Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 (EPILOG): WARISAN YANG TERSISA
BAB 31 (EPILOG): WARISAN YANG TERSISA
Enam bulan telah berlalu sejak runtuhnya Gudang Sektor Pusat. Jakarta tampak seperti kota biasa di mata orang awam, namun bagi Arga, kota ini adalah labirin memori yang harus ia jaga.
Arga kini tinggal di sebuah kamar kontrakan kecil yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah ibunya. Seperti saran ayahnya, ia memulai hidup sebagai "Mas Bayu", seorang pemuda perantau yang bekerja di jasa ekspedisi. Ibunya mengenalnya sebagai tetangga yang rajin membantunya membetulkan pompa air atau sekadar mengantar belanjaan.
Sore itu, Arga sedang duduk di teras kontrakannya sambil membersihkan helm hitamnya. Bekas luka melingkar di tangannya terkadang masih terasa berdenyut jika cuaca sedang mendung, seolah-olah sedang "merasakan" adanya sisa-sisa energi gaib di sekitar kota.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya yang tampak sangat terburu-buru berhenti di depan pagar kontrakannya. Pria itu membawa sebuah kotak kayu tua yang digembok dengan rantai besi.
"Mas... Mas yang katanya bisa antar barang 'khusus'?" tanya pria itu dengan suara gemetar. Wajahnya pucat, ada lingkaran hitam di bawah matanya.
Arga meletakkan helmnya. Ia menatap kotak kayu itu. Melalui penglihatannya sebagai mantan Penjaga Gerbang, ia melihat ada asap biru tipis yang keluar dari celah-celah kayu tersebut—energi yang jauh lebih tenang daripada asap hitam Gudang, tapi tetap bukan berasal dari dunia ini.
"Saya hanya kurir biasa, Pak," jawab Arga tenang.
"Tolong, Mas. Ini dari almarhum istri saya. Saya menemukannya di bawah tempat tidur. Ada suara yang terus memanggil nama saya dari dalam kotak ini. Saya tidak berani membukanya, tapi saya merasa... saya merasa dia belum tenang."
Arga berdiri. Ia mendekati kotak itu. Saat tangannya menyentuh rantai besi, bekas luka di telapak tangannya berpendar putih sangat tipis. Tidak ada angka yang muncul, namun ada rasa hangat yang menjalar.
"Pak," Arga menatap pria itu dengan tegas. "Saya akan antar barang ini ke tempat tujuannya. Tapi Bapak harus janji satu hal: begitu saya pergi, Bapak harus merelakan istri Bapak. Jangan panggil namanya lagi malam ini."
Pria itu mengangguk cepat, tampak sangat lega.
Arga mengambil kotak itu dan meletakkannya di jok belakang motornya. Ia tidak lagi menggunakan jaket hitam perusahaan, melainkan jaket denim biasa. Ia menghidupkan mesin motor.
Saat ia hendak melaju, ia melihat ibunya keluar dari rumah sebelah untuk menyiram tanaman. Ibunya menoleh ke arah Arga dan melambaikan tangan dengan ramah.
"Hati-hati di jalan, Mas Bayu! Jangan pulang kemalaman!" teriak ibunya.
Arga tersenyum di balik helmnya. "Iya, Bu! Nanti saya bawakan martabak kesukaan Ibu!"
Arga memacu motornya membelah kemacetan Jakarta. Ia menuju ke sebuah bukit kecil di pinggiran kota, tempat di mana sisa-sisa energi dimensi "Sektor Tanpa Nama" masih bisa diakses melalui ritual tertentu.
Namun, di tengah perjalanan, ponselnya yang kini memiliki nomor khusus bergetar. Sebuah pesan masuk dari pengirim anonim yang hanya memiliki ID: NOMOR 31.
"Arga, satu paket dari masa depan baru saja bocor. Mereka menyebutnya 'Paket Digital'. Waspadalah, bukan lagi lewat pintu, mereka sekarang masuk melalui layar."
Arga menatap pantulan dirinya di spion. Ia menyadari bahwa meskipun ia telah menghancurkan gudang fisik, sistem itu kini berevolusi menjadi sesuatu yang lebih sulit ditangkap: virus di dalam jaringan.
"Satu per satu," bisik Arga pada dirinya sendiri.
Ia memutar gas motornya lebih dalam. Di telapak tangannya, bekas luka itu kini membentuk simbol kecil menyerupai huruf "S"—sebuah tanda bahwa ia kini bukan lagi kurir, melainkan Sentinel (Penjaga).
Dunia mungkin lupa siapa dia, tapi dunia akan selalu membutuhkannya setiap kali ada paket yang tidak seharusnya dibuka.