NovelToon NovelToon
Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Identitas Tersembunyi / Psikopat itu cintaku / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Banting

BC Entertainment baru berjalan dua minggu ketika Brandon muncul lagi di depan Pavilion.

Sore itu Keira baru pulang dari kantor bersama Reynard. Langit Menteng mendung, tetapi belum hujan. Mobil berhenti di halaman samping, dan Pak Hendra membantu menurunkan kursi roda. Keira baru saja meletakkan tas kerja di pangkuan Reynard agar tangannya bebas membuka pintu ketika suara Brandon memotong udara.

"Jadi benar kamu membatalkan Celine."

Keira menoleh.

Brandon berdiri di dekat jalur batu menuju Pavilion. Kemejanya rapi, tetapi wajahnya tidak. Ada lelah, marah, dan sesuatu yang lebih menyedihkan: rasa tersinggung karena dunia tidak lagi mengikuti keinginannya.

"Selamat sore juga, Brandon."

"Jangan pura-pura santai." Brandon melangkah maju. "Kamu menarik semua kontak, lalu membuat perusahaan sendiri. Kamu sengaja ingin menghancurkan karier Celine."

"Karier yang belum dimulai tidak bisa dihancurkan."

Wajah Brandon mengeras. "Kamu berubah menjadi kejam."

"Aku berubah menjadi tidak berguna untukmu. Bedanya besar."

Di halaman samping, dua pelayan yang sedang membawa keranjang linen berhenti tanpa berani mendekat. Pak Hendra berdiri kaku di dekat mobil, jelas ingin membubarkan situasi tetapi tidak punya posisi. Brandon adalah Tuan Muda Brandon. Keira adalah Nyonya Muda. Salah memilih kalimat bisa berarti pekerjaan hilang.

Keira justru menyukai adanya saksi.

Orang seperti Brandon selalu lebih berani saat mengira perempuan yang ia tekan akan menjaga martabatnya. Hari ini, martabat itu akan dilihat bersama-sama.

Reynard duduk diam, Rubik di tangan. Brandon meliriknya sebentar, lalu mencibir tipis.

"Kamu pikir dengan menyeret Koh Rey ke mana-mana orang akan kasihan padamu? Perempuan kuat yang menjaga suami cacat. Narasi bagus untuk media."

Keira menatapnya. Suhunya turun.

"Hati-hati."

"Kenapa? Kamu boleh mempermalukan Celine di rumah, memukul Tiffany di studio, tapi aku tidak boleh bicara?"

"Kamu boleh bicara. Aku juga boleh menilai apakah kata-katamu pantas disimpan untuk pengacara."

Brandon tertawa pendek. "Pengacara? Keira, kamu belum punya apa-apa. Perusahaanmu bahkan baru punya papan nama. Tidak akan ada investor waras yang menaruh uang di dramamu kalau aku bicara pada orang-orang."

"Kamu mau mengancamku?"

"Aku memberi peringatan."

"Peringatan dari pria yang tidak bisa menjaga celananya sendiri?"

Wajah Brandon memerah. "Jangan rendahkan aku di depan pelayan."

"Kamu datang ke halaman suamiku untuk mengancam pekerjaanku. Kalau ingin privasi, seharusnya kamu belajar sopan dulu."

Keira menurunkan tas dari pangkuan Reynard dan menggantinya dengan ponsel. Ia membuka playlist musik lembut, memasang earphone ke telinga Reynard, lalu menepuk bahunya.

"Rey dengarkan lagu dulu."

Reynard menatapnya. "Kei?"

"Sebentar."

Ia menyalakan musik. Di permukaan, Reynard menunduk patuh. Namun begitu Keira berbalik, jarinya bergerak menaikkan volume hanya sedikit, cukup untuk membuat earphone tampak bekerja, tidak cukup untuk menutup suara luar. Di ponsel cadangan dalam saku kursi roda, layar kamera Pavilion menyala.

