Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Selesai makan malam Kyra langsung membersihkan meja bekas mereka makan. Menyimpan sisa makanan yang masih banyak. sedangkan Bagas menemani Aldian menonton TV.
"Aldian, kamu tunggu disini dulu yaa. Om mau ke dapur bantuin bunda kamu" ucap Bagas yang duduk di sampingnya.
" iya om, Aldian mau nonton tv aja. Filmnya lagi seru" jawabnya.
"Ya udah kamu tunggu disini dulu" Aldian hanya menggukkan kepalanya sebagai tanda jawabannya.
Bagas segera berjalan ke arah dapur, ruang tamu dan dapur hanya di batasi oleh satu dinding saja. Disana Bagas melihat Kyra yang sedang mencuci piring. Tubuhnya terlihat kecil dengan bajunya yang kebesaran ditambah kyra menjepit rambutnya ke atas. Menambah kesan lucu, Bagas tanpa sadar menyunggingkan senyumnya.
Bagas berhenti di belakangnya. Sekejap, ia hanya berdiri. Dan sebelum pikirannya sempat menahan tubuhnya bergerak lebih dulu.
Bagas merengkuh pinggang Kyra dengan kedua tangannya, memeluknya dari belakang. Dagunya mendarat di bahu Kyra, dan napas hangatnya menerpa leher Kyra.
Kyra tersentak hebat. Piring yang sedang ia pegang hampir jatuh ke wastafel. Tubuhnya langsung menegang, semua ototnya terkunci karena terkejut dan gugup.
"Bagas! Lepaskan!" desis Kyra tajam, berusaha melepaskan diri dari pelukan Bagas.
“Nggak keliatan dari sini. Lagian dia lagi fokus nonton. Tenang aja.”
“Bagas… aku serius.”
Nada Kyra bergetar antara terkejut dan gugup.
“Hm.” Bagas mengeratkan pelukan sedikit, tidak berlebihan. “Aku juga serius.”
Kyra sudah mau memprotes lagi ketika Bagas berbicara pelan, suaranya begitu dekat hingga Kyra bisa merasakan hembusan napasnya di kulit leher.
“Biarin aku kayak gini sebentar…
Udah lama aku nggak ngerasain rumah seramah ini.”
Bagas menutup matanya menghirup aroma dari tubuhnya kyra, yang membuat pikirannya menjadi lebih tenang dari sebelumnya. "Aku kangen Ra.... Aku kangen banget sama kamu"
Kyra benar-benar lemas sejenak.
“Bagas…”
“Hmm?"
“Kalau kamu nggak lepasin, aku sumpah aku siram kamu pake sabun ini.”
Bagas segera melepaskan tangannya, tapi Bagas masih berdiri tepat disampingnya kyra dengan satu tangannya berada di pinggangnya kyra.
Kyra langsung dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya, tidak mau berada dalam situasi ini bersama Bagas. Apalagi dari tadi Bagas selalu menatap ke arah nya.
Kyra mematikan keran air. Ia meraih lap kering, berbalik, dan menyentak tangan Bagas dari pinggangnya dengan gerakan tegas.
"Sudah selesai. Sekarang, aku harus pulang," ujar Kyra.
“Pulang?” ulangnya.
“Iya.” Kyra meraih tasnya yang ia taruh di kursi bar dekat meja dapur. “Udah jam segini, Gas. Besok aku kerja. Aku...."
"kamu tidur disini saja"
Kyra mengabaikannya. Ia melangkah menuju sofa, tempat Aldian tadi menonton TV. Namun, saat Kyra sampai di dekat sofa, Aldian sudah terlelap. Kepala mungilnya bersandar miring di bantal sofa.
Kyra berjongkok cepat di samping sofa.
“Hah… Dia tidur…” bisiknya panik, berusaha menggoyangkan bahu Aldian pelan.
“Aldian… bangun sayang… Kita pulang, hmm?”
Aldian hanya menggeliat pelan, mulutnya sedikit terbuka karena lelah, lalu kembali terlelap makin dalam.
