NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Langit di Atas Luka

Batu terakhir di tepi jurang terasa dingin di telapak tangan Xiao Chen. Jari-jarinya yang terkoyak mencengkeram tepian itu, dan dengan satu hentakan tenaga dari tulang dadanya, ia mengangkat seluruh tubuhnya keluar dari kegelapan.

Hap... Hap...

Napasnya tersengal. Bukan karena lelah—tubuhnya yang kini diperkuat Energi Chaos hampir tidak mengenal lelah—tapi karena sesuatu yang lain. Udara di permukaan terasa... asing. Bersih. Tidak ada racun. Tidak ada kabut ungu. Hanya udara malam yang dingin dan bau tanah basah sisa hujan.

Xiao Chen berdiri di bibir Jurang Naga Pemakaman. Di belakangnya, Hui melompat keluar dengan gesit, menggoyangkan bulunya dari debu. Serigala itu mendongak, menatap langit malam yang dipenuhi bintang, lalu mengeluarkan lolongan pelan—seolah memberi tahu dunia bahwa ia telah kembali.

Xiao Chen tidak melolong. Ia hanya berdiri mematung, menatap pemandangan di hadapannya.

Di kejauhan, di atas bukit, berdirilah Sekte Langit Pedang.

Bangunan-bangunan beratap genting biru menjulang di antara pepohonan pinus kuno. Cahaya lentera berkelap-kelip di sepanjang jalan setapak menuju gerbang utama. Bahkan dari jarak ini, Xiao Chen bisa mendengar samar-samar suara musik dan tawa.

Ada perayaan, pikirnya.

Tiga hari. Tiga hari sejak ia dilempar ke jurang. Dan Sekte Langit Pedang mengadakan perayaan.

Hatinya berdesir. Bukan amarah. Bukan kesedihan. Hanya... dingin. Seperti air sungai di musim gugur.

"Zhao Ling'er," bisiknya pada angin malam. "Wei Tianxing. Tetua Ma."

Nama-nama itu terasa asing di lidahnya. Tiga hari di dasar jurang bersama warisan Ras Dewa Patah telah mengubahnya. Bukan hanya tubuhnya yang berubah—tapi juga cara ia memandang dunia. Mereka yang dulu tampak seperti raksasa yang tak terjangkau, kini hanya tampak seperti... batu loncatan.

Tapi belum sekarang, katanya pada diri sendiri. Aku masih terlalu lemah.

Leluhur Pertama benar. Jika ia langsung kembali ke sekte sekarang, ia mungkin bisa mengalahkan beberapa murid biasa. Tapi melawan Tetua Ma yang berada di Alam Pendirian Fondasi? Atau Tetua Agung yang berada di Alam Inti Emas? Itu bunuh diri.

Xiao Chen mengepalkan tangan. Kukunya yang patah menancap di telapak tangan, tapi ia tidak merasakan sakit.

"Aku butuh waktu," gumamnya. "Aku butuh tempat untuk berlatih. Tempat di mana tidak ada yang mengenaliku."

Ia menoleh ke arah lain—ke hutan lebat di luar wilayah sekte. Hutan Bisu, begitu orang menyebutnya. Tempat para murid dilarang masuk karena dihuni binatang buas tingkat tinggi dan sisa-sisa formasi kuno yang berbahaya. Tapi bagi Xiao Chen, larangan itu tidak berarti apa-apa. Ia sudah mati menurut catatan sekte. Tidak ada yang akan mencarinya.

"Kau siap, Hui?" tanyanya pada serigala hitam di sampingnya.

Hui menggeram pelan, lalu berjalan mendahului ke arah hutan. Seolah berkata, "Aku yang akan memimpin."

Xiao Chen mengikuti.

---

Sementara itu, di Aula Utama Sekte Langit Pedang, perayaan sedang mencapai puncaknya.

Lentera merah bergelantungan di setiap tiang. Meja-meja panjang dipenuhi hidangan—daging binatang roh panggang, anggur spiritual berusia puluhan tahun, dan kue-kue bulan yang baru saja dipanen dari Kebun Giok. Ratusan murid duduk bersila, tertawa dan bersulang.

