NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

_ARJUNA_

_JELITA_

_DINDA_

_IRA_

Jelita: Gadis berusia 20 tahun yang skeptis, cantik, dan pemberani.

​Dinda & Ira: Sahabat Jelita yang gemar mencari sensasi.

​Arjuna: Sosok hantu tampan, rahang tegas, postur tubuh yang gagah dengan tatapan intens dan sifat penggoda.

​Angin siang itu berhembus cukup kencang, memainkan helai rambut panjang milik Jelita yang sedang duduk santai di selasar universitas. Bagi Jelita, dunia hanya sebatas apa yang bisa dilihat oleh mata dan logika. Baginya, cerita hantu hanyalah dongeng pengantar tidur untuk orang-orang penakut.

​"Hari ini kita gak ada kelas! Gimana kalau kita ke gedung kosong sebelah?" ajak salah satu teman Jelita yang bernama Dinda. Matanya berkilat penuh rencana tersembunyi.

​Jelita mengangkat alisnya sebelah, menatap Dinda dengan tatapan remeh. "Buat apa kita ke sana? Kamu mau ngajak mojok ya?" selidik Jelita sambil tersenyum tipis.

​"Kamu kan gak pernah takut dan gak pernah percaya hal kaya gitu. Kita mau tantang kamu ke sana untuk uji nyali," kata Dinda tegas.

​"Bener juga! Lumayan hiburan di saat lagi kelas kosong," sambung Ira yang tiba-tiba bergabung, memberikan dorongan ekstra agar Jelita terpojok.

​Jelita tertawa kecil, sebuah tawa yang mengandung kesombongan. "Oke, siapa takut? Tunjukkan jalan ke gedung berdebu itu."

​Gedung itu berdiri kokoh namun merangas di balik pohon-pohon beringin tua. Akar-akar merambat di dinding beton yang sudah mengelupas. Saat mereka melangkah masuk, suhu udara tiba-tiba merosot tajam. Aroma debu beradu dengan bau melati yang samar, namun Jelita tetap melangkah dengan dagu terangkat.

​"Masuklah ke ruang dekan di lantai dua, Jelita. Kalau kamu berani diam di sana sendirian selama sepuluh menit, kami akui kamu hebat," tantang Ira sambil berhenti di depan tangga.

​Jelita hanya melambai tanpa menoleh, menaiki anak tangga yang berderit memilukan. Ia masuk ke ruangan yang dimaksud dan menutup pintunya. Gelap, hanya ada sinar matahari tipis yang menembus jendela berdebu.

​"Hantu? Keluar dan tunjukkan dirimu. Aku bosan menunggu," gumam Jelita sambil menyandarkan tubuhnya ke meja kayu besar.

​Tiba-tiba, Jelita merasakan hembusan napas hangat di tengkuk lehernya. Itu mustahil. Ruangan ini tertutup rapat. Sebelum ia sempat berbalik, sebuah tangan dingin namun lembut melingkar di pinggangnya.

​"Kau sangat berisik untuk ukuran seorang tamu, cantik."

​Suara itu berat, serak, dan sangat dekat di telinganya. Jelita mematung. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena sensasi aneh yang menjalari tubuhnya. Ia berbalik dan menemukan sosok pria berdiri di hadapannya.

​Pria itu tidak tampak seperti hantu dalam film horor. Ia memiliki rahang tegas, mata tajam berwarna biru, dan rambut hitam yang berantakan namun estetik. Ia mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan kulit pucat yang sempurna.

​"Kamu... siapa?" bisik Jelita, suaranya bergetar.

​"Namaku Arjuna. Dan ini adalah kamarku. Kau menantangku tadi, bukan?" Pria itu maju satu langkah, memojokkan Jelita ke meja. Tatapannya turun ke bibir Jelita dengan cara yang sangat mengintimidasi sekaligus memikat.

​Jelita mencoba mendorong dada pria itu, namun tangannya justru menembus seolah-olah pria itu terbuat dari kabut padat. Namun anehnya, sentuhan pria itu terasa nyata di kulit Jelita. Arjuna mengangkat tangan, membelai pipi Jelita dengan ujung jarinya.

​"Jangan takut. Aku tidak suka menyakiti gadis secantik dirimu. Aku hanya... sudah lama tidak melihat manusia yang begitu berani dan menarik," ujar Arjuna sambil tersenyum nakal.

​Ia mendekatkan wajahnya, napasnya kini berbau wangi hutan pinus.

Cup!

