Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Pengakuan, Pembalasan, Dan Kejutan Tiket Bulan Madu
Efek dari konferensi pers yang digelar Reno Adhyastha tidak hanya berhasil memadamkan api fitnah secara instan, melainkan juga menciptakan gelombang simpati masif dari seluruh pelosok negeri.
Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, persepsi publik berbalik seratus delapan puluh derajat. Akun-akun media sosial yang sebelumnya dipenuhi cemoohan kejam untuk Aura, kini dibanjiri ribuan komentar permintaan maaf dan pujian setinggi langit dari para netizen. Video rekaman akad nikah serta aksi tegap Reno memamerkan buku nikah dipotong menjadi ratusan klip pendek yang viral di berbagai platform media sosial. Reno mendadak dijuluki oleh publik sebagai gambaran nyata husband goals sosok suami dingin berkelas yang tak ragu pasang badan demi membentengi kehormatan istrinya.
Di saat yang bersamaan, di pelataran parkir penthouse mewah tempat tinggal Clara Hermawan di kawasan Jakarta Selatan, tiga mobil dinas kepolisian dari Polda Metro Jaya berhenti secara mendadak.
Empat petugas penyidik keluar dengan sigap bersama tim kuasa hukum dari Adhyastha Group yang dipimpin langsung oleh Pak Aslan. Dengan langkah tegas, mereka bergerak menuju unit penthouse lantai atas.
*Tok! Tok! Tok!*
Suara gedoran pintu yang nyaring dan tidak sabaran mengejutkan Clara yang masih terduduk lemas di dalam ruang tengahnya yang berantakan. Dengan tubuh gemetar dan mata sembap akibat menangis seharian, Clara melangkah lambat membukakan pintu.
"Saudari Clara Hermawan?" panggil perwira polisi berpangkat Ajun Komisaris dengan nada suara dingin dan formal.
Clara mematung, dadanya bergemuruh hebat sewaktu melihat seragam dinas kepolisian dan sosok Pak Aslan yang berdiri tegap di belakang mereka.
"S-saya... ada apa ini?" bisik Clara gagap, suaranya hampir hilang terbata-bata.
"Kami dari penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya membawa Surat Pemanggilan dan Surat Perintah Penangkapan atas nama Saudari," ujar perwira polisi tersebut seraya menunjukkan amplop cokelat resmi. "Saudari dituduh terlibat dalam tindak pidana Pencemaran Nama Baik melalui media elektronik, pelanggaran UU ITE, serta pencurian dan pemalsuan dokumen foto yang merugikan Saudari Aura dan pihak Adhyastha Group."
"N-nggak! Ini pasti ada salah paham! Saya tidak melakukan apa-apa!" jerit Clara histeris, berusaha mundur melangkah ke dalam penthouse. "Panggil pengacara saya! Panggil Ayah saya sekarang!"
Pak Aslan melangkah maju satu langkah, menatap Clara dengan pandangan profesional tanpa emosi sedikit pun.
"Tuan Reno Adhyastha secara pribadi telah menginstruksikan kami untuk menolak segala bentuk negosiasi, jalur kekeluargaan, maupun ganti rugi materi," potong Pak Aslan dengan ketegasan mutlak. "Proses hukum akan berjalan hingga tuntas sampai Saudari mendapat hukuman maksimal di balik jeruji besi."
Dua Polisi Wanita (Polwan) langsung melangkah maju, mencengkeram kedua lengan Clara dan memasangkan borgol besi di pergelangan tangannya.
"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku! Reno! Kamu jahat, Reno!" histeris Clara meraung-raung seraya diseret keluar menuju unit lift. Air mata keputusasaan membahasi wajah ayunya yang dulu amat ia banggakan. Keangkuhan sang sosialita kini benar-benar musnah diiringi sorotan kamera para wartawan yang sudah menanti di pelataran parkir.
Keesokan harinya, tatkala fajar masih tertutup gelap dan udara dingin merayap di kediaman Menteng, Aura terbangun lebih awal.
Suara dentang jam dinding menunjukkan pukul empat pagi. Sewaktu hendak beranjak turun dari peraduan, Aura tersentak pelan melihat Reno yang ternyata juga sudah terbangun. Pria itu menatap Aura dengan binar mata teduh yang hangat di remang cahaya lampu tidur.
"Sudah bangun, Aura?" bisik Reno dengan suara baritonnya yang rendah dan serak khas bangun tidur.
"I-iya, Reno..." jawab Aura pelan, pipinya sedikit merona.
Reno tersenyum tipis lalu beranjak duduk di tepi ranjang. "Mandilah lebih dulu, setelah itu saya yang mandi. Kita bersiap untuk shalat Subuh berjamaah."
Aura mengangguk patuh. Dengan canggung namun bahagia, Aura melangkah menuju kamar mandi utama untuk mandi membersihkan diri dan berwudhu. Setelah Aura selesai, giliran Reno yang masuk untuk mandi dan bersuci.
Beberapa saat kemudian, tepat tatkala adzan Subuh berkumandang merdu dari masjid tak jauh dari rumah, keduanya sudah tampil segar dan bersuci sempurna.
Di atas sajadah yang terbentang di kamar nan tenang, Reno berdiri kokoh memimpin shalat Subuh sebagai imam, sementara Aura menjadi makmum di belakangnya dengan mukena putih bersih. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an dari bibir Reno terdengar begitu merdu, tenang, dan menggetarkan relung hati Aura.
Usai salam dan memanjatkan doa bersama, Reno memutar tubuhnya menghadap sang istri. Aura melangkah mendekat, lalu mencium takzim punggung tangan suaminya yang hangat. Reno membalasnya dengan mengusap lembut pucuk kepala Aura, dilanjutkan dengan mendaratkan satu kecupan hangat di dahi Aura sebuah sentuhan kasih sayang Subuh yang begitu syahdu hingga membuat dada Aura berdesir hebat.
"Terima kasih untuk semuanya ya, Reno..." bisik Aura tulus dari dasar hatinya.
"Menjaga, membimbing, dan memimpin kamu adalah kewajiban saya sebagai suami, Aura," balas Reno pelan namun sarat akan ketegasan cinta.
Suasana di meja makan pagi itu terasa sangat ceria dan penuh kehangatan. Nenek Ratna tak berhenti tersenyum seraya mengoleskan selai roti untuk Aura.
"Lihat berita pagi ini, Nenek sampai terharu," tutur Nenek Ratna dengan binar bahagia di matanya. "Semua orang sekarang mendoakan kebahagiaan kalian berdua. Clara sudah diamankan kepolisian, dan nama baik Aura sudah bersih sempurna."
Aura menyunggingkan senyum tulus. "Semua berkat bantuan Reno dan doa dari Nenek."
Reno yang baru saja menyesap kopi hitamnya kemudian meletakkan cangkir porselen tersebut di atas tatakan, lalu memandang sang Nenek dan Aura dengan raut wajah yang mendadak serius.
"Saya punya rencana lanjutan, Nenek," ujar Reno tenang namun mantap.
Nenek Ratna dan Aura menghentikan aktivitas makan mereka, menatap Reno dengan penasaran. "Rencana apa, Reno?" tanya Nenek Ratna.
Reno memalingkan pandangannya ke arah Aura, menatap lurus ke dalam manik mata jernih istrinya.
"Konferensi pers kemarin baru sebatas pembuktian hukum dan pengakuan status," tegas Reno dengan suara baritonnya yang berwibawa. "Saya tidak mau Aura dianggap menikah hanya secara mendadak atau sekadar menutupi skandal. Bulan depan, kita akan menggelar **Resepsi Pernikahan Megah** secara terbuka!"
Aura terbelalak kaget, "R-resepsi megah?"
"Ya," potong Reno mantap tanpa ragu. "Saya ingin seluruh dunia menyaksikan bahwa kamu adalah Nyonya Adhyastha yang sesungguhnya. Kamu berhak mendapatkan pesta pernikahan terbaik yang layak untuk seorang istri sah dari Reno Adhyastha."
Nenek Ratna langsung menepuk kedua tangannya kegirangan. "Setuju! Nenek sangat setuju! Itu baru cucu Nenek yang bijaksana!"
Namun, Nenek Ratna tidak berhenti sampai di situ. Raut wajah sepuhnya mendadak berubah menjadi sangat jahil dengan binar mata yang penuh rahasia. Nenek Ratna merogoh saku gaun rumahnya dan mengeluarkan sebuah amplop emas elegan, lalu meletakkannya tepat di tengah meja makan di hadapan Reno dan Aura.
"Tapi sebelum memikirkan resepsi megah bulan depan..." bisik Nenek Ratna dengan nada suara yang penuh godaan, "...ada satu hal yang jauh lebih penting yang harus kalian berdua lakukan minggu ini!"
Aura dan Reno saling pandang dengan kening berkerut halus.
"Amplop apa ini, Nek?" tanya Reno heran seraya meraih amplop emas tersebut dan membukanya.
Di dalam amplop tersebut, tertera dua buah tiket penerbangan kelas utama first class menuju Maldives beserta reservasi resor mewah bernuansa privat di atas lautan!
"Nenek!" panggil Reno terkaget melihat tiket penerbangan tersebut.
Aura ikut mengintip dan seketika pipinya meledak merah padam sewaktu membaca tulisan Honeymoon Package yang tertera tebal di lembaran reservasi tersebut!
Nenek Ratna tertawa terkekeh-kekeh melihat ekspresi kaget dari cucu dan cucu menunya.
"Istrimu itu baru saja melewati insiden berat yang menguras emosi dan pikirannya, Reno!" ujar Nenek Ratna dengan nada tegas yang bernada menggoda. "Kalian berdua butuh waktu berdua saja untuk menenangkan diri dan melupakan semua trauma kemarin! Pikirkan kesehatan dan kebahagiaan istrimu!"
Nenek Ratna kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Reno dan Aura bergantian dengan senyuman jahil yang amat lebar.
"Pesan Nenek cuma satu..." lanjut Nenek Ratna seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Aura, "...bersenang-senanglah di sana, lepaskan semua beban, dan pastikan waktu pulang nanti kalian membawa cicit untuk Nenek! Paham?!"
*Uhuk!*
Reno yang baru hendak meminum kopinya seketika tersedak pelan mendengar ucapan frontal dari sang Nenek, sementara Aura langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam hingga ke ujung hijab pink-nya!
Reno berdeham pelan untuk menguasai diri, memandangi tiket di tangannya lalu beralih menatap Aura yang sedang tersipu malu di sampingnya. sorot protektif dan kehangatan yang amat dalam terpancar jelas dari manik mata teduh sang CEO.
"Baik, Nenek," sahut Reno dengan suara rendahnya yang mantap seraya menggenggam jemari hangat Aura di bawah meja. "Kami terima hadiah dari Nenek."
Genggaman tangan Reno yang hangat dan ucapan Nenek Ratna membuat dada Aura berdesir hebat. Babak baru perjalanan cinta mereka yang sesungguhnya baru saja akan dimulai di bawah langit biru pulau impian!