Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka di Balik Pilar Putih
Gerbang besi raksasa kediaman utama Alfarezel terbuka perlahan dengan derit yang terdengar seperti suara pintu penjara di telinga Zeva. Jika sebelumnya ia datang ke sini hanya untuk makan siang bersama sang Kakek, kali ini tujuannya berbeda. Ia akan menginap. Ia akan menjadi "tahanan" budaya selama tiga hari penuh.
Zeva turun dari mobil dengan ransel denimnya yang terlihat sangat kontras di depan teras marmer yang disapu bersih oleh tiga orang pelayan berseragam. Adrian turun di sampingnya, wajahnya tampak tegang—sesuatu yang jarang ia tunjukkan di depan umum.
"Aku akan menjemputmu tiga hari lagi. Jika terjadi sesuatu, tekan nomor satu di ponselmu. Itu panggilanku," bisik Adrian sambil membetulkan kerah jaket Zeva.
Zeva tertawa hambar, mencoba menutupi rasa gugupnya. "Lu kayak lagi nganter anak TK ke sekolah asrama, Adrian. Santai aja. Gue bakal baik-baik aja selama mereka nggak nyajiin siput lagi buat sarapan."
"Ini bukan soal makanan, Zeva. Ini soal lidah mereka," jawab Adrian serius.
Tepat saat itu, pintu jati besar terbuka. Bukan Kakek Wijaya yang muncul, melainkan seorang wanita paruh baya dengan pakaian kebaya sutra yang sangat kaku dan perhiasan mutiara yang melingkar di lehernya. Matanya sipit dan tajam, menatap Zeva seolah-olah Zeva adalah noda lumpur di atas gaun mahalnya.
"Adrian, kau sudah sampai," suara wanita itu dingin dan bergetar halus. "Jadi, ini wanita yang membuat kegaduhan di seluruh berita nasional?"
Adrian melangkah maju, sedikit menghalangi pandangan wanita itu terhadap Zeva. "Tante Melinda, perkenalkan, ini Zevanya. Zeva, ini Tante Melinda, adik dari ayahku. Dia yang akan mengawasi 'pembekalanmu' di sini."
Zeva maju dan mengulurkan tangannya. "Halo, Tante. Nama saya Zevanya. Panggil Zeva aja."
Melinda tidak menyambut tangan Zeva. Ia hanya menatap tangan itu dengan pandangan menghina, lalu beralih ke arah Adrian. "Etiket pertamanya adalah: Jangan bicara sebelum dipersilakan, dan jangan tawarkan tanganmu jika statusmu belum jelas di rumah ini. Bawa masuk tasnya. Kita tidak punya banyak waktu."
Zeva menarik kembali tangannya, mengepalkannya di samping tubuh. Ia melirik Adrian yang tampak menahan amarah. Zeva memberikan anggukan kecil pada Adrian, sebuah isyarat yang mengatakan: Gue bisa tanganin ini. Lu pergi aja.
Setelah mobil Adrian menghilang di balik gerbang, Zeva merasa seperti domba yang masuk ke kandang serigala yang memakai mutiara.
Zeva dibawa ke ruang makan kecil di bagian belakang rumah. Di sana sudah duduk tiga orang lainnya. Ada seorang pria muda yang sebaya dengan Adrian, mengenakan kemeja polo bermerek, dan dua wanita muda yang sedang asyik memoles kuku sambil berbisik-bisik.
"Duduk," perintah Melinda.
Zeva duduk di kursi kayu yang sangat keras. Pria muda itu, sepupu Adrian bernama Revan, menatap Zeva dengan senyum meremehkan.
"Jadi, kau benar-benar pengantar paket?" tanya Revan sambil menyesap kopinya. "Aku penasaran, apa yang kau berikan pada Adrian sampai dia mau mempertaruhkan saham perusahaan demi melindungimu? Apa kau punya... ramuan khusus dari kampung?"
Dua wanita di sampingnya tertawa cekikikan. Zeva menarik napas panjang. Ia teringat janji pada Adrian untuk tidak langsung "meledak".
"Bukan ramuan, Mas," jawab Zeva dengan nada yang diusahakan tetap manis namun tajam. "Mungkin Adrian cuma bosen liat orang-orang yang bicaranya kayak naskah drama, makanya dia cari yang aslinya manusia. Lagian, paket yang saya anter itu isinya makanan enak, bukan sindiran basi."
