Niat awal Langit ingin membalas dendam pada Mentari karena telah membuat kekasihnya meninggal.Namun siapa sangka ia malah terjebak perasannya sendiri.
Seperti apa perjalanan kisah cinta Mentari dan Langit? Baca sampai tuntas ya.Jangan lupa follow akun IG @author_receh serta akun tiktok @shadirazahran23 untuk update info novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Diam-diam Mentari mundur. Ia berlari ke arah toilet yang letaknya sedikit jauh dari dua orang yang sedang bertengkar itu, mencoba menstabilkan emosinya yang kacau tak karuan.
Kata-kata Angel barusan benar-benar mengusik relung hatinya. Dadanya terasa sesak, sementara pikirannya kembali melayang pada malam mengenaskan yang tak pernah benar-benar ia lupakan.
Saat itu…
Mentari kembali melirik kado kecil di tangannya. Senyumnya mengembang sempurna, penuh harap dan kebahagiaan yang ia simpan rapat-rapat.Hampir dua bulan ia menyembunyikan semuanya dari Abi.Dan sekarang saat pria itu mengajaknya makan malam di restoran mahal, Mentari tak sabar ingin memberikan kejutan.
Malam ini dia harus tahu kalau sebentar lagi hidup kami akan berubah…
Namun hingga satu jam berlalu, Abi yang hanya berpamitan ke toilet nyatanya tak kunjung kembali. Mentari mulai diliputi kegelisahan. Jantungnya berdegup tak menentu, jemarinya berulang kali mencengkeram ujung gaun.
“Ke toilet kok lama ya Kamu ke mana?” gumam Mentari dengan suara bergetar.
Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja.
Mentari terkejut. Tanpa menunggu lama, ia langsung mengangkat panggilan itu,dan napasnya tercekat saat melihat nama yang tertera di layar.
Abi.
"Abi, kamu di mana? Aku sudah nungguin lama nih. Cepat datang, aku nggak nyaman di tempat ini sendirian,” cerca Mentari, suaranya terdengar cemas.
Namun keningnya langsung mengerut saat mendengar suara Abi di ujung telepon. Napas pria itu terdengar terburu-buru, seolah menahan kepanikan.
“Abi, kamu kenapa? Kedengarannya panik banget. Ada apa?” tanya Mentari. Tubuhnya spontan menegang.
“Tari, tolong datang ke Jalan XXXX sekarang. Aku tunggu!” ucap Abi cepat.
Belum sempat Mentari bertanya lebih jauh, panggilan itu sudah terputus.
Mentari membeku sesaat. Jantungnya berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, ia buru-buru meraih tasnya dan bangkit dari kursi. Tanpa ia sadari, kado kecil yang sejak tadi ia genggam terjatuh ke bawah meja.
Krak.
Benda itu terbuka.
Di sana, di lantai dingin restoran itu, sebuah tes kehamilan dengan dua garis merah terlihat begitu jelas,seolah menertawakan kebahagiaan yang belum sempat ia ucapkan.
Mentari tiba di Jalan XXX, tempat Abi memintanya datang. Wajahnya sedikit mereda begitu melihat mobil yang dikendarai pria itu terparkir tak jauh dari sana.
Ia bergegas mendekat dan mengetuk kaca mobil. Perlahan, pintu itu terbuka.
Mentari terhenyak.
Wajah Abi pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipisnya. Tangannya bergetar saat memegang kemudi.
“Bi, kamu kenapa?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih panik.
“Tari, kamu harus bantu aku… aku mohon,” ucap Abi lirih, suaranya nyaris putus.
“Apa yang harus kubantu, Bi? Jelasin dulu,” desak Mentari.
“Gak ada waktu, Tari. Aku gak tahu harus bagaimana. Karierku hancur… semuanya hancur sekarang,” ucap Abi kalut.
“Iya, tapi aku harus bantu kamu apa?” Mentari makin tertekan.
Abi menggeleng, lalu menunduk, menatap gagang setir beberapa detik seolah sedang menimbang nasibnya sendiri.
“Kamu masuk ke mobil. Bawa mobil ini ke tempat pencucian. Nanti aku susul. Aku ada urusan sebentar. Please…” katanya akhirnya.
“Tapi, Bi..."
“Gak ada tapi-tapi. Cepat,” potong Abi sambil mendorong Mentari agar duduk di balik kemudi.
“Tapi tempat pencucian mobil kan sudah tutup.”
“Aku sudah telepon Wahyu. Dia nungguin. Tolong, Tari. Cepatlah,” ucap Abi dengan nada memohon.
Keraguan jelas terpancar di wajah Mentari. Namun pada akhirnya, ia mengangguk pelan.
Ia menyalakan mesin mobil dan melaju, meninggalkan Abi berdiri sendiri di tepi jalan, tanpa tahu bahwa keputusan barusan adalah awal dari kehancuran hidupnya.
Karena tak lama setelah itu, Mentari ditangkap polisi.
Ia dituduh melakukan tabrak lari terhadap seorang wanita hingga nyawanya terenggut.
*
Kini Abi menatap Mentari yang telah mengenakan baju tahanan dengan sorot mata penuh rasa bersalah.
