Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Tiga hari berlalu sejak insiden penangkapan Tante Vina. Kediaman keluarga Herman perlahan kembali menemukan kedamaiannya yang sempat direnggut.
Udara pagi terasa jauh lebih segar tanpa adanya aura kebencian dan intrik busuk di dalam rumah mewah tersebut. Di taman belakang, embun masih menetes dari dedaunan saat Bima duduk bersila di atas sebuah batu alam yang besar.
Bima memejamkan matanya rapat-rapat. Tarikan nafasnya sangat halus, nyaris tidak terdengar. Titik-titik keringat kecil yang menguap menjadi uap putih tipis menyelimuti tubuhnya.
Wush.
Sebuah gelombang energi kasat mata memancar pelan dari tubuhnya, menyapu rerumputan di sekitarnya hingga bergoyang serempak.
"Bagus. Tenaga dalamku sudah pulih hampir delapan puluh persen," gumam Bima perlahan sambil membuka matanya yang kini memancarkan kilat ketajaman yang luar biasa. "Dengan sisa racun di tubuh Clara yang sudah bersih, aku tidak perlu membuang banyak energi lagi untuk terapi fisik."
Baru saja ia melompat turun dari batu, terdengar suara langkah kaki ringan yang mendekat.
"Bima!"
Bima menoleh dan mendapati Clara sedang berjalan setengah berlari ke arahnya. Penampilan gadis itu hari ini sungguh berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya ia selalu mengenakan piyama pucat atau pakaian formal yang kaku, pagi ini Clara mengenakan sundress selutut bermotif bunga aster yang cerah.
Rambut panjangnya dikepang samping, membingkai wajahnya yang kini merona merah alami dan memancarkan kecantikan seorang putri konglomerat yang sesungguhnya.
"Selamat pagi, Clara. Sepertinya energi Anda sedang sangat meluap-luap hari ini," sapa Bima dengan senyum tipis yang sopan.
Clara mengerucutkan bibirnya sedikit, pura-pura merajuk. Ia melangkah sangat dekat hingga ujung sepatu mereka nyaris bersentuhan. Wangi parfum aroma stroberi yang manis langsung menguar hingga tercium hidung Bima.
"Sudah kubilang panggil namaku saja, jangan pakai 'Anda'. Rasanya kaku sekali!" protes Clara sambil menarik pelan ujung lengan baju Bima. "Lagi pula, hari ini adalah hari Minggu. Kamu sudah berjanji akan melakukan pemeriksaan denyut nadi terakhirku, kan?"
"Tentu saja," Bima mengangguk. "Silakan duduk di kursi taman itu. Saya akan memeriksanya sekarang."
Clara duduk dengan patuh, lalu menyodorkan pergelangan tangan kirinya. Bima menempelkan tiga jari di atas urat nadi gadis itu. Suasana mendadak hening. Hanya ada suara kicauan burung dan desiran angin.
Saat jemari kasar namun hangat milik Bima menyentuh kulitnya, Clara menahan nafas. Ia menatap wajah serius pemuda di hadapannya lekat-lekat. Garis rahang Bima yang tegas, hidungnya yang mancung, dan tatapan matanya yang sangat fokus membuat jantung Clara tiba-tiba berdegup kencang bak genderang perang.
Dug dug. Dug dug. Dug dug.
Bima tiba-tiba mengerutkan keningnya. Alisnya bertaut tajam.
"Aneh," gumam Bima.
"A-ada apa, Bima? Apakah racunnya kembali lagi?" tanya Clara panik, setengah memajukan tubuhnya.
"Bukan racun," Bima menatap Clara dengan wajah polos dan sangat serius. "Tapi denyut jantungmu berdetak sangat cepat dan tidak beraturan. Suhu tubuhmu juga tiba-tiba naik. Wajahmu memerah. Apakah kamu salah makan sesuatu pagi ini? Atau jangan-jangan kau alergi serbuk sari bunga di taman ini?"
Mendengar diagnosis polos dan sangat tidak peka itu, wajah Clara berubah dari merah merona menjadi merah padam karena menahan malu dan kesal.
"Dasar pemuda kayu tidak peka!" seru Clara sambil menarik tangannya kembali.
Gadis itu berdiri dan langsung mengalungkan lengannya ke lengan Bima, memeluknya erat-erat layaknya sepasang kekasih tanpa memedulikan tatapan kaget Bima.
"Aku tidak sakit! Aku sudah sembuh total! Dan karena aku sudah sembuh, hari ini kau harus menemaniku jalan-jalan ke pusat perbelanjaan di pusat kota!" titah Clara dengan nada manja yang tak terbantahkan.
Bima yang biasanya tenang dalam menghadapi pembunuh bayaran sekalipun, kini tampak kaku dan kebingungan menghadapi tingkah agresif seorang gadis yang sedang kasmaran.
"T-tapi Clara, pakaianku..."
"Tidak ada penolakan untuk tabib pribadiku! Ayo berangkat!" Clara menarik Bima menuju garasi dengan tawa riang yang sudah bertahun-tahun tidak pernah terdengar di rumah itu.
Dari balik jendela kaca ruang kerjanya, Pak Herman memandangi kepergian putrinya dan Bima dengan senyum lebar yang penuh kelegaan.
"Biarkan anak muda menikmati masa muda mereka," guman Pak Herman sambil menyesap kopinya. Namun, senyumannya perlahan memudar saat ia melirik ke arah tumpukan dokumen rahasia di mejanya. "Selama aku memastikan ibukota ini aman untuk mereka."
Di saat Bima dan Clara sedang menikmati kedamaian dan suasana kasmaran, sebuah badai besar sedang berkumpul di sudut tergelap ibukota.
Di dalam sebuah gudang bawah tanah yang terbengkalai di kawasan pelabuhan, belasan pria berwajah garang dengan tato naga berdiri menunduk penuh ketakutan. Di hadapan mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka sayatan melintang di wajahnya sedang duduk di kursi kebesarannya.
Pria itu adalah Bos Besar Serigala Malam.
Brak!
Sebuah meja kayu hancur berkeping-keping hanya dengan satu pukulan tangan kosong dari sang bos.
"Sudah tiga hari! Dan kalian memberitahuku bahwa pembunuh elit tingkat A kita hilang tanpa jejak di kediaman Herman sialan itu?!" raungnya dengan suara yang menggetarkan dinding gudang.
Seorang pria kurus berkacamata yang merupakan penasihatnya maju selangkah dengan gemetar. "B-benar, Bos. Klien kita, Nyonya Vina, juga dikabarkan telah ditahan secara diam-diam oleh Herman. Sepertinya mereka memiliki pengawal baru yang sangat berbahaya."
Mata sang bos menyipit, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Reputasi Organisasi Serigala Malam adalah segalanya. Kehilangan satu pembunuh elit tanpa perlawanan adalah tamparan keras bagi kebanggaan mereka di dunia bawah tanah.
"Cari tahu siapa bajingan yang berani mengusik Serigala Malam. Kumpulkan Unit Hitam," perintah sang bos dengan nada sedingin es. "Jika keluarga Herman ingin bermain kasar, kita akan meratakan seluruh kediaman mewah mereka dengan tanah. Tidak ada yang boleh meremehkan Serigala Malam dan tetap hidup."
Di luar sana, langit Jakarta mulai tertutup awan mendung yang gelap, menandakan bahwa kedamaian yang dirasakan Bima saat ini tidak akan bertahan lama.