NovelToon NovelToon
Antagonis Pria Itu Milikku!

Antagonis Pria Itu Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.

Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.

Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 32 - Emosi Sander pada Kilin

Fasha melingkarkan kedua lengannya erat di pinggang Sander. Kepalanya tertunduk, terbenam di dada pria itu. Suaranya teredam, nyaris tak terdengar, membuatnya tampak semakin kecil dan menyedihkan.

Lengan Sander sempat menggantung di udara. Ia merasakan getaran halus dari tubuh di pelukannya. Setelah ragu sejenak, ia perlahan menurunkan tangannya dan meletakkannya di kepala Fasha, mengusapnya dengan gerakan kaku dan canggung.

Kepala Fasha terangkat. Rambutnya berantakan, air mata masih menggantung di sudut mata. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.

Itu… Sander yang mengusap kepalanya.

Tangis Fasha tertahan begitu saja. Ia terlalu sibuk merasakan sentuhan itu. Dengan hati-hati, ia menempelkan kepalanya ke telapak tangan Sander, mengusapnya perlahan, seolah takut sentuhan itu akan menghilang jika ia bergerak terlalu kasar.

Ia tampak seperti anak kucing tersesat—tak punya cakar, hanya bisa berpura-pura galak dengan cara yang justru menyedihkan.

Sander merasakan tatapan Fasha. Dadanya terasa hangat, asing. Ia mengalihkan pandangan dengan santai, lalu bertanya dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

“Aku menyuruhmu tetap di kamar. Kenapa kau ada di sini?”

“Di mana yang sakit? Apa Kilin memukulmu?”

“Aku takut… aku menunggumu.”

Air mata kembali mengalir di pipi Fasha. Tangannya mencengkeram kerah baju sendiri dengan keras kepala.

“Dia ingin menyentuhku. Katanya… dia ingin bermain denganku.”

Mata Fasha yang jernih menatap lurus ke arah Sander. Ketakutan memenuhi pandangannya.

Hati Sander melunak. Tangannya kembali mengusap kepala Fasha, kali ini sedikit lebih lama.

Namun di balik ketenangannya, mata Sander menggelap.

Fasha bertingkah seolah tidak mengerti makna kata bermain.

Sander yang mengerti itu kemudian mengelus kepalanya dan berkata:

“Kembali ke kamar dulu.”

Fasha menggeleng panik. Ia melangkah maju, berdiri di depan Sander. Telapak tangannya yang sedikit berkeringat mencengkeram pergelangan tangan pria itu, namun tubuhnya tetap menghadap Kilin.

“Dia jahat,” katanya dengan suara gemetar namun keras kepala.

“Aku akan melindungimu.”

Kilin tertawa pelan sambil bersandar ke dinding. Meski tubuhnya dilanda rasa sakit, ia tetap tidak bisa menahan ejekan.

Betapa aneh pemandangan ini—dua orang yang rusak, saling berusaha melindungi.

Orang bodoh dan orang gila.

Pasangan yang sempurna.

Ia ingin melihat sampai kapan Fasha bisa bertahan. Kebahagiaan seperti itu biasanya mati lebih dulu.

“Paman,” ujar Kilin dengan senyum ramah yang tak berubah sedikit pun.

“Bibi kecilku pasti salah paham. Aku mendengar suara gaduh dan mengira ada penyusup. Tidak aman baginya sendirian. Aku hanya ingin menemaninya.”

Ia berbicara lancar, terlalu lancar.

“Aku meneleponmu berkali-kali, tapi tak dijawab. Ini hari ulang tahun nenek, kan? Aku hanya mencoba kata sandinya… dan berhasil. Kau tidak akan marah, kan?”

Penjelasan yang rapi, namun Sander tahu bahwa Kilin jelas memiliki sifat yang licik.

Sander mencibir dingin.

“Kilin, kau dan ayahmu sama-sama tidak pantas hidup bermasyarakat.”

Tatapan Sander tenang, tanpa emosi. Bukan marah—melainkan meremehkan.

Ia menarik Fasha ke belakangnya, memposisikan tubuhnya sebagai pelindung.

“Kapan orangku menjadi sesuatu yang boleh kau nilai?”

“Bahkan ayahmu tidak punya hak itu.”

Jari-jari Fasha mencengkeram ujung baju Sander. Ia menatap punggung pria itu—lebar, kokoh, menenangkan. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar aman.

Sander pernah berkata ia adalah miliknya.

'Apakah itu berarti… aku lebih penting daripada keluarga Carter?, kalau iya.. berarti dia sudah menganggap aku penting baginya, kan?'

“Paman kecil—”

“Kau tidak pantas memanggilku begitu.”

Keringat dingin mengalir di pelipis Kilin. Sejak kecil, ia paling takut pada tatapan Sander yang kosong dan dingin—tatapan yang hanya diberikan pada orang-orang yang akan mati.

Kenangan lama menyergap.

Hari biasa.

Ia mendorong Sander ke kolam, lalu lari ketakutan.

Sander berusia tiga belas tahun saat itu.

Tak ada kata-kata.

Tak ada emosi.

Sander menyeretnya ke tepi kolam dan menenggelamkan kepalanya berulang kali. Tangannya tidak pernah gemetar.

Ia benar-benar ingin membunuhnya.

Jika Kakek tidak datang tepat waktu, Kilin mungkin sudah mati hari itu.

Perasaan tercekik itu kembali. Kilin menelan ludah, tangannya gemetar saat mengusap tenggorokannya.

Ia tahu Sander kuat.

Dicambuk hingga punggungnya terbelah pun, Sander tidak pernah bersuara.

Dan Kilin—berbohong.

Tak seorang pun peduli pada Sander.

Sejak saat itu, Kilin tahu: Sander tidak pernah dianggap penting.

Tubuh Kilin gemetar hebat.

“A-aku salah…”

Ia menangis, berteriak, hampir bersujud.

“Maaf, Paman Kecil. Aku salah bicara…”

“Tak ada orang luar di sini.”

Suara Sander datar.

“Kau hanya tahu berpura-pura di depan ayahmu.”

Wajah Kilin memucat lalu memerah. Ia terdiam lama, lalu tertawa putus asa.

“Kau menyombongkan apa?," ucap Kilin mencoba melawan Sander.

“Semua yang kau miliki dari Kakek. Tanpa keluarga Carter, kau bukan apa-apa," lanjut Kilin.

Karna Sander tak membalasnya, Kilin sedikit merasa menang dan lanjut berkata, “Kau membawa sial. Nenek mati karena kau.”

Begitu kalimat itu keluar dari mulut Kilin, Sander langsung menjadi emosi, ia menendangnya hingga tubuh itu terpental lalu mencengkeram kerah Kilin dan membantingnya ke lantai.

Pukulan demi pukulan jatuh tanpa ragu.

Napas Sander tetap tenang.

Seolah-olah yang ia hancurkan hanyalah sepotong daging busuk—tak bernyawa, tak berarti.

1
hile sivra
pantes pas liat riwayat bacaan ada yang update tapi kok asing, ternyata ganti gambar sampul toh /Facepalm/
Lynn_: Iya ka.. makasih🙏 Dukung terus ya😇🙏
total 3 replies
hile sivra
haduuh tanggal 2 maret up nya, bisa 2 hari lagi ga sih thoorr/Scowl/
Lynn_: Makasih udah baca dan komen ya kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!