Follow IG : renitaria7796
Sequel dari Novel TERPAKSA MENIKAHI MANTANKU.
Maxim Sylvestone harus merendahkan dirinya jika ingin mendapati seorang gadis kecil bernama Liora Putri Alexander. Seorang wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta, bahkan ketika gadis itu baru bisa berjalan.
Sayangnya, Liora sudah dijodohkan kepada anak sahabat orang tuanya. Apakah Liora menerima perjodohan itu? Lalu, bagaimana Maxim merebut kembali cintanya? Apa ia harus mengungkapkan siapa ia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KECEWA
Jo mencari-cari keberadan Brian di ballroom hotel. Yang di cari malah tidak tampak batang hidungnya. Jo lalu menelepon Brian. Namun panggilannya tidak di angkat.
Jo keluar dari ballroom. Dia menuju parkiran mobil. Jo berlari saat melihat Brian hendak masuk ke dalam mobilnya. Jo langsung saja menarik tangan Brian.
"Kamu jangan pulang dulu. Ada masalah penting," ucap Jo.
"Jo, ada apa?" tanya Jessica.
"Jess, lebih baik kamu pulang saja dengan supir. Aku pinjam Brian malam ini."
Jessica melongo. "Hah?"
Brian mengusap lembut puncak kepala Jessica. "Kamu pulang dulu sama putri kita. Kami ada urusan sedikit."
Jessica mengangguk. "Tapi nanti kamu cerita di rumah."
Brian tersenyum. "Siap, Nyonya."
Jessica masuk ke dalam mobil bersama putrinya. Mereka berdua di antar oleh supir. Brian melambaikan tangan saat mobil yang di tumpangi istrinya berlalu dari hadapannya.
Brian beralih memandang Jo. "Ada apa?"
"Gawat, Liora kabur dari sini," jawab Jo.
"Apa? Kabur?" kaget Brian.
Jo mengangguk. "Kabur, siapa lagi kalau bukan Maxim yang membawanya."
Brian menepuk jidatnya. "Kita di tipu oleh Max. Dia tidak bisa melupakan Liora."
"Kita harus bagaimana sekarang?" tanya Jo.
"Apanya?" tanya balik Brian.
Jo berdecak. "Kita harus apa? Kita pasti di suruh melacak Maxim. Kita akan mendapat masalah karna ini."
"Pura-pura saja tidak tahu. Aku akan meretas CCTV saat kita berada di kantor polisi. Kamu lacak keberadaan Liora," kata Brian.
Jo mengangguk. "Baiklah!"
Jo membuka mobilnya. Dia mengambil laptop yang memang selalu ada di mobil. Hera tadi pulang dengan mengunakan mobil putranya yaitu Jason.
Brian mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ponsel itu bukan ponsel biasa. Mereka berdua saling meretas dan melacak keberadaan Liora dan Max.
Brian berhasil meretas CCTV yang menampilkan wajah mereka saat berada di kantor sel tahanan. Sedangkan Jo sedikit kesusahan. Dia menemukan Liora yang kabur bersama seorang pelayan.
Namun sayangnya, saat di detik-detik terakhir. Liora tidak dapat di temukan. Karna lampu hotel padam dan CCTV tiba-tiba saja mati.
CCTV di sekitar jalan juga sepertinya telah di retas. Tidak ada tanda-tanda Liora di dalam rekaman itu. Jo sekuat tenaga untuk meretas sistem keamanan server yang menghalanginya.
Gotcha! Dia mendapatkan Liora. Lagi-lagi Jo berdecak. Flat mobil itu di tutupi. Dan pelayan yang bersama Liora, tidak tampak wajahnya.
Jo kembali melacak penerbangan luar negeri. "Kemana mereka pergi. Ada tiga negara tujuan Maxim."
"Maxim sudah tahu kelemahan kita. Aku rasa dia sudah lama merencanakan ini," jelas Brian.
"Kamu benar, Brian. Kita cari John. Dia pasti tahu keberadaan Maxim," sahut Jo.
Brian mengangguk. "Tapi sebelum itu, kita harus menemui Alex."
Jo mengangguk lalu melangkah bersama Brian masuk ke dalam hotel. Keduanya pergi menemui Alex di kamar yang sempat di tempati oleh Liora.
Acara pertunangan sudah selesai. Semua tamu sudah pada pulang. Alex serta lainnya berada di dalam kamar rias.
Varo mengepal geram saat mengetahui Maxim telah bebas. Dia mendapatkan info dari anak buahnya. Alex mengerahkan seluruh kekuasaan yang dia miliki untuk mencari keberadaan putrinya.