Di meja kehormatan di ujung aula, duduklah Zhao Ling'er dan Wei Tianxing. Keduanya mengenakan jubah upacara berwarna merah dan emas—warna kebahagiaan dan keberuntungan. Zhao Ling'er tampak cantik luar biasa malam ini. Rambutnya disanggul tinggi dengan tusuk konde bertatahkan permata biru. Senyumnya merekah, tapi tidak mencapai matanya.

Wei Tianxing mengangkat cangkir anggurnya. "Untuk semua saudara seperguruan yang hadir malam ini! Aku, Wei Tianxing, berterima kasih atas restu kalian untuk pertunangan ini. Aku berjanji akan menjaga Ling'er dengan seluruh kekuatanku!"

Sorak-sorai memenuhi aula.

Zhao Ling'er ikut mengangkat cangkirnya, tapi pikirannya entah ke mana. Sudah tiga hari, tapi bayangan Xiao Chen—tubuhnya yang terkapar, matanya yang kosong saat ia menamparnya—masih menghantuinya. Bukan karena rasa bersalah. Tapi karena sesuatu yang aneh.

Kenapa dia tidak menangis? pikir Zhao Ling'er. Kenapa dia hanya menatapku seperti itu?

Sebagai seseorang yang dibesarkan di sekte, Zhao Ling'er terbiasa dengan kenyataan bahwa yang lemah akan tersingkir. Tapi ada sesuatu di mata Xiao Chen pagi itu yang membuatnya tidak nyaman. Bukan amarah. Bukan putus asa. Tapi... ketenangan. Seperti permukaan danau sebelum badai.

Sudahlah. Dia sudah mati. Dimakan monster di dasar jurang. Tidak ada yang selamat dari Jurang Naga Pemakaman.

Ia meneguk anggurnya, membiarkan cairan hangat itu membakar kerongkongannya.

"Ling'er," suara Wei Tianxing membuyarkan lamunannya. "Tetua Ma ingin mengucapkan selamat."

Zhao Ling'er mendongak. Tetua Ma—lelaki tua berjubah abu-abu dengan janggut tipis dan mata licik—berdiri di depan meja mereka, membawa sebuah kotak kayu berukir.

"Hadiah kecil untuk calon pengantin," katanya sambil menyeringai. "Sebuah Pil Pemurnian Jiwa kelas menengah. Semoga membantu Nyonya Wei muda mencapai Alam Fondasi Pendirian tingkat tinggi dalam waktu dekat."

Zhao Ling'er menerima kotak itu dengan senyum palsu. "Terima kasih, Tetua Ma. Kau terlalu baik."

Tetua Ma tertawa kecil. "Ah, tidak ada yang terlalu baik untuk seseorang yang tahu cara... menyingkirkan sampah."

Zhao Ling'er merasakan sesuatu bergejolak di perutnya. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.

Di sudut aula, jauh dari meja-meja utama, seorang murid pelayan muda—anak laki-laki berusia sekitar dua belas tahun—sedang menuangkan anggur untuk para tamu. Namanya Lin Er. Dulu, ia sering membantu Xiao Chen memikul air dan memotong kayu bakar. Ia satu-satunya orang di sekte ini yang mungkin benar-benar peduli pada Xiao Chen.

Malam itu, saat semua orang bersulang, Lin Er menyelinap keluar aula. Ia berlari ke tepi Jurang Naga Pemakaman, membawa sekantong kecil nasi dan sebatang dupa.

"Kakak Xiao Chen," bisiknya pada kegelapan jurang. "Aku tahu kau mungkin sudah tidak bisa mendengarku. Tapi... aku bawakan nasi. Aku tidak bisa menyelamatkanmu. Aku hanya pelayan. Tapi setidaknya... kau tidak akan lapar di alam baka."

Ia meletakkan nasi di tepi jurang, lalu menyalakan dupa. Asap tipis mengepul ke langit malam.

Lin Er tidak tahu bahwa Xiao Chen masih hidup. Ia tidak tahu bahwa di kejauhan, di balik pepohonan Hutan Bisu, pemuda yang ia doakan sedang menatap ke arah sekte dengan mata yang berisi tekad membara.

Dan ia tidak tahu bahwa malam ini, adalah malam terakhir Sekte Langit Pedang tidur dengan nyenyak.

Karena di dalam hutan terlarang, Xiao Chen telah menemukan sesuatu.

Sebuah gua tersembunyi. Dengan altar batu kedua. Dan di atas altar itu, sebuah pedang patah yang memancarkan aura mengerikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!