Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia
"Hah!" Naura tersentak kaget, dan ia melayangkan tendangan ke arah Axel yang sudah menghadangnya.
Buuuggh
Satu tendangan membuat Axel bergeming, dan itu semakin menciptakan rasa kalut dihati sang gadis.
"Tidak Naura, kau terlalu lemah untuk hal itu." Axel memanjangkan tangannya, lalu menarik sang gadis hingga ke pelukannya.
"Kau cukup menggoda Naura." ia menyesap bibir sang gadis dengan paksa, membuat perlawanan yang tidak seimbang.
Naura berusaha mencakar sosok Axel dimana saja, bahkan menarik bulu yang tumbuh ditubuh pemuda itu.
"Aaaaarrgh, sakit, tolol!" makinya dengan kesal, saat Naura mencabut bulu yang tumbuh diarea selangkanya.
Naura mengusap bibirnya, ia merasa jijik dengan aroma singkong bakar khas Genderuwo yang dikeluarkan oleh Axel.
"Pergi dari jalanku!" Naura merasa jika pemuda itu harus ia singkirkan.
Akan tetapi, Axel tak ingin melepaskannya begitu saja, ia menyergap Naura, lalu menyeretnya untuk menuju sebuah ruangan yang akan menjadi tempat bersenang-senang baginya malam ini.
"Lepasin!" Naura meronta-ronta, hingga sebuah tendangan melepaskan cengkraman tersebut.
Buuuuugh
"Aaaaarrrggggrrr...," terlihat dua orang pemuda berdiri dibelakang Axel dengan tatapan tajam.
Naura terlepas, lalu berlari ke arah pemuda bernama Nathan.
Gadis itu masih marah pada Kael, sebab ia yang menangkap dirinya dan menyerahkannya kepada Raja Kala Gemet.
Axel menatap Kael dengan senyum sinis. "Kau, mengapa kau berbelot? Apakah kau ingin mencari mari?"
Kael tidak menjawab, tetapi ia membalas dengan tatapan tajam. "Naura bukan tandinganmu, jika kau ingin, maka hadapi saja aku!" tantang Kael dengan nada dingin.
"Kau kira gadis itu akan berubah fikiran, lalu bersimpati pada apa yang kau lakukan saat ini? Tidak, Kael. Dia sudah membencimu, dan melihatmu saja tak sudi. Kau yang sudah menyerahkannya kepada Raja Kala Gemet!"
Kael bergeming. Ia masih menjadi pendengar, tetapi ditangannya terdapat satu tanduk kerbau yang cukup besar dan runcing, ia mendapatkannya dari Siluman Kerbau yang menahannya waktu lalu.
"Pergilah, atau aku akan bertindak lebih," Karl masih mengatur nada bicaranya, dan berusaha untuk tenang
"Aku tidak suka diatur, dan siapa kau mencoba mengaturku!" Axel bergerak cepat, lalu menyerang Kael yang masih berdiri mematung
Saat sebuah pukulan dilayangkan kearahnya, Kael menangkisnya dengan tanduk kerbau yang dipegangnya.
Melihat serangannya ditahan, Axel mengeluarkan kuku tangannya yang runcing, dan berusaha menusuk perut Kael.
Naura dan Nathan berjalan mundur. "Dengar, aku sudah mencampur makanan Raja dengan ramuan yang kau minta, dan aku harap ia tertidur dan tidak dapat menodai Sena. Sekarang cari dimana lorong tempat menemukan Keris Jalak Tilam Sari, gunakan instingmu dan semoga kau menemukannya," Naura mendorong tubuh Nathan agar segera pergi, sedangkan Kael masih bertarung menghadapi Axel yang sudah kehilangan akalnya.
Sementara itu, Nathan berjalan menyusuri lorong, ia mengikuti nalurinya untuk menemukan keris Jala Tilam.Sari dan juga belati miliki Ra Tanca yang hilang secara ghaib.
Langkahnya terlihat sangat hati-hati,deguban dijantungnya memburu dan hatinya sedikit was-was
"Beri aku petunjuk Dewi Gayatri, dimana Keris itu aku temukan. Kami harus segera keluar dari tempat ini," bisiknya dengan penuh harapan.
Saat bersamaan, ia melihat lorong yang gelap dan tidak tahu ke mana arahnya akhirnya.
Ia berhenti sejenak, dan menatap dengan ragu. Akan tetapi sebuah bisikan memerintahkannya untuk masuk ke dalam, dan membuatnya terlihat bimbang.
"Masuklah," sebuah bisikan yang cukup kuat ditelinganya.
Nathan menghela nafasnya, lalu melangkahkan kakinya untuk memasuki lorong, dan sesuatu menahannya.
