NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Monster Tampan

Menjadi Tawanan Monster Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kutukan Berdarah

​Setelah berminggu-minggu hidup dalam sangkar emas Steel, tikus kecilnya Axel itu akhirnya berhasil menegosiasikan satu hal, yaitu pertemuan dengan sahabatnya, Uni. Axel memberikan izin dengan syarat yang tidak bisa ditawar, yaitu pertemuan itu harus dilakukan di gedung milik Steel Group tentunya. Sesilia mengiyakan dengan terpaksa. Pertemuan itu dilakukan di sebuah kafetaria privat di lantai tengah gedung Steel Group, sebuah ruangan berdinding kaca anti-peluru yang telah disisir dari segala bentuk perangkat penyadap eksternal, kecuali tentu saja, perangkat milik Axel sendiri.

​Uni datang dengan langkah terburu-buru, wajah yang biasanya ceria itu kini tampak dipenuhi kecemasan. Begitu pintu geser otomatis terbuka, ia langsung menerjang sang sahabat dengan pelukan erat.

​"Sesi! Ya Tuhan, kau... kau terlihat lebih kurus dari terakhir kita bertemu!” Tangannya membelai kepala hingga meraba badan  sang sahabat. Memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja. Sepupu gilaku itu tidak berbuat macam-macam kan, Sesi!," Suaranya naik satu oktaf.

​Sesilia melepaskan pelukan itu perlahan, matanya melirik ke arah kamera CCTV di sudut langit-langit yang berkedip dengan lampu merah kecil. Mata-mata Axel yang tidak pernah tidur. Kemudian ia menuntun Uni untuk duduk di sudut ruangan yang paling jauh.  

​"Aku baik-baik saja, Uni. Setidaknya sepupu gilamu itu tidak main tangan," ucap Sesilia, mengikuti cara Uni memanggil Axel.

​Begitu pesanan kopi mereka tiba dan pelayan berbaju hitam pergi, dinding pertahanan yang dibangun Sesilia selama berminggu-minggu runtuh. Di hadapan sang sahabat ia menumpahkan segala keluh kesahnya. Ia menceritakan segalanya, tentang Axel yang hanya menganggapnya sebagai properti berlabel Steel hingga semua aturan dan larangan aneh yang harus ia patuhi.

.

​Selama hampir tiga jam, Sesilia menumpahkan segalanya. Ia juga menceritakan tentang jam tangan biometrik yang memantau setiap denyut nadinya, tentang ruang server rahasia yang berisi ribuan foto candidnya, tentang bagaimana sepupuku gilanya Uni itu mencuri sampel darahnya, sampai tentang draf novel lama yang dikumpulkan dari tempat sampah.

​"Dia seperti bukan manusia, Ni. Aku…aku tidak tahu harus menyebut kegilaan sepupumu itu sebagai apa," tangis sang gadis kembali pecah, suaranya parau. "Dia tahu jam berapa aku bangun tidur, apa yang aku mimpikan, bahkan frekuensi napas saat aku belajar. Aku takut, Ni! Tolong aku!” 

​Uni mendengarkan dengan mata membelalak, tangannya menutupi mulut karena ngeri. "Ini sangat tidak wajar, Si. Ini namanya kriminal! Bagaimana bisa seseorang melakukan ini pada orang yang katanya dia cintai?"

“Dia…dia gila, Ni. Tolong lakukan sesuatu!” Sesilia meminta tolong, nadanya frustrasi.

Uni merasa kasian kepada sahabatnya itu. Sahabat yang dulu sangat ceria, kini terlihat sangat menyedihkan. Sepupu gilanya benar-benar menghancurkan sang sahabat. Laki-laki itu bagaikan telah menyerap energi kehidupannya.

Sesilia, masih diam menunggu respon Uni, sambil terus meremas tangannya sendiri hingga buku jarinya memutih. 

"Aku merasa dihapus sedikit demi sedikit, Ni. Sesilia yang dulu sudah mati. Yang tersisa sekarang hanyalah boneka yang dikendalikan oleh Axe Steel." Ia terisak lagi, bahunya tampak bergetar pelan.

​Uni berusaha menenangkan sahabatnya, ia menggenggam tangan gadis itu, menyalurkan kekuatan yang entah ada atau tidak. Air mata mengalir di pipinya.

"Aku bersumpah, Si... aku akan mengeluarkanmu dari neraka itu! Aku akan bicara pada ayahku. Dia punya pengaruh besar di keluarga Steel. Dia kakak tertua di silsilah keluarga, Axel pasti akan mendengarkannya. Ayahku orang yang adil, dia tidak akan membiarkan keponakannya menjadi monster seperti ini."

