Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Tangan Aisyah bergetar hebat saat menyentuh kalung perak itu. Dingin logamnya seolah merambat ke hatinya, membangkitkan potongan memori samar ,sebuah janji di bawah hujan, tawa yang dulu terasa akrab, dan rasa sesak saat harus melepaskan sesuatu.
"Cukup, David... kepalaku sakit," rintih Aisyah sambil memegangi pelipisnya.
"Pulanglah, Aisyah. Kembalilah padaku aku tidak bisa tanpa mu dan kamu pun seperti itu kita saling bergantung satu sama lain," bisik David sebelum melangkah pergi, meninggalkan Aisyah yang terduduk lemas di bangku taman dengan dunia yang seolah berputar.
Sore harinya, saat Mama Retno pulang dengan wajah ceria membawa kantong belanjaan, ia mendapati Aisyah duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong.
"Aisyah? Sayang, kok belum mandi? Sebentar lagi Rain pulang, lho," tegur Mama Retno lembut.
Aisyah mendongak. Sorot matanya yang biasanya lembut kini berubah tajam dan dingin. "Ma, kenapa Mama bohong?"
Langkah Mama Retno terhenti. "Bohong apa, Nak?"
"Kenapa Mama bilang aku dan Rain menikah karena cinta? Kenapa Mama tidak bilang kalau pernikahan itu adalah sebuah perjodohan? Kenapa Mama tega memisahkan aku dengan David hanya karena Rain punya segalanya?" Suara Aisyah meninggi, bergetar karena amarah yang meluap.
"Aisyah, dengar dulu..."
"Cukup, Ma! Pantas saja di foto pernikahan itu aku tidak tersenyum. Kalian semua bahagia di atas penderitaanku! Kalian menjual ku pada pria penguntit itu!" Aisyah berdiri, menyapu vas bunga di meja hingga hancur berkeping-keping di lantai, tepat saat pintu depan terbuka.
Rain berdiri di sana, masih mengenakan setelan kantornya, membawa buket bunga lili kesukaan Aisyah. Senyum di wajahnya seketika luntur melihat kekacauan di hadapannya.
"Ada apa ini?" tanya Rain tenang, meski jantungnya berdegup kencang melihat istrinya gemetar hebat.
Aisyah menoleh, menatap Rain dengan tatapan jijik. "Jangan mendekat, Penipu!"
Rain terpaku di tempatnya. "Syah, apa yang terjadi? Siapa yang memberitahumu hal-hal aneh?"
"Hal aneh? Atau kebenaran yang kamu sembunyikan dengan folder 'Istriku yang Ajaib' itu? Kamu hanya terobsesi padaku, Rain! Kamu memanfaatkan kondisiku untuk mencuci otakku!" Aisyah melempar kalung perak dari David ke arah dada Rain. "Ini buktinya. Aku mencintai David, bukan kamu!"
Buket bunga di tangan Rain merosot jatuh. Kalung itu mengenai dadanya sebelum mendarat di lantai. Rain menatap kalung itu, lalu menatap Aisyah dengan sorot mata yang hancur, namun ia tidak membela diri. Keheningannya justru membuat Aisyah semakin murka.
"Mulai sekarang, jangan sentuh aku. Jangan bicara padaku. Bagiku, kamu tetap orang asing yang masuk ke hidupku dengan cara yang kotor," desis Aisyah dingin.
Ia melangkah melewati Rain, sengaja menabrak bahu pria itu dengan keras, dan berlari naik ke lantai atas. Suara pintu kamar yang dibanting keras menggema di seluruh rumah, meninggalkan keheningan yang menyakitkan di ruang tamu.
Mama Retno mendekat ke arah Rain dengan mata berkaca-kaca. "Rain... maafkan Mama. Seharusnya Mama lebih waspada."
Rain perlahan berjongkok, memungut kalung perak itu dan menggenggamnya erat hingga buku jarinya memutih. Ia menghela napas panjang, sebuah senyum getir tersungging di bibirnya yang gemetar.
"Tidak apa-apa, Ma," bisik Rain lirih. "Setidaknya... dia mulai mengingat sesuatu, meskipun itu adalah racun yang ditanamkan orang lain."
Malam itu, rumah yang biasanya penuh dengan candaan Rain berubah menjadi es. Rain tetap tidur di sofa, namun kali ini Aisyah mengunci pintu kamar rapat-rapat. Setiap kali Rain mencoba menawarkan makanan atau obat melalui balik pintu, Aisyah hanya menjawab dengan keheningan atau kata-kata singkat yang menusuk.
Aisyah duduk di tepi ranjang, menatap kegelapan di luar jendela. Hatinya merasa menang karena telah menyuarakan "kebenaran", namun entah mengapa, ada bagian kecil di lubuk hatinya yang merasa perih saat melihat pundak Rain yang lesu saat pria itu berbalik pergi tadi. Ia meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah rasa iba, bukan cinta yang mulai tumbuh.
