NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: RAHASIA DI BALIK KAIN JILBAB

...BAB 26...

...RAHASIA DI BALIK KAIN JILBAB...

Jantung Alina masih berdegup kencang seperti baru saja selesai berlari jauh. Ia menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik jilbab lebar yang ia kenakan, sementara Farhan tetap menatapnya dengan pandangan menyelidik namun tidak menunjukkan sikap kasar.

“Kamu belum jawab pertanyaanku,” ucap Farhan lagi, suaranya tetap tegas namun terdengar lebih tenang. “Kamu sedang menunggu siapa? Atau memang ada urusan di sini?”

Alina menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak terkendali. Ia sadar, berbohong terus-menerus hanya akan membuat dirinya semakin dicurigai. Di sisi lain, Farhan adalah orang yang dikenal baik oleh Dimas dan Kirana—ia bisa dipercaya, setidaknya menurut pengamatan Alina selama ini.

Dengan perlahan, Alina mengangkat wajahnya sedikit, cukup agar Farhan bisa melihat sebagian wajahnya. “Farhan… kau masih ingat aku?”

Mendengar namanya disebut dengan suara yang mulai dikenali, dahi Farhan semakin berkerut. Ia menatap lebih lekat, mencocokkan ingatannya. Sesaat kemudian matanya sedikit melebar, terkejut.

“Alina? Alina putri Pak Aditya?” serunya pelan, tak percaya. “Kau… berubah begitu banyak sampai aku hampir tidak mengenalimu. Apa yang kau lakukan di sini sendirian?”

Alina mengangguk pelan, lalu menghela napas panjang. “Aku memang berubah, Farhan. Hidupku juga sudah berubah total sejak beberapa bulan terakhir.”

Farhan mengajaknya duduk di bangku taman kecil di pinggir jalan, agak jauh dari keramaian siswa sekolah agar tidak menarik perhatian. Ia menatap Alina dengan tatapan penuh rasa ingin tahu sekaligus prihatin.

“Kabarnya bagaimana? Kami sempat mendengar sedikit kabar bahwa keadaan keluargamu berubah. Tapi tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi,” tanya Farhan dengan nada lembut.

Alina tersenyum pahit, matanya mulai berkaca-kaca. “Benar. Papaku kehilangan perusahaannya, kami pindah ke tempat yang jauh lebih sederhana, dan hidup harus dimulai dari nol lagi. Sekarang Papa hanya punya toko kelontong kecil untuk menghidupi kami berdua.”

Farhan terdiam sesaat, merasa prihatin mendengar kenyataan itu. “Maaf mendengarnya. Kalau ada yang bisa dibantu, katakan saja.”

“Terima kasih, Farhan. Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan, dan satu hal lagi yang ingin aku minta,” jawab Alina mantap. Ia menatap lurus ke mata Farhan, melanjutkan ucapannya dengan suara rendah namun jelas. “Tadi memang benar aku sedang mengintip dan mengikuti Dimas. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang, dan di mana dia tinggal bersama ibunya, Bu Kirana. Aku tidak punya niat buruk, sungguh. Hanya… penasaran dan ingin memastikan mereka baik-baik saja.”

Farhan tertegun, tidak menyangka itulah alasan gadis itu datang. “Jadi kau membuntuti dia hanya untuk itu? Tapi kenapa tidak bertanya langsung saja?”

Alina menggeleng cepat. “Aku malu, Farhan. Dulu aku sering bersikap kasar dan tidak menyenangkan pada mereka. Kalau aku datang begitu saja, pasti mereka mengira aku punya maksud tertentu. Aku hanya ingin tahu dari jauh saja, tidak ingin mengganggu kehidupan mereka yang baru.”

Jari-jari Alina terulur, nyaris menggenggam tangan Farhan. Namun gerakannya terhenti di udara. Farhan refleks menarik tangannya ke belakang, nyaris seperti tersengat. Sorot matanya menunduk, tapi tegas. “Maaf,” ucapnya lirih. “Kamu bukan mahramku, Alina.”

