NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5.Pertarungan melindungi.

Kelelahan yang menumpuk sepanjang hari akhirnya mengalahkan rasa ingin tahu dan ketakutan yang sempat mendera hati Raisa. Tanpa sadar, ia memejamkan mata begitu punggungnya menyentuh kasur empuk itu, bahkan tak sempat melepas tas dari pundaknya, tak sempat membuka ikatan sepatu yang masih menempel di kakinya, dan tak sempat pula mengganti pakaian perjalanan yang sedikit berdebu itu. Napasnya perlahan teratur, tubuhnya rileks sepenuhnya, dan dalam sekejap ia sudah terlelap pulas, tenggelam dalam mimpi yang damai seolah beban dunia tak pernah menindihnya sedetik pun.

Namun di tengah malam yang sunyi itu, suara gaduh yang nyaring tiba-tiba memecah keheningan. Suara itu terdengar seperti benturan keras, disusul deru angin yang menderu liar seolah ada badai yang mengamuk tepat di halaman rumah itu. Raisa tersentak kaget, matanya terbuka perlahan namun berat, jantungnya berdegup kencang seketika. Ia mengerjap berkali-kali berusaha mengusir sisa kantuk yang masih membebani kesadarannya, lalu perlahan duduk di tepi ranjang.

“Apa itu?” gumamnya pelan, suaranya masih serak karena baru bangun tidur.

Dengan langkah yang masih sedikit goyah, Raisa berjalan mendekati jendela kamarnya. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca yang dingin, memandang keluar ke arah halaman luas dan hutan yang gelap gulita. Namun di luar sana tampak begitu tenang—tak ada orang, tak ada hewan, tak ada tanda-tanda keributan sedikitpun. Angin malam berhembus pelan, dedaunan bergoyang lembut, dan keheningan kembali menyelimuti segalanya seolah suara gaduh tadi hanyalah ilusinya semata. Namun suara itu terdengar begitu nyata, begitu dekat, seolah bergetar hingga ke tulang-tulangnya.

Raisa menarik napas panjang, lalu dengan cepat menyibakkan tirai jendela dan menutupnya rapat-rapat hingga tak ada celah yang tersisa. Ia memeluk tubuhnya sendiri sedikit, lalu berjalan menjauh dari jendela sambil bergumam berulang kali seolah meyakinkan dirinya sendiri,“Orang yang terlalu penasaran pasti mati muda... orang yang terlalu penasaran pasti mati muda...”

Ia berjalan menuju kamar mandi yang tersambung langsung dengan kamarnya, membasuh wajahnya dengan air dingin yang segar. Rasa kantuk yang sempat menahannya perlahan hilang sepenuhnya, digantikan oleh kesadaran yang tajam. Ia segera melepas sepatunya, melipat pakaian perjalanannya dengan rapi, lalu mengenakan piyama lembut yang ternyata sudah tersedia tersimpan di dalam lemari pakaiannya—seolah memang sudah disiapkan khusus untuknya.

Setelah dirasa cukup segar, Raisa kembali duduk di tepi ranjang. Anehnya, suara gaduh yang tadi terdengar mengerikan itu kini benar-benar hilang tak berbekas. Hening kembali menyelimuti rumah besar itu, begitu sunyi hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri dengan jelas.

“Memangnya apa yang dilakukan penghuni lain di sini sampai berisik sekali?” gumam Raisa pelan, menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat.

Ia sadar sepenuhnya bahwa dirinya tak tinggal sendirian di rumah ini. Meskipun matanya tak mampu melihat makhluk-makhluk tak kasat mata itu, kulitnya merasakan hawa lain yang berbeda, batinnya menangkap kehadiran sosok-sosok yang bukan manusia. Dan anehnya, perasaan itu tak lagi membuatnya seketakutan di awal. Justru perlahan timbul rasa akrab yang sulit dijelaskan.

“Mereka jelas makhluk gaib, hantu atau apa pun sebutannya,” ucapnya lirih sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil yang lembut. “Sedangkan aku... aku juga manusia, tapi tubuhku tak bisa terluka, tak bisa mati. Apakah aku sama dengan mereka? Apakah aku juga semacam makhluk yang berbeda?”

