NovelToon NovelToon
GOMA: THE REBORN

GOMA: THE REBORN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Action
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pendakian Diatas Atap Oksidian

Episode 17

Aku melesat keluar dari jendela penginapan dengan gerakan yang sangat halus hampir tidak menimbulkan suara gesekan sedikit pun dengan bingkai jendela yang terbuat dari tulang. Begitu kakiku menyentuh permukaan ubin obsidian di gang sempit bawah aku segera mengaktifkan kemampuan baru yang kudapatkan dari pembunuh bayaran tadi. Tubuhku terasa mendingin seketika seolah olah suhu dagingku turun hingga ke titik beku. Warna kulit abu abuku yang tadinya mengkilap metalik kini perlahan lahan menjadi transparan serta menyatu dengan kegelapan bayangan bangunan di sekitarku.

[ SISTEM: KEMAMPUAN AKTIF: SHADOW VEIL ]

[ SISTEM: DURASI TERSISA: 10 DETIK ]

[ SISTEM: KONSUMSI ENERGI ESENSI: RENDAH ]

[ SISTEM: STATUS: TIDAK TERLIHAT OLEH INDERA PENGLIHATAN BIASA ]

Rasanya sangat luar biasa. Aku merasa seolah olah aku menjadi bagian dari angin malam Gehenna ini. Aku tidak memiliki berat badan aku tidak memiliki wujud fisik yang nyata. Aku hanyalah sebuah kehendak yang bergerak di dalam kegelapan.

Aku tidak memilih untuk berjalan melalui jalan utama yang dijaga ketat oleh para Silent Watchers. Sebagai seorang pendaki aku lebih suka berada di ketinggian di mana aku memiliki sudut pandang yang lebih luas serta jalur pelarian yang lebih banyak. Aku melompat ke arah dinding sebuah gudang tulang yang ada di dekatku. Jari jari tanganku yang sudah dilapisi Black Iron menusuk permukaan batu obsidian dengan sangat mudah menciptakan pegangan yang sangat kokoh.

Satu tarikan satu dorongan. Gunakan otot punggung untuk menstabilkan berat badan.

Aku mendaki dinding gudang itu dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sekarang dengan adanya otot perut dan punggung yang sempurna aku bisa menarik beban tubuhku hanya dengan menggunakan ujung ujung jariku saja. Begitu aku sampai di atap bangunan yang miring aku berdiri tegak sambil melihat ke arah pusat Kota Oksidian. Di sana sebuah menara raksasa yang puncaknya berbentuk buku terbuka bercahaya ungu sangat terang. Itulah Aula Pengetahuan.

"Goma kau harus berhati hati saat melompat antar atap ini. Beberapa bangunan di wilayah tengah memiliki sistem keamanan berupa jebakan petir esensi yang bisa mendeteksi pergerakan di atas genteng tulang mereka," bisik Kharis yang kini muncul kembali dari balik jubahku.

"Aku bisa melihatnya Kharis. Eyes of the Abyss tidak hanya melihat mahluk hidup namun juga melihat aliran energi jebakan tersebut."

Aku memfokuskan pandangan mataku ke arah deretan atap di depanku. Benar saja aku melihat adanya garis garis tipis berwarna kuning yang saling berjalin di atas beberapa bangunan mewah. Garis garis itu adalah sirkuit sihir pertahanan. Jika aku menginjaknya maka seluruh penjaga kota akan segera mengetahui posisiku. Aku mulai merencanakan rute pendakianku dengan sangat teliti tepat seperti saat aku memetakan rute di dinding es Kanchenjunga.

Aku melompat dari satu atap ke atap lainnya. Setiap pendaratan ku dilakukan dengan teknik mendarat senyap menggunakan bantalan daging di telapak kakiku. Aku menghindari garis garis kuning itu dengan cara melompat lebih jauh atau dengan bergantung di sisi samping bangunan yang tidak memiliki sistem keamanan. Gerakanku sangat lincah serta dinamis seolah olah aku sedang menari di atas maut.

Dug... dug... dug...

Jantung esensi ku berdetak dengan ritme yang sangat sinkron dengan gerakanku. Setiap kali aku melompat jantungku memompa energi ekstra ke otot betis dan pahaku memberikan daya dorong yang luar biasa. Aku merasa jauh lebih kuat daripada saat aku masih menjadi manusia. Jika dulu aku butuh waktu berjam jam untuk mendaki gedung bertingkat di Bumi sekarang aku bisa melakukannya dalam hitungan detik.

Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam melalui jalur atap akhirnya aku sampai di sebuah dataran tinggi yang menghadap langsung ke arah Aula Pengetahuan. Bangunan itu benar benar luar biasa besar. Dindingnya terbuat dari tulang naga purba yang sudah mem'fosil serta dilapisi oleh kristal esensi yang sangat murni. Di depan pintu masuknya berdiri dua raksasa berbaju zirah lengkap dengan tinggi mencapai lima meter. Masing masing memegang kapak raksasa yang memancarkan aura esensi yang sangat menekan.

"Itu adalah Golem Tulang penjaga perpustakaan. Mereka tidak memiliki nyawa sehingga kau tidak bisa menyerang titik vital mereka. Mereka hanya akan bergerak jika kau mencoba masuk tanpa izin atau tanpa membayar biaya administrasi," jelas Kharis dengan nada yang sangat serius.

Aku turun dari atap bangunan terakhir kemudian berjalan perlahan lahan menuju pintu masuk utama. Aku mengatur pakaian jubahku agar menutupi sebagian besar kulit metalik ku. Aku tidak ingin menarik perhatian yang tidak perlu sebelum aku mendapatkan informasi yang kuinginkan.

[ SISTEM: LOKASI TERKONFIRMASI: AULA PENGETAHUAN (HALL OF KNOWLEDGE) ]

[ SISTEM: BIAYA MASUK: 300 KOIN ESENSI OKSIDIAN UNTUK SATU JAM ]

[ SISTEM: KETERANGAN: DILARANG MEMBAWA SENJATA TERBUKA DI DALAM AREA ]

Aku menyentuh kantong koin di pinggangku. Lima ratus koin yang kudapatkan dari arena masih terasa berat di sana. Aku akan menghabiskan tiga ratus koin hanya untuk masuk. Ini adalah harga yang sangat mahal namun aku tidak memiliki pilihan lain. Informasi adalah komoditas paling berharga di dunia manapun.

Aku melangkah mendekati meja pendaftaran yang ada di depan gerbang raksasa itu. Di balik meja tersebut duduk seorang iblis tua dengan jubah putih yang bersih. Wajahnya sangat manusiawi dengan kerutan kerutan yang menandakan bahwa ia sudah hidup sangat lama. Di tangannya ia memegang sebuah bola kristal yang terus berputar.

"Tiga ratus koin untuk satu jam akses ke lantai dasar pengetahuan umum. Tambahkan seratus koin lagi jika kau ingin bantuan dari pemandu roh untuk mencari buku tertentu," ucap iblis tua itu tanpa melihat ke arahku.

Aku mengeluarkan kantong koin ku kemudian menghitung tiga ratus koin esensi ungu yang bercahaya. Aku meletakkannya di atas meja batu yang halus. Iblis tua itu menyentuh koin koin tersebut kemudian mengangguk pelan.

"Nama."

"Goma."

Iblis tua itu menuliskan namaku pada sebuah kepingan tulang tipis yang kemudian diberikan kepadaku. "Lencana aksesmu Goma. Ingat kau hanya punya waktu enam puluh menit. Jika kau melebihi waktu tersebut maka energi di dalam lencana itu akan meledak serta melukai jiwamu secara permanen. Masuklah."

Aku mengambil lencana itu kemudian berjalan melewati dua golem raksasa yang tetap diam mematung layaknya patung batu. Begitu aku melangkah masuk ke dalam aula aku langsung disambut oleh pemandangan yang membuatku tertegun sejenak. Ruangan di dalam sini sangat luas dengan rak rak buku yang tingginya mencapai ratusan meter menuju langit plafon yang berbentuk kubah kristal. Ribuan gulungan kulit dan buku buku bersampul kulit iblis tersusun dengan sangat rapi berdasarkan kategori dan tahun penulisan.

Ini adalah gudang sejarah neraka. Jika jalan menuju Bumi itu ada maka pasti tercatat di salah satu rak di tempat ini.

"Goma kita harus cepat. Waktumu terbatas. Cari bagian yang membahas tentang Geografi Dimensi atau Pintu Keluar Alam Bawah," bisik Kharis yang tampak sangat kagum dengan ribuan buku di sekelilingnya.

Aku mulai berjalan di antara lorong lorong rak buku yang sangat panjang. Aku menggunakan Eyes of the Abyss untuk memindai judul judul buku yang ada di atas sana. Cahaya kuning dari mataku menyapu deretan buku buku tua tersebut mencari kata kunci yang relevan.