​Sesilia menatap Uni dengan binar penuh harap.

"Kau pikir pamanmu bisa menghentikannya?"

​"Pasti," tegas Uni. "Ayah sangat menghargai etika dan kebebasan. Dia akan sangat marah mendengar perlakuan Axel padamu."

Malam itu, dengan tekad yang membara, Uni langsung menuju ruang kerja ayahnya setelah sampai di rumah. Ayahnya adalah seorang pria berwibawa yang beberapa bagian kecil rambutnya telah memutih. Wajahnya masih tampan, dan tatapan matanya setajam elang. Beliau sedang duduk meninjau dokumen keluarga.

​Uni segera duduk di kursi seberang ayahnya dan tanpa aba-aba langsung menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Ia menceritakan penderitaan sahabatnya, Sesilia. Juga bagaimana sepupunya itu memperlakukannya, tentang jam tangan biometrik, dan bagaimana sahabatnya itu merasa seperti tawanan di dalam penjara emas. Uni sangat berharap agar ayahnya segera menelpon Axel, memberi teguran keras dan memarahinya. ​Namun, reaksi yang ia dapatkan justru sebaliknya.

​Pundak ayahnya mulai terlihat bergetar pelan. Sesaat kemudian, sebuah suara tawa pecah. Bukan tawa mengejek, melainkan jenis tawa yang dalam, berat, dan penuh dengan kebanggaan yang mengerikan.

​"Ayah? Kenapa Ayah hanya tertawa? Ini masalah serius, yah! Ini kriminal! Sebagai keluarga dekat, kita tidak boleh membiarkan anggota keluarga Steel bersikap seperti itu, yah! Kasihan sahabaku, dia menderita!" teriak Uni, nadanya menggambarkan kebingungan dan amarah.

​Ayahnya menyeka air mata di sudut matanya, lalu menatap putri satu-satunya dengan senyum yang membuat sang putri merasa asing pada ayahnya sendiri. 

"Putriku sayang... kau benar-benar belum mengenal darah yang mengalir di tubuh kita, bukan?"

​"Apa maksud Ayah?"

​"Axel..." ayahnya berkata dengan nada kagum yang kentara, "dia adalah seorang Steel sejati. Bahkan lebih baik dariku. Dia melakukan hal yang persis seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh pria di keluarga kita."

Ayahnya berdiri, lalu berjalan menuju sebuah lemari besi kecil di sudut ruangan. Beliau mengeluarkan sebuah album foto tua bersampul hitam yang tampak seperti jurnal tua atau catatan biasa.

​"Kau pikir Axel itu aneh, anakku sayang? Kau pikir dia gila?" Ayahnya menggeleng perlahan. "Tidak, nak. Axel tidak gila. Itu adalah hal normal dalam garis keturunan kita. Obsesi pada seseorang bukan hal aneh pada keluarga kita. Semua laki-laki berdarah Steel selalu melakukannya. Ketika mereka menemukan belahan jiwanya, maka saat itu juga muncul perasaan primitif, ingin memiliki seutuhnya. Kami para pria Steel tidak jatuh cinta seperti orang biasa. Kami hanya mencintai sekali, seumur hidup, pada wanita pertama yang berhasil melubangi hati kami yang sekeras batu."

​Ayahnya membuka album itu. Uni terkesiap. Di dalamnya terdapat ribuan foto ibunya. Ibunya sendiri. Foto-foto itu diambil dari jarak jauh, foto saat ibunya masih muda, sedang belajar di kampus, bahkan foto ibunya yang sedang tidur sebelum mereka menikah.

​"Ayah... ayah menguntit Ibu?" suara Uni nyaris menghilang.

​"Tidak sayangku, ayah hanya menjaganya," koreksi sang ayah dengan nada tenang yang menyeramkan.

 "Sama seperti Axel menjaga Sesilia. Kau tahu alasan kenapa ibumu tidak pernah pergi ke mana pun tanpa pengawal? Kau tahu kenapa setiap ponsel yang dia gunakan selalu merupakan pemberianku? Itu bukan karena aku khawatir akan keselamatannya dari penjahat jalanan. Itu karena aku ingin memastikan bahwa di dunia ini, akulah satu-satunya udara yang dia hirup."

​Ayahnya mengelus foto istrinya dengan cara yang membuat bulu kuduk sang putri berdiri. Tatapan ayahnya mengerikan. 

​"Para pria Steel dikutuk, sayangku. Mereka dikutuk untuk terobsesi pada satu-satunya wanita yang mereka cintai. Kutukan ini sudah hidup bersama kita sejak berabad-abad lalu," lanjut ayahnya. 

