NovelToon NovelToon
Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Single Mom / Anak Genius / Duda / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ega Sanjana

Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan

Ketika pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Benito Juárez di Meksiko City pada dini hari, kabut yang menyelimuti kota memberikan kesan seperti memasuki dunia lain yang tersembunyi. Udara yang lembap dan hangat membawa aroma kapur sirih dari pasar yang sudah mulai bersiap, serta nuansa coklat yang berasal dari beberapa pabrik kecil di sekitar kawasan. Rian, Rama, dan Siti keluar dari gerbang kedatangan dengan tas penuh buku resep, foto, dan cerita—dan dengan pesan dari penerbit lokal yang membuat hati mereka berdebar: pertemuan dengan keluarga Mendoza yang telah mengolah kakao selama lima generasi akan dimulai dalam beberapa jam saja.

“Kita harus langsung ke mereka,” kata Siti sambil melihat catatan terbarunya. “Don Alejandro Mendoza, kepala keluarga saat ini, hanya bersedia bertemu pagi ini sebelum dia pergi ke kebun kakao di wilayah Chiapas. Katanya ada masalah yang perlu dia selesaikan darurat di sana.”

Perjalanan melalui jalan-jalan kota yang masih sepi membawa mereka ke sebuah bangunan tua bergaya Kolonial Spanyol di daerah Coyoacán. Pagar kayu yang lapuk namun tetap kokoh mengelilingi halaman yang penuh dengan pohon kakao yang tumbuh subur, dengan buah-buah berwarna oranye kemerahan yang menggantung gemulai di antara daun hijau lebat. Sebuah pintu kayu terbuka perlahan, dan seorang wanita berusia sekitar lima puluhan dengan rambut panjang yang diikat dengan ikat kepala renda datang menyambut mereka dengan senyum hangat.

“Saya adalah Elena Mendoza, istri Don Alejandro,” ucapnya dengan suara yang lembut namun tegas. “Silakan masuk. Ayah saya sedang menunggu di ruang kerja, tapi dia sedikit tertekan hari ini.”

Di dalam rumah, dinding dipenuhi dengan lukisan kuno yang menggambarkan orang-orang Maya dan Aztec sedang memanen kakao, serta foto-foto keluarga dari generasi ke generasi. Meja besar di tengah ruangan ditutupi dengan biji kakao yang sedang dikeringkan, alat penggiling tradisional yang terbuat dari batu vulkanik, dan beberapa wadah berisi cairan coklat dalam berbagai tingkat kedalaman warna. Don Alejandro, seorang pria lanjut usia dengan wajah yang penuh dengan bekas garis waktu, berdiri dengan tangan yang menekuk di pinggang saat mereka masuk.

“Selamat datang di rumah kami,” ucapnya dengan nada yang berat. “Saya minta maaf jika saya tidak terlalu ramah, tapi kita sedang menghadapi masalah besar—masalah yang mungkin akan mengakhiri tradisi lima generasi kami.”

Ia mengajak mereka duduk dan mulai menjelaskan. Selama bertahun-tahun, keluarga Mendoza telah mengolah kakao dengan cara tradisional yang diteruskan dari nenek moyang mereka: biji kakao dipetik secara manual saat sudah matang pas, difermentasi dalam ember tanah liat selama seminggu, dikeringkan di bawah sinar matahari yang tidak langsung, lalu digiling dengan batu hingga menjadi pasta halus yang kemudian dibentuk menjadi coklat padat tanpa tambahan gula atau bahan kimia apapun. Produk mereka dikenal sebagai “Coklat Kuno” dan menjadi favorit di kalangan pecinta kuliner tradisional serta peneliti budaya.

Namun belakangan ini, permintaan pasar terhadap coklat yang lebih manis dan diproduksi secara massal semakin tinggi. Banyak pedagang yang dulunya menjual produk mereka kini beralih ke merek-merek besar yang menawarkan harga lebih murah. Selain itu, perubahan iklim mulai memengaruhi hasil panen kakao di kebun mereka di Chiapas—musim hujan yang tidak teratur membuat sebagian besar buah membusuk sebelum waktunya dipetik.

“Masalahnya bukan hanya tentang uang,” ujar Don Alejandro sambil mengambil sepotong coklat dari wadah di mejanya. “Kita telah menjaga cara ini karena kita percaya kakao bukan hanya makanan—bagi orang Maya dulu, ini adalah makanan para dewa, yang menghubungkan kita dengan alam dan leluhur. Tapi cucu saya, Carlos, berkata kita harus berubah agar bisa bertahan hidup. Dia ingin kita menggunakan mesin modern dan menambahkan gula serta bahan pengawet agar produk bisa bersaing di pasar nasional.”

Pada saat itu, seorang pemuda berusia sekitar dua puluhan masuk ke ruangan dengan membawa ember berisi biji kakao segar. Ia adalah Carlos, cucu Don Alejandro yang menjadi manajer operasional usaha keluarga. Setelah menyapa tamu dengan sopan, ia mulai menyampaikan pandangannya yang berbeda.

