Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Maura dan Maulida akhirnya bertemu di kafe dekat kantor Maura di jam makan siang. Maura tak tau apa yang membuat sang Adik begitu menggebu ingin bertemu dengannya. Maura pun datang sendiri tanpa Tasya karena takut Lida sang Adik akan membicarakan hal yang serius.
"Kak." Panggil Lida yang ternyata sudah sampai terlebih dahulu.
Maura menyunggingkan senyum nya kemudian mendekat ke arah sang Adik memeluk dan mencium pipi kanan dan kirinya. Maura begitu merindukan sang Adik karena dirinya belum bertemu lagi setelah menikah.
"Kakak apa kabar?" Tanya Lida setelah mereka memesan makan siang.
"Baik De. Adek gimana? Sehat dong ya? Skripsi aman?" Tanya Maura.
"Sehat banget dong. Skripsi juga aman." Jawab Lida.
Kemudian Lida mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas ranselnya dan menyodorkan pada Maura. Maura mengangkat alis nya seolah berkata apa.
"Buka aja." Jawab Lida.
Maura membuka amplop coklat tersebut dan betapa terkejutnya Maura saat melihat foto-foto suami dan kekasihnya begitu banyak dengan berbagai posisi dan tampak juga waktu yang berbeda di lihat dari pakaian yang di pakai suami dan kekasihnya. Walaupun terkejut Maura berusaha tampak baik-baik saja di hadapan sang Adik.
Maura belum menjelaskan apapun perihal foto-foto tersebut karena makanan yang mereka pesan sudah sampai. Mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Lida terus memperhatikan gerak gerik sang Kakak namun nihil sang Kakak tampak begitu santai dan tak berpengaruh oleh foto-foto tersebut.
"Jadi,,, apa Kakak masih baik-baik saja?" Maulida.
"Kakak baik-baik saja dek." Jawab Maura.
Maura bisa mengatakan jika dirinya baik-baik saja sekarang karena masa pahitnya sudah terlewati walau rasa pahit itu selalu datang terus menerus.
"Kenapa Kak?" Tanya Maulida.
Maura tersenyum kemudian menarik nafas dalam sebelum dirinya membuka suara.
"Kakak sudah baik-baik saja dek. Sekarang Kakak hanya menunggu waktu untuk bicara dengan Ayah dan ibu juga kamu." Maura.
"Ada apa? Kenapa Kakak harus menunggu waktu?" Desak Maulida.
"Huh... Sebelumnya Kakak berharap semua akan berlalu dan berubah menjadi baik seperti yang kita harapkan. Namun, seiring berjalannya waktu perubahan itu bukan mengarah ke arah yang lebih baik melainkan semakin menjauh entah kemana."
"Kakak berencana akan berbicara dengan Ayah dan ibu weekend ini. Namun, ternyata kamu sudah mengetahuinya lebih dulu." Maura.
"Kakak lihat di belakang foto tersebut. Disana terdapat keterangan waktu dan tempat. Dan dapat Lida simultan itu terjadi sejak awal pernikahan kalian Kak." Maulida.
"Yah,,, kamu benar. Dan sepertinya kamu menyewa detektif untuk memata-matai kami rupanya?" Tanya Maura penuh selidik.
"Ish... Untuk apa buang-buang uang untuk hal seperti itu." Maulida.
"Lantas dari mana kamu dapat semua foto² ini?" Maura.
"Dari akun perempuan tersebut." Maulida.
"Hah! kok bisa?" Maura.
"Dina ternyata fans beratnya perempuan tersebut Kak. Dan betapa terkejutnya adek ketika melihat siapa pria di balik gambar tersebut." Maulida.
"Kamu cerita sama Dina?" Maura.
"Ngga dong Kak. Setelah itu Lida buka sendiri akun perempuan itu kemudian mencetak semua foto dia bersama Abang dan mencatat tanggal dan tempatnya." Maulida.
"Baiklah weekend nanti Kakak pulang." Maura.
Mereka pun berpisah setelah menghabiskan makan siang dan sedikit berbincang. Maura sudah dengan keputusannya untuk membicarakan pernikahannya bersama keluarganya.
Sabaaaar.... Masih lanjut nih...