Brandon tidak menyadari apa pun.

"Kamu benar-benar memperlakukannya seperti anak kecil," katanya jijik.

Keira berjalan mendekat. "Kamu datang untuk Celine, atau untuk membuktikan bahwa kamu masih punya kuasa atas hidupku?"

"Jangan terlalu percaya diri."

"Kalau begitu pergi."

"Aku belum selesai."

"Aku sudah."

Brandon mengulurkan tangan untuk menarik lengan Keira.

Gerakannya belum sampai.

Keira menangkap pergelangan tangannya, memutar badan, menurunkan pusat berat, lalu menarik dengan teknik yang rapi. Brandon tidak sempat memahami apa yang terjadi sebelum punggungnya menghantam tanah.

Bunyi jatuhnya keras.

Pak Hendra yang berdiri agak jauh langsung membeku.

Salah satu pelayan menutup mulut. Keranjang linen hampir jatuh dari tangannya.

Brandon berusaha bangkit, tetapi Keira sudah mengunci posisinya. Gerakan itu bukan kekuatan liar. Lututnya tepat, pinggangnya stabil, dan tangannya menahan pergelangan Brandon di sudut yang membuat pria itu tidak bisa menarik balik tanpa menyakiti dirinya sendiri.

"Lepas!" Brandon mendesis.

"Kamu suka memegang orang tanpa izin. Aku pikir kamu juga suka tahu rasanya tidak bisa bergerak."

Brandon mengerang, napasnya terpotong. Keira tidak memberi waktu. Ia menekan satu kaki di dada Brandon, bukan cukup keras untuk melukai, tetapi cukup untuk membuatnya tahu ia tidak sedang memegang kendali.

"Coba ancam aku sekali lagi," kata Keira, suaranya rendah. "Video itu masih ada di tanganku."

Wajah Brandon memerah antara sakit dan malu. "Keira..."

"Kamu kehilangan hak memanggil namaku seperti itu saat memilih kamar Celine tiga bulan sebelum pernikahan."

"Lepaskan."

"Aku akan lepaskan setelah kamu mengerti dua hal. Pertama, Celine bukan urusanku. Kedua, kalau kamu memakai Liem Group untuk menghalangi BC Entertainment, aku akan membuat video itu sampai ke orang yang paling kamu takutkan."

"Papa sudah tahu."

"Aku tidak bicara tentang Papa."

Brandon terdiam.

Keira menunduk sedikit. "Aku bicara tentang publik."

Napas Brandon tersangkut. Ia tahu persis apa artinya jika video itu keluar. Bukan hanya skandal keluarga. Ia akan menjadi bahan tertawaan. Celine akan hancur. Christina akan mengamuk. Hendrick mungkin tidak lagi menganggapnya layak menyentuh proyek apa pun.

"Kamu tidak akan berani," katanya, tetapi suaranya kehilangan tenaga.

Keira mengeluarkan ponsel dari saku dan menyalakan layar. Ia tidak membuka video itu. Ia hanya membiarkan Brandon melihat folder dengan tanggal malam Highland Resort tertulis jelas.

Wajah Brandon langsung pucat.

"Aku tidak ingin memakai ini," kata Keira. "Tapi jangan salah paham. Tidak ingin bukan berarti tidak bisa."

Di dekat mobil, Pak Hendra menunduk lebih dalam. Ia tidak melihat layar, tetapi ia mengerti cukup banyak dari wajah Brandon.

Keira mengangkat kaki.

"Pulang."

Brandon bangkit dengan susah payah. Kemejanya kotor, egonya lebih kotor lagi. Ia menatap Reynard yang masih menunduk dengan earphone, lalu menatap Keira.

"Kamu akan menyesal."

"Kamu terlalu sering memakai kalimat itu. Cari yang baru."

Brandon pergi dengan langkah pincang.