"Bagaimana kalau kita buat perjanjian? Kau boleh pergi dari sini, tapi kau harus berjanji untuk kembali menemuiku setiap minggu. Jika tidak..." Arjuna sengaja menggantung kalimatnya sambil mengecup lembut daun telinga Jelita.

​Tubuh Jelita melemas. Logikanya berteriak untuk lari, namun kehadiran Arjuna yang begitu karismatik dan 'mesum' secara elegan membuat kakinya terpaku.

​"Jika tidak?" tanya Jelita menantang, mencoba mengembalikan harga dirinya.

​"Jika tidak, aku akan mengikutimu pulang, tidur di sampingmu setiap malam, dan memastikan tidak ada pria lain yang bisa menyentuhmu selain aku," bisik Arjuna dengan nada posesif yang dalam.

​Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Dinda dan Ira masuk dengan wajah cemas. "Jelita! Kamu baik-baik saja? Kamu sudah di sini dua puluh menit!"

​Jelita tersentak. Arjuna menghilang dalam sekejap, namun Jelita masih bisa merasakan dinginnya kecupan di pipinya. Ia menatap teman-temannya dengan napas terengah.

​"Aku... aku baik-baik saja. Ayo pergi," ucap Jelita singkat.

​Saat ia berjalan keluar gedung, Jelita menoleh ke atas, ke jendela lantai dua. Di sana, Arjuna berdiri sambil melambaikan tangan dengan senyum yang menggoda. Jelita berusaha mengatur deru napasnya yang masih tidak beraturan. Logikanya berperang hebat dengan apa yang baru saja ia rasakan. Sentuhan itu terasa terlalu nyata untuk sebuah halusinasi, namun terlalu mustahil untuk sebuah kenyataan.

​"Hey Jelita, kenapa kamu bengong aja? Pasti ketemu hantu beneran kan!" seru Dinda sambil menyenggol bahu Jelita, membuyarkan lamunannya.

​Jelita memutar bola matanya, berusaha menampilkan wajah datar yang menjadi ciri khasnya. "Hantu? Jangan konyol. Tadi itu pasti mahasiswa iseng yang mau nge-prank kita. Mungkin dia anggota klub teater yang lagi latihan kostum," sahut Jelita dengan nada ketus, meski jantungnya masih berdegup kencang.

​"Tapi muka kamu pucat banget, Jel. Terus... kenapa leher kamu merah begitu?" tanya Ira sambil menunjuk ke arah tengkuk Jelita.

​Jelita sontak menutup lehernya dengan kerah jaket. Ia teringat hembusan napas Arjuna yang begitu dekat. "Ini... ini pasti karena alergi debu di gedung tua tadi. Sudah ah, aku mau pulang, badan aku gak enak," kilah Jelita sambil berjalan cepat meninggalkan sahabat-sahabatnya yang masih penuh tanya.

​Malam harinya, hujan turun rintik-rintik membasahi kota. Jelita berada di dalam kamarnya, berusaha fokus pada tugas kuliah di depan laptop. Namun, bayangan rahang tegas dan senyum miring pria bernama Arjuna itu terus terlintas di benaknya.

​"Ganteng sih, tapi sayang! kayaknya dia mesum banget. Masa baru ketemu sudah main peluk-peluk saja," gumam Jelita sambil menggelengkan kepala. "Ah, sudahlah! Dia cuma manusia iseng, Jelita. Jangan dipikirin!"

​Saat Jelita hendak beranjak untuk mengambil segelas air, tiba-tiba lampu kamarnya berkedip redup. Suhu udara yang tadi hangat berubah menjadi dingin yang menusuk tulang. Aroma wangi pinus yang familiar mulai memenuhi ruangan.

​Lampu kamar yang temaram menciptakan bayangan panjang di langit-langit. Jelita merebahkan tubuhnya dengan kaku, menatap langit-langit kamar sambil memeluk guling erat-erat. Di sampingnya, ia bisa merasakan hawa dingin yang konsisten, menandakan bahwa sosok itu benar-benar ada di sana, berbaring miring sambil menopang kepala dengan tangannya.

​"Kenapa aku jadi sedikit parno begini," bisik Jelita pada dirinya sendiri.

​Tanpa memikirkan hal lain lagi, Jelita memilih untuk secepatnya tidur. Kini Jelita tertidur dengan lelap tanpa ia ketahui sosok yang tadi mengikutinya.

1
Mingyu gf😘
Arjuna jahat
Mingyu gf😘
sadar jelita sadar
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
Greta Ela🦋🌺
Apa2an sih ini hantu. Sadarlah woi kalian ini beda dunia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!