Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~28 Amarah yang meluap dan berita haru palsu
Di dalam kamarnya yang luas dan mewah, namun malam itu terasa begitu sempit dan pengap, Ratu Yasmin mengamuk sendirian. Tidak ada satu pun hamba yang berani masuk atau sekadar melintas di depan pintu. Suara bentakan dan hantaman benda bergema keras, memecah keheningan malam di sayap timur istana Jaya Wijaya.
Piring-piring keramik indah berserakan pecah di lantai, bunga-bunga segar yang menghias meja telah dirontokkan kelopaknya, dan bantal-bantal sutra terlempar ke sana ke mari. Wajah Yasmin yang biasanya selalu terawat, bermakeup rapi dan penuh senyum manis, kini berubah menjadi wajah iblis yang dipenuhi amarah, cemburu, dan ketakutan yang luar biasa.
"Gila! Kalian semua gila!" teriak Yasmin parau, napasnya memburu, matanya merah menyala karena marah. "Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin dia bisa membelanya sejauh itu? Raja Gustaf... suamiku! Suamiku yang sudah kugani, kujaga, dan kusetiai selama sepuluh tahun lamanya!"
Ia berjalan terhuyung-huyung di antara puing-puing barang yang ia hancurkan, tangannya mencengkeram dadanya yang terasa sakit dan sesak. Bayangan adegan tadi malam di Balai Agama terus berputar di kepalanya—bagaimana Gustaf membelai tangan Layla, bagaimana ia berbicara dengan tatapan penuh kekaguman, bagaimana ia rela berdebat dengan para tetua agama demi wanita asing itu.
"Dia benar-benar mencintainya..." bisik Yasmin dengan suara bergetar, campuran antara tangis dan tawa getir. "Aku merasakannya. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tidak ada lagi topeng politik, tidak ada lagi damai semu. Gustaf... Gustaf telah jatuh sepenuhnya ke dalam jerat wanita itu."
Ketakutan terbesarnya kini menjadi kenyataan.
Sudah sepuluh tahun ia menjadi Ratu, istri pertama, pendamping setia yang selalu ada saat Gustaf berjuang merebut tahta, saat Gustaf memimpin perang, saat Gustaf sakit maupun sehat. Selama sepuluh tahun, ia merasa dialah satu-satunya wanita di hati raja. Posisi Ratu Pertama, kehormatan, kuasa, dan kasih sayang Gustaf... semuanya miliknya.
Namun kehadiran Layla mengubah segalanya dalam sekejap mata. Wanita itu datang, muda, cantik, lembut, dan membawa pesona yang entah bagaimana caranya membuat Gustaf berubah total. Dan yang paling menyakitkan... Layla kini memiliki apa yang tak pernah bisa berikan Yasmin selama sepuluh tahun: tempat paling utama di hati Gustaf.
"Aku adalah Ratu Pertama! Istri Pertama!" teriak Yasmin lagi, menendang vas bunga yang tergeletak di dekat kakinya. "Aku yang paling tua, aku yang paling berjasa! Bagaimana bisa aku dilupakan? Bagaimana bisa aku dikesampingkan begitu saja seolah aku tidak pernah ada? Jika ini terus berlanjut... perlahan namaku akan hilang dari ingatannya. Gelar Ratu hanya akan jadi kosong belaka, sementara wanita Candra itu yang akan memegang segala kuasa dan kasih sayang!"
Bayangan masa depan yang mengerikan menghantui pikirannya: dirinya yang duduk sendirian di singgasana samping, tak dipedulikan, sementara Gustaf dan Layla berjalan bergandengan tangan, disanjung rakyat, dicintai semua orang. Dendam kebencian terhadap Layla membara semakin hebat di setiap tetes darahnya.
Di tengah kekacauan itu, terdengar ketukan pelan di pintu. Sangat pelan, penuh keraguan dan rasa takut.
"Menyingkir! Pergi semua! Jangan ada yang berani menggangguku!" bentak Yasmin tanpa menoleh, rambutnya yang indah kini berantakan menutupi separuh wajahnya.
Namun pintu itu tetap terbuka perlahan. Muncul sesosok wanita paruh baya, hamba sahaya kepercayaan Yasmin yang paling setia, satu-satunya orang yang tahu segala kebusukan dan rahasia Ratu itu. Wanita itu menunduk dalam, berjalan mendekat dengan langkah kecil, wajahnya terlihat gugup namun juga bersinar karena membawa sesuatu yang penting.
"Yang Mulia..." panggil wanita itu pelan, berlutut di antara pecahan barang. "Ampuni hamba karena berani mengganggu di saat begini. Namun... hamba membawa kabar terhangat, kabar yang hamba yakin akan mengubah segalanya. Kabar yang sangat amat penting dan rahasia."
Yasmin berbalik tajam, matanya menyipit penuh curiga. Ia mengusap kasar air mata dan keringat di wajahnya, berusaha menata kembali wibawanya yang hancur.