Wajah Revan sedikit berubah. Ia tidak menyangka gadis ini akan membalas secepat itu.
"Lancang sekali," sahut salah satu wanita, namanya Sarah. "Kau tahu siapa yang sedang kau ajak bicara? Kami adalah keluarga inti Alfarezel. Kau di sini hanya karena Opa sedang 'bosan' dan ingin mainan baru. Jangan pikir cincin pertunangan itu akan benar-benar melingkar di jarimu."
"Cincinnya emang belum ada, tapi keberanian saya ada di sini," balas Zeva sambil menunjuk dadanya. "Kalau kalian mau bahas soal keluarga, mending kita bahas gimana caranya jadi keluarga yang sopan sama tamu. Di kampung saya, tamu itu dikasih minum, bukan dikasih sampah omongan."
Melinda memukul meja dengan kipasnya. BRAK!
"Cukup! Zevanya, di rumah ini, kau tidak punya suara untuk membela diri sampai kau membuktikan kau layak. Sarah, Revan, berhenti memprovokasinya. Kita punya jadwal," ujar Melinda.
Pembekalan dimulai dengan hal yang paling membosankan di dunia bagi Zeva: menghafal silsilah keluarga Alfarezel hingga tujuh turunan ke atas. Zeva harus menghafal siapa yang mendirikan yayasan ini, siapa yang membangun gedung itu, dan siapa yang menikah dengan bangsawan mana.
"Siapa istri kedua dari kakek buyut Adrian?" tanya Melinda dengan nada menguji.
Zeva yang sudah mulai pusing menatap foto hitam putih di dinding. "Namanya Nyonya Fatimah? Eh, atau Nyonya Elizabeth?"
"Salah! Namanya Nyonya Ratna Ningrum! Kau bahkan tidak bisa menghafal satu nama?" seru Melinda frustrasi. "Bagaimana kau mau mendampingi Adrian di jamuan kenegaraan jika kau tidak tahu siapa leluhurnya?"
"Tante, jujur ya," Zeva menyandarkan punggungnya yang pegal. "Nyonya Ratna itu udah lama nggak ada. Emangnya pas pesta nanti bakal ada kuis sejarah? Kalau ada yang nanya soal itu ke saya, saya bakal bilang: 'Maaf, saya lebih tertarik bahas masa depan sama Adrian daripada bahas mantan kakek buyutnya'."
Melinda mematangkan pandangannya. "Kau benar-benar barbar. Tidak punya rasa hormat pada tradisi."
"Hormat itu bukan soal hapalan, Tante. Hormat itu soal sikap. Dan sejauh ini, nggak ada satu pun orang di rumah ini yang kasih saya alasan buat hormat, kecuali Kakek Wijaya," balas Zeva telak.
Sore harinya, Zeva diizinkan istirahat sebentar. Namun, "istirahat" di rumah ini artinya adalah tugas lain. Melinda menyuruhnya membantu di dapur untuk menyiapkan makan malam. Bukan untuk memasak, tapi untuk mengawasi para pelayan dan memastikan perak-perak dipoles dengan sempurna.
Zeva berjalan ke dapur yang luasnya hampir sama dengan rumah katering Mpok Leha. Di sana, ia melihat para pelayan bekerja dengan wajah tegang. Salah satu pelayan muda tampak gemetar saat memegang piring porselen tipis.
"Sini, gue bantu," ujar Zeva spontan.
"Jangan, Nona! Nona Melinda melarang Anda menyentuh barang-barang ini," cegah pelayan itu panik.
"Udah, santai aja. Gue biasa megang piring ratusan tiap hari. Sini, piring porselen gini doang mah kecil," Zeva mengambil kain lap dan mulai memoles dengan cekatan. Keahlian motoriknya yang terlatih saat membongkar mesin motor ternyata berguna untuk memoles piring.
Tiba-tiba, Sarah masuk ke dapur dengan gaya angkuhnya. Ia melihat Zeva yang sedang asyik bekerja bersama para pelayan.
"Liat, kan? Benar-benar sesuai habitatnya," sindir Sarah sambil tertawa kecil. "Memang lebih pantas jadi pelayan daripada jadi nyonya besar. Opa benar-benar sudah pikun mengundangmu ke sini."
Zeva tidak berhenti memoles. Ia malah tersenyum. "Sarah, lu tahu nggak kenapa pelayan di sini wajahnya tegang semua? Karena mereka punya majikan yang nggak tahu cara bilang 'terima kasih'. Lu cantik, tapi sayang... aura lu kayak knalpot bocor. Bau dan bikin pusing."
