NovelToon NovelToon
My Boyfriend Is Daddy'S Friend

My Boyfriend Is Daddy'S Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Duda / Cintapertama
Popularitas:695
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Suasana di ruang tamu rumah Sintia sore itu terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Sejak kepulihan Sintia merangkak naik, rumah ini bukan lagi sekadar tempat persembunyian yang sunyi, melainkan sebuah rumah yang kembali memiliki nyawa.

Arga, seperti ritual wajibnya selama tiga bulan terakhir, sudah berada di sana sejak siang. Ia baru akan pulang ke rumahnya sendiri saat memastikan Sintia sudah tertidur lelap dan sistem keamanan di rumah itu terkunci rapat. Baginya, jarak antara kantor dan rumah Sintia hanyalah garis kecil yang wajib ia tempuh setiap hari demi ketenangan batinnya sendiri.

Ketukan pintu yang bersemangat memecah keheningan. Sebelum Arga sempat bangkit dari sofa, seorang gadis dengan gaya kasual dan tas ransel yang tersampir di satu bahu sudah menyerobot masuk.

"SIN! OH MY GOD, GUE KANGEN BANGET!"

Itu Ara. Putri Arga yang memiliki energi berbanding terbalik dengan ayahnya. Jika Arga adalah gunung es yang diam dan kokoh, Ara adalah badai tropis yang ceria. Ia juga sahabat karib Sintia sejak masa sekolah, orang yang paling hancur saat mengetahui apa yang menimpa sahabatnya itu.

Sintia yang sedang merapikan vas bunga di meja sudut langsung menoleh. Matanya berbinar, sebuah binar yang sudah lama tidak dilihat Arga. "Ara!"

Kedua gadis itu berpelukan erat. Arga hanya memperhatikan dari kejauhan, menyandarkan punggungnya di kursi dengan tangan bersedekap. Ada sedikit rasa lega melihat Sintia bisa tertawa lepas, namun ia juga sudah waspada dengan "mulut ember" anaknya itu.

"Gila ya, lo makin seger aja, Sin! Pipi lo udah nggak sekempot bulan lalu," cerocos Ara sambil menarik Sintia duduk di sofa, mengabaikan keberadaan ayahnya sejenak. "Papa gue beneran jagain lo kayak satpam komplek ya? Liat tuh mukanya, makin kaku aja kayak kanebo kering."

Sintia tertawa kecil, melirik Arga yang hanya membalas dengan dengusan pelan. "Arga baik banget, Ra. Dia tiap hari ke sini."

"Ya iyalah, kalau nggak ke sini dia bisa gila sendiri di rumah," Ara mulai membuka tasnya, mengeluarkan beberapa diktat kuliah dan mulai bercerita. "Tapi serius Sin, gue kesepian banget di kampus. Hidup gue tuh hampa tanpa lo. Biasanya kita yang paling berisik di kantin, sekarang gue kayak anak ilang. Temen-temen kelas kita pada nanyain lo terus, dosen juga. Gue tuh capek tahu nggak, harus bohong bilang lo lagi 'pemulihan kesehatan' terus tanpa tahu kapan lo balik."

Sintia terdiam, jemarinya memainkan ujung bajunya. "Kampus... rame banget ya sekarang?"

"Rame! Eh, lo tahu nggak? Kafe depan fakultas kita udah buka cabang baru, tempatnya enak banget buat nugas. Terus ada senior baru yang gantengnya—"

Ehem.

Suara dehaman berat dari arah belakang membuat Ara tersentak. Arga berdiri di sana dengan tatapan tajam yang mematikan, seolah-olah mata itu bisa mengeluarkan laser yang sanggup melubangi dahi Ara.

Ara mengerutkan kening. "Apaan sih, Pa? Orang lagi cerita."

"Jangan kasih dia ide yang aneh-aneh, Ara," ucap Arga dingin. Suaranya rendah namun penuh peringatan. "Fokus cerita soal kabar kamu aja, nggak usah bawa-bawa suasana kampus."

Ara memutar bola matanya. "Lho, kan Sintia emang mahasiswi di sana juga! Wajarlah kalau dia pengen tahu. Papa ini posesifnya kebangetan deh. Sintia udah bisa jalan ke taman, udah bisa interaksi sama orang, masa ke kampus aja nggak boleh?"

"Belum waktunya," tegas Arga. Ia menatap Sintia sejenak, memastikan gadis itu tidak merasa tertekan, lalu kembali menatap Ara dengan tatapan 'diam atau uang jajan dipotong'.

Sintia tersenyum tipis, mencoba menengahi. "Nggak apa-apa, Ra. Arga cuma mau aku bener-bener siap. Tapi... aku emang kangen ngerjain tugas bareng kamu."

Ara menghela napas dramatis. "Pokoknya ya Sin, kalau nanti Papa izinin lo balik, gue bakal jadi pengawal pribadi lo selain Papa. Gue bakal bawa toa buat ngusir cowok-cowok yang berani deketin lo. Sumpah, kampus tuh hampa tanpa lo, gue beneran nggak ada temen cerita yang sefrekuensi."