“Kakek saya sangat gigih pada tradisi, dan saya menghargainya dengan segenap hati,” kata Carlos dengan nada tegas. “Tapi kita hidup di zaman yang berbeda. Jika kita tidak beradaptasi, usaha ini akan runtuh, dan semua pengetahuan yang telah kita wariskan selama lima generasi akan hilang sama sekali. Bukankah lebih baik menyimpan sebagian tradisi daripada kehilangan semuanya?”

Rian, Rama, dan Siti mendengarkan perdebatan antara kakek dan cucu dengan hati berat. Mereka telah melihat masalah serupa di banyak tempat yang mereka kunjungi—di mana tradisi budaya yang kaya bertentangan dengan tuntutan perkembangan zaman. Siti membuka buku catatannya dan mulai mencatat poin-poin penting dari kedua sisi argumen tersebut.

Setelah beberapa saat, Rama berdiri dan mengambil kamera miliknya. “Bolehkah saya mengambil foto dari proses produksi tradisional kalian?” tanyanya. “Kita telah merekam banyak cerita tentang makanan di seluruh dunia, dan saya berpikir mungkin ada cara untuk menghubungkan tradisi kalian dengan pasar yang mencari sesuatu yang otentik dan bermakna.”

Ide itu mulai membuka wawasan baru. Elena kemudian mengusulkan untuk mengundang anak-anak dari komunitas lokal untuk belajar tentang cara membuat coklat tradisional, seperti yang dilakukan Amira dengan sekolah memasaknya di Mesir. “Jika kita bisa mengajarkan kepada generasi muda tentang nilai di balik makanan ini,” ujarnya, “maka mereka akan menjadi pelindung tradisi kita, bahkan jika mereka kemudian menemukan cara baru untuk mengembangkannya.”

Don Alejandro mengangguk perlahan, kemudian melihat ke arah kebun kakao melalui jendela. “Baiklah,” katanya dengan suara yang lebih tenang. “Mari kita coba menemukan jalan tengah. Carlos bisa mengembangkan produk baru yang lebih sesuai dengan selera pasar modern, tetapi kita akan tetap menjaga satu area produksi untuk coklat kuno, dan mengajarkan prosesnya kepada siapa saja yang ingin belajar.”

Mereka memutuskan untuk pergi bersama ke kebun kakao di Chiapas untuk melihat langsung kondisi yang dihadapi. Perjalanan selama beberapa jam membawa mereka melalui pegunungan yang hijau dan perkampungan kecil di mana jagung tumbuh sebagai tanaman utama—sebuah bukti bahwa makanan memang menjadi tulang punggung budaya Meksiko. Di kebun, para pekerja yang telah bekerja dengan keluarga Mendoza selama puluhan tahun berkumpul untuk menyampaikan kekhawatiran mereka tentang perubahan iklim dan kurangnya tenaga kerja muda yang ingin belajar pekerjaan mereka.

“Saya bisa mengajari cara mengolah kakao dengan mesin yang lebih efisien,” kata Carlos kepada para pekerja. “Tetapi saya juga ingin kalian mengajari saya semua rahasia yang telah kalian pelajari dari nenek moyang kalian tentang memilih buah terbaik dan memastikan fermentasi yang sempurna.”

Saat matahari mulai terbenam di atas pegunungan, mereka berkumpul di bawah kanopi pohon kakao yang besar, menikmati hidangan tradisional yang dibawa oleh keluarga pekerja—tortilla yang dibuat secara manual, salsa yang pedas, dan minuman cacao panas yang kaya rasa. Rian mengambil buku resep yang diberikan Amira dan mulai berbagi cerita tentang makanan di Mesir, sementara Rama mengambil foto dari momen kebersamaan tersebut.

“Saya berpikir masalah kita bukan hanya tentang tradisi atau kemajuan,” ujar Don Alejandro sambil meraih tangan cucunya. “Masalahnya adalah bagaimana kita menemukan rasa yang benar—rasa yang menghubungkan kita dengan masa lalu dan masa depan sekaligus.”

Di malam hari, saat mereka kembali ke Meksiko City, penerbit lokal mengirim pesan baru: “Kami telah mendengar tentang cerita kalian dengan keluarga Mendoza. Banyak orang di sini yang ingin tahu lebih banyak tentang coklat kuno dan bagaimana kita bisa membantu melestarikan tradisi tersebut. Apakah kalian ingin mengadakan sebuah acara bersama untuk berbagi makanan dan cerita ini dengan masyarakat?”

Rian melihat ke arah Rama dan Siti, lalu mengetik balasan: “Kita tidak hanya ingin mengadakan acara—kita ingin membantu menulis bab baru dalam cerita keluarga Mendoza, di mana masalah rasa menemukan jawabannya dalam kebersamaan.”

1
Sri Peni
thanks cerita edukasinya🙏🙏
Sri Peni
bikin yg bc puyeng serasa dipaksa sehinhha logika
Sri Peni
kok lila sm siti umurnya berubah jd terpaut 1 thn. inicerita hsl fc ya
Sri Peni
logika itu hrs jg dipakai wl hny cerita. sang tokoh lila kok jaraknya dgn adiknya terpauh 7th
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!