Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALAN KESEMBUHAN DAN ANCAMAN
Setelah aku dan bapak selesai sholat isya berjamaah, sebelum aku beranjak tidur, bapak kembali mengajakku untuk mengobrol di ruang tamu.
"Nis, soal apa yang tadi kamu bilang kalo Pak Handoyo di santet, sebenarnya Bapak agak sedikit ragu." kata bapak.
"Ragu? Kenapa ragu Pak?" tanyaku.
"Soalnya belum terbukti juga kalo itu beneran santet kan? Itu semua baru menurut apa yang kamu liat." jawab bapak.
"Takutnya nanti malah jadi fitnah. Dan malah bikin keluarga Pak Handoyo jadi takut, atau malah jadi berpikir yang salah ke orang tertentu." lanjut bapak.
"Iya juga sih Pak, tapi... Apa gak sebaiknya kita coba bantu supaya cari tau dulu? Atau mungkin Bapak bisa bantu ngobrol sama Ustadz Furqon?" tanyaku.
Bapak nampak berpikir sejenak.
"Iya juga Nis... Bener yang kamu bilang itu..." respon bapak nampak sedikit setuju.
"Siapa tau Ustadz Furqon bisa bantu sembuhkan Pak Handoyo, atau bisa jadi Ustadz Furqon punya kawan atau kenalan yang emang bisa di dunia ghoib itu." tambahku.
Bapak mengangguk mendengar penjelasanku itu.
"Ya sudah, besok sambil Bapak ke kebun, Insyaa Alloh Bapak akan mampir ke rumah Ustadz Furqon buat sampaikan itu." ucap bapak.
"Ya sudah, malam ini kamu tidur lebih cepet aja. Supaya lebih seger juga badanmu." perintah bapak kemudian.
"Terus, Bapak mau ngapain kalo aku tidur duluan?" tanyaku.
"Ya ngapain lagi? Kalo bukan ngopi dan ngerokok lagi di teras... Hehehehe" jawab bapak sambil tertawa pelan.
"Huuuh... Dasar orang tua... Jangan ngopi lagi Pak, tadi sore kan udah habis satu gelas. Ngeteh aja ya..." jawabku sambil berdiri. Dan aku menuju ke dapur untuk membuatkan segelas teh hangat.
"Ya udah, ngeteh aja..." jawab bapak yang juga berdiri dan hendak menuju ke teras rumah.
Aku ke dapur, menyalakan kompor dan memasak air untuk membuatkan teh.
Tapi... Lagi-lagi... Ketika aku sedang duduk di kursi dapur sambil memandangi api kompor itu...
Mata kiriku melihat sesuatu... Seperti sekelebat bayangan seseorang yang sedang duduk di atas tikar pandan.
Dan seketika itu juga kepalaku terasa sakit secara tiba-tiba. Aku sampai memegang kepalaku.
"Astaghfirullooh..." ucapku sambil menahan rasa sakit itu.
Aku kembali memandangi api kompor, dan nampak lagi penampakan seseorang yang sedang duduk itu. Ada seperti sebuah mangkuk di depannya. Dengan asap mengepul tebal ke udara. Sosok itu memandangiku dengan tatapan ancaman.
Secara refleks, aku coba memejamkan kedua mataku. Menarik nafas dalam-dalam. Berharap apa yang muncul dalam pandangan mata kiriku segera memudar.
"Tolong... Biarkan aku tenang sejenak..." ucapku sendiri, seolah meminta mata kiriku untuk tidak terbuka penglihatan ghoibnya.
Namun saat aku memejamkan kedua mata itu, aku justru seperti mendapatkan penglihatan yang jauh lebih jelas. Seperti kemampuan seseorang yang mampu menerawang sesuatu.
Dalam penglihatanku itu, aku jelas sekali berhadapan dengan sosok di atas tikar pandan itu. Sosoknya adalah seorang lelaki. Memakai pakaian serba hitam, dan memakai ikat kepala juga yang berwarna hitam.
Dan tiba-tiba sosok lelaki itu seperti menaburkan sesuatu ke dalam mangkuk yang ada di depannya. Semakin banyak asap yang mengepul ke udara.
Lalu, sosok lelaki itu berkata padaku....
"Jangan ikut campur! Atau kau akan mati!"
Seketika aku mendapatkan kalimat ancaman itu, kubuka kedua mataku. Nafasku sedikit terengah-engah. Sedikit merasa takut diriku.
"Yaa Alloh... Penglihatan apalagi barusan? Astaghfirullooh..." ucapku sambil tersadar bahwa air untuk membuat teh bapak sudah mendidih.