Tidak ada pelayan yang bergerak sampai mobil Brandon hilang dari halaman. Setelah itu Pak Hendra menunduk lebih dalam dari biasanya.

"Nyonya Muda, apakah perlu saya melaporkan ini ke Tuan Besar?"

"Tidak perlu. Kalau Tuan Muda Brandon ingin mengadu bahwa ia jatuh setelah mencoba menarikku, silakan dia sendiri yang bercerita."

Pak Hendra menahan sudut bibirnya. "Baik, Nyonya Muda."

Sejak hari itu, pelayan yang melewati Pavilion tidak lagi menunduk karena kasihan. Mereka menunduk karena tahu Nyonya Muda yang tinggal di sana bisa tersenyum lembut setelah menjatuhkan seorang pria dewasa ke tanah.

Kabar itu bergerak pelan, tetapi pasti.

Dan tajam.

Keira kembali ke kursi roda Reynard dan melepas earphone. "Sudah."

"Brandon jatuh?"

"Tersandung harga dirinya."

Reynard menatapnya dengan mata bulat. "Kei kuat."

"Aku belajar Brazilian jiu-jitsu. Bukan sulap."

"Kei keren."

"Jangan tiru."

"Rey tidak banting."

"Bagus."

"Rey suruh orang lain."

Keira berhenti mendorong kursi roda. "Apa?"

Reynard mengangkat wajah polos. "Tidak apa-apa."

Keira menatapnya curiga, tetapi wajah itu kembali terlalu manis untuk dituduh di halaman.

Ia membawa Reynard masuk ke Pavilion.

Di ruang kerja, Keira kembali membuka laptop seolah tidak baru saja menjatuhkan mantan tunangannya di halaman. Perbannya sudah dilepas, luka di lengan tinggal garis kemerahan tipis. Cahaya sore jatuh di sisi wajahnya, membuat profilnya tampak tajam dan tenang.

Ia bahkan masih sempat membuat catatan untuk revisi episode Hanya Kamu.

"Adegan ini harus lebih tajam," gumamnya pada diri sendiri. "Kalau tokoh perempuan sudah dikhianati, jangan buat dia menangis terlalu lama. Penonton butuh melihat dia berdiri."

Reynard yang duduk di sudut hampir tertawa.

Keira baru saja menjatuhkan contoh paling jelas di halaman, lalu menulis prinsip dramatiknya ke naskah.

Reynard duduk di sudut, ponsel cadangan tersembunyi di balik Rubik.

Di layar kecil, rekaman dari kamera Pavilion memperlihatkan Keira memutar tubuh Brandon, menjatuhkannya, lalu berdiri di atasnya dengan wajah dingin. Reynard memutarnya ulang sekali.

Lalu sekali lagi.

Ia mengambil ponsel biasa dan diam-diam memotret Keira dari samping. Dalam foto itu, Keira tidak melihat kamera. Ia fokus pada naskah, bibir sedikit menipis, rambut jatuh di bahu.

Reynard menatap foto itu lama.

Di layar, Keira terlihat seperti miliknya, meski ia tahu kata milik belum pantas diucapkan. Justru karena belum pantas, kata itu berputar lebih lama di kepalanya.

Kalau suatu hari Keira ingin pergi setelah semua balas dendam selesai, apa yang harus ia lakukan?

Pertanyaan itu datang tanpa undangan.

Jawabannya datang lebih cepat, lebih gelap.

Semakin lama ia melihat, semakin kuat keinginan aneh itu tumbuh di dadanya.

Keira harus tetap berada di sini. Di Pavilion. Di sisinya. Tertawa, marah, bekerja, memarahi dia saat ia pura-pura tidak bisa makan sendiri.

Ia menunduk ke layar dan berbisik sangat pelan.

"Kau harus selalu ada di sisiku, Kei. Kalau tidak..."

Kalimat itu berhenti di antara bibirnya.

1
aku
bro rey apa yg di belakang layar nnti jd pendampingmu key 😁😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!