Simura Seorang pangeran yang diasingkan dinegeri asing karena difitnah saudaranya. Dia menonjol dalam bidang strategi dan politik namun disisi lain ada sebuah kekuatan magis didalam tubuhnya yang sengaja ia sembunyikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LukmanÆ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tubuh Vajra
Di sepanjang jalan setapak di balik rimbunnya hutan, Shin Tao(Simura) dan Yan Daiyu melangkah pulang menuju desa. Kanopi pepohonan yang lebat seolah merajut perisai hijau, melindungi mereka dari sengatan terik matahari. Namun, perjalanan itu diselimuti keheningan yang canggung.
Shin Tao melirik wajah Yan Daiyu. Rona pasi akibat trauma yang baru saja dialaminya masih tercetak jelas di sana. Mencoba memecah kekakuan, Shin Tao mulai melontarkan kalimat kalimat penghibur yang hangat. Usahanya tidak sia sia, gurauan ringan itu berhasil menjadi obat penawar sementara yang mengembalikan sedikit senyum di wajah gadis itu.
Tanpa terasa, waktu bergulir cepat di tengah obrolan mereka hingga sepasang langkah itu tiba di gerbang desa. Seperti biasa, para penduduk menyapa mereka dengan keramahan yang tulus. Tak ingin tertahan lama, keduanya bergegas menuju rumah ajaib milik Guru Chen. Di sana, Yan Shao dan Liu Mo(Liusan) tengah melepas lelah setelah seharian memeras keringat di ladang.
Begitu menyadari wajah pucat sang kakak, Yan Shao langsung didera rasa cemas. Ia segera bertanya tentang apa yang telah terjadi. Dengan suara yang masih parau dan bergetar, Yan Daiyu pun menceritakan seluruh kejadian kelam yang baru saja menimpanya.
Mendengar penjelasan itu, darah Yan Shao mendidih. Amarahnya meledak seketika. Ia mengepalkan tinju, siap melesat untuk menuntut balas pada para bajingan yang telah lancang melecehkan kakak tercintanya. Namun, langkah Yan Shao tertahan ketika Yan Daiyu dengan cepat mencegahnya. Ia menjelaskan bahwa para penjahat itu telah takluk dan mendapat pelajaran setimpal di tangan Shin Tao.
Seketika, tatapan murka Yan Shao melunak menjadi rasa hormat yang mendalam. Ia berbalik dan membungkuk, berterima kasih dengan tulus kepada Shin Tao karena telah melindungi kakaknya. Shin Tao hanya menyambut ucapan itu dengan senyuman hangat tanpa pamrih.
Beberapa waktu berlalu, saat matahari condong ke barat. Yan Daiyu yang merasa kehilangan atmosfer kehadiran sang guru bertanya kepada adiknya.
"Yan Shao, ke mana Guru Chen? Sejak tadi aku tidak melihatnya."
"Guru Besar Chen sedang melakukan meditasi mendalam di biliknya sejak fajar menyingsing," jawab Yan Shao.
Mendengar hal itu, sebersit kecurigaan di benak Yan Daiyu. Perasaannya tidak tenang, apakah ada sesuatu yang buruk sedang terjadi pada guru mereka?
Seolah menjawab keraguannya, langit di atas rumah ajaib mendadak terbelah oleh seberkas cahaya putih yang benderang. Sinar itu begitu menyilaukan mata, memijar dahsyat sebelum perlahan meredup. Di balik sisa sisa cahaya tersebut, sosok Guru Chen tampak berdiri tegak di depan pintu rumah ajaib. Aura yang memancar dari tubuhnya terasa begitu menekan, namun anehnya, diselimuti kelembutan yang agung.
Melihat fenomena tersebut, Yan Shao dan Yan Daiyu segera berlari menghampiri dengan wajah berbinar.
"Guru berhasil naik tingkat! Selamat, Guru!" ucap Yan Shao dengan kegembiraan yang meluap- luap.
