Kala Azure adalah seorang kapten agen rahasia legendaris yang ditakuti musuh dan dihormati.
Namun, karier cemerlangnya berakhir tragis, saat menjalankan operasi penting, ia dikhianati oleh orang terdekatnya dan terbunuh secara mengenaskan, membawa serta dendam yang membara.
Ajaibnya, Kala tiba-tiba terbangun dan mendapati jiwanya berada dalam tubuh Keira, seorang siswi SMA yang lemah dan merupakan korban bullying kronis di sekolahnya.
Berbekal keahlian agen rahasia yang tak tertandingi, Kala segera beradaptasi dengan identitas barunya. Ia mulai membersihkan lingkungan Keira, dengan cepat mengatasi para pembuli dan secara bertahap membasmi jaringan kriminal mafia yang ternyata menyusup dan beroperasi di sekolah-sekolah.
Namun, tujuan utamanya tetap pembalasan. Saat Kala menyelidiki kematiannya, ia menemukan kaitan yang mengejutkan, para pengkhianat yang membunuhnya ternyata merupakan bagian dari faksi penjahat yang selama ini menjadi target perburuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Dirion ke Pak Tua Ma
Di sudut kota yang lain, suasana terasa jauh lebih mencekam. Beberapa pria berbadan tegap dengan tatapan dingin anak buah Dorion tak sedetik pun melepaskan pandangan dari sebuah restoran tua. Fokus mereka hanya satu Mamoto.
Mamoto berjalan tenang menuju mobilnya. Namun, di balik ketenangannya, detak jantungnya berpacu. Ia tahu, sejak kematian Nonanya, dirinya adalah target utama.
Dorion yakin Mamoto memegang kunci atau setidaknya mengetahui letak CIP.
Begitu mobil Mamoto melaju membelah jalanan yang mulai sepi, sebuah sedan hitam tanpa plat nomor membuntuti di belakang. Mamoto melirik spion, wajahnya mengeras. Ia menginjak pedal gas lebih dalam, namun sedan itu tetap menempel seperti bayangan.
Sambil memacu mobilnya, Mamoto meraba ponsel. Ia tidak menghubungi polisi, melainkan sebuah nomor yang baru saja ia ketahui sebagai identitas baru tuannya.
"Nona ..." suara Mamoto terdengar serak saat sambungan terhubung.
Di kamarnya, Keira tersentak. "Pak Tua Ma? Ada apa? Kenapa suaramu begitu?"
"Mereka ada di belakangku, Nona. Dorion tidak akan membiarkanku lolos malam ini," ujar Mamoto tenang, seolah sudah menerima takdirnya.
"Dengarkan saya. Jika sesuatu terjadi padaku, biarlah ini menjadi yang terakhir. Tolong, jangan cari CIP itu lagi. Tinggalkan balas dendammu, dan hiduplah sebagai Keira dengan damai. Saya hanya ingin melihat Nona bahagia di hidup yang sekarang."
"Pak Tua Ma! Jangan bicara sembarang! Tetap di jalur utama!" teriak Keira, namun sambungan itu terputus sepihak.
Mata Keira berkilat marah. "Sialan!"
Persetan dengan hidup damai. Baginya, Mamoto bukan sekadar pelayan dia adalah keluarga terakhir yang ia miliki.
Dengan kecepatan kilat, jari-jari terampilnya menari di atas layar ponsel, meretas sinyal GPS dari ponsel Mamoto. Begitu titik lokasi muncul di peta digital, ia menyambar hoodie abu-abu kesayangannya.
Tanpa mempedulikan kakinya yang baru saja diobati, ia melompat turun melalui jendela kamar agar tidak ketahuan Marvin.
Di garasi belakang, ia menyalakan mesin motor tua milik ayahnya yang sudah berdebu. Suara deru mesin tua itu memecah keheningan malam saat Keira melesat pergi, menembus kegelapan menuju koordinat Mamoto.
"Jika mereka menyentuh seujung rambutmu, aku akan meratakan mereka semua," desis Keira di balik helmnya, kecepatannya kini melampaui batas kewajaran seorang gadis SMA.
Ban mobil Mamoto berdecit memilukan saat ia terpaksa menginjak rem dalam-dalam. Dua mobil sedan hitam telah memblokade jalan sempit di pinggiran tebing yang curam.
Di bawah sana, jurang dalam yang siap menelan siapapun yang terjatuh ke sana.
Empat orang pria berpakaian taktis keluar dari mobil. Moncong senjata api langsung mengarah tepat ke kaca depan mobil Mamoto.
"Keluar! Sekarang!" teriak salah satu dari mereka, suaranya parau tertutup masker.