“Ra.”
Kyra menatapnya, jelas bingung dan kewalahan.
Bagas sedikit membungkuk mendekat.
“Apa kamu tega bangunin dia?”
“Gas… tapi....”
Tanpa menunggu persetujuan, Bagas meraih tubuh kecil Aldian dengan penuh kehati-hatian.
“Aku taruh dia di kamar dulu.”
Ia berjalan melewati Kyra, menuju kamar.
Kyra masih berdiri di posisinya menatap Bagas yang menggenggam Aldian yang g tidur menuju kamarnya.
Bagas meletakkan tubuh Aldian di atas ranjangnya dengan hati-hati lalu menyelimutinya.
Bagas menutup pintu kamar dengan perlahan, memastikan tidak ada suara yang bisa membangunkan Aldian. Ia menarik napas pelan sebelum melangkah kembali ke ruang tamu. Begitu tiba, ia mendapati Kyra sedang duduk di sofa.
Bagas tersenyum kecil.
Tanpa berkata apa pun, ia berjalan mendekat dan duduk di samping Kyra. Jarak mereka nyaris tidak ada. Kyra tersentak kecil, tapi tidak menjauh.
“Masih mikirin sesuatu?” Bagas memulai dengan suara rendah dan hangat. “Dari tadi kamu kayak… tenggelam dalam pikiran sendiri.”
Kyra menelan ludah, mencoba tersenyum tapi ujung bibirnya hanya bergerak sedikit. “Nggak… cuma capek aja.”
Beberapa detik kemudian, Bagas menyandarkan kepalanya di bahu Kyra.
Kyra terkejut kecil. “B-Bagas… jangan kayak gini.”
“Tolong jangan suruh aku menjauh dulu,” gumam Bagas tanpa mengangkat kepala. Suaranya rintih rendah, jujur, dan penuh rindu. “Aku capek nahan semuanya sendirian.”
Kyra menghela napas. “Bagas… jangan bikin ribet. Kita sudah...”
“Aku tahu.” Bagas memotong lembut. “Tapi kamu masih istriku, Kyra.”
Bagas mengangkat wajahnya, menatapnya dari dekat dengan sepasang mata yang benar-benar merindukan.
“Aku bukan minta hak aku sebagai suami,” katanya pelan. “Aku cuma mau ada di samping kamu sebentar. Aku kangen diperhatiin sama istri aku sendiri. Dosa kalau kamu nolak suami dalam kebaikan…” ia tersenyum tipis, “…aku cuma mau ditemenin. Bukan yang lain.”
“Gini aja aku udah seneng,” gumam Bagas kecil, hampir seperti anak kecil yang akhirnya dapat perhatian.
Kyra menutup mata sejenak. Meski ia tak mengatakan apa pun, ia membiarkan Bagas bersandar di bahunya.
“Kamu tahu nggak,” suara Bagas pelan, “selama kamu pergi dari rumah… aku ngerasa kayak separuh hidup aku ikut pergi.”
Ia meraih tangan Kyra lagi, kali ini menggenggam tangannya dengan lembut. “Aku kangen kamu, Ra." entah sudah berapa kali Bagas mengucapkan kalimat itu.
Kyra menunduk, suaranya lirih, “Jangan kayak gini, Gas… aku takut kebawa perasaan lagi.”
“Loh, memangnya salah kalau kamu kebawa perasaan sama suami kamu sendiri?”
Kyra menatapnya tajam. “Kita lagi pisah rumah.”
“Pisah rumah, iya. Pisah hati? Enggak.”
Bagas menunjuk dada Kyra perlahan. “Yang di sini… aku tahu masih ada aku.”
Kyra langsung menepis tangannya, pipinya memanas. “Bagas…”
“Aku sendirian di rumah ini berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.aku selalu nyari kamu tapi ngga pernah ada hasil"
"Aku bangun pagi nggak ada kamu. Pulang kerja… kosong. Dan setiap malam aku cuma bisa duduk di sofa, berharap kamu tiba-tiba masuk dari pintu depan.”