Sarah melotot. "Kau... kau berani menghinaku?"
Sarah maju, berniat menyenggol tangan Zeva agar piring mahal di tangannya jatuh. Namun, Zeva yang sudah terbiasa dengan gerakan refleks di jalanan, dengan mudah menghindar. Malah Sarah sendiri yang kehilangan keseimbangan dan tangannya menyenggol baskom berisi air cucian piring.
BYURRR!
Air sabun yang keruh itu mengguyur gaun sutra Sarah yang harganya puluhan juta rupiah.
"AAAARRGHHH! BAJU GUE! DASAR CEWEK SIALAN!" teriak Sarah histeris.
Para pelayan mematung ketakutan. Melinda dan Revan berlari ke dapur karena mendengar teriakan itu.
"Ada apa ini?!" tanya Melinda horor melihat keponakannya basah kuyup.
"Tante! Dia sengaja mengguyurku!" tuduh Sarah sambil menunjuk Zeva.
Zeva meletakkan piring yang sudah kinclong itu di atas meja dengan tenang. "Saya nggak ngapa-ngapain, Tante. Dia mau nyenggol saya, eh malah nyenggol baskom sendiri. Hukum karma itu nggak perlu nunggu hari esok, langsung tunai di tempat."
Melinda menatap Zeva dengan kemarahan yang meluap-luap. "Zevanya! Masuk ke kamar tamu sekarang! Kau dilarang keluar sampai makan malam dimulai. Dan jangan harap kau akan mendapatkan makan malam yang layak!"
Zeva hanya mengangkat bahu, berjalan melewati mereka dengan gaya santai. "Ya udah, saya juga lagi pengen tidur. Lagian makanan di sini terlalu kecil-kecil, nggak kenyang."
Di dalam kamar tamu yang mewah namun terasa mencekam, Zeva duduk di tepi tempat tidur. Ia merindukan apartemen Adrian. Ia merindukan suara robotik Adrian yang meski kaku, namun selalu terasa jujur. Di rumah ini, setiap senyuman terasa seperti pisau yang disembunyikan.
Ia mengambil ponselnya, melihat nomor satu di panggilannya. Jarinya ragu. Gue nggak boleh kelihatan lemah. Gue harus buktiin kalau gue bisa lewat tiga hari ini, batinnya.
Namun, sebuah pesan masuk di ponselnya.
Adrian: "Bagaimana pembekalannya? Apa Tante Melinda terlalu keras? Kalau kau ingin pulang, katakan saja. Aku akan menabrak gerbang rumah itu sekarang juga."
Zeva tertawa kecil membaca pesan itu. Air mata yang sempat ia tahan hampir jatuh.
Zeva: "Aman, Bos. Baru aja ada insiden 'gaun mandi sabun'. Lu jangan berisik, ntar saham lu turun gara-gara nabrak gerbang sendiri. Fokus kerja aja, gue bakal balik dalam keadaan utuh dan makin barbar."
Adrian: "Aku tidak meragukan ke-barbar-anmu. Tapi aku meragukan ketenanganku tanpa gangguanmu di sini. Cepatlah kembali."
Zeva memeluk ponselnya. Kalimat terakhir Adrian terasa lebih manis daripada cokelat panas manapun. Ia menyadari satu hal: ia tidak sedang berjuang demi ganti rugi mobil lagi. Ia sedang berjuang untuk tetap berada di samping pria yang kini menjadi pusat dunianya.
Di luar kamar, ia bisa mendengar bisik-bisik anggota keluarga Alfarezel yang sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkannya di acara makan malam nanti. Zeva tersenyum miring, menyingsingkan lengan bajunya.
"Oke, kalian mau main kasar? Mari kita tunjukin gimana caranya main kasar ala anak jalanan," gumam Zeva.
hari ini berakhir dengan Zeva yang mulai menyusun strategi untuk menghadapi jamuan makan malam formal yang akan menjadi "medan pembantaian" baginya. Ia tahu ia tidak punya perhiasan atau nama besar, tapi ia punya sesuatu yang tidak dimiliki keluarga ini: mental baja yang tidak bisa patah hanya karena sindiran.
Malam itu, di bawah pilar-pilar putih yang megah, peperangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan Zevanya sama sekali tidak berencana untuk menjadi pihak yang kalah.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan