Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 10
Kabar penyerangan Perguruan Awan Mengalir ke Perguruan Lembah Teratai menyebar cepat seperti api tertiup angin. Meskipun sedang tidak bertugas resmi, Jenderal Cao Xiang tetap merasakan kegelisahan yang sulit dijelaskan. Hatinya terasa berat sejak mendengar satu nama disebutkan berulang kali dalam laporan para mata-mata. Nama itu adalah Dewi Kematian.
Ia tahu betul siapa sosok di balik julukan tersebut. Bukan hanya karena hubungan darah, tetapi juga karena rahasia kelam yang selama ini dikubur rapat oleh istana. Jika Cao Yi benar benar turun tangan, maka pertempuran di Lembah Teratai bukan lagi sekadar konflik antar perguruan, melainkan pertanda bahwa arus takdir mulai bergerak ke arah yang berbahaya.
Tanpa mengenakan seragam kebesaran, Cao Xiang segera menuju Istana. Langkahnya cepat namun tertahan oleh pikiran yang saling bertabrakan. Di satu sisi, ia mengkhawatirkan keselamatan mantan Jenderal Ziang Guang yang kini menetap di Lembah Teratai. Di sisi lain, ia takut keterlibatan Cao Yi akan membuka kembali luka lama yang seharusnya tetap tersegel.
Setibanya di istana, Cao Xiang tidak menuju aula utama. Ia tahu Raja Yan Liao jarang berada di sana pada jam seperti ini. Dengan keyakinan yang nyaris menjadi kebiasaan, ia melangkah ke taman belakang. Benar saja, di sanalah sang Raja berada bersama Permaisuri Bai Ling Yin, menikmati ketenangan yang kontras dengan kekacauan di dunia persilatan.
Seorang prajurit segera maju dan memberi hormat.
"Lapor Paduka, Jenderal Cao Xiang ingin menghadap."
"Suruh dia masuk," jawab Raja Yan Liao tanpa ragu.
Yan Liao lalu menoleh ke arah permaisurinya. Tatapannya tenang, namun terselip keseriusan.
"Permaisuri, sepertinya Paman Cao datang membawa urusan penting. Sebaiknya Permaisuri beristirahat di paviliun."
"Baik, Paduka," jawab Bai Ling Yin lembut.
Saat meninggalkan taman, Permaisuri Bai berpapasan dengan Cao Xiang. Jenderal itu segera membungkuk hormat, sikapnya penuh penghormatan meskipun pikirannya sedang berkecamuk.
"Hormat saya, Permaisuri."
"Jenderal Cao, silakan. Yang Mulia telah menunggu," ujar Bai Ling Yin sebelum melanjutkan langkahnya.
Cao Xiang menghela napas singkat, lalu menghampiri Raja Yan Liao dan berlutut dengan satu lutut.
"Cao Xiang menghadap Paduka."
"Bangunlah, Paman Cao," kata Yan Liao.
"Terima kasih, Paduka."
Mereka duduk berhadapan. Suasana taman terasa lebih berat dari biasanya. Bahkan suara dedaunan yang bergesekan pun seolah ikut menahan napas.
Tanpa bertele tele, Cao Xiang langsung menyampaikan maksud kedatangannya.
"Paduka, apakah Paduka telah mendengar kabar tentang penyerangan di Perguruan Lembah Teratai?"
"Aku sudah mendengarnya," jawab Yan Liao. "Termasuk kabar bahwa adik Cao Yi, muncul dengan identitas Dewi Kematian-nya disana."
Mendengar itu, jari Cao Xiang mengepal pelan. Kekhawatiran yang sejak tadi ia tahan akhirnya menemukan bentuk.
"Paduka, benar bahwa Lembah Teratai memenangkan pertempuran tersebut. Namun itu adalah kemenangan yang sangat tipis. Banyak murid terluka, dan kekuatan mereka terkuras. Hamba yakin, Awan Mengalir tidak akan berhenti sampai tujuan mereka tercapai."
"Dan menurutmu, siapa tujuan sebenarnya?" tanya Yan Liao dengan sorot mata tajam.
"Senior Ziang Guang," jawab Cao Xiang tanpa ragu. "Selama beliau masih hidup, Awan Mengalir tidak akan merasa aman."
Raja Yan Liao terdiam sejenak. Ia memahami logika itu dengan sangat baik.
"Aku juga berpikir demikian," katanya akhirnya. "Kemunculan Cao Yi membuat Awan Mengalir mundur untuk sementara. Bukan berarti mereka takut pada Ziang Guang, melainkan pada Dewi Kematian. Namun kita sama sama tahu, Awan Mengalir memiliki pendekar yang tidak kalah hebat dari Ziang Guang."
Cao Xiang menundukkan kepala sejenak sebelum kembali berbicara.
"Paduka, izinkan hamba memberikan saran. Demi menjaga perdamaian di permukaan, sebaiknya istana mengirimkan surat peringatan resmi kepada Perguruan Awan Mengalir. Mereka akan diampuni dengan satu syarat mutlak, yakni dilarang menyerang Lembah Teratai. Jika peringatan ini diabaikan, maka istana tidak punya pilihan selain menghapus keberadaan Perguruan Awan Mengalir dari dunia persilatan."
Ucapan itu tegas, namun di baliknya tersimpan keraguan dan beban moral yang berat.
Yan Liao mengeluarkan dengusan pelan.
"Usulanmu masuk akal, Paman Cao. Namun aku tidak yakin mereka akan mendengarkan peringatan istana. Ambisi Awan Mengalir terlalu dalam, dan dendam mereka terlalu lama dipelihara."
Tatapan Raja Yan Liao menerawang ke kejauhan, seolah melihat bayangan perang yang lebih besar menanti di masa depan. Sementara itu, Cao Xiang hanya bisa berharap bahwa langkah yang akan diambil istana tidak datang terlambat.
Yan Liao menatap langit yang mulai berubah warna keemasan. Awan tipis bergerak perlahan, seolah tak peduli pada beban yang kini menekan pundaknya. Ia menghela napas panjang. Selama dua tahun memimpin Kerajaan Liungyi, tak ada satu hari pun yang benar-benar tenang. Harapan untuk menciptakan negeri damai terasa seperti mimpi yang terus menjauh, setiap kali satu masalah selesai, masalah lain datang dengan wajah yang lebih rumit.
Beruntung, Kerajaan Liungyi masih memiliki beberapa pendekar yang setia menjaga keseimbangan, menumpas kejahatan, dan melindungi rakyat dari bayang-bayang kekacauan. Salah satu di antara mereka adalah Cao Yi, sosok yang kini dikenal seluruh negeri sebagai Dewi Kematian.
Ingatan Yan Liao melayang ke masa lalu. Saat itu, Cao Yi baru berusia delapan tahun, sementara dirinya enam belas. Gadis kecil itu berdiri di tengah halaman latihan, tubuhnya mungil, namun aura yang memancar darinya membuat bahkan para pendekar dewasa merasa tertekan. Sejak kekuatan warisan dewa dan dewi dari dunia lain itu bangkit di dalam dirinya, jalan hidup Cao Yi telah berubah selamanya.
Yan Liao masih ingat bagaimana mereka berlatih bersama di bawah bimbingan Ziang Guang dan Cao Xiang. Ia berusaha keras, berkeringat, berdarah, dan jatuh berkali-kali. Namun Cao Yi, dengan warisan aneh dan mengerikan itu, melangkah maju dengan kecepatan yang bahkan sulit ia kejar. Bukan karena ia malas atau kurang berbakat, melainkan karena jarak di antara mereka memang terlalu jauh.
