NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:808
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 - PEMBANTAIAN DI GERBANG SELATAN: AMUKAN SANG EKSEKUTOR

Kota Takhta Langit yang biasanya berkilau di bawah cahaya rembulan kini diselimuti oleh kabut es hitam yang turun dari menara tertinggi. Kaelan tidak turun secara perlahan; ia menjatuhkan dirinya dari ketinggian seratus meter, membelah udara seperti meteor perak. Saat kakinya menyentuh tanah di depan Markas Cabang Selatan Aliansi Langit Merah, sebuah ledakan energi dingin menghancurkan aspal dan membekukan sepuluh penjaga gerbang dalam sekejap.

Pintu markas yang terbuat dari baja padat tidak lagi menjadi penghalang. Kaelan menarik "Slasher" dari punggungnya. Pedang hitam itu mengeluarkan dengungan yang sanggup merobek kesadaran manusia. Dengan satu ayunan horisontal yang pelan namun bertenaga, Kaelan melepaskan teknik "Sembilan Gerhana - Gerhana Kedua: Pemisah Jiwa".

ZRAKKKK!

Bukan hanya gerbang baja itu yang terbelah, namun seluruh fasad bangunan markas setinggi tiga lantai itu runtuh seolah-olah dipotong oleh pisau raksasa yang tak terlihat. Debu marmer dan serpihan es memenuhi udara, menciptakan panggung bagi pembantaian yang paling sepihak dalam sejarah kota.

"Siapa kau?! Berhenti!" teriak seorang Kapten Penjaga yang mengenakan zirah emas, mencoba menghunus pedang apinya.

Kaelan bahkan tidak menoleh. Ia berjalan melewati kapten itu dengan langkah yang tenang. Saat ia berada di samping sang kapten, helai rambut putih Kaelan menyentuh zirah emas tersebut. Detik berikutnya, sang kapten membeku dari dalam, matanya pecah karena tekanan es yang tiba-tiba, dan tubuhnya hancur menjadi butiran kristal merah saat Kaelan terus melangkah tanpa berhenti.

Ratusan prajurit Aliansi menyerbu keluar dari reruntuhan, namun bagi Kaelan, mereka bukanlah lawan. Mereka hanyalah partikel yang mengganggu keheningan malam. Ia menggerakkan jari tangan kirinya, memanggil "Sutra Rembulan" yang kini telah berevolusi menjadi "Benang Pemotong Dimensi".

Benang-benang perak itu meluncur di antara kerumunan prajurit, bergerak mengikuti irama detak jantung Kaelan yang lambat. Setiap prajurit yang menyentuh benang itu tidak merasakan sakit; mereka hanya melihat tubuh mereka terpisah-pisah dalam potongan-potongan simetris yang membeku seketika. Tidak ada darah yang mengalir, tidak ada teriakan yang panjang. Yang ada hanyalah suara "klak-klak-klak" dari potongan tubuh yang jatuh ke lantai batu.

"Gunakan meriam energi!" perintah seorang wakil pemimpin markas dari lantai atas yang tersisa.

Dua meriam besar yang dialiri Qi api darah menembakkan bola api raksasa ke arah Kaelan. Kaelan hanya mengangkat pedang Slasher secara vertikal. Ia tidak menangkis; ia memotong aliran energi api tersebut. Bola api itu terbelah menjadi dua, melewati sisi kanan dan kiri Kaelan tanpa melukainya sedikit pun, dan menghantam bangunan di belakangnya.

"Pesta ini terlalu berisik," bisik Kaelan.

Ia menusukkan ujung Slasher ke lantai markas. Ia tidak menghancurkan bangunan itu lagi; ia melakukan "Eksekusi Ruang". Seluruh bangunan markas dalam radius lima puluh meter seketika diselimuti oleh kubah es hitam yang pekat. Di dalam kubah itu, waktu seolah berhenti. Setiap manusia yang terjebak di dalamnya merasakan jiwa mereka ditarik paksa keluar dari raga oleh hawa dingin yang melampaui kematian.

Hanya dalam waktu tiga menit, Markas Cabang Selatan Aliansi Langit Merah yang sombong itu telah menjadi makam es yang sunyi. Ratusan prajurit elit dan sepuluh pejabat tinggi Aliansi tewas tanpa pernah berhasil menyentuh ujung jubah Kaelan.

Kaelan menarik kembali Slasher dan menyarungkannya. Ia berdiri di tengah tumpukan patung-patung es yang dulu adalah musuhnya. Rambut putihnya kini kembali menjadi tenang, dan cahaya di matanya tetap dingin. Ia tidak merasa puas; pembantaian ini hanyalah pembersihan jalur menuju target utamanya—Aristhos.

"Tinggal empat markas lagi," gumam Kaelan sambil menoleh ke arah utara kota, di mana cahaya lampu Aliansi masih menyala terang, tidak menyadari bahwa maut sedang berjalan perlahan menuju mereka.

Di kejauhan, Hanzo yang mengamati dari atap gedung lain hanya bisa menelan ludah. "Anak itu... dia bukan lagi pembunuh. Dia adalah bencana alam yang memiliki nama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!