Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bentrokan Jiwa
Altar batu yang melayang di utara Wilayah Terbengkalai itu kini menjadi panggung ketegangan mutlak. Dua pemangsa dengan niat membunuh yang sama-sama pekat saling berhadapan, membiarkan badai salju dan angin ruang yang kacau mencambuk pakaian mereka.
"Mengambilnya dari mayatku?" Bai mengulang kata-kata Chu Chen. Suaranya tidak lagi merdu, melainkan sedingin badai es yang bisa membekukan lautan. "Keberhasilanmu membunuh kera bodoh itu telah membuatmu lupa diri, Bocah. Kau hanya seekor semut di Alam Lautan Qi Lapis Keempat. Biar kutunjukkan padamu, apa itu jurang perbedaan antara fana dan ahli Istana Jiwa!"
Bai tidak mencabut senjata. Ia hanya mengangkat jari telunjuknya yang seputih pualam dan menunjuk tepat ke arah dahi Chu Chen.
Seni Istana Jiwa: Ranah Cermin Es Abadi!
Dalam sepersekian tarikan napas, dunia di mata Chu Chen menghilang.
Altar batu, badai salju, dan langit merah darah lenyap sepenuhnya. Chu Chen mendapati dirinya berdiri di tengah lautan cermin es tanpa ujung. Suhu di tempat ini melampaui batas fisik; dinginnya tidak menyerang kulit atau tulang, melainkan langsung menusuk dan membekukan Niat Spiritualnya.
Di dalam cermin-cermin es itu, ribuan pantulan Bai muncul secara bersamaan, menatap Chu Chen dengan wajah tanpa belas kasihan.
"Ini adalah alam jiwaku," suara Bai menggema dari segala arah, tumpang tindih hingga membuat pendengaran batin Chu Chen serasa berdarah. "Fisikmu mungkin keras, Lautan Qimu mungkin aneh, tetapi di Alam Istana Jiwa, kami membunuh tanpa perlu menyentuh tubuhmu. Jiwamu akan hancur menjadi serpihan es, dan saat kau kembali ke dunia nyata, kau hanya akan menjadi cangkang kosong tanpa akal."
Rasa dingin mulai merayap naik dari kaki Chu Chen, mengubah kesadarannya menjadi lambat. Ini adalah pembunuhan tingkat tinggi yang mustahil ditangkis oleh kultivator Alam Lautan Qi mana pun di Benua Biru Langit. Perbedaan dua alam besar adalah hukum besi yang tidak bisa dilanggar.
Namun, Bai melakukan satu kesalahan mematikan. Ia mencoba membekukan jiwa seseorang yang di dalamnya bersemayam ingatan dewa.
Di saat rasa dingin itu hampir menyentuh pusat kesadaran Chu Chen, setetes darah di jantung aslinya berdetak dengan kekuatan yang mengguncang semesta.
DEG!
Sebuah auman purba meledak bukan dari mulut Chu Chen, melainkan dari dalam lautan kesadarannya sendiri. Bayangan raksasa Kaisar Naga, Long Di, menampakkan wujudnya di dalam Ranah Cermin Es Abadi tersebut. Mata naga sebesar bintang menatap ribuan pantulan Bai dengan kemurkaan mutlak.
"Seekor semut fana... berani mencoba membekukan jiwa Kaisar Naga?!" Suara auman naga itu menciptakan gelombang guntur spiritual yang menghantam dunia cermin es.
PRANG! PRANG! PRANG!
Ribuan cermin es di dalam ranah batin Bai retak serentak, lalu hancur lebur menjadi debu ketiadaan.
Di dunia nyata, waktu baru berlalu kurang dari satu kedipan mata.
Bai tiba-tiba menjerit tertahan. Ia memuntahkan seteguk darah segar yang menodai kerudung putihnya. Matanya membelalak dipenuhi kengerian yang tidak masuk akal. Niat Spiritualnya—istana jiwanya—baru saja dihantam pukulan balik yang begitu buas hingga ia merasa seolah kepalanya baru saja ditimpa palu godam raksasa.
"B-Bagaimana mungkin?! Siapa yang ada di dalam tubuhmu?!" Bai terhuyung mundur, kehilangan kendali atas tubuhnya yang melayang, dan kakinya terpaksa menapak kasar di atas altar.
"Kau mengincar tempat yang salah," bisik Chu Chen.
Mata Chu Chen terbuka lebar, memancarkan cahaya emas vertikal yang menyilaukan. Ia tidak membuang sedetik pun saat pertahanan batin Bai hancur. Ia melesat memangkas jarak, Lautan Qi di dalam Dantiannya mendidih, memompa gabungan energi Yin-Yang dan Api Teratai Merah langsung ke lengan kanannya.
Telapak Penghancur Matahari!