"Selamat, Guru Chen," tambah Yan Daiyu sembari membungkuk hormat.
Guru Chen hanya terkekeh kecil, lalu dengan lambaian tangan yang tenang, ia mengajak kedua muridnya itu menuju paviliun pribadinya.
Sementara itu, di halaman luar, Shin Tao dan Liu Mo sedang sibuk membersihkan sisa sisa tanah yang menempel pada peralatan ladang. Tepat pada saat itulah, Shin Tao merasakan sebilah aura dendam yang amat pekat mendadak mengunci dirinya. Tatapan penuh kebencian itu datang dari Guru Chen melalui aura batinnya. Namun, Shin Tao tetap bergeming. Wajahnya datar, seolah olah ia sama sekali tidak merasakan tekanan berat yang sedang mengintainya.
"Berpura pura tidak merasakan tekananku…?! Keparat kecil, kau telah menghancurkan jalan kultivasi puncakku!" batin Guru Chen dengan amarah yang mengakar hingga ke sumsum tulang.
Aura dendam itu begitu tajam hingga terasa menusuk langsung ke lubuk hati Shin Tao. Ia benar benar tidak menyangka bahwa Guru Chen memendam kebencian sedalam itu terhadapnya. Tak lama kemudian, dada Shin Tao mendadak terasa sesak. Detak jantungnya berdegup kencang bak ditabuh sauh, aliran darah di dalam tubuhnya mendadak bergejolak tidak stabil.
Di dalam alam bawah sadarnya, Shin Tao dapat melihat manifestasi batin Guru Chen yang menyusup, mencoba merusak kedamaian meditasinya.
Tanpa belas kasih, manifestasi Guru Chen melayangkan pedang spiritualnya, menebas membabi buta demi menghancurkan seluruh jaringan saraf batin dan meridian Shin Tao. Namun, sebelum pedang itu berhasil merenggut segalanya, sebuah tekanan kosmis yang amat dahsyat mendadak turun, mengunci seluruh aliran kultivasi Guru Chen hingga ia membeku.
Guru Chen mencoba melawan tirani kekuatan tersebut dengan mengerahkan seluruh sisa tenaganya. Namun, tanpa diduga, ruang batin itu bergetar hebat dan sebuah wujud Vajra raksasa yang agung termaterialisasi tepat di hadapannya.
Mengabaikan akal sehat karena dibutakan amarah, Guru Chen kembali melayangkan pedangnya ke arah tubuh Vajra tersebut. Sial baginya, senjata spiritual itu bahkan tidak mampu menggores seujung kuku sang entitas.
"Kau telah memupuk dosa yang teramat dalam… Aku akan menghukummu..." Gema suara Vajra itu menggelegar, menggetarkan fondasi jiwa Guru Chen.
Bukannya mundur, Guru Chen justru mengamuk dan terus menyerang tubuh Vajra itu secara membabi buta. Menghadapi kedegilan tersebut, sang Vajra hanya menggerakkan satu jarinya. Ia menekankan jari raksasa itu ke arah Guru Chen.
Guru Chen yang panik segera mengaktifkan berlapis lapis jimat pelindung terbaiknya. Namun, semua itu sia sia. Jari Vajra itu melesat teramat kuat, menghancurkan perisai gaib milik Guru Chen satu demi satu bagai membalik telapak tangan, hingga akhirnya tekanan itu menghantam telak tubuhnya.
Di dunia nyata, tubuh asli Guru Chen mendadak tersentak hebat. Ia memuntahkan darah segar yang pekat dan langsung ambruk ke lantai paviliun. Napasnya tersengal sengal, nyawanya kini berada di ujung tanduk.
Melihat sang guru tiba tiba sekarat tanpa sebab, Yan Shao dan Yan Daiyu didera kepanikan luar biasa. Teriakan histeris mereka meminta tolong menggema hingga ke seluruh penjuru desa, memicu kedatangan Kepala Desa dan para penduduk yang berbondong bondong memenuhi paviliun.
