekan itu terdengar sangat nyaring di tengah kesunyian malam.

Ia mendorong gerbang besi yang tidak terkunci. Engselnya menjerit membelah keheningan.

Bau kayu lapuk, debu basah, dan karbol rumah sakit seketika menyergap indra penciumannya. Bau itu adalah kunci yang membuka paksa gerbang Id di dalam otaknya. Tiba-tiba, ia bukan lagi seorang detektif psikolog bergelar doktor yang dihormati di kepolisian metropolitan. Ia kembali menjadi Saras kecil yang berusia tujuh tahun, yang berlari tanpa alas kaki di atas lantai ubin yang dingin, bersembunyi dari bayangan pria besar yang membawa palu godam.

Bernapaslah, perintah Saraswati pada dirinya sendiri, memaksa Ego-nya untuk tetap rasional. Ia menyorotkan senter taktisnya ke arah pintu utama yang terbuat dari kayu jati tebal. Pintunya sedikit terbuka. Sang Pembebas sengaja mengundangnya masuk.

Saraswati melangkah masuk ke dalam aula utama. Kegelapan di dalam bangunan itu terasa pekat, seolah menyedot cahaya dari senternya. Ia tidak mencari Sang Pembebas di aula ini. Sesuai janjinya, ia harus mencari kebenaran tentang institusi ini terlebih dahulu. Ia mengarahkan langkahnya ke sayap timur bangunan, menuju ruang arsip dan ruang kerja mantan kepala panti asuhan, Romo Yulius.

Pintu ruang kerja itu tidak terkunci. Ruangan itu berantakan, dipenuhi tumpukan kertas menguning dan kabinet besi yang berkarat. Namun, di atas meja kerja utama, sebuah lampu minyak tanah kecil menyala redup, menerangi sebuah buku besar bersampul kulit hitam.

Saraswati mendekat dengan senjata terhunus. Tidak ada siapa-siapa di ruangan itu. Ia menurunkan senjatanya dan menatap buku besar tersebut. Ada secarik kertas kecil di atasnya, ditulis dengan tinta merah yang sama dengan pesan di apartemennya.

Buka matamu, Dokter. Lihatlah bagaimana manusia memakan manusia lainnya.

Saraswati membuka buku besar itu. Itu bukan buku harian atau catatan amal. Itu adalah buku besar akuntansi ganda (double-entry ledger).

Matanya dengan cepat memindai kolom-kolom angka dan nama. Halaman demi halaman, tahun demi tahun. Rasa dingin perlahan menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya.

Di dalam buku itu, nama-nama anak yatim piatu di panti ini tidak didaftarkan sebagai subjek manusia yang diasuh, melainkan sebagai aset inventaris. Dan di kolom penerima dana, Saraswati melihat nama-nama yang sangat ia kenal: Adrian Kusuma, Surya Wibowo, dan Baskara Pradipta.

Panti asuhan ini bukanlah lembaga amal. Ini adalah sebuah pabrik komodifikasi manusia.

Kusuma menggunakan panti ini sebagai pemasok tenaga kerja anak ilegal untuk pabrik-pabrik tekstilnya. Hakim Wibowo menerima aliran dana suap bertahun-tahun untuk memalsukan dokumen adopsi ilegal bagi sindikat perdagangan manusia ke luar negeri. Sementara Baskara, sang idola televisi, menggunakan anak-anak dari panti ini sebagai "properti" untuk acara amal palsunya demi menaikkan rating, sebelum akhirnya anak-anak itu dibuang kembali tanpa masa depan.

Karl Marx menyatakan bahwa di bawah sistem kapitalisme ekstrem, manusia diasingkan (alienated) dari esensi kemanusiaannya (Gattungswesen) dan direduksi menjadi sekadar instrumen produksi atau komoditas pasar. Apa yang ada di hadapan Saraswati adalah bentuk alienasi yang paling brutal. Anak-anak yang tidak memiliki siapa-siapa ini telah dipisahkan dari hak-hak asasinya, dari identitas mereka, dan diubah menjadi sekadar nilai tukar (exchange value) bagi para elit borjuis.