Suara itu pelan, tapi seperti tamparan. Alina terpaku. Hangat yang ia cari ternyata dinding yang nggak bisa ia tembus.

Dengan tangan gemetar yang akhirnya ia kepalkan sendiri, Alina memohon. “Tolong, jangan katakan pada Dimas maupun Bu Kirana bahwa aku pernah datang ke sini atau membuntuti mereka. Biarkan itu menjadi rahasia kita saja. Aku tidak ingin mereka merasa terganggu atau terbebani oleh kehadiranku lagi.”

Farhan menatap wajah Alina lekat-lekat, mencoba membaca ketulusan di matanya. Setelah beberapa saat berpikir, ia akhirnya mengangguk perlahan. “Baiklah. Aku mengerti maksudmu. Aku tidak akan menceritakan hal ini pada siapa pun. Tapi ingat, jangan lakukan hal yang berisiko lagi. Berjalan sendirian dan mengikuti orang bisa membahayakan dirimu sendiri.”

Mendengar persetujuan itu, Alina merasa lega dan tersenyum tulus untuk pertama kalinya hari itu. “Terima kasih banyak, Farhan. Kau sungguh orang baik.”

Namun, ada satu hal lagi yang ingin ia sampaikan. Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan tatapan yang penuh tekad. “Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan. Aku melihat dirimu sangat percaya diri, kuat, dan tidak mudah diganggu orang lain. Dulu aku tahu kau aktif berlatih bela diri, kan? Karate?”

Farhan mengangguk sambil tersenyum tipis. “Ya, aku sudah berlatih karate sejak usiaku 10 tahun. Sekarang sudah mencapai sabuk hitam. Ini untuk melindungi diri sendiri dan orang lain jika diperlukan.”

“Bisakah aku belajar juga?” tanya Alina tiba-tiba, membuat Farhan terkejut. “Aku ingin belajar karate sepertimu. Sejak hidupku berubah, aku sering merasa lemah dan takut. Ada orang-orang yang dulu aku kenal yang sekarang berusaha mengganggu dan menakut-nakutiku. Aku tidak ingin terus hidup dalam ketakutan. Aku ingin bisa melindungi diriku sendiri, agar tidak menjadi beban bagi Papa atau orang lain.”

Farhan terdiam, mempertimbangkan permintaan itu. Ia melihat ketulusan dan keinginan kuat di mata Alina. Ia tahu, hidupnya yang berubah drastis pasti membuatnya merasa tidak aman.

“Belajar karate tidak mudah, Alina. Butuh ketekunan, kesabaran, dan kemauan yang kuat. Apakah kau yakin bisa melakukannya?” tanya Farhan memastikan.

“Aku yakin. Selama ini aku sudah belajar banyak hal sulit—memasak, mencuci, mengurus rumah yang dulu tidak pernah aku lakukan. Ini pasti bisa aku pelajari juga,” jawab Alina dengan tegas.

Farhan mengangguk setuju. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan bantu carikan tempat latihan yang terjangkau dan dekat dengan rumahmu. Lagipula, nampaknya kau juga sedang mempersiapkan diri untuk memulai lembaran baru, bukan?”

Alina tersenyum lega, merasakan sedikit harapan muncul di hatinya. “Benar. Aku ingin menjadi orang yang lebih kuat, lebih mandiri, dan tidak lagi merasa tidak berharga hanya karena penampilan atau harta yang dimiliki.”

Sebelum mereka berpisah, Farhan berpesan sekali lagi. “Ingat janjimu untuk tidak bertindak ceroboh. Dan soal keberadaanmu di sini hari ini, aku simpan rapat-rapat. Kau tenang saja.”

Alina mengangguk mantap, lalu berpamitan pulang dengan langkah yang terasa lebih ringan dan penuh semangat dibandingkan saat ia datang. Di perjalanan pulang, ia merasa ada perubahan kecil yang mulai terjadi—ia tidak lagi hanya merasa takut dan lemah, tapi kini punya tujuan untuk membangun kekuatan dalam dirinya sendiri.

