NovelToon NovelToon
MAFIA'S OBSESSION

MAFIA'S OBSESSION

Status: tamat
Genre:Obsesi / Mafia / Tamat
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kisah dewasa (mohon berhati-hati dalam membaca)
Areta dipaksa menjadi budak nafsu oleh mafia kejam dan dingin bernama Vincent untuk melunasi utang ayahnya yang menumpuk. Setelah sempat melarikan diri, Areta kembali tertangkap oleh Vincent, yang kemudian memaksanya menikah. Kehidupan pernikahan Areta jauh dari kata bahagia; ia harus menghadapi berbagai hinaan dan perlakuan buruk dari ibu serta adik Vincent.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Vincent membopong Areta kembali ke dalam villa dengan sangat hati-hati.

Meskipun suasana hatinya sedang waspada karena laporan Jonas, ia tetap menunjukkan ketenangan yang luar biasa di depan istrinya.

Sesampainya di kamar, Vincent mengambil sebuah headset berkualitas tinggi.

Ia mendudukkan Areta di sofa yang empuk, lalu memasangkan headset itu ke telinga istrinya dengan lembut.

"Jangan dilepas sampai aku sendiri yang membukanya, ya? Musik ini sangat bagus untuk stimulasi otak bayi kita dan ketenangan kandunganmu," bisik Vincent sambil mengusap pipi Areta.

Areta hanya mengangguk patuh, merasa tersentuh dengan perhatian suaminya. Vincent kemudian menyalakan musik klasik karya Mozart dengan volume yang cukup untuk meredam suara dari dunia luar.

Areta pun mulai memejamkan mata, terhanyut dalam simfoni yang damai.

Begitu ia memastikan Areta benar-benar terfokus pada musik, sorot mata Vincent berubah drastis.

Ia melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke arah hutan dan dermaga.

Tatapannya berubah menjadi sangat dingin dan mematikan—mode monster telah kembali.

DOR! DOR! DOR!

Suara rentetan tembakan mulai pecah di kejauhan, hanya beberapa ratus meter dari bangunan villa.

Regu bayangan yang diperintahkan Vincent telah menyergap musuh yang mencoba menyusup.

Anak buah Vincent yang terlatih dengan sigap menghabisi para penyusup satu per satu, memastikan tak ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuh lantai villa.

Vincent berdiri tegak di balik kaca kedap suara, memperhatikan kilatan api dari moncong senjata di tengah kegelapan hutan.

Ia mengeluarkan sepucuk pistol dari balik pinggangnya, berjaga-jaga jika ada satu tikus yang berhasil lolos.

Baginya, siapa pun yang berani mengganggu ketenangan Areta dan calon anaknya malam ini, hanya punya satu tujuan akhir: kematian.

Di belakangnya, Areta tetap duduk tenang dengan headset di telinga, sedikit pun tidak menyadari bahwa di luar sana, suaminya sedang memimpin pertempuran berdarah demi melindunginya.

Suasana di kamar seketika menjadi sangat tegang.

Salah satu musuh yang berhasil lolos dari kepungan di hutan tiba-tiba muncul di balkon, berusaha mendobrak pintu kaca dengan senjata di tangan.

Vincent, yang selalu waspada, tidak memberikan celah sedikit pun.

Tanpa mengubah posisi berdirinya yang tetap tenang di belakang sofa tempat Areta duduk, ia menarik pelatuk pistolnya dengan presisi yang mematikan.

DOR!

Satu tembakan tepat sasaran menjatuhkan musuh itu seketika di balkon luar.

Areta, yang masih terhanyut dalam indahnya simfoni Mozart, sama sekali tidak mendengar suara tembakan tersebut karena kualitas headset dan volume musik yang dipasang Vincent.

Vincent melirik ke arah jendela, melihat regu bayangannya muncul di balkon untuk membereskan mayat tersebut.

Vincent memberikan senyum tipis, senyum dingin yang penuh kemenangan dan memberikan isyarat tangan singkat agar mereka segera membuang "sampah" itu dan membersihkan jejak darahnya.

Salah satu anggota regu bayangan mengacungkan jempol ke arah Vincent; area telah kembali steril dan aman.

Setelah memastikan keadaan benar-benar bersih, Vincent menyimpan kembali senjatanya ke balik pinggang dan mengatur napasnya agar kembali tenang.

Ia berjalan mendekati Areta yang tampak sangat damai.