Raisa menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi ukiran indah, rasa sepi yang selama ini ia rasakan perlahan mulai luntur. “Dan sekarang aku hidup di antara mereka. Mungkin... mungkin sekarang merekalah keluargaku. Satu-satunya yang akan menerimaku apa adanya.”

Dengan hati yang lebih tenang dan lapang, Raisa menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada, lalu meraih saklar lampu di samping tempat tidur. Ruangan itu seketika tenggelam dalam kegelapan lembut, dan perlahan ia kembali memejamkan mata, siap menyambut tidur yang kedua kalinya malam itu.

Sementara itu, di lantai dua rumah besar itu, suasana jauh lebih mencekam dan ganas. Pertarungan sengit sedang berlangsung di ruangan luas yang kini terbuka lebar menuju langit malam. Arya berdiri tegak di tengah ruangan itu, wujud aslinya sebagai Banaspati mulai terlihat samar—aura api yang membara menyelimuti tubuhnya, matanya memancarkan cahaya merah menyala yang tajam, dan setiap gerakannya memancarkan kekuatan yang menggetarkan bumi dan langit. Di hadapannya berdiri sosok jin besar yang bermata biru menyala, cakarnya tajam mengeluarkan asap hitam pekat, dan sorot matanya penuh kesombongan serta keinginan untuk menguasai wilayah ini.

“Kau kira kau bisa menjaga tempat ini sendirian selamanya, Banaspati?” seru jin itu dengan suara menggelegar seperti guntur yang bergema. “Kekuatanmu sudah lama membeku dalam kesepian! Serahkan wilayah ini padaku, atau aku akan menghancurkan setiap jengkal tanah ini hingga tak ada yang tersisa!”

“Beraninya kau menginjak tanah yang dilindungi dan kau memintaku menyerahkannya padamu!” bentak Arya balik, suaranya berat dan penuh amarah yang tertahan. “Jika aku menyerahkannya itu sama dengan kau menyuruh ku mengikari janji, tak akan ada makhluk sepertimu yang boleh menginjakkan kaki di tempat ini!”

Pertarungan pun meletus seketika. Gerakan mereka begitu cepat, nyaris tak terlihat oleh mata biasa, hanya menyisakan jejak cahaya yang saling berkejar-kejaran. Kilauan api merah yang memancar dari tubuh Arya beradu hebat dengan semburat cahaya biru es milik jin itu. Setiap kali kekuatan mereka bertabrakan, udara di sekitarnya bergetar hebat, menciptakan gelombang kejut yang membuat dinding rumah berguncang pelan—itulah suara gaduh yang sempat terdengar hingga ke kamar Raisa tadi.

Tapi Arya menyadari, dia tidak mau menganggu istirahat cucu Margono segera dia membuat pelindung di lantai bawah.

“Manusia...manusia itu lemah? Hah! Dia hanyalah manusia lemah yang tak tahu apa-apa tentang dunia kita!” ejek jin itu sambil melesatkan rentetan bola energi tajam ke arah Arya. “Aku akan membinasakannya juga setelah kau jatuh ke tanganku!”

Kata-kata itu seolah menjadi pemicu kemarahan terbesar bagi Arya. Matanya memancarkan api yang jauh lebih terang, auranya meledak hebat hingga mendorong jin itu mundur beberapa langkah.

“Jangan pernah kamu merendahkan mereka dengan mulut kotormu!” teriak Arya mengamuk. Ia melesat maju dengan kecepatan kilat, kedua tangannya yang kini diselimuti nyala api abadi mengepalkan kuat ke arah dada lawannya. “Kau tak pantas menghinanya! Bahkan tak pantas sebagai pengantiku!”

Pukulan itu mendarat tepat di sasaran, menciptakan ledakan hebat yang menerangi langit malam seakan matahari terbit di tengah kegelapan. Jin itu meraung kesakitan, tubuhnya terpental menabrak dinding batu yang kokoh hingga retak-retak. Namun ia tak menyerah begitu saja, dengan sisa tenaganya ia melompat kembali menyerang, mengeluarkan ribuan duri es yang melesat ke segala arah.

Arya tak mundur sedetik pun. Ia melindungi dirinya dengan tembok api yang tak tertembus, lalu dengan lincah menghindari setiap serangan. Ia tahu pertarungan ini harus segera berakhir, karena setiap detik yang berlalu semakin berisiko membangunkan Raisa atau membahayakan keamanan rumah ini. Dengan satu gerakan cepat yang tak terduga, Arya membalikkan posisi, menjepit tubuh jin itu di udara dengan kekuatan yang menekan setiap ruang geraknya.