"Apa lagi? Masalah apa lagi yang kau bawa? Apakah wanita itu semakin berkuasa? Atau Gustaf semakin gila karena cintanya?" gertak Yasmin dingin.
Hamba sahaya itu menggeleng pelan, lalu mendekatkan wajahnya, berbisik dengan suara yang bergetar namun penuh makna.
"Bukan begitu, Yang Mulia. Justru... ini adalah kabar yang bisa menjadi senjata paling tajam yang pernah kita miliki. Kabar mengenai Selir Dewi Kirana."
Mendengar nama itu, Yasmin mengerutkan kening. Dewi Kirana adalah salah satu selir Gustaf, wanita yang cantik dan pendiam, tinggal di sayap barat yang jarang dikunjungi.
"Ada apa dengan dia? Wanita itu selalu diam, tidak mengganggu siapa-siapa. Apa dia sakit? Atau apa?" Yasmin bertanya ketus.
Hamba itu tersenyum miring, senyum penuh intrik yang persis sama seperti senyum majikannya.
"Dewi Kirana... sedang mengandung, Yang Mulia."
Detak jantung Yasmin terhenti sejenak. Matanya membelalak kaget, namun bukan kaget karena gembira atau bahagia. Kaget karena... ada sesuatu yang janggal.
"Mengandung?" ulang Yasmin pelan, nada suaranya berubah menjadi aneh. "Kau yakin?"
"Sangat yakin, Yang Mulia. Hamba sudah menyelidiki sendiri, sudah memanggil tabib yang memeriksanya secara diam-diam. Dan... usia kandungannya kini sudah menginjak hampir dua bulan," jawab hamba itu tegas.
Seketika itu juga, ekspresi wajah Yasmin berubah drastis. Dari yang penuh amarah dan ketakutan, perlahan-lahan berubah menjadi ekspresi bingung, lalu tak percaya, hingga akhirnya... melebar menjadi senyum yang sangat lebar, senyum yang begitu jahat, penuh kemenangan, dan dipenuhi rasa puas yang mengerikan. Ia tertawa. Awalnya pelan, lalu semakin keras, hingga bergema di seluruh ruangan, tawa yang terdengar gila namun bahagia luar biasa.
"Dua bulan..." gumam Yasmin di sela tawanya, matanya berbinar sinar jahat yang nyala apinya melebihi amarahnya tadi. "Dua bulan... Kau dengar itu? Dua bulan lamanya!"
Ia berjalan mendekati hamba sahayanya, berjongkok di hadapan wanita itu, mencengkeram bahu hamba itu dengan kuat.
"Kau ingat, kan? Kau pasti ingat dengan sangat baik... Kapan terakhir kali Raja Gustaf menginjakkan kaki di kamar Dewi Kirana? Kapan terakhir kali Gustaf menyentuh wanita itu?"
Hamba sahaya itu tersenyum penuh pengertian, mengangguk mantap.
"Hamba ingat betul, Yang Mulia. Tepat... empat bulan yang lalu. Setelah itu, Baginda Raja berangkat ke medan perang di perbatasan selatan. Berbulan-bulan lamanya beliau berada di sana, berjuang, bertempur, dan baru saja pulang beberapa hari ini. Bahkan sebelum berangkat ke Candra pun, beliau sangat sibuk dan tidak pernah lagi mendatangi kamar para selir."
Yasmin melepaskan cengkeramannya, lalu berdiri tegak kembali, menatap bayangannya sendiri di pecahan cermin yang tergeletak di lantai. Rasa sakit hatinya karena dicampakkan, ketakutannya akan dilupakan, semuanya lenyap digantikan oleh kebahagiaan yang kelam.
"Benar..." bisik Yasmin, matanya berkilat penuh kemenangan. "Gustaf pergi berperang empat bulan lalu. Tidak ada satu pun pria di istana ini saat itu. Dan dia baru saja kembali beberapa hari ini. Tapi kandungannya sudah berusia dua bulan... Artinya... saat benih itu tertanam, Gustaf sedang jauh, ribuan langkah dari sini, sedang memegang pedang dan membasahi tangannya dengan darah musuh."
Yasmin tertawa lagi, kali ini lebih panjang dan lebih lega.
"Anak itu... bukan anak Gustaf."
Ia berbalik menatap hamba sahayanya dengan pandangan yang tajam dan penuh rencana.
"Dewi Kirana yang pendiam, yang selalu mengaku setia, yang selalu menangis rindu pada Raja... ternyata selama Gustaf tiada, dia tidak hanya menjaga kesetiaannya. Dia justru membagi tubuhnya dengan pria lain. Dia berani berbuat dosa, berani berzina, dan berani mengandung benih perselingkuhan di dalam perutnya, di bawah atap istana ini, di bawah nama istri Raja!"
Hamba sahaya itu menunduk hormat. "Benar, Yang Mulia. Itu adalah dosa besar. Dan hukuman untuk wanita yang berkhianat pada Raja adalah... kematian, bagi wanita itu dan siapa pun pria pelakunya."