Brian dan Jo mengetuk pintu kamar. Pintu di buka oleh Larry. Keduanya masuk ke dalam. Alex menatap tajam keduanya.
"Pasti kalian yang membebaskan Maxim! Aku tahu itu. Kalian berdua sahabat dari pria kurang ajar itu," tuduh Alex.
Jo dan Brian menghela napas panjang. Berkilah pun percuma saja. Alex tidak dapat di bohongi.
"Kami tidak tahu kejadiannya akan begini," kata Brian.
"Apa kamu masih sahabatku, Brian? Kamu lebih memilih membela Max dari pada diriku." Alex beralih menatap Jo. "Dan kamu Jo, apa kamu adik iparku? Lihat kakakmu ini. Dari tadi dia menangisi Liora."
Jo menghampiri Berli yang menangis. Dia meraih wajah kakaknya dan mengusap air mata yang meleleh di pipi. Jo membawa Berli ke dalam pelukannya.
"Aku akan mencarinya. Tenang saja. Jangan bersedih lagi. Kamu percaya padaku, kan?"
Berli memundurkan tubuhnya menatap Jo. "Aku percaya padamu. Temukan Liora."
Jo mengangguk. "Aku akan temukan. Berhentilah bersedih."
Vino menatap Brian. Dia merasa kecewa terhadap sahabatnya yang satu ini. Brian lebih memilih Maxim di banding dirinya dan Alex.
"Brian, aku kecewa padamu," lirih Vino.
"Vin ... aku tidak bermaksud begitu. Aku membebaskannya hanya karna aku tidak tega melihat Max di penjara. Aku juga tidak tahu kalau Max akan membawa kabur Liora," jelas Brian.
"Kalian jangan menyalahkan Brian saja. Sebenarnya aku yang membebaskan Maxim," ungkap Jo.
"Lihat hasil dari perbuatan kalian. Putriku entah kemana perginya!" sergah Alex.
"Cukup! Jangan saling menyalahkan. Ini semua salah kamu Alex. Andai kamu merestui hubungan mereka. Semua ini tidak akan pernah terjadi," hardik Berli.
Semuanya terdiam mendengar ucapan Berli. Semua ini tidak akan terjadi kalau saja Alex merestui hubungan Liora dengan Maxim.
"Larry, ayo kita pulang," ajak Berli.
Larry mengangguk lalu mengiringi langkah Berli keluar dari dalam kamar. Hanya tinggal para pria saja yang ada di kamar itu. Elena istri Vino sudah pulang terlebih dahulu. Dia syok mendengar Liora yang kabur.
"Jo, kamu lacak keberadaan Liora," pinta Alex.
"Aku sudah melacaknya. Ada tiga negara yang mereka kunjungi. Tapi aku rasa itu hanya untuk mengecoh kita saja," jelas Jo.
"Aku rasa Maxim sudah merencanakan ini semua," sahut Vino.
"Papa, Daddy ... aku kembali ke kamarku saja," sahut Varo.
Alex menghampiri Varo. Dia menepuk pelan pundak calon menantunya itu. Alex tahu jika Varo pasti sangat kecewa.
"Maafkan kami, Varo. Daddy janji akan mencari Liora dan menjadikannya milikmu," kata Alex.
"Tidak ada yang salah di sini. Yang salah itu paman Max. Dia saja yang tidak sadar diri," umpat Varo.
"Maxim memang tidak sadar diri. Masih saja menginginkan Liora," sahut Alex kesal.
Varo keluar dari dalam kamar. Dia menuju kamar hotelnya. Varo masuk ke dalam kamar. Dia mengunci pintu. Varo membuka kasar jas yang melekat di tubuhnya.
"Akhhhh, kurang ajar!" teriak Varo.
Napas Varo tersengal-sengal. Dari tadi dia berusaha menahan emosi di dalam hatinya. Rasa kecewa, amarah dan sakit hati bercampur menjadi satu di dalam dirinya.
Ingin sekali Varo membunuh Maxim yang telah membawa kabur tunangannya. Dia tidak terima di perlakukan seperti ini. Pantas saja sikap Liora berubah menjadi manis saat acara pertunangan berlangsung.
Ternyata Liora hanya menipunya saja. Di balik senyum dan ucapan kata sayang untuknya, hanya kedok agar tunangannya itu bisa kabur.
"Aku bersumpah, Liora. Aku akan mencari kalian dan membuat kalian berdua menjadi sengsara. Kamu akan ku buat menderita," teriak Varo.
TBC
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.