Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia
"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: KEBENARAN YANG TAK TERBUNGKAM
Suasana kantin semakin mencekam. Semua mata tertuju pada Rian yang kini tampak gelisah di kursi rodanya. Kata-kata Alsya tentang kiriman uang bulanan dari Samudera benar-benar memukul telak harga dirinya.
"Rian, jawab gue," desak Alsya, suaranya tetap lembut namun penuh penekanan. "Apa Samudera bener-bener sengaja nyenggol loe? Atau itu cuma skenario yang Revaldi suruh loe ucapin buat dapet amplop di saku loe itu?"
Revaldi mencoba menarik kursi roda Rian mundur. "Sya, loe jangan asal tuduh! Rian ke sini buat cari keadilan!"
"Keadilan atau bayaran, Val?" Alsya maju selangkah, dengan cepat merogoh saku jaket Rian dan menarik keluar amplop cokelat tebal yang tadi ia lihat.
BRUK!
Isi amplop itu tumpah di atas meja kantin. Berkas-berkas uang tunai dalam pecahan seratus ribu tersebar di depan mata semua siswa. Bisikan-bisikan mulai terdengar riuh.
"Itu uang apa, Rian?" tanya Samudera, suaranya kini tidak lagi gemetar. Dia menatap sahabat lamanya itu dengan pandangan terluka. "Gue selama ini kerja mati-matian, jadi kuli bangunan pas malem, jadi mekanik di bengkel Arka, cuma buat mastiin loe bisa fisioterapi. Gue ngerasa bersalah seumur hidup gue, dan loe... loe tega jual persahabatan kita ke orang kayak Revaldi?"
Rian menunduk dalam, tangannya gemetar memegang pegangan kursi rodanya. Air mata mulai menetes di pipinya.
"Maafin gue, Sam..." suara Rian pecah. "Gue... gue butuh uang buat operasi ibu gue. Keluarga loe tiba-tiba berhentiin semua bantuan sejak loe kabur dari rumah. Revaldi dateng dan nawarin uang ini... dia bilang gue cuma perlu bilang kalau loe sengaja nyenggol gue."
Rian menoleh ke arah Revaldi dengan penuh amarah. "Tapi sebenernya, Samudera justru yang coba nahan motor gue pas gue oleng! Dia ikut jatuh karena mau narik jaket gue supaya gue nggak nabrak pembatas jalan! Dia ngerasa bersalah karena dia ngerasa dia kurang cepet nolongin gue, bukan karena dia pelakunya!"
Deg.
Seluruh kantin terdiam. Rahasia gelap yang selama ini menghantui Samudera akhirnya terungkap sebagai aksi kepahlawanan yang tragis, bukan kejahatan.
Eliza mencoba mundur perlahan, ingin menghilang dari kerumunan, namun Alsya segera memanggilnya. "Mau ke mana, El? Bukannya loe yang paling semangat bilang Samudera monster? Ternyata monster aslinya adalah orang yang bayar orang cacat buat bohong, kan?"
"Gue nggak tahu apa-apa soal uang itu! Itu urusan Revaldi!" Eliza berteriak histeris, mencoba menyelamatkan dirinya sendiri.
Revaldi yang sudah terpojok hanya bisa mengepalkan tangan. Dia tahu reputasinya sebagai "Anak Teladan" dan "Kapten Basket" sudah tamat hari ini. Para siswa mulai merekam kejadian itu dengan ponsel mereka. Skandal ini akan sampai ke telinga guru dan orang tua mereka dalam hitungan menit.
Samudera berjalan mendekati Rian. Dia berlutut di depan kursi roda itu, lalu menggenggam tangan sahabatnya.
"Loe nggak perlu bohong buat dapet bantuan gue, Rian. Soal nyokap loe... kita bakal cari jalan bareng-bayang sama Kak Arka. Balikin uang itu ke Revaldi. Kita nggak butuh uang haram," ucap Samudera tulus.
Rian menangis terisak sambil memeluk Samudera. Persahabatan yang sempat hancur oleh manipulasi itu perlahan mulai menyambung kembali.
Alsya mendekat dan berdiri di samping Samudera. Dia menatap Revaldi dan Eliza dengan tatapan yang sangat dingin. "Kalian berdua... mulai hari ini, jangan pernah berani sebut nama gue atau Samudera lagi. Karena bagi gue, kalian udah nggak ada."
Setelah drama besar itu berakhir, Samudera dan Alsya berjalan keluar dari kantin, mengabaikan sorakan atau bisikan orang lain. Di bawah pohon beringin sekolah, Samudera berhenti dan menatap Alsya.
"Sya... kenapa loe bisa percaya banget sama gue? Padahal tadi semua bukti seolah nyudutin gue?"
Alsya tersenyum manis, senyum paling tulus yang pernah Samudera lihat. "Karena gue tahu siapa Samudera yang sebenernya. Orang yang rela hidup susah demi kakaknya dan pengobatan temennya nggak mungkin punya hati buat nyelakain orang sengaja. Gue cuma dengerin apa yang hati gue bilang, Sam."
Samudera menarik Alsya ke dalam pelukannya. Badai besar itu akhirnya benar-benar berlalu. Kebenaran telah menang, dan cinta mereka kini berdiri di atas pondasi yang jauh lebih kuat.
Kemenangan telak untuk Samudera dan Alsya! Revaldi dan Eliza benar-benar hancur.
Bersambung...