Menyadari ancaman kematian yang nyata, Bai secara naluriah menyilangkan kedua lengannya. Qi Istana Jiwa yang sangat padat membentuk perisai teratai es sembilan lapis di depannya.
BUMMMMM!!!
Telapak tangan Chu Chen menghantam perisai es tersebut. Panas puncak dari Api Teratai Merah berbenturan langsung dengan hawa dingin abadi milik seorang ahli Istana Jiwa.
Uap putih meledak hebat, menyapu seluruh altar batu. Tiga lapis perisai es Bai langsung meleleh, namun sisa enam lapis berhasil menahan daya hancur telapak tangan Chu Chen. Meski begitu, tenaga fisik Lapis Kesembilan Puncak yang disalurkan Chu Chen tetap menghempaskan tubuh Bai sejauh belasan tombak hingga ia menabrak pilar batu di ujung altar.
"Kau..." Bai mengusap darah di balik kerudungnya. Rasa terkejutnya telah berubah menjadi kemarahan mutlak. "Aku meremehkanmu, Bocah. Aku akan benar-benar membunuhmu sekarang!"
Bai merentangkan kedua tangannya. Langit di atas altar mendadak menggelap, sebuah pedang es raksasa sepanjang puluhan tombak mulai terbentuk dari Niat Spiritual dan Qi alam yang ia panggil.
Namun, sebelum pedang itu bisa dijatuhkan, suara retakan yang jauh lebih mengerikan dari suara pertarungan mereka menggema di seluruh penjuru Wilayah Terbengkalai.
KRETAK... KRAAAAS!
Bai dan Chu Chen secara bersamaan menghentikan gerakan mereka. Niat Membunuh di udara langsung digantikan oleh naluri bertahan hidup yang paling purba.
Altar batu raksasa yang mereka pijak mulai retak terbelah dua. Tidak hanya itu, langit merah darah di atas mereka... benar-benar pecah bagaikan cermin kaca.
Benturan antara kekuatan Istana Jiwa Bai, ledakan Telapak Penghancur Matahari Chu Chen, dan kenyataan bahwa Segel Pembelah Langit (pusaka yang menstabilkan ruang di area ini) telah dipindahkan ke dalam cincin Chu Chen, menyebabkan ruang lipatan alam Pecahan Alam Atas ini kehilangan keseimbangannya!
"Gila! Ruang ini runtuh!" Bai menjerit, pedang es raksasanya hancur berantakan karena aliran Qi alam mendadak tersedot ke dalam celah-celah hitam yang bermunculan di udara.
Daya hisap dari celah ruang itu puluhan kali lebih kuat dari Pusaran Ketiadaan milik Chu Chen. Bebatuan, mayat Kera Iblis, dan lapisan tanah altar tersedot ke dalam kehampaan hitam yang menjanjikan kematian abadi.
"Chu Chen! Keluarkan Segel Pembelah Langit itu! Hanya benda itu yang bisa menstabilkan ruang ini sebelum kita tercabik-cabik!" teriak Bai, mencoba menahan tubuhnya agar tidak tersedot menggunakan Qi Istana Jiwa-nya yang tersisa.
Chu Chen menancapkan sepuluh jarinya ke lantai batu hitam legam altar, menahan daya hisap yang gila-gilaan. Ia menatap celah raksasa yang terbuka tepat di tengah-tengah antara dirinya dan Bai.
"Keluarkan segelnya dan serahkan padamu agar kau bisa mengunciku di sini?! Jangan harap!" raung Chu Chen menahan deru badai ruang.
KRAAAAK!
Pijakan batu di bawah tangan Chu Chen hancur. Tubuhnya seketika terangkat, terseret tanpa ampun menuju pusaran hitam celah ruang.
"Bocah keras kepala!" Bai menggertakkan giginya. Ia tahu jika Chu Chen tertelan ke dalam celah ruang itu, Segel Pembelah Langit akan hilang selamanya, hancur di antara kehampaan.
Mengesampingkan akal sehatnya, Bai melontarkan dirinya menyongsong hisapan ruang tersebut, melesat mengejar Chu Chen. Tepat saat tubuh Chu Chen mulai tertelan kegelapan mutlak, Bai berhasil meraih pergelangan tangan pemuda itu.
Chu Chen terkejut melihat wanita itu meraih tangannya. "Kau gila?!"
"Aku tidak akan membiarkan pusakaku hilang bersamamu, Sampah!" balas Bai tajam.
Detik berikutnya, pusaran hitam itu menutup dengan suara dengingan tajam yang merobek gendang telinga. Altar batu raksasa itu hancur lebur, menyisakan kehampaan.
Di tempat yang sama, sosok Chu Chen dan wanita berkerudung salju itu telah lenyap tanpa sisa, ditelan oleh badai ruang dan waktu yang tidak berujung, membawa mereka menuju entah ke mana di luar batasan Benua Biru Langit.