Mamoto menarik napas panjang, merapikan setelan jasnya yang sudah sedikit kusut, lalu keluar dengan tangan terangkat. Meski usianya tak lagi muda, sisa-sisa wibawa sebagai pelayan setia seorang agen elit masih terpancar dari sorot matanya yang tenang.
"Di mana CIP itu, Pak Tua?" tanya pemimpin kelompok itu sambil menekan ujung pistol ke pelipis Mamoto.
"Kami tahu Kala memberikannya padamu sebelum dia tewas. Katakan, atau kau akan menyusulnya malam ini."
Mamoto hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh ejekan. "Kala tidak pernah meninggalkan benda itu pada siapa pun. Dia terlalu pintar untuk kalian."
BUGH!
Sebuah pukulan mentah mendarat di perut Mamoto, membuatnya terjerembap ke aspal.
Tak berhenti di situ, tendangan demi tendangan menghantam rusuk dan wajahnya. Darah segar mulai mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya, membasahi kerah kemeja putihnya yang bersih.
"Jangan menguji kesabaran kami!" Pria itu mencengkeram kerah baju Mamoto, mengangkat tubuh ringkih itu hingga kakinya berjinjit.
"Katakan keberadaannya, dan kami akan membiarkanmu mati dengan cepat. Jika tidak, kami akan membuangmu ke jurang ini memberimu kematian yang menyakitkan."
Mamoto terbatuk, memuntahkan darah ke arah sepatu bot pria di depannya. "Kalian ... tidak akan pernah ... mendapatkannya."
Amarah pemimpin itu memuncak. Ia mengisyaratkan anak buahnya untuk menghajar Mamoto lebih brutal lagi.
Pukulan bertubi-tubi membuat kesadaran Mamoto mulai menipis. Di ambang kegelapannya, ia hanya berdoa agar Nona-nya benar-benar pergi jauh dan tidak datang ke tempat ini.
Namun, di kejauhan, suara deru mesin motor tua yang dipacu secara ekstrem mulai memecah kesunyian malam. Suara itu semakin dekat, melengking tinggi, membelah keheningan jalanan menuju tepi jurang.
Dari balik tikungan tajam, cahaya lampu depan motor menyilaukan mata para anggota Dorion. Keira, dengan hoodie abu-abunya yang berkibar tertiup angin, melesat tanpa niat sedikit pun untuk mengerem.
Tanpa sedikit pun mengurangi kecepatan, Keira memacu motor tua itu lurus ke arah kerumunan. Saat jarak tinggal beberapa meter, ia menarik rem depan dengan sentakan maut, membuat ban belakang motor terangkat dan berputar di udara. Dengan momentum itu, Keira melompat dari jok motor yang masih meluncur.
BRAKK!
Motor tua itu menghantam salah satu anggota Dorion hingga terpental, sementara Keira mendarat dengan lentur.
Belum sempat mereka bereaksi, Keira sudah bergerak seperti bayangan. Sebuah tendangan berputar menghantam rahang pria terdekat, disusul dengan serangan sikut mematikan ke arah ulu hati pria kedua.
Dalam hitungan detik, dua anak buah Dorion itu ambruk ke aspal tanpa sempat melepaskan tembakan.
Frans, pemimpin tim tersebut, tersentak mundur. Ia segera menarik senjata dan menodongkannya ke arah sosok ber-hoodie abu-abu itu. Namun, tangannya yang biasanya stabil kini mulai bergetar hebat.
Matanya terbelalak menyaksikan rangkaian gerakan barusan. Cara kaki itu berpijak, hingga teknik close-quarter combat yang sangat efisien itu bukan teknik sembarang orang. Itu adalah teknik tersulit, sebuah gerakan ikonik yang hanya dikuasai oleh satu orang di unit khusus mereka.
"Kapten ...?" gumam Frans tidak percaya. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Keira berdiri tegak di antara tubuh-tubuh yang mengerang kesakitan. Ia menarik sedikit tudung hoodie-nya, namun kegelapan malam tetap menyembunyikan sebagian wajahnya.
Hanya matanya yang terlihat tajam dan dingin. Tatapan yang selalu membuat musuh-musuhnya bertekuk lutut di masa lalu.
Frans membeku. Meski wajah di balik hoodie itu tampak jauh lebih muda dan berbeda dari sosok Kapten Kala yang ia kenal, aura yang dipancarkannya begitu identik.
"Turunkan senjatamu, Frans," desis Keira. Suaranya rendah.
"Atau tangan itu tidak akan pernah bisa memegang pistol lagi selamanya."
Mendengar namanya disebut dengan nada dingin itu, pistol di tangan Frans nyaris merosot. "Tidak mungkin ... Kapten sudah mati. Siapa kau sebenarnya?!"
Keira tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah maju dengan tenang, membiarkan cahaya bulan menyinari sebagian wajahnya.