Lebih jauh lagi, Saraswati menyadari sebuah pola mengerikan di kolom catatan untuk anak-anak perempuan. Mereka diklasifikasikan dengan kriteria fisik tertentu untuk diserahkan kepada "kolektor" khusus. Feminis eksistensialis Simone de Beauvoir berargumen bahwa dalam struktur masyarakat patriarki, perempuan tidak dilahirkan, melainkan dibentuk untuk menjadi 'Sang Liyan' (The Other)—objek yang eksistensinya hanya untuk memuaskan kebutuhan subjek laki-laki. Di panti asuhan ini, anak-anak perempuan dilucuti dari subyektivitasnya sejak usia dini, dipaksa menjadi objek komoditas seksual atau pelayan tanpa suara bagi para pria penguasa.

Tangan Saraswati bergetar hebat hingga ia tanpa sengaja menjatuhkan senternya ke lantai.

Dunia yang ia bela dengan hukum dan logika Aristotelian ternyata dibangun di atas fondasi darah anak-anak panti asuhannya sendiri. Hukum yang ia tegakkan selama ini hanyalah alat bagi para kapitalis dan patriark ini untuk melegalkan penindasan mereka.

Krrrrsk... Bzzzt.

Sebuah suara statis memecah keheningan ruangan. Suara itu berasal dari sebuah speaker interkom kuno yang menempel di sudut langit-langit ruang kerja tersebut.

[11:42 PM]

"Kau sudah melihatnya, Saraswati."

Suara mekanis Sang Pembebas menggema dari speaker itu. Berat, lambat, dan memancarkan dominasi absolut.

Saraswati menyambar senternya dan mengarahkan senjatanya ke arah speaker tersebut, napasnya memburu. "Kau ada di mana, keparat?! Tunjukkan wajahmu!"

"Aristoteles tidak bisa menolongmu di sini, Dokter," suara itu melanjutkan, mengabaikan kemarahan Saraswati. "Selama ini kau mencari keadilan dalam ruang sidang yang dibangun oleh para penjahat. Kau memuja keteraturan. Tapi keteraturan kalian adalah ilusi Apollonian yang menutupi kebusukan. Aku datang sebagai Dionysus, kekuatan yang akan menghancurkan berhala-berhala palsumu dan mengembalikan keseimbangan melalui kehancuran."

Sang Pembebas sedang memposisikan dirinya sebagai Übermensch (Manusia Unggul) dari filosofi Nietzsche. Ia menolak moralitas budak yang tunduk pada hukum negara yang korup. Ia mengambil alih peran sebagai agen transvaluasi nilai, menghancurkan yang lama untuk menciptakan yang baru melalui tarian kematian yang liar dan tak terduga.

"Membunuh mereka tidak akan mengembalikan nyawa anak-anak itu!" teriak Saraswati. "Kau tidak sedang menyeimbangkan dunia, kau sedang menuhankan dirimu sendiri!"

Terdengar suara tawa pelan dari interkom tersebut. Tawa yang terdengar sangat kering dan tak bernyawa.

"Tuhan? Kau terlalu lama memisahkan Tuhan dari penderitaan manusia, Saraswati. Kau melihat Tuhan sebagai sesuatu yang jauh, suci, dan tak tersentuh oleh lumpur dunia ini. Itu adalah 'Tanzih' yang buta."

Lagi-lagi pembunuh ini menggunakan kerangka teologi mistis Ibnu Arabi.

"Tapi Tuhan tidak hanya bersemayam di langit. Tuhan hadir secara absolut dalam setiap jeritan, dalam setiap darah yang tumpah di lantai panti asuhan ini. Itu adalah 'Tashbih'. Untuk memahami keadilan-Nya, kau tidak bisa menggunakan akal pikiranmu yang sempit. Kau harus masuk ke dalam 'Hayra'—kebingungan yang menghancurkan logikamu."

Sang pembunuh menuntut Saraswati untuk melepaskan segala bentuk nalar dan hukum positif. Ia ingin sang detektif tersesat dalam Hayra (kebingungan eksistensial), karena menurut mistisisme Ibnu Arabi, hanya ketika akal manusia hancur berkeping-keping karena tidak mampu mencerna realitas, barulah manusia dapat melihat visi kebenaran yang sesungguhnya. Panti asuhan ini adalah Barzakh mereka malam ini—sebuah alam perantara di mana batas antara dosa dan hukuman, antara masa lalu dan masa kini, melebur menjadi satu entitas.