Sejak dulu, Yan Liao telah menganggap Cao Yi sebagai adiknya sendiri. Walaupun saat bertarung gadis itu berubah dingin, tajam, dan menakutkan, Yan Liao tahu sisi lain dari dirinya. Cao Yi adalah gadis yang lembut, mudah terluka, dan menyimpan kesedihan yang tak pernah benar-benar ia tunjukkan pada siapa pun.
Kini, kekuatan Cao Yi sudah berada di tingkat yang tak bisa lagi diukur dengan standar pendekar biasa. Sementara itu, Yan Liao baru mencapai Tingkat Pendekar Terlatih. Ia tidak merasa malu akan hal itu. Ia tahu, jalan seorang raja berbeda dengan jalan seorang pembunuh bayangan seperti Cao Yi. Setiap tingkat kekuatan menuntut harga, dan ia telah membayar dengan cara yang berbeda.
Keheningan itu akhirnya pecah ketika Yan Liao menoleh ke arah Cao Xiang.
"Paman Cao, apakah benar prajurit Kerajaan Yanghe sempat menyusup ke tenda pasukan kita di perbatasan?" tanyanya dengan nada tenang, namun sorot matanya tajam.
"Benar, Paduka," jawab Cao Xiang tanpa ragu. "Prajurit itu berniat meracuni air minum pasukan. Untungnya, salah satu prajurit kita melihat gerak-geriknya. Upaya itu berhasil digagalkan, dan prajurit Yanghe tersebut tewas di tempat. Mayatnya sudah kami kembalikan ke wilayah mereka sebagai peringatan."
Yan Liao mengepalkan tangannya perlahan. Wajahnya mengeras.
"Hmp. Kerajaan Yanghe benar-benar licik. Cara-cara kotor seperti itu tak pernah mereka tinggalkan," ucapnya pelan. "Semoga Jenderal Jiao Zuan bisa lebih waspada. Jika satu celah saja terbuka, korban akan berjatuhan."
"Tenanglah, Paduka," kata Cao Xiang dengan suara mantap. "Jenderal Jiao sangat cerdas dan berpengalaman. Setelah kejadian itu, ia langsung memperketat penjagaan dan menyusun strategi untuk menghadapi penyusup. Pasukan di perbatasan kini jauh lebih siap."
Yan Liao mengangguk pelan, meski kegelisahan di hatinya belum sepenuhnya sirna. Ia lalu terdiam sejenak, seolah mengingat sesuatu yang penting.
"Oh iya, Paman," katanya kemudian. "Lusa adalah pergantian tahun. Penduduk Kota Yibei berencana mengadakan festival besar. Aku ingin kamu memperketat keamanan. Biasanya, dalam keramaian seperti itu, selalu ada pendekar-pendekar liar yang memanfaatkan kesempatan untuk membuat kekacauan."
"Hamba melaksanakan perintah," jawab Cao Xiang tanpa ragu.
Yan Liao menatap taman istana yang terlihat damai. Bunga-bunga bermekaran, kolam memantulkan cahaya langit, dan burung-burung berkicau riang. Namun di balik keindahan itu, bayangan masa lalu kembali menghantuinya.
Festival tahun lalu masih terpatri jelas di ingatannya. Di tengah perayaan, beberapa pendekar berhasil menyelinap ke area istana dengan niat membunuh dirinya dan Permaisuri. Darah hampir tertumpah di tempat yang seharusnya dipenuhi tawa. Beruntung, ia menguasai ilmu bela diri dan para pengawal bertindak cepat. Para pelaku berhasil ditangkap, namun kejadian itu meninggalkan luka yang tak mudah hilang.
Ia tidak ingin peristiwa itu terulang.
Di dalam hatinya, Yan Liao tahu. Musuh Kerajaan Liungyi tidak hanya datang dari medan perang terbuka, tetapi juga dari bayangan, dari kerumunan, dan dari senyum palsu di tengah perayaan.