Perlahan, ia melepaskan headset dari telinga istrinya.

"Sudah cukup musiknya, Sayang," bisik Vincent lembut.

"Ayo sekarang kita istirahat. Hari sudah sangat malam, dan kau butuh banyak tenaga untuk bayi kita."

Areta membuka matanya, menatap wajah suaminya yang kini terlihat begitu penuh kasih sayang, seolah tidak pernah terjadi pertumpahan darah beberapa detik yang lalu.

Ia tidak curiga sedikit pun. Areta menganggukkan kepalanya, lalu berdiri dan langsung memeluk tubuh tegap Vincent dengan erat.

"Terima kasih untuk semuanya hari ini, Vin," gumam Areta sambil menyandarkan kepalanya di dada Vincent.

"Apa pun untukmu, Areta. Apa pun," jawab Vincent sambil mengecup puncak kepala istrinya dan membimbingnya menuju ranjang untuk beristirahat di malam bulan madu mereka yang penuh rahasia itu.

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah gorden, namun pandangan Areta terhenti pada retakan kecil dan lubang di sudut pintu kaca balkon yang terlihat pecah akibat benturan keras.

"Vincent!!" teriak Areta panik.

Vincent yang baru saja mencuci muka di kamar mandi langsung berlari keluar dengan handuk tersampir di bahunya.

"Kenapa, Areta? Ada apa?"

Areta menunjuk ke arah kaca balkon dengan tangan gemetar.

"Kenapa kaca kamar pecah? Dan sepertinya itu lubang sesuatu. Apa ada orang yang mencoba masuk semalam?"

Vincent tertegun sejenak. Ia melihat ke arah bekas tembakannya semalam.

Otaknya berputar cepat untuk mencari alasan yang paling masuk akal agar istrinya yang sedang hamil tidak merasa terancam di pulau ini.

Ia berjalan mendekati kaca itu dengan tenang, lalu tertawa kecil seolah-olah itu adalah hal yang lucu.

"Oh, itu..." Vincent menggaruk tengkuknya, pura-pura merasa bodoh.

"Maafkan aku, Sayang. Semalam saat kau sedang memakai headset, aku melihat ada burung laut besar yang menabrak kaca itu karena silau lampu dari dalam. Aku mencoba mengusirnya dengan botol minumku, tapi aku malah tidak sengaja melemparkannya terlalu keras hingga kacanya pecah."

"Burung?" Areta menyipitkan matanya, tampak sangsi.

"Tapi lubangnya kecil sekali, Vin."

"Iya, itu karena sudut botolnya yang menghantam duluan," bohong Vincent dengan wajah tanpa dosa yang sangat meyakinkan.

"Jangan khawatir, aku sudah meminta Jonas untuk memanggil tukang untuk menggantinya siang ini. Pulau ini aman, Sayang. Tidak akan ada yang berani mengganggumu di sini."

Vincent segera mendekat dan merangkul Areta, mencoba mengalihkan perhatian istrinya agar tidak bertanya lebih lanjut.

"Sudahlah, jangan pikirkan kaca itu. Bagaimana kalau kita sarapan di atas kapal barumu? Aku dengar koki sudah menyiapkan hidangan laut yang segar."

Tepat saat Vincent berusaha meyakinkan Areta, suara ketukan pintu terdengar.

Jonas melangkah masuk dengan wajah datar yang profesional, membawa sebuah map di tangannya.

"Tuan," panggil Jonas. Ia melirik sekilas ke arah kaca yang pecah, lalu kembali menatap Vincent dengan penuh arti.

"Saya datang untuk melaporkan perihal 'burung' yang menabrak kaca semalam."

Areta menoleh, rasa ingin tahunya kembali muncul.

"Burung apa sebenarnya itu, Jonas? Sampai membuat suamiku harus melempar botol?"

Jonas, yang sudah sangat terlatih menghadapi situasi darurat seperti ini, tidak bergeming.

"Benar, Nyonya. Ternyata itu adalah sejenis burung pemangsa dari wilayah Utara. Kami sudah melacak asal-usulnya, dan ternyata burung itu dikirim oleh seseorang dari masa lalu Tuan Vincent yang merasa tidak puas."

Vincent memberikan tatapan tajam pada Jonas, mengisyaratkan agar ia tidak terlalu jauh memberikan detail. Namun, Jonas tahu cara memainkan kata-katanya.