“Maafkan aku, Tari… aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana,” ucapnya lirih. Air mata terus mengalir sejak ia datang ke kantor polisi dan mendapati Mentari duduk di balik jeruji,lesu, kurus, dan jauh dari sosok ceria yang dulu ia kenal.
Mentari menatapnya datar. Tak ada amarah yang meledak, hanya kelelahan yang menyesakkan.
“Jadi… dengan begini aku sudah menolong dan menyelamatkan kamu, Bi?” tanyanya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
Tubuh Abi bergetar hebat. Ia mengangguk, tak berani menatap mata Mentari.
“Aku sudah mengorbankan banyak hal, Tari, demi memenangkan pemilihan ini. Suara sudah hampir delapan puluh lima persen jatuh padaku. Kalau aku ketahuan melakukan ini… semuanya akan hancur,” katanya terisak.
Ia mendekat ke jeruji, suaranya makin rendah, hampir memohon.
“Aku janji akan berusaha mengeluarkan kamu dari sini. Tolong sabar, ya, Tari… percayalah padaku.”
Mentari terdiam.
Dan sejak saat itu, Mentari tak pernah lagi melihat Abi.
Terlebih setelah pria itu benar-benar memenangkan pemilihan umum dan resmi menjadi anggota dewan. Puluhan kali Mentari melayangkan surat,memberi tahu tentang janin yang ia kandung, memohon sekadar kabar, atau satu kali saja ia datang menjenguk. Namun hingga sembilan bulan berlalu, tak satu pun surat dibalas. Abi lenyap, seolah Mentari dan anak itu tak pernah ada.
Hingga suatu hari…
Mentari terbaring di ruang perawatan. Hari ini ia akan melahirkan melalui operasi sesar. Dokter menyarankan prosedur itu karena kondisi bayi yang sungsang dan terlalu berisiko untuk persalinan normal.
Wajah Mentari tampak pucat. Tangannya gemetar saat mengusap perut yang kini sudah sangat besar. Tak ada Abi. Tak ada siapa pun yang ia tunggu.
Sebelum para suster membawanya ke ruang operasi, pandangannya yang kabur sempat menangkap satu sosok melintas di ujung lorong.
Bu Desi.
Wanita itu masuk ke ruangan dokter bedah,dokter yang akan mengoperasinya.
Jantung Mentari mencelos.
Entah mengapa, firasat buruk kembali menyeruak, jauh lebih dingin dari ruang operasi yang menantinya.
Dan benar saja, firasat itu akhirnya benar-benar terjadi.
Di depan cermin toilet yang besar, Mentari menangis sesenggukan. Ingatannya melayang pada bayinya,anak yang bahkan belum pernah ia lihat sejak ia melahirkannya. Kata-kata Angel tentang Mina kembali terngiang di kepalanya, membuat dadanya terasa semakin sesak. Ia teringat anaknya sendiri, yang entah berada di mana sekarang.
Langit yang sejak tadi mencari Mentari dengan cemas, tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mendengar suara rintihan tangis dari dalam toilet. Tanpa memedulikan bahwa itu adalah toilet khusus wanita, ia langsung menerobos masuk.
Langit terkejut melihat Mentari berjongkok di sudut ruangan, memeluk lututnya sendiri, tubuhnya bergetar hebat.
Entah mengapa, hatinya terasa perih menyaksikan pemandangan itu. Dengan langkah pelan, ia mendekat lalu ikut berjongkok di hadapan wanita tersebut. Perlahan tangannya terulur, mengusap pipi Mentari yang basah oleh air mata.
“Jangan menangis, Tari,” ucapnya lirih. “Aku sakit melihatmu seperti ini.”
Namun bukannya mereda, Mentari justru semakin meraung. Langit segera menarik tubuh itu ke dalam pelukannya, membiarkan Mentari meluapkan seluruh rasa sesaknya,seperti seorang anak kecil yang akhirnya menemukan tempat paling aman untuk mengadu.
Nyaman… dan penuh kehangatan yang selama ini ia rindukan.
Sudah terjawab ya...Mau tahu kenapa bayi Mentari bisa hilang dan bagaimana ceritanya Langit bisa menemukan Minara? Tunggu bab selanjutnya
Riko. kasian ya di culik hingga sepuluh tahun baru di ketemukan oleh kakanya
Riko ga boleh cemburu ya Ok
sendiri. orang tua luknat 🤮 muntah Rini nasib nya menyedihkan sekali pantas ga mau menikah karena sudah ga perawan
biadap sekali menghancurkan seorang gadis yang akan menjalin sebagai pasangan jahat,, apabila masih hidup, kelak renta Jangan di tolong terkecuali
tunggu sampai muncul atau update lgi 👍😁
semoga belum janda wekkk
gugu di tiru,,,,dan dokter Siska nanti apa akan membalas ke langit dan mentari seandainya tau awal mulanya,,,jangan ya saling mengasihi dan berbalik hati karena kalau selalu bermusuhan hidup seperti di neraka' ga nyata ga fiksi, Ok lanjutkan,,,lope lope sekebon jengkol buat Author bunga ya jengkol mahal 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂
jangan ada pelakor atau apapun lho thor,baru aja bahagia ,sdh bikin deg2an ini 🙏🙏, jangn digoncang lg lah thor kasihan 🙏🙏