Wuuuuusssh
Sebuah lemparan tombak melayang ke arahnya, dan membuat Nathan harus mengelak, hingga terpaksa masuk ke dalam lorong yang bercabang.
Traaaang
Dentingan ujung tombak yang beradu dengan dinding batu andesit terdengar sangat begitu berdesing.
Seorang gadis berdiri di lorong utama, tubuhnya yang dipenuhi oleh bulu menatap dengan tajam.
perlahan bergerak dan melesat cepat, lalu berhenti tepat di simpang lorong gelap yang mana tempat Nathan masuk ke dalamnya.
"Nath, Nathan, kamu kemana? Jangan lari, Sayang," ucapnya dengan nada rendah, tetapi membuat bulu kuduk Nathan berdiri dengan cepat.
Nafasnya memburu, ia berdiri didinding gelap, lalu melihat tubuh gadis berbulu yang tak lain adalah Alessa sedang mengamati lorong tersebut.
"Nathan, aku dapat merasakan aroma tubuhmu," ucapnya dengan nada yang sangat dingin.
Perlahan ia melangkahkan kakinya masuk le simpang lorong, sedangkan Nathan bergerak mundur, ia belum tau dimana arah akan membawanya, sebab terasa sangat panjang.
Tak hanya gelap, aura negatif terasa begitu sangat kuat, sehingga membuatnya semakin waspada.
Perlahan ia mengendus aroma anyir dan itu mirip dengan ular, bahkan ia mendengar suara desisannya.
"Sial! Apakah itu suara ular?" gumamnya dalam hati. Sedangkan posisinya, Alessa terus berjalan ke arahnya.
Hingga ia mendengar suara sesuatu keluar dari dinding, dan firasatnya jika mengatakan itu adalah jebakan sangat begitu kuat.
Dengan merunduk, ia mendengar sebuah tombak menghantam dinding sisi seberang, dan jika ia terlambat, maka lehernya yang akan tertembus.
"Nathan. Aku tau kamu disana. Harap hati-hati, sebab tubuhmu akan tertembus oleh perangkap yang ada."ucapnya dalam kegelapan, tetapi kedua matanya yang merah menyala, membuat sosok Alessa tidak dapat sembunyi.
Sementara itu, Nathan terus bergerak, hingga ia mendapatkan terkeman dari Alessa yang bergerak cukup cepat.
Braaaak.
Tubuh Alessa sudah berada diatasnya, dan ia menekan kedua pergelangan tangan Nathan. "Kau cukup tampan? Tetapi kau tak pernah melirikku!"
"Sadarlah, Alessa, ini bukan dunia kita. Kita harus kembali." Nathan berusaha menyadarkan gadis tersebut.
"Jangan mengguruiku, aku tak suka nasehat!" bantahnya, dan kali ini ia mencekik Nathan dengan sekuat tenaganya, membuat pemuda itu merasa sesak.
Bahkan kuku tangannya yang runcing mencoba menembus kulit sang pemuda, menimbulkan rasa perih dan juga panas.
Ditengah rasa putus asanya, Nathan mengangkat kedua kakinya, lalu balik mencekik leher Alessa dengan pergelangan kakinya, sehingga membuat gadis itu terjebak.
Ketika Alessa melepaskan cekikannya, Nathan terpaksa menghantam wajah gadis tersebut.
Buuugh
"Aaaarrrgh..,* pekik Alessa kesakitan.
Nathan melepaskan cekikan kakinya, lalu menumbangkan tubuhnya, sehingga membuat ia berada diatas.
Keduanya masih terlibat perkelahian, hingga Nathan melirik sebuah ruangan yang diterangi oleh sebuah cahaya yang sangat samar, dan ia tidak tahu darimana asalnya, hanya saja, ia melihat sebilah keris yang tertancap diatas kepala Ular Kobra berukuran sangat besar.
Nathan tersentak kaget. "Keris Jalak Tilam Sari?" gumamnya dengan lirih, dan disaat ia sedang terfokus pada benda tersebut, Alessa mencakar wajahnya.
Craaaaash
"Arrrrrgh." pekik Nathan dengan menahan rasa sakit.
Ia menatap gadis tersebut, dan dengan gerakan yang cepat, ia menghantam kepala Alesaa, sehingga membuat gadis itu terpekik.
"Maaf, Less."
Buuugh
Sebuah hantaman kembali ia lancarkan ke kepala Alessa, berharap gadis itu hanya pingsan saja.
kasihan yaa para keluarga nya yg kebingungan mencari keberadaan mereka semuanya 😔
Semoga Naura dan Kael serta Nathan bisa menemukan kitab kuno itu, sehingga mereka bisa bebas dari hutan Alas Purwo.. 🙏