Melihat kondisi Guru Chen yang kian kritis, Kepala Desa segera memerintahkan tabib desa untuk memeriksanya. Namun, setelah meletakkan jemarinya di atas nadi sang guru besar, tabib itu hanya bisa menggelengkan kepala dengan wajah lesu.
"Hidup Guru Besar... sudah tidak bisa ditolong lagi. bersiaplah untuk yang terburuk," bisik tabib itu pasrah.
Seketika, awan kesedihan yang pekat menyelimuti hati Yan Shao, Yan Daiyu, dan seluruh penduduk desa yang hadir.
Di tengah kesedihan itu, Shin Tao melangkah maju mendekati tubuh Guru Chen yang hampir dingin. Ia meletakkan jarinya di atas nadi sang guru, dan perlahan, seberkas cahaya emas yang murni mulai memancar dari ujung jemarinya.
Seketika, kesadaran Shin Tao melesat masuk ke alam bawah sadar Guru Chen. Di sana, ia melihat jiwa Guru Chen tengah berdiri gemetar di depan gerbang kematian yang kelam. Tanpa membuang waktu, Shin Tao mendekat dan menepuk pundaknya.
Wusss!
Realitas batin yang gelap itu memudar seketika, menyisakan ruang hampa yang hanya diisi oleh mereka berdua. Guru Chen menoleh dengan sisa kesadarannya dan terbelalak melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Siapa… siapa kau sebenarnya? Bagaimana mungkin kau bisa..."
Pertanyaan itu terputus di tenggorokan. Detik itu juga, tabir penyamaran Shin Tao tersingkap di mata batin Guru Chen. Ia menyaksikan wujud sejati pemuda di depannya. mata kiri dan kanan Shin Tao memancarkan kilau agung dari sang surya dan rembulan, sementara di titik pusat hatinya, terwujud sebuah inti bumi yang berputar dengan kekuatan kosmis yang tak terbatas.
Lutut Guru Chen langsung lemas. Dengan tubuh gemetar hebat, ia segera bersujud menyentuh lantai, memohon ampunan sedalam dalamnya. Ia sadar, dirinya baru saja menyinggung sosok dewa yang sama sekali tidak boleh diusik di dunia ini.
"Berdirilah," perintah Shin Tao dingin.
Dengan sisa tenaga yang gemetar, Guru Chen bangkit. Shin Tao menatapnya tajam,
"Siapa yang mengutusmu untuk menghancurkanku?" Tanya Shin Tao.
Tanpa berani menyembunyikan seulas benang pun, Guru Chen membeberkan seluruh kebenaran dan nama dalang di balik aksinya. Mendengar pengakuan itu, jemari Shin Tao mengepal erat hingga mengeluarkan suara berderit. Ternyata Sifeng, Saudara tirinya itu sudah bertindak semena mena.
Menahan gejolak amarahnya, Shin Tao kembali menatap Guru Chen.
"Sembunyikan identitas asliku dari semua orang. Jangan sampai ada satu orang pun yang tahu."
"Hamba patuh… Hamba akan menjaga rahasia ini dengan nyawa hamba," jawab Guru Chen dengan kepatuhan mutlak.
Dengan satu ketukan jari telunjuknya, Shin Tao menyentuh dahi Guru Chen. Seketika, gelombang cahaya emas memancar dahsyat, mengalirkan energi kehidupan yang memulihkan seluruh kerusakan organ bawah sadar sekaligus mengembalikan tingkat kultivasi Guru Chen ke puncaknya.
Di paviliun nyata, kelopak mata Guru Chen perlahan terbuka. Seiring dengan kembalinya rona kehidupan di wajah sang guru besar, helaan napas lega terdengar dari Yan Shao, Yan Daiyu, dan seluruh penduduk desa. Guru besar mereka telah berhasil direnggut kembali dari cengkeraman maut.
(Bersambung)
semangat thor ✍️🤭😉🌹
kalo berkenan mampir juga ya thor😉🤭