Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemegahan yang Membusuk
Matahari menjelang siang bersinar terik menyinari dinding pualam putih dari Gerbang Utama Cahaya Suci yang menjulang seolah menembus awan. Kemegahan arsitektur raksasa itu dirancang khusus oleh para dewa pendahulu untuk mengintimidasi jiwa siapa pun yang berani menatapnya.
Di atas tembok tebal tersebut, ratusan ksatria elit ibu kota berzirah emas mengkilap berdiri angkuh bagaikan barisan patung pelindung surgawi. Mereka menatap sangat rendah ke arah hamparan jalanan debu di bawah, merasa diri mereka sama sekali tak tersentuh oleh penderitaan dunia fana.
Iring-iringan kereta kuda hitam milik Valerius akhirnya berhenti tepat lima puluh langkah di depan bayangan gerbang megah tersebut. Rombongan berdarah itu terlihat bagaikan noda lumpur hitam yang sangat menjijikkan di atas kanvas putih sutra yang suci.
Ratusan rakyat jelata yang sedang mengantre untuk masuk ke dalam kota segera menyingkir ketakutan melihat barisan prajurit perbatasan itu. Bau anyir darah segar dan nanah busuk menguar sangat tajam dari zirah rombongan Kaelos, meracuni udara pagi ibu kota yang biasanya wangi oleh dupa.
Komandan penjaga gerbang ibu kota, seorang ksatria arogan bernama Sir Gareth, memicingkan matanya yang tajam menembus debu jalanan. Ia meludah jijik ke tanah saat melihat lambang naga hitam keluarga Draken yang terukir di pintu kereta kayu tersebut.
"Berhenti di sana, dasar kalian sekumpulan anjing perbatasan yang bau busuk!" raung Sir Gareth dari atas balkon menara dengan suara menggelegar. "Tidak ada satu pun pasukan bersenjata kotor yang diizinkan melintasi gerbang suci ini tanpa surat perintah langsung dari Dewan Bangsawan!"
Baron Kaelos yang duduk di atas kudanya seketika gemetar hebat, keringat dingin kembali membanjiri wajahnya yang sudah sepucat mayat. Ia menoleh dengan sangat panik ke arah kereta hitam di belakangnya, menanti titah mutlak dari sang majikan iblis yang bersemayam di sana.
Pintu kabin kereta yang berlapis beludru itu terbuka perlahan, mengeluarkan bunyi derit halus yang entah bagaimana mampu membungkam kebisingan kerumunan. Valerius melangkah turun dengan gerakan yang sangat elegan, ujung sepatu bot kulitnya menyentuh batu jalanan dengan keanggunan seorang penguasa sejati.
Jubah sutra hitamnya berkibar pelan ditiup angin, memperlihatkan wajahnya yang tampan rupawan namun sepucat pualam yang dingin. Di bawah sinar matahari ibu kota yang terang, aura kematian kelam yang mengelilingi pemuda itu justru terasa semakin pekat dan menyesakkan dada.
Valerius tidak segera menjawab bentakan kasar dari ksatria berzirah emas di atas tembok raksasa tersebut. Ia justru menatap iba ke arah kerumunan rakyat jelata yang meringkuk ketakutan di pinggir jalan raya, memainkan panggung sandiwaranya dengan sangat sempurna.
"Rakyat Aethelgard yang malang, lihatlah bagaimana ksatria pelindung kalian menyambut kepulangan putra sah dari keluarga yang telah melindungi daratan ini," ucap Valerius pelan. Suaranya tidak keras, namun skill manipulasi 'Lidah Berbisa' miliknya membuat setiap suku kata itu menggema jelas di dalam gendang telinga semua orang.
Sir Gareth tersentak kaget mendengar suara yang tiba-tiba bergema langsung di dalam kepalanya, memicu lonjakan adrenalin panik di dadanya. "Diam kau, dasar pangeran buangan yang dikutuk oleh dewa!" bentak Gareth mencoba menutupi teror kecil yang mulai merayap di tengkuknya.