“Ini adalah peringatan terakhir bagi siapa pun yang berani mengganggu ku atau wilayah ini,” ucap Arya dingin, namun suaranya menyimpan kemarahan yang mengerikan. “Api keabadian ku ini akan membakar semua musuhku, tidak terkecuali bangsaku sendiri.”

Dengan satu hentakan tangan yang mantap, Arya melontarkan nyala api terbesarnya langsung menyelimuti tubuh jin itu. Jeritan maut yang memilukan terdengar memecah malam, perlahan mereda seiring tubuh jin itu yang perlahan hangus terbakar menjadi butiran debu halus, lalu lenyap seketika terbawa angin malam seolah tak pernah ada sebelumnya. Pertarungan yang sengit itu pun berakhir dengan kemenangan mutlak di tangan Arya.

Suasana kembali hening, hanya sisa-sisa asap tipis yang perlahan menghilang di udara. Arya berdiri terengah pelan, napasnya sedikit memburu namun wajahnya tetap tegas dan berwibawa. Perlahan aura apinya meredup, wujud aslinya perlahan kembali samar menjadi sosok manusia tampan yang gagah, meski matanya masih menyimpan pantulan nyala api yang tak kunjung padam.

Tak lama kemudian, bayangan bergerak pelan di sudut ruangan, dan Jatmika muncul dengan wujud manusianya kembali. Ia mendekat dengan langkah yang penuh hormat, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan tuannya.

“Tuan Arya,” sapa Jatmika lembut namun penuh rasa hormat. “Apakah Tuan tidak terluka? Kekuatan jin itu cukup besar untuk sekadar mengganggu ketenangan malam ini.”

“Aku baik-baik saja, Jatmika,” jawab Arya pelan sambil menatap ke arah jendela yang menghadap ke kamar Raisa di lantai bawah. “Hanya sedikit terganggu karena mereka mau mengambil wilayahku. Bagaimana dengan Sekar? Apakah dia bersedia melayani Raisa sebagaimana yang kita inginkan?”

“Benar, Tuan,” jawab Jatmika mantap. “Sekar telah menyatakan kesediaannya dengan senang hati. Dia merasa terhormat bisa menggantikan tugas mendiang Neneknya untuk merawat cucu tuan Raden. Dia akan memastikan segala kebutuhan Raisa terpenuhi, menjaga kebersihan rumah, dan menyiapkan segala sesuatu seakan Raisa adalah putri yang paling berharga di dunia ini.”

Arya mengangguk pelan, rasa lega menyelinap di dadanya. “Bagus. Pastikan kamu mengawasi Sekar.”

“Siap tuan, ”

“Lalu sampaikan pesan ini pada Sekar, agar menyampaikan pesan pada Raisa untuk tidak berada di lantai dua ini. ”

“Baik, Tuan. Pesan itu akan saya sampaikan dengan tepat,” jawab Jatmika sambil menundukkan kepalanya sekali lagi.

Arya melangkah perlahan menuju pintu kamarnya, tubuhnya masih terasa berat sisa pertarungan panjang itu namun hatinya merasa damai. “Sekarang pergilah, Jatmika. Istirahatlah. Kita masih punya banyak hal untuk dijaga mulai besok.”

“Baik, Tuan. Selamat malam, Tuan Arya.”

Jatmika pun perlahan menghilang tertelan bayangan kegelapan, menyatu dengan ruangan seolah tak pernah ada di sana. Arya menutup pintu kamarnya perlahan, lalu berjalan mendekati jendela untuk melihat ke arah langit yang mulai memerah samar di ufuk timur. Sinar pertama fajar mulai menyelinap muncul, bersamaan dengan suara ayam jantan yang berkokok nyaring dari kejauhan, menandakan malam yang penuh rahasia dan pertarungan itu telah berakhir.

Arya tersenyum tipis, lalu memejamkan matanya sejenak. “Tidurlah dengan tenang, Raisa. Malam ini aku telah memastikan tak ada yang berani mengganggumu lagi. Sampai saatnya tiba bagimu untuk mengetahui segalanya, aku akan terus menjagamu dari balik bayangan.”

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!