"Wanita yang kami pilih tidak akan pernah bisa lari. Karena kami akan membangun dunia untuk mereka, kami akan menghancurkan siapa pun yang menatap mereka terlalu lama, dan bahkan kami mampu mengurung mereka dalam kenyamanan sampai mereka lupa bagaimana rasanya menjadi bebas."

​"Ku…kutukan itu, apa ibu... tahu?" Uni bertanya dengan napas tersengal.

​"Tentu saja, sayangku. Ibumu adalah wanita yang cerdas. Dia tahu. Dulu sekali, saat ibumu masih terlalu muda, dia juga melakukan hal sia-sia seperti yang dilakukan sahabatmu itu. Dia memberontak, dia menangis, bahkan mencoba lari. Tapi lihat sekarang? Dia bahagia, bukan? Dia memiliki segalanya. Dia adalah ratu di istana yang kubangun," ayahnya tertawa lagi. 

"Axel hanya melakukan apa yang darahnya perintahkan. Dia memilih Sesilia, dan itu berarti gadis itu adalah belahan jiwanya. Menyuruh ayahmu ini menghentikannya  sama saja dengan memintanya untuk berhenti bernafas."

“Untuk itu sayangku, katakan pada sahabatmu, menyerah saja dan nikmati semua pemberian Axel. Tidak semua hal di dunia ini harus sesui dengan yang kita inginkan. Toh hal ini juga memiliki sisi positif.” Ayahnya memberi nasehat pada sang putri.

“Sisi positif apa maksud ayah?" ​Uni bertanya pelan.

“Sisi positifnya adalah kami para pria Steel tidak akan pernah mendua. Kami tidak mengenal kata selingkuh. Kutukan ini, akan membuat kami mati secara mengenaskan jika berani berselingkuh dari belahan jiwa kami.” Sang ayah menjawab datar.

Uni mundur selangkah, menatap horor ayahnya seolah pria itu adalah hantu tanpa kepala yang menakutkan. Ia kini menyadari bahwa ia baru saja membuka kotak pandora yang mengerikan. Selama ini ia menganggap rumahnya adalah surga penuh cinta, tanpa menyadari bahwa ibunya adalah tawanan ayahnya yang telah menyerah untuk melarikan diri.  

​"Jadi... Ayah tidak akan membantu."

​"Membantu? Tidak, nak. Ayahmu ini justru bangga padanya," sang ayah kembali duduk ke kursinya. 

"Axel telah melampauiku dalam berbagai hal. Sistem pengawasan biometrik yang dia bangun... itu jenius. Aku harus meminta kodenya untuk diterapkan pada sistem keamanan ibumu juga."

​Uni berlari keluar dari ruangan itu, perasaannya tidak karuan. Kepalanya pusing dan ia mual luar biasa. Dunianya seolah runtuh. Ia ingin segera menelepon Sesilia dan memberi tahu bahwa tidak ada harapan dari keluarganya, tapi kemudian ia teringat sesuatu.

​Setiap ponsel yang ia gunakan adalah pemberian ayahnya.

​Uni menatap ponsel di tangannya dengan ngeri. Ia menyadari bahwa ayahnya pasti sudah mendengar seluruh percakapannya dengan Sesilia di kafe tadi. Ayahnya pasti tahu semua rencananya.

​Di dalam ruang kerjanya, Tuan besar Steel mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor.

​"Axel?" ucapnya dengan nada hangat. "Putriku baru saja datang padaku dengan cerita yang sangat menarik tentang kekasihmu."

"Jangan khawatir, aku sudah mengurus bagianku. Tapi saran dariku... berhati-hatilah pada putri kecilku. Dia sedikit terlalu simpatik pada belahan jiwamu."

 "Terima kasih, Paman. Aku menghargai sarannya. Silsilah kita memang tidak pernah berbohong."

​Malam itu, Uni menangis di kamarnya, menyadari bahwa ia sendiri adalah hasil dari obsesi yang sama. 

Ia benar-benar harus mencari tahu tentang kutukan yang membelenggu keluarganya. Sebelum kutukan ini menemukan lebih banyak Sesilia-sesilia lainnya.

1
partini
baca sinopsisnya penasaran
Lusy Kunut: Stay tune yah kak, supaya rasa penasarannya terobati👍
total 1 replies
merdi Yanto
cuit cuit cuit😍🤣
merdi Yanto
duh🤭
merdi Yanto
Bau-bau mulai berbalas perasaannya Axel
merdi Yanto
/CoolGuy//CoolGuy/
merdi Yanto
Plot twist banget keluarganyaa
merdi Yanto
🤭🤭🤭🤭
bau bau bucin😍😄
merdi Yanto
Suka cerita dari sok benci jadi bucin akut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!