"Waktumu tinggal sepuluh menit, Saras. Anak tangga kayu di ujung lorong asrama. Lantai dua. Kamar nomor 104. Seseorang sedang menunggumu untuk menyelesaikan percakapan dua puluh tahun lalu."

Klik. Interkom mati.

[11:50 PM] LORONG ASRAMA UTAMA

Saraswati berlari menembus kegelapan lorong panti asuhan. Sepatu botnya berdebum menghantam lantai kayu yang berderit memprotes. Udara semakin dingin, dan setiap tarikan napas terasa seperti menelan pecahan kaca.

Kamar 104.

Itu adalah kamarnya dulu. Kamar di mana pintu lemarinya didobrak.

Ia menaiki anak tangga dengan kecepatan yang didorong murni oleh adrenalin dan insting bertahan hidup hewani. Ia telah melepaskan jubah akademisnya, melepaskan gelar detektifnya. Ia bukan lagi objek subordinat yang bisa didikte oleh atasannya seperti Inspektur Bramantyo, dan ia menolak menjadi korban yang dipermainkan oleh labirin psikologis Sang Pembebas. Sesuai dengan ajaran feminisme eksistensialis, ia mengklaim kembali kebebasan radikalnya untuk menentukan tindakannya sendiri. Ia akan menjadi subjek atas takdirnya sendiri malam ini.

Ia tiba di depan pintu kayu bernomor 104. Pintunya setengah hancur, engselnya karatan.

Saraswati menendang pintu itu hingga terbuka sepenuhnya dan masuk dengan posisi menembak. Senter dari pistolnya menyapu ruangan.

Ruangan itu kosong dari perabotan, kecuali satu benda yang berdiri tegak di sudut ruangan.

Sebuah lemari pakaian kayu tua yang besar. Lemari yang sama. Gemboknya sudah tidak ada, persis seperti ketiadaan benda itu yang kini berada di dalam kantong bukti kepolisian.

[11:57 PM]

Tiga menit menuju tengah malam.

Saraswati melangkah perlahan mendekati lemari tersebut. Bau karat dan darah kering yang samar menguar dari celah pintu kayunya. Tangan kirinya yang bebas dari senjata terulur, gemetar dengan hebat, meraih gagang pintu lemari tersebut. Otaknya berteriak untuk lari, memohon padanya untuk tidak membuka kotak Pandora itu.

Namun, rasa ingin tahu untuk memahami Sebab Final dari eksistensinya, dorongan untuk mengakhiri kompulsi pengulangannya, jauh lebih kuat dari rasa takutnya.

Dengan satu tarikan napas panjang, ia menyentak pintu lemari itu hingga terbuka lebar.

Saraswati terkesiap, mundur dua langkah dengan mata membelalak lebar. Pistolnya masih terarah lurus ke depan, namun tangannya tak lagi stabil.

Di dalam lemari yang sempit itu, duduklah seorang pria tua renta dengan pakaian compang-camping. Pria itu diikat ke dinding bagian dalam lemari menggunakan rantai besi tebal yang melilit leher, dada, dan kedua tangannya.

Pria itu adalah Romo Yulius. Mantan direktur Panti Asuhan Tunas Abadi. Sang aristokrat yang telah menjual ribuan masa depan anak-anak panti kepada para penguasa kota.

Namun, bukan kehadiran Romo Yulius yang membuat jantung Saraswati seakan berhenti berdetak.

Kondisi pria itu sangat mengenaskan. Wajahnya dipenuhi luka cakaran yang sangat dalam, persis seperti luka yang dibuat oleh Hakim Wibowo dan Baskara pada diri mereka sendiri. Mata Romo Yulius melotot ngeri, pupilnya melebar sepenuhnya akibat dosis masif dari neurotoksin halusinogen yang telah disuntikkan ke dalam nadinya. Pria itu tidak bisa melihat Saraswati; ia sedang menatap hantu-hantu ribuan anak panti yang tengah mencabik-cabik jiwanya di alam halusinasinya.

Lebih buruk lagi, di pangkuan pria tua yang sedang mengejang itu, terdapat sebuah perangkat logam yang terhubung dengan kabel-kabel berwarna merah dan biru yang melilit di sekitar rantai besinya. Di tengah perangkat itu, sebuah layar digital berwarna merah berkedip menghitung mundur.

