Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan
Suatu hari, pesan dari Maria tiba—dia mengirim foto paella yang dimasak bersama neneknya, lengkap dengan cerita tentang bagaimana hidangan itu menjadi simbol persatuan keluarga di Spanyol. “Bisakah kita tambahkan adegan Kiki membantu Maria menyiapkan paella, sambil mendengar cerita neneknya tentang masa muda di Valencia?” tanyanya. Siti mengangguk, sambil melihat gambar kostum Carnaval dari Sofia yang baru tiba.
Tak lama kemudian, panggilan video dari penerbit Australia datang. “Kita ingin tambahkan catatan tentang hubungan antara makanan dan budaya di setiap cerita,” ucap pria itu. “Dan, ada undangan ke Sydney untuk festival buku—bisa bertemu pembaca dan penerbit lain dari Selandia Baru dan Selat Malaka.” Semua teriak senyum. Rama segera mengambil catatan tentang rencana perjalanan, sedangkan Rian mulai merencanakan konten sosial untuk perjalanan itu.
Ketika mereka tiba di Sydney, udara segar pantai menyapa. Mereka bertemu penerbit Australia dan teman baru bernama Zoe, yang bercerita tentang festival pertunjukan tari Aborigin. “Bagaimana kalau kita gabungkan adegan paella, Carnaval, dan tari Aborigin dalam satu bab?” usulkan Zoe. “Kiki dan teman-teman bisa menonton tari di pantai, sambil membawa potongan paella dan mengenakan aksesori Carnaval.” Semua menyetuju—sebuah paduan budaya yang kaya dan unik.
Komunikasi kadang menyulitkan: ketika nenek seorang penyanyi Aborigin berbicara dalam bahasa aslinya, Zoe menerjemahkan, dan kadang mereka menggunakan gerakan tari untuk menyampaikan perasaan yang dalam. Rama merekam setiap momen, sedangkan Siti mencatat cerita-cerita tentang akar budaya masing-masing.
Setelah kembali ke Semarang, mereka melanjutkan menyusun buku keempat. Rian mengunggah video tari Aborigin dan paella yang dimasak bersama ke saluran sosial—dalam sehari, ada ratusan ribu suka dan komentar dari seluruh dunia. Seorang penerbit dari Jepang juga mendekati mereka: “Cerita tentang persahabatan antar benua sangat menginspirasi. Bisakah kita menerjemahkan ke bahasa Jepang?”
Malam itu, mereka berkumpul lagi di perpustakaan. Bulan bersinar terang, dan di layar ponsel, teman-teman dari Spanyol, Brasil, Australia, Jepang, dan banyak negara lain bergabung. Maria menunjukkan video memasak paella, Sofia menampilkan pawai Carnaval mini, Zoe memamerkan gambar tari Aborigin, dan seorang teman Jepang bernama Ken mengirim gambar festival Hanami.
Rama merekam semua itu, sedangkan Rian merencanakan dokumenter ke Jepang. “Kita akan terus bercerita, terus berbagi,” ucap Siti, memegang tangan teman-temannya.
“Tak peduli seberapa jauh, cinta dan cerita akan selalu menghubungkan kita.” Saat itu, pesan baru muncul dari Ken: “Bisakah kita tambahkan adegan Kiki melihat bunga sakura sambil berbicara tentang impian dengan teman-teman dari seluruh dunia?” Siti tersenyum, mengetik jawaban: “Tentu—itu adalah awal cerita baru kita.”
Beberapa hari kemudian, Ken mengirim lebih banyak gambar Hanami—bunga sakura yang mekar di sepanjang sungai Sumida, lengkap dengan cerita tentang bagaimana neneknya selalu mengajaknya berjalan-jalan di sana setiap musim semi, bercerita tentang harapan dan pertumbuhan. “Cerita nenekmu pas dengan tema kita,” ucap Siti kepada Ken melalui obrolan teks, sambil menyiapkan catatan untuk adegan Kiki di Tokyo.
Tak lama, panggilan video dari penerbit Jepang tiba. “Kita mengundangmu ke festival sastra di Kyoto,” ucap wanita itu dengan senyum. “Bisa bertemu penulis muda dari Korea Selatan dan Cina, serta mengunjungi taman bunga sakura tua yang menjadi latar cerita Ken.” Semua bersorak—Rama segera merencanakan sesi pengambilan gambar, sedangkan Rian menyiapkan rencana konten sosial tentang perjalanan ke negeri matahari terbit.
Ketika mereka tiba di Kyoto, udara sejuk dan wangi bunga menyapa. Ken menjemput mereka dengan makanan tradisional mochi, dan mereka bertemu teman baru bernama Ji-woo dari Korea Selatan, yang menceritakan tentang festival Chuseok, serta Li dari Cina, yang membawa cerita tentang makanan perayaan dumpling. “Bagaimana kalau kita gabungkan adegan Hanami dengan pesta mini Chuseok dan pembuatan dumpling?” usulkan Ji-woo.
“Kiki dan teman-teman bisa duduk di bawah pohon sakura, berbagi paella, mochi, dan dumpling, sambil menonton tari Aborigin yang direkam dan mendengar cerita tentang Carnaval.” Semua menyetuju—sebuah paduan budaya yang melintasi benua Asia, Amerika Selatan, dan Australia.
Komunikasi kadang menyulitkan: ketika nenek seorang penjaga taman sakura berbicara dalam bahasa Jepang kuno, Ken menerjemahkan, dan kadang mereka menggunakan gerakan tari dari berbagai negara untuk menyampaikan perasaan yang tak terkatakan. Rama merekam setiap momen, sedangkan Siti mencatat cerita-cerita tentang akar budaya masing-masing teman.
Setelah kembali ke Semarang, mereka melanjutkan menyusun buku keempat. Rian mengunggah video taman sakura di Kyoto dan pesta makanan bersama ke saluran sosial—dalam beberapa jam, ada jutaan suka dan komentar dari seluruh dunia. Seorang penerbit dari Afrika Selatan juga mendekati mereka: “Cerita kalian sangat menginspirasi. Bisakah kita menerjemahkan ke bahasa Afrikaans dan menerbitkannya di Afrika?”
Malam itu, mereka berkumpul lagi di perpustakaan. Bulan bersinar lebih terang dari sebelumnya, dan di layar ponsel, teman-teman dari Jepang, Korea Selatan, Cina, Afrika Selatan, dan banyak negara lain bergabung. Ken menunjukkan video bunga sakura yang mekar, Ji-woo menampilkan gambar pesta Chuseok, Li memamerkan dumpling yang dibuat bersama, dan seorang teman Afrika Selatan bernama Lwazi mengirim gambar festival Ubuntu.
Rama merekam semua itu, sedangkan Rian merencanakan dokumenter ke Afrika Selatan. “Kita akan terus bercerita, terus berbagi,” ucap Siti, memegang tangan teman-temannya.
“Tak peduli seberapa jauh, cinta dan cerita akan selalu menghubungkan kita.” Saat itu, pesan baru muncul dari Lwazi: “Bisakah kita tambahkan adegan Kiki berbagi makanan dengan teman-teman di padang rumput Afrika, sambil melihat matahari terbenam?” Siti tersenyum, mengetik jawaban: “Tentu—itu adalah awal cerita baru kita yang lebih luas.