[ SISTEM: MEMULAI PROSES PEMINDAIAN JUDUL BUKU ]

[ SISTEM: KATA KUNCI: BUMI DIMENSI MANUSIA PINTU KELUAR ]

[ SISTEM: HASIL: 12 BUKU TERDETEKSI PADA RAK NOMOR 402 SEKTOR TIMUR ]

Aku segera berlari menuju rak nomor 402. Rak itu terletak di bagian pojok yang agak gelap serta tertutup debu yang cukup tebal. Sepertinya jarang ada iblis yang tertarik untuk mencari informasi tentang dunia manusia. Kebanyakan dari mereka hanya peduli pada cara meningkatkan kekuatan esensi atau taktik perang antar distrik.

Aku mengambil sebuah buku besar yang sampulnya terbuat dari kulit mahluk laut purba. Judulnya tertulis dalam bahasa kuno yang beruntung bisa diterjemahkan oleh sistemku secara otomatis: ANTOLOGI JALUR ANTAR ALAM: DARI GEHENNA MENUJU TERRA.

Terra. Itu adalah nama lain dari Bumi. Aku akhirnya menemukannya.

Tangan kanan ku yang berotot sedikit gemetar saat membuka halaman pertama buku tersebut. Aku merasakan sebuah harapan yang sangat besar mulai membuncah di dalam dadaku. Aku bukan lagi sekadar mahluk yang merayap di tanah neraka. Aku adalah seorang penjelajah yang sedang mencari jalan pulang menuju panti asuhan yang kutinggalkan.

"Kharis bantu aku mengawasi situasi di luar lorong ini. Aku akan membaca buku ini dengan cepat."

Aku mulai membolak balik halaman buku tersebut dengan sangat teliti. Aku melihat gambar gambar peta dimensi yang sangat kompleks. Aku melihat penjelasan tentang bagaimana energi jiwa manusia sangat berbeda dengan energi esensi iblis. Dan aku melihat sebuah catatan kecil yang dilingkari dengan tinta merah di halaman tengah.

"Jalur menuju Terra hanya terbuka saat siklus Gerhana Jiwa terjadi atau melalui portal buatan yang hanya bisa dibuka oleh raja iblis tingkat tinggi," gumamku sambil membaca baris demi baris informasi tersebut.

[ SISTEM: MEREKAM DATA GEOGRAFI DIMENSI KE DALAM MEMORI JANGKA PANJANG ]

[ SISTEM: ESTIMASI WAKTU GERHANA JIWA SELANJUTNYA: TIDAK DIKETAHUI ]

[ SISTEM: PERINGATAN: TERDETEKSI ADANYA SEGEL PENGUNCI PADA HALAMAN TENTANG LOKASI PORTAL ]

Aku mencoba membuka halaman selanjutnya namun halaman itu terasa sangat berat serta tidak bisa dibuka seolah olah ada kekuatan magnet yang sangat besar menahannya. Ini adalah segal pengetahuan yang hanya bisa dibuka dengan esensi jiwa tingkat tinggi atau dengan membayar biaya tambahan yang jauh lebih besar.

"Sialan. Ternyata mereka menyembunyikan bagian yang paling penting," geram ku dengan nada marah yang tertahan.

Aku melihat ke arah lencana aksesku. Waktuku tinggal tiga puluh menit lagi. Aku harus mencari cara untuk membuka segel ini atau mencari sumber informasi lain sebelum aku diusir keluar dari perpustakaan megah ini. Pendakianku menuju informasi ini ternyata memiliki dinding vertikal yang sangat licin. Namun seperti biasanya aku tidak akan menyerah begitu saja.

Aku menutup buku tersebut kemudian memasukkannya kembali ke rak sambil berpikir keras. Jika lokasi portal itu dirahasiakan maka itu artinya ada orang orang tertentu di kota ini yang menjaganya. Dan aku harus menemukan siapa mereka tidak peduli seberapa tinggi jabatan mereka di Kota Oksidian ini.

Ibu Widya selangkah lagi aku akan tahu di mana pintu itu berada. Aku akan melakukan apa pun untuk membuka segel itu bahkan jika aku harus membakar seluruh perpustakaan ini untuk mendapatkan jawabannya. Aku adalah Goma dan aku tidak akan pernah berhenti mendaki sampai aku kembali memijak tanah Bumi.

1
diy
hadir thor🤭
diy
tetap semangat 💪
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
diy
hmmm menarik☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semakin menarik ☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
dibanyakin dong bab nya hehe 🤭
diy
semangat author💪
M Agus Salim: selalu 💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!