Keesokan harinya, suasana rumah terasa mencekam, seperti sebuah bom waktu yang baru saja meledak dan menyisakan puing-puing kehancuran. Aisyah keluar dari kamar dengan wajah datar, mengabaikan kehadiran Rain yang sudah rapi dengan kemeja kerjanya di meja makan.
Rain mencoba tersenyum, meski lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan ia tidak tidur semalam. "Pagi, Syah. Aku sudah buatkan roti panggang kesukaanmu. Mau aku ambilkan?"
Aisyah melewati meja makan tanpa menoleh sedikit pun. Ia menuang air putih sendiri, gerakannya kaku dan penuh penekanan. "Tidak perlu. Aku bisa ambil sendiri. Dan jangan panggil aku 'Sayang' lagi. Itu terdengar menjijikkan di telingaku sekarang."
Suara denting sendok Rain yang menyentuh piring terdengar nyaring di keheningan itu. Mama Retno yang baru keluar dari dapur hanya bisa mengelus dada, matanya berkaca-kaca melihat perubahan drastis putrinya.
"Aisyah, jaga bicaramu pada suamimu," tegur Mama Retno lirih.
"Suami? Mama masih mau membela pria ini?" Aisyah tertawa sinis, matanya berkilat penuh kebencian. "Kenapa Mama tidak jujur saja kalau kalian menjual ku demi relasi bisnis? Kalian memanfaatkan kecelakaan ku untuk menghapus David! Kalian jahat!"
"Cukup, Syah!" Rain berdiri, suaranya tidak tinggi, namun penuh dengan ketegasan yang bergetar. "Hina aku sesukamu. Sebut aku penguntit, sebut aku penipu. Tapi jangan pernah sebut ibumu sendiri sebagai orang jahat. Beliau hanya ingin yang terbaik untukmu."
"Terbaik menurut kalian, bukan menurutku!" sahut Aisyah sengit. Ia menyambar tasnya. "Aku mau keluar. Jangan ikuti aku."
"Kamu masih sakit, Aisyah. Kamu belum pulih total," Rain mencoba menghalangi jalan Aisyah dengan lembut.
"Minggir!" Aisyah mendorong dada Rain dengan kasar. "Atau aku akan berteriak sekencang mungkin agar tetangga tahu kalau kamu menyekap ku di sini!"
Rain terdiam. Tangannya yang sempat menggantung di udara perlahan jatuh ke samping tubuhnya. Ia memberikan jalan, membiarkan Aisyah melangkah pergi dengan langkah angkuh keluar dari rumah.
Aisyah berjalan menyusuri trotoar, tujuannya hanya satu .Taman Kota. Ia ingin menemui David, satu-satunya orang yang ia rasa memegang kunci kebenaran tentang dirinya. Namun, di tengah jalan, kepalanya kembali berdenyut hebat. Potongan-potongan memori kembali muncul secara acak.
Visual sebuah pesta pernikahan...
Dirinya mengenakan kebaya putih...
Wajahnya yang murung di depan cermin...
"Benar... David benar," gumam Aisyah sambil memegangi kepalanya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum. "Aku tidak bahagia saat itu."
Namun, di sela-sela memori suram itu, terselip sebuah fragmen pendek .Rain yang sedang menangis diam-diam di sudut kamar saat Aisyah jatuh sakit sebelum pernikahan, dan bagaimana pria itu dengan sabar membacakan doa di telinganya setiap malam.
Aisyah menggeleng kuat, mencoba mengusir fragmen yang meragukan keyakinannya. Ia sampai di taman, dan di sana David sudah menunggu dengan senyum kemenangan.
"Kamu datang, Aisyah. Aku tahu kamu akhirnya sadar," ucap David sambil merangkul bahu Aisyah.
Kali ini, Aisyah tidak menghindar, meski ada rasa risih yang aneh saat kulit David bersentuhan dengan kulitnya ,sebuah rasa yang sangat berbeda dengan kehangatan yang diberikan Rain semalam.
"Bawa aku pergi dari sini, David. Aku tidak tahan tinggal di rumah itu bersama pria penipu itu," ucap Aisyah dengan nada dingin.
David menyeringai, tatapannya beralih ke arah sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari sana, di mana seorang pria tampak mengamati mereka dari kejauhan. Pria itu adalah Rain, yang ternyata tidak benar-benar pergi ke kantor, melainkan mengikuti Aisyah dari jauh karena khawatir akan keselamatannya.
Rain hanya bisa mematung di balik kemudi, melihat istrinya bersandar di bahu pria lain. Dadanya sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Ia melihat Aisyah tertawa ,sesuatu yang belum pernah ia lihat sejak istrinya sadar dari koma ,tapi tawa itu terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya.
"Jika itu yang membuatmu bahagia, Syah..." bisik Rain lirih pada dirinya sendiri, sementara air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.