"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua
"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu
"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen
Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.
Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBSK 13
"Yanshen, kau sudah sadar sayang." Xiwei tersenyum menatap pada lelaki yang dicintainya.
"Kau! Untuk apalagi kau datang kesini? Cepat keluar! Keluar aku bilang." Yanshen terkejut melihat sosok perempuan yang sangat dia benci. Seketika raut wajah Yanshen berubah drastis.
Wajahnya mengeras dan memerah, bahkan otot-otot pada lehernya terlihat menonjol. Kedua tangannya pun mengepal erat seakan menahan amarah yang membuncah di dalam dada. Tatapannya tajam menatap pada perempuan di hadapannya saat ini, perempuan itu tak lain adalah Ran Xiwei.
Sementara Xiwei yang ditatap merasakan hawa panas dingin yang menyergap tubuhnya. Namun, hal itu tak membuat Xiwei menyerah begitu saja. Perempuan itu kembali bersua berusaha menaklukkan kembali hati Yanshen.
"Sayang, aku kesini untuk menjenguk mu. Aku dengar dari Tante Lihua kalau kau sedang sakit, makanya aku menyempatkan waktu datang kesini," terang Xiwei sambil tersenyum manis pada lelaki pujaannya.
Xiwei duduk di pinggir ranjang, perlahan menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan posisi Yanshen saat ini.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah membaik?" Saat tangan Xiwei terulur ingin menyentuh dahi Yanshen, berusaha sekeras mungkin untuk menunjukkan perhatiannya pada lelaki itu. Namun lagi dan lagi Xiwei gagal untuk mengambil hati Yanshen.
Secepat kilat Yanshen menepis tangan Xiwei, merasa jijik dengan apa yang dilakukan perempuan itu barusan.
"Jauhkan tangan kotor mu itu dari tubuhku. Karena aku tidak sudi disentuh oleh perempuan j*lang sepertimu." Sorot matanya menatap tajam ke arah Xiwei yang masih duduk mematung di atas ranjang king sizenya.
DEG!
Jantung Xiwei berhenti berdetak kala mendengar kalimat yang berhasil menohok hatinya.
"A- apa maksudmu? Kenapa kau bicara seperti itu, sayang?" Xiwei berpura-pura tidak mengerti dengan ucapan Yanshen barusan.
"Diam kau! Berhenti berpura-pura bodoh di hadapanku, karena aku sekarang bukanlah Yanshen yang dulu dengan mudahnya kau bodohi," bentak Yanshen dengan mata menyala membuat nyali Xiwei menciut seketika.
"Yanshen, maaf jika dulu aku pergi meninggalkanmu begitu saja tanpa persetujuan mu. Maaf bila ...."
"Cukup! Aku sudah tidak ingin mendengarkan ocehan mu itu. Sekarang, cepat kau angkat kaki dari kamarku. Keluar aku bilang!" Yanshen kembali berteriak dengan suara petir yang menggelegar.
"Yanshen, apa kau tidak ingat bagaimana dulu kau sangat mencintaiku. Bahkan kau susah payah mengejar ku hanya untuk mendapatkan hatiku. Lalu kenapa sekarang kau membenciku?" balas Xiwei yang tidak terima jika dirinya dicampakkan begitu saja oleh Yanshen.
Xiwei ingat betul bagaimana dulu Yasnhen yang sangat perhatian dan menyayanginya setulus hati. Tapi, dalam sekejap lelaki itu berubah menjadi dingin tak tersentuh. Terlihat jelas sorot mata Yanshen terpancar sebuah kebencian yang begitu mendalam untuk dirinya.
"Ya, dulu aku memang bodoh karena mengejar cinta perempuan j*lang sepertimu. Perempuan yang rela menjajakan tubuhnya ke lelaki hidung belang hanya untuk mendapatkan ketenaran semata," jawab Yanshen berapi-api.
"Tidak Yanshen, kau salah paham. Aku bukan perempuan yang seperti kau pikirkan. Aku ...."
"Aku apa, hah? Lalu aku harus memikirkan mu seperti apa?" sela Yanshen dengan dada naik turun.
"Yanshen, aku mohon jangan seperti ini. Kita bisa bicara baik-baik. Aku sangat mencintaimu Yanshen, sungguh. Tidak ada lelaki lain selain dirimu," ucap Xiwei dengan wajah memelas berharap Yanshen simpati kepadanya.
"Heh' tapi sayangnya AKU TIDAK MENCINTAIMU! Dan satu hal lagi yang perlu kau ingat, hubungan kita sudah selesai. Tidak ada hubungan apapun diantara kita, camkan itu!" tegas Yanshen mengingatkan kembali Xiwei.