"Kami sudah mengamankan sarang burung tersebut di sisi barat pulau. Identitas pemilik burung itu sudah kami kantongi. Dia adalah bagian dari 'kelompok pemburu' yang pernah berselisih paham dengan Tuan beberapa tahun lalu," lanjut Jonas.

Maksud sebenarnya dari laporan Jonas adalah: mereka telah mengidentifikasi bahwa pelaku penembakan di rumah sakit dan penyusupan semalam berasal dari faksi musuh lama Vincent yang dipimpin oleh seseorang yang baru saja bebas.

Areta menganggukkan kepalanya, tampak mulai menerima penjelasan tersebut meskipun terasa sedikit aneh.

"Jadi, benar-benar hanya karena burung? Aku pikir ada sesuatu yang lebih berbahaya."

"Sama sekali tidak, Nyonya. Semuanya sudah dalam kendali regu penjaga kami," ucap Jonas meyakinkan.

Vincent menghela napas lega. Ia melangkah ke arah Jonas dan mengambil map itu.

"Terima kasih, Jonas. Pastikan burung-burung itu tidak akan pernah terbang lagi ke area ini. Kau tahu apa yang harus dilakukan pada pemiliknya, bukan?"

"Sangat mengerti, Tuan," jawab Jonas tegas sebelum membungkuk hormat dan meninggalkan kamar.

Vincent kembali menatap Areta dengan senyum kemenangan.

"Nah, kamu dengar sendiri, kan? Hanya masalah kecil dari masa lalu. Sekarang, ayo kita fokus pada sarapan kita. Aku tidak mau putraku lahir dengan perasaan cemas hanya karena seekor burung."

Langkah Vincent terasa ringan saat menuntun Areta menuju kapal pesiar Queen Areta.

Pelayan telah menata meja sarapan di dek terbuka dengan pemandangan laut yang berkilau keemasan.

Areta mulai menikmati hidangan buah segarnya, sementara Vincent duduk di depannya dengan tatapan penuh pemujaan.

Namun, ketenangan itu hancur saat ponsel di saku Vincent bergetar.

Ia membukanya, mengira itu laporan rutin dari Jonas. Namun, matanya justru menangkap sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

Di sana terlampir sebuah foto Areta yang begitu cantik diedit secara keji ke tubuh wanita lain dalam keadaan telanjang, lengkap dengan ancaman: "Ini baru permulaan dari kehancuran yang akan kuberikan pada ratumu."

Darah Vincent mendidih seketika. Amarah yang meledak-ledak tertahan di balik rahangnya yang mengeras.

Tanpa sadar, tangannya yang memegang gelas kristal berisi jus jeruk mencengkeram begitu kuat hingga...

PRANG!

Gelas itu pecah berkeping-keping di genggamannya.

Cairan jeruk dan beberapa tetes darah dari telapak tangannya membasahi taplak meja putih yang bersih.

"Vin!" Areta tersentak kaget, matanya membelalak melihat pecahan gelas dan tangan Vincent yang terluka.

"Kamu kenapa? Ada apa? Apa yang kamu lihat di ponsel itu?"

Vincent segera mematikan layar ponselnya dan menjatuhkannya ke atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah.

Ia menarik napas dalam, memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sedikit parau untuk menutupi gejolak haus darah di dalam dirinya.

"Hahaha, tidak ada apa-apa, Sayang," ucap Vincent sambil mengibaskan tangannya yang terluka seolah itu bukan masalah besar.

Ia mengambil serbet dan melilitkannya ke tangannya dengan santai.

"Aku hanya sedikit kesal karena ada rekan bisnis yang sangat tidak kompeten mengirimkan laporan sampah tadi," bohongnya dengan mata yang kembali menatap Areta dengan lembut, meski jauh di dalam sana ia sudah merencanakan kematian yang paling menyiksa bagi pengirim pesan itu.

"Maafkan aku sudah merusak suasana pagi ini. Aku hanya terlalu bersemangat memikirkan liburan kita."

Areta masih menatapnya cemas. "Benarkah? Kamu terlihat sangat marah tadi, Vin."

"Aku baik-baik saja, Areta. Sungguh," Vincent mengulurkan tangannya yang tidak terluka untuk mengusap pipi istrinya.

"Ayo, lanjutkan makanmu. Aku akan meminta pelayan membersihkan ini dan membawakan gelas baru."

Vincent berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang, meski di dalam kepalanya ia sedang membayangkan berbagai cara untuk menghancurkan pengirim foto itu.