"Aku memang dibuang ke neraka perbatasan oleh konspirasi kejam, Sir Gareth, namun para dewa menolak untuk mencabut nyawaku," balas Valerius dengan senyum sendu yang amat memilukan. Ia menyingkap sedikit lengan jubahnya, memperlihatkan luka-luka palsu mengerikan yang sengaja ia buat menggunakan belatinya sendiri.
Kerumunan rakyat jelata seketika tersiap ngeri melihat goresan daging yang menganga kemerahan di lengan sang pangeran muda. Hati nurani mereka yang naif langsung tersentuh oleh empati buta, melihat Valerius sebagai korban ketidakadilan yang sangat tragis.
"Kakak kandungku sendiri, Aldrich van Draken, telah mengirim puluhan pembunuh bayaran Gagak Besi untuk memenggal kepalaku di hutan sana!" seru Valerius dengan nada suara yang bergetar penuh keputusasaan palsu. "Ia menukar koin emas yang ditarik dari pajak keringat kalian hanya untuk mendanai pembantaian adik kandungnya sendiri!"
Pernyataan provokatif itu bagaikan sebuah percikan api yang menyambar lautan minyak tanah di tengah kerumunan massa yang lelah. Terdengar gumaman kemarahan dan keterkejutan yang merambat sangat cepat dari mulut ke mulut warga ibu kota yang kelaparan.
Sir Gareth membelalakkan matanya lebar-lebar, wajahnya memerah karena amarah bercampur kepanikan yang luar biasa hebat. Ia tahu betul bahwa membicarakan kebusukan internal keluarga bangsawan di depan publik adalah tabu terbesar yang bisa memicu pemberontakan rakyat.
"Tutup mulut kotor penuh dusta itu sekarang juga, Valerius!" raung Sir Gareth sambil menarik pedang emasnya dengan kasar. "Prajurit, siapkan busur silang kalian dan bidik langsung ke arah jantung pangeran pengkhianat itu!"
Ratusan ksatria di atas tembok langsung menarik tuas busur silang mekanis mereka secara serempak, menciptakan suara derak besi yang sangat menakutkan. Ujung-ujung panah tajam berkilat memantulkan sinar matahari, siap untuk menghabisi nyawa siapa pun yang berani membangkang.
Baron Kaelos langsung menjerit histeris dan meringkuk memeluk leher kudanya, merasa ajalnya telah benar-benar tiba di depan gerbang ini. Namun seratus prajurit perbatasan di belakangnya sama sekali tidak bergeming atau menunjukkan secercah pun rasa takut.
Mata prajurit perbatasan yang telah dicuci otak itu justru melotot merah, otot-otot mereka menegang menyambut tantangan maut tersebut. Mereka secara serentak menghunus pedang mereka yang berkarat kotor, memancarkan niat membunuh yang murni dan sangat beringas.
Valerius hanya tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk setiap ksatria emas di atas tembok itu berdiri tegak. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, mengundang secara terbuka hujan anak panah mematikan itu untuk menembus dadanya.
"Lepaskan anak panah kalian, Sir Gareth, dan biarkan seluruh rakyat ini menjadi saksi mata atas kebusukan Orde Cahaya!" tantang Valerius dengan suara lantang yang menggetarkan jiwa. "Bunuh aku sekarang, dan buktikan bahwa keadilan ibu kota ini hanyalah ilusi kotor yang dibeli oleh koin emas kakakku!"
Rakyat jelata yang sedari tadi diam kini mulai berteriak marah, melemparkan batu dan sisa sayuran busuk ke arah tembok gerbang. Kemarahan komunal mereka yang selama ini ditekan oleh kemiskinan akhirnya meledak, dipicu oleh orasi manipulatif sang tiran yang menyamar menjadi korban.
"Biarkan Pangeran Valerius masuk! Dia adalah korban! Turunkan senjata kalian, dasar ksatria pembunuh!" teriak massa yang kini telah tersulut emosinya sepenuhnya.