Sementara itu, Farhan yang masih berdiri di depan sekolah menatap punggung Alina yang menjauh. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. “Siapa sangka gadis yang dulu angkuh dan jutek itu, kini berubah dan ingin melindungi dirinya sendiri. Semoga keputusan ini membawa kebaikan untukmu, Alina,” gumamnya dalam hati.

Bersambung...

Buat Readers yang sudah mampir dan senang dengan jalan ceritanya, boleh dong minta kritik dan saran nya di kolom komentar biar author semangat melanjutkan ceritanya...

Terimakasih yang sudah mampir dan selalu mendukung karya ini. Jangan lupa klik Like nya juga ya... 🥰💞💞

1
Kam1la
Alina, yang kuat yah...!
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
apakah hati alin perlahan menerima kehadiran Kirana dan Dimas
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak, ditunggu komennya. Krisan dari KK cantik 😍
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
lagian ngapain nikah lagi sih kalo ujung²nya kehidupan Dimas dan Kirana tetap sama bahkan menafkahi saja tampaknya jarang
Kayla Rane: lanjut terus k bacanya, nanti bakal ditemukan jawabannya..🤭 terimakasih komentar, dan likenya. 💞💞💞
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
sebenarnya si alin ini kayaknya peduli sama Kirana tapi dianya menyembunyikan rasa itu dan ditutup dengan rasa benci
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
jujur sebenarnya si alin emang agak nyebelin ya, tapi mungkin karna hati nya sudah beku jadi ya gitu 😕
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
pasti alin masih gak bisa terima kalo tiba² dia punya ibu baru yg cuma kerja jadi guru
falea sezi
😒 anak g tau diri bangke
Kayla Rane: sudah Bab 23 kk ditunggu komennya (Krisan dari KK cantik 😍)
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
hadiah nya sih keren, tapi nafkah setiap hari nya manaaaa? kata nya CEO, punya pulau pribadi 🤣🤣 sampai laptop rusak aja masih minta ganti, istri gak pegang uang samsek, hanya uang tabungan hasil usaha sendiri Pak Aditya gak punya gengsi kah? 🤣 atau Bu Kirana yg terlalu bodoh 🏃🏻‍♀️
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
lucu.. pelakuan Pak Aditya ke Bu Kirana dan Dimas, bukan seperti perlakuan seorang suami kepada istri, atau seorang ayah kepada anak, lebih seperti perlakuan kepada pembantu.
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak.. ditunggu komennya, (kritik sarannya KK)😍
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
looh tadi katanya jalan kaki, kok tiba2 ada mobil?
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: wkwkwkwk.. sama2 kak thor
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pak.. pak.. jangan jadi kepala keluarga pajangan donk, situ boleh bangga jadi ceo, tapi anak sambung dan istri diperlakukan begitu, sama aja harga diri kamu yg diinjak2 pak.. 🙏 kalau gak bisa melindungi mereka, mending gak usah dinikahi, toh kehidupan dimas dan kirana gak ada perubahan 😏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
papa nya aneh.. apa tujuannya menikah dengan Kirana? 🙄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
emang gak ada cctv apa? 😏 mustahal syekali 😌
Kayla Rane: Alina lebih pintar,sebelum buat fitnah dia matiin dulu cctv nya di ruang kerja papanya
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
kan udh punya suami kaya, kok suaminya masih membiarkan aja bu Kirana dan Dimas kesusahan, terlepas dari sikap Alina dan pernikahan yg disembunyikan, setidaknya beri kehidupan yg layak untuk istri dan anak sambungnya, nafkah yg layak untuk mereka..
Kayla Rane: iya kan dari awal bab, si Alina udah gak suka udah berpikiran buruk duluan sama ibu tirinya bahwa Kirana nikahin papanya pasti mau nguras harta papanya saja. jadi Kirana walau sudah nikah sama papanya Alina masih berpenampilan sederhana, agar bisa diterima Alina bahwa penilaiannya tentang kirana salah.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!