Di sudut ruangan, Arga terus memelototi Ara. Ia tahu betul, pengaruh Ara bisa membuat pertahanan Sintia goyah dan keinginan gadis itu untuk kembali ke dunia luar akan semakin sulit ia bendung. Sementara itu, di dalam kepalanya, Arga sedang menyusun rencana untuk memperketat keamanan lebih gila lagi jika suatu saat nanti ia terpaksa menyerah pada keinginan Sintia.

Sementara itu, di sebuah bangunan beton dengan kawat berduri yang mengelilinginya, suasana kontras terjadi.

Jefry duduk di pinggir tempat tidur selnya yang sempit. Tidak ada lagi setelan jas mahal atau aroma parfum mewah. Yang ada hanyalah bau keringat, deterjen murah, dan kebencian yang membusuk di dalam dadanya.

Vonisnya baru saja ditambah. Sagara, pengacara kepercayaan Arga, benar-benar bekerja dengan sangat bersih sehingga tidak ada celah bagi Jefry untuk menghirup udara bebas dalam waktu dekat. Papanya pun sudah angkat tangan, lebih memilih menyelamatkan sisa-sisa aset perusahaan daripada mengeluarkan anak yang dianggap sudah merusak nama baik keluarga.

Namun, bagi pria seperti Jefry, penjara bukanlah akhir. Justru di tempat ini, ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki "keahlian" yang sama gelapnya dengan pikirannya.

"Sudah dapat alamatnya?" tanya Jefry pada seorang pria bertato di leher yang duduk di seberangnya saat jam istirahat di lapangan tengah.

Pria itu mengangguk kecil, menyelipkan selembar kertas lusuh ke bawah nampan makan Jefry. "Rumah lama di pinggiran kota. Dijaga ketat. Ada mobil hitam yang selalu parkir di depan setiap hari dari siang sampai malam."

Jefry menyeringai. Sebuah seringai yang akan membuat Sintia gemetar hebat jika melihatnya. "Itu Arga. Dia pikir dia bisa jadi pahlawan selamanya."

"Lo mau gue ngapain?" tanya si pria tato. "Gue ada orang di luar yang bisa 'beresin' dalam semalam."

"Jangan," potong Jefry cepat. Matanya berkilat penuh dendam. "Membunuh mereka itu terlalu mudah. Gue mau Arga ngerasain gimana rasanya kehilangan sesuatu yang dia jaga mati-matian. Gue mau dia ngerasain gagal, kayak gimana dia bikin gue gagal dapet aset papanya."

Jefry meremas nampan plastiknya sampai jarinya memutih. "Sintia adalah kelemahannya sekarang. Dan Ara... anak kesayangannya itu... juga bisa jadi kunci yang menarik. Gue nggak butuh keluar dari sini buat menghancurkan mereka. Gue cuma butuh satu momen saat mereka lengah."

Ia kemudian membisikkan sesuatu ke telinga pria itu. Sebuah rencana yang melibatkan orang-orang dari masa lalu Arga yang juga menaruh dendam pada pria kaku itu. Di balik jeruji besi, Jefry sedang menenun jaring laba-laba baru. Ia tahu Arga sangat protektif, dan ia akan menggunakan protektifitas itu untuk menjebak Arga dalam permainannya sendiri.

"Nikmatin masa-masa manis kalian, Arga... Sintia..." gumam Jefry pelan, hampir seperti doa yang terkutuk. "Karena saat kalian ngerasa paling aman, saat itulah gue bakal ambil semuanya."

Kembali ke rumah Sintia, malam mulai larut. Ara sudah pulang setelah dipaksa Arga karena hari sudah malam. Kini hanya tersisa Arga dan Sintia di ruang tengah.

"Kamu marah sama Ara?" tanya Sintia pelan saat melihat Arga masih tampak tegang.

Arga menoleh, lalu menghela napas panjang. Ia mendekati Sintia dan duduk di sampingnya, meraih tangan gadis itu dan mengecupnya lama. "Aku nggak marah sama dia. Aku cuma khawatir dia kasih kamu harapan yang belum bisa aku penuhi sekarang."

Sintia menyandarkan kepalanya di bahu Arga. "Aku ngerti, Ga. Aku nggak akan maksa. Tapi makasih ya, udah selalu ada di sini setiap hari."

Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan rangkulannya. Di luar, hujan mulai turun, membasuh jalanan kota yang dingin. Arga menatap ke arah jendela, merasa ada sesuatu yang tidak enak di hatinya, sebuah insting yang selalu muncul tiap kali bahaya mendekat. Ia berjanji dalam hati, besok pagi, ia akan menambah jumlah personel keamanan di sekitar rumah ini. Ia tidak akan membiarkan celah sekecil apapun terbuka, bahkan jika itu berarti ia harus menjadi pria paling kaku dan dibenci di dunia.

1
Ekasari0702
kenapa lama sekali up nya
Nadhira Ramadhani: nanti malam insyaallah up kak🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!