"Tidak, kau bercanda bukan?" Xiwei menggelengkan kepalanya cepat, tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Terserah kau mau bilang apa, yang penting hubungan kita sudah selesai sejak kau memutuskan pergi meninggalkanku waktu itu." Yanshen kembali menjelaskan dengan pelan tapi penuh penekanan di setiap kalimat.
Xiwei terkekeh, sebelum kemudian kembali bersua.
"Apa semua ini gara-gara perempuan j*lang itu membuatmu benci padaku?" tanya Xiwei penasaran menatap intens wajah lelaki yang sangat dia rindukan.
"TUTUP MULUT KAU SIAAN ATAU AKU AKAN MENGHANCURKAN MULUT PEDAS MU ITU!" bentak Yanshen dengan tatapan elangnya menatap pada Xiwei.
"Benar bukan apa yang ku katakan itu. Dia dengan beraninya menggoda mu dan kemudian naik ke ranjangmu hanya demi mendapatkan status sebagai Nyonya Xie. Jangan-jangan kau tidur dengannya, dia sudah tidak ada per*w*n. Entah berapa banyak lelaki yang sudah meniduri perempuan j*lang itu." Dengan lantang Xiwei mengatakan sambil tersenyum menyungging.
PLAK!
"JAGA UCAPANMU! DIA ISTRIKU, KAU TIDAK PUNYA HAK MENGHINA DIA DI HADAPANKU!"
Tanpa basa-basi secepat kilat Yanshen beranjak dari ranjang lalu menyeret Xiwei keluar dari kamarnya.
"Arrrghh, lepas Yanshen!" Xiwei meringis kesakitan berusaha berontak agar terlepas dari genggaman tangan besar Yanshen.
"Pergilah! Ingat, jangan pernah datang lagi ke sini, dan jangan sesekali muncul di hadapanku dan keluargaku!" tegas Yanshen dengan wajah garangnya kemudian masuk ke dalam kamar sambil menutup pintu dengan kasar.
BRAK!
🥕🥕🥕
"Xiwei, kamu kenapa sayang? Cerita sama Tante, apa yang terjadi?" tanya Mommy Lihua penasaran dengan raut wajah Xiwei yang ditekuk.
"Yanshen mengusirku Tante. Dia bilang kalau aku perempuan j*lang dan tidak pantas dengannya," jawab Xiwei.
"Bagaimana ini Tante, apa yang harus aku lakukan biar Yanshen kembali ke pelukanku?" Xiwei menatap dengan raut wajah melasnya berharap mendapatkan simpati dari wanita paruh baya di hadapannya.
Mommy Lihua menghembuskan napasnya dengan kasar sebelum akhirnya kembali bersua.
"Tenang sayang, Tante akan membantumu untuk mendapatkan hati Yanshen kembali. Selamanya, Yanshen milikmu dan akan tetap menjadi milikmu. Bahkan jika tidak ada perempuan selain kamu di dunia ini, Tante tidak akan merestuinya." Mommy Lihua mengelus lembut punggung Xiwei berusaha menenangkan perempuan yang telah diklaim sebagai calon menantunya.
"Terima kasih Tante, aku tunggu kabar baiknya. Kalau begitu aku pulang dulu Tante, nanti siang aku masih ada jadwal pemotretan," pamit Xiwei kemudian melenggang pergi meninggalkan mansion mewah keluarga Xie.
"Awas kau Yanshen, ku buat kau bertekuk lutut di hadapanku. Jangan kira aku tidak bisa menaklukkan mu, tunggu saja pembalasanku!" gumam Xiwei sembari mengepalkan kedua tangannya.
🥕🥕🥕
Di tempat yang berbeda, tampak seorang wanita cantik yang baru saja memarkirkan Limosin miliknya di rumah makan J-TWIN'S, siapa lagi kalau bukan Lin Wu. Ya, wanita cantik itu baru saja mengantar si kembar pergi ke sekolah kemudian seperti biasa dia akan memulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecilnya.
Lin Wu tidak peduli dengan tidak adanya sosok suami di sampingnya. Baginya itu hal tidak penting, karena dia bertekad untuk membesarkan anak-anaknya seorang diri tanpa ada campur tangan Yanshen dalam hidupnya. Oleh karena itu, dia berusaha kerja keras dan berperan ganda menjadi sosok Ayah dan Ibu untuk anak-anaknya agar tetap bahagia selalu.
"Lin Wu, kemarin ada salah satu staf dari Perusahaan Shen Wu untuk mengajak bekerja sama dengan perusahaannya. Mereka ingin kita menjadi penyedia catering untuk para pekerja mereka. Tapi ...."
"Tapi kenapa Ze?"
.
.
.
🥕Bersambung🥕