Namun Yasmin menggeleng pelan, senyumnya semakin mengerikan. Ia tidak hanya menginginkan kematian satu selir rendahan. Ia menginginkan lebih. Ia menginginkan posisinya kembali kokoh, ia menginginkan rasa hormat Gustaf kembali utuh, dan yang paling utama... ia menginginkan cara untuk mencemari nama baik Layla dan mematahkan hati Gustaf selamanya.
"Dewi Kirana hanyalah bidak catur kecil," ucap Yasmin dingin. "Tapi masalahnya... berita ini adalah anugerah yang dikirimkan Tuhan langsung ke pangkuanku. Lihatlah... Gustaf sibuk mencintai wanita Candra itu, sibuk membelanya, sibuk melupakan aku, istri pertamanya yang setia sepuluh tahun ini. Tapi lihat apa yang terjadi di belakang punggungnya!"
Yasmin mendekatkan wajahnya ke wajah hamba sahayanya, berbisik dengan nada penuh rencana busuk.
"Raja Gustaf yang hebat, Raja yang disanjung, Raja yang merasa memiliki segalanya... ternyata tidak hanya kehilangan hatinya pada wanita asing, tapi juga kehilangan kehormatannya sebagai laki-laki dan pemimpin di rumahnya sendiri. Selirnya berkhianat! Selirnya mengandung anak haram saat dia berjuang mati-matian di medan perang!"
Yasmin merentangkan kedua tangannya, seolah sedang memeluk kemenangan itu.
"Dan ini belum semuanya. Kau tahu apa artinya semua ini? Gustaf sedang buta. Dia sedang dibutakan oleh cinta palsunya pada Layla. Dia mengira semua wanita yang dia miliki itu setia dan mulia. Dia mengira dia pemimpin yang sempurna."
Yasmin menatap tajam ke arah jendela yang mengarah ke sayap barat tempat tinggal Dewi Kirana.
"Tapi aku akan membukakan matanya. Aku akan membuatnya melihat bahwa wanita... semua wanita, tidak ada yang benar-benar setia kecuali aku. Hanya aku, Yasmin, Ratu Pertamanya, yang tidak pernah mengkhianatinya sedetik pun. Bahkan saat dia tidak ada, bahkan saat dia melupakan aku."
"Dan lebih dari itu..." Yasmin berhenti sejenak, matanya berkilat memikirkan langkah selanjutnya. "Kabar ini akan kumanfaatkan sebaik-baiknya. Jika Gustaf begitu mencintai wanita, begitu menghargai ikatan perkawinan... mari kita lihat apa reaksinya saat tahu bahwa salah satu istrinya telah menodai ikatan itu dengan dosa paling hina. Mari kita lihat apakah rasa percaya dirinya akan tetap utuh. Dan mari kita lihat... apakah setelah hatinya hancur karena dikhianati, dia masih akan punya hati yang lembut untuk wanita Candra itu."
Yasmin menoleh ke hamba sahayanya, perintahnya tegas dan berbahaya.
"Kau diamkan berita ini dulu. Jangan ada satu pun yang tahu, kecuali kita berdua. Pantau terus Dewi Kirana, cari tahu siapa laki-laki pelakunya, kumpulkan semua bukti sampai tak terbantahkan. Dan tunggu perintahku. Aku akan menentukan waktu yang paling tepat... saat Gustaf sedang paling bahagia bersama Layla, saat dia merasa dunia miliknya... saat itulah aku akan melempar bom ini ke wajahnya. Dan aku akan memastikan... bahwa kehancuran yang terjadi nanti akan mengembalikanku sebagai satu-satunya wanita yang berharga di mata Raja."
Hamba sahaya itu mengangguk patuh, lalu mundur perlahan keluar ruangan.
Kembali sendirian di antara puing-puing kemarahannya tadi, Yasmin tersenyum puas. Rasa takutnya akan dilupakan... hilang sudah. Justru kini ia semakin yakin, bahwa dia-lah satu-satunya wanita yang benar-benar memahami Gustaf, dan satu-satunya yang bisa bertahan di sisi Raja yang mulai dikelilingi oleh pengkhianatan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam rumah sendiri.
"Nikmati saja kebahagiaanmu sementara waktu, Baginda..." bisik Yasmin pelan pada bayangan di dinding. "Nikmati senyum wanita asing itu, dan nikmati kepercayaanmu pada wanita-wanita di sekitarmu. Sebentar lagi... aku akan membuatmu sadar, bahwa hanya aku, Yasmin, Ratu Pertamamu... yang tidak akan pernah menusukmu dari belakang."
Dan di kejauhan, di kamar sederhana milik Selir Dewi Kirana, wanita itu tidur dengan tenang, membelai perutnya yang masih rata, tidak menyadari bahwa nyawanya, dan nyawa anak yang dikandungnya, kini telah menjadi taruhan utama dalam permainan kekuasaan dan dendam yang jauh lebih besar dan berbahaya.