00:01:25

Satu menit dua puluh lima detik sebelum bom itu meledak dan meratakan seluruh sayap panti asuhan ini.

Romo Yulius tiba-tiba tersentak maju, menahan napasnya. Halusinasi itu tampaknya memberikan ia sebuah momen kejernihan singkat yang penuh penderitaan. Matanya yang merah berdarah menatap tepat ke arah wajah Saraswati.

"S-Saras..." suara pria tua itu bergetar, bercampur dengan dahak dan darah. "Maafkan... maafkan bapak..."

Di tengah rasa mual yang meluap-luap melihat arsitek kehancuran masa kecilnya, Saraswati segera berlutut di depan lemari itu. Ia harus menonaktifkan bom ini. Ia mengabaikan fakta bahwa pria di depannya adalah monster kapitalis yang telah mengkomodifikasi hidupnya. Logika dan tugasnya sebagai detektif mengambil alih. Ia tidak akan membiarkan Sang Pembebas menang.

"Diamlah, Romo! Jangan bergerak atau kau akan memicu detonatornya!" bentak Saraswati, menyarungkan senjatanya dan menarik pisau lipat taktis dari sabuknya. Ia mulai meneliti rangkaian kabel tersebut, mencoba mencari kabel pemutus daya.

00:00:58

"Bukan aku..." Romo Yulius merintih, air mata darah mengalir dari sudut matanya saat neurotoksin itu kembali membakar kewarasannya. "Pria itu... pria bermantel hitam itu... dia yang menyuruhku..."

"Pria siapa?! Siapa nama Sang Pembebas?!" Saraswati berteriak sambil memotong lapisan plastik pelindung pada kabel timer bom tersebut.

Romo Yulius tiba-tiba tersenyum mengerikan, sebuah senyum sinting yang sama sekali tidak cocok dengan situasi mereka. Halusinasinya telah merenggutnya kembali. "Dia bukan manusia, Saras... dia adalah bayanganmu yang tertinggal di dalam lemari ini dua puluh tahun yang lalu..."

00:00:30

Tangan Saraswati berhenti di udara. Kata-kata pria itu seperti racun es yang menusuk langsung ke jantungnya. Bayangan yang tertinggal di dalam lemari ini.

Sebuah ingatan yang sangat represif tiba-tiba meledak dari dalam kuburan alam bawah sadarnya, membanjiri korteks prefrontalnya dengan gambar-gambar yang sangat brutal.

Malam itu, dua puluh tahun yang lalu, saat pintu lemari ini didobrak... pria berpalu godam itu tidak masuk sendirian. Ada bayangan lain. Seseorang yang sangat dekat dengannya, seseorang yang ia lindungi, seseorang yang tangannya ia genggam di dalam kegelapan lemari ini sebelum cengkeraman itu terlepas. Seseorang yang selama dua puluh tahun ini namanya telah dihapus secara absolut oleh trauma otaknya sendiri demi mempertahankan kewarasan Saraswati.

Saraswati jatuh terduduk di atas lantai kayu yang kotor, pisau taktisnya terlepas dari genggamannya. Napasnya terengah-engah, matanya nanar menatap kekosongan di udara.

Seluruh teori Marxis, seluruh logika Aristotelian, seluruh pemberontakan eksistensialis yang ia bangun dalam kepalanya runtuh menjadi debu yang tak berharga. Ia akhirnya masuk ke dalam Hayra, kebingungan dan kehampaan mutlak. Ia kini menyadari mengapa Sang Pembebas tahu segalanya tentang dirinya. Mengapa pembunuh itu bisa masuk ke dalam apartemennya tanpa merusak gembok. Mengapa pembunuh itu memanggilnya "Saras" dengan nada yang begitu intim.

00:00:15

Di luar panti asuhan, suara kilat menyambar dengan hebat, menerangi ruangan kamar 104 selama sepersekian detik.

Di tengah keheningan yang tersisa sebelum kematian menjemput, ponsel Saraswati di saku mantelnya kembali bergetar pelan. Ia tidak perlu melihat layarnya untuk mengetahui siapa yang mengirimkan pesan itu.

Sebuah suara langkah kaki perlahan terdengar dari kegelapan di ujung lorong di luar kamar 104. Langkah yang sangat pelan, berirama, dan penuh dengan kepastian absolut.

Sang Pembebas telah datang untuk menjemputnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!