"Aku ke kamar mandi sebentar ya, Sayang. Ingin mencuci tangan ini," ucap Vincent lembut sambil mengecup pelipis Areta sebelum melangkah pergi.

Begitu Vincent menghilang di balik pintu kabin kapal, Areta segera meraih ponsel suaminya yang tergeletak di meja.

Jantungnya berdegup kencang. Ia berhasil membuka layar yang belum terkunci dan matanya seketika membelalak melihat foto keji dan pesan ancaman tersebut.

Air mata Areta mulai menggenang. Rasa sakit hati bukan karena foto itu, melainkan karena ia menyadari betapa besarnya beban yang harus dipikul Vincent untuk melindunginya.

Ia merasa kehadirannya hanya menjadi titik lemah bagi suaminya yang perkasa.

"Aku hanya akan membuatnya tidak berdaya," gumam Areta dengan suara bergetar.

"Musuh-musuhmu akan selalu menggunakanku untuk menghancurkanmu. Aku harus pergi meninggalkannya demi keselamatannya dan bayi ini."

Mendengar langkah kaki Vincent yang mendekat, Areta dengan cepat meletakkan kembali ponsel itu di posisi semula.

Ia menghapus air matanya dengan kasar, menarik napas dalam-dalam, dan berpura-pura sedang menatap ke arah laut lepas saat Vincent kembali duduk di depannya.

"Sudah bersih," ujar Vincent sambil menunjukkan tangannya yang sudah dibalut perban kecil, tersenyum seolah tidak terjadi badai besar di antara mereka.

Areta hanya mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski hatinya hancur.

Ia sudah membulatkan tekad; bulan madu ini mungkin akan menjadi momen terakhirnya bersama pria yang baru saja ia sadari sangat ia cintai itu.

Vincent tertawa kecil, suara beratnya bergetar di dada yang menjadi sandaran Areta.

Ia merasa sangat bahagia, mengira bahwa sikap manis istrinya adalah tanda bahwa cintanya benar-benar telah terbalas sepenuhnya.

Ia tidak tahu bahwa di balik sikap manja itu, Areta sedang menyimpan duka mendalam.

"Manja sekali kamu pagi ini, Sayang," ucap Vincent sambil mengelus rambut Areta dengan kasih sayang yang tulus.

Tangan satunya lagi memegang tangan Areta yang baru saja menyuapinya potongan buah.

Areta semakin mengeratkan pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Vincent seolah ingin merekamnya dalam ingatan selamanya.

"Mungkin bawaan hormon hamil, aku hanya ingin terus dekat denganmu," sahut Areta pelan, suaranya hampir tertahan oleh rasa sesak di dada.

Vincent mengecup puncak kepala Areta berkali-kali.

"Kalau begitu, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan di sini, memelukmu seharian kalau itu yang kau mau."

Areta memejamkan mata. Setiap kata manis dari Vincent justru terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya.

"Maafkan aku, Vin. Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa membiarkanmu hancur karena melindungiku," batinnya perih.

Di kejauhan, kapal terus membelah ombak dengan tenang, sementara dua hati di atasnya sedang berada di dunia yang berbeda—satu penuh dengan harapan masa depan, dan satu lagi sedang mempersiapkan perpisahan yang menyakitkan.

1
Alex
terimakasih Thor, sdah memberikan bacaan yg sangat bagus, menguras air mata dan mengajarkan banyak hal di dalamnya,,
semngat terus Thor, kutunggu karyamu selanjutnya 🙏🙏
my name is pho: terima kasih 🥰🥰🥰
total 1 replies
Mamta Okta Okta
Vincent kamu belum bisa bahagia masih ada satu penghalang lagi ya itu ibumu
putrie_07
. hemmm
putrie_07
cepat Thor cepat cepat cepat cepat😩😩😂💪
nyonya
semangat upnya kak
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
nyonya
lanjooot thor
my name is pho: siap kak
total 1 replies
Ika
Agak aneh pas vincent bilang areta ga sependiam itu jika menyangkut perjalanan jauh, pdhal jelas2 mereka berdua sm sekali belum pernah pergi liburan bareng dengan jarak yg jauh, dan biasanya juga kalo mereka pergi berdua pasti areta nya nangis diam atau malah di bius😭
putrie_07
nanti kW mati berdiri pula nengok lakikmu bunuh org🥵
angel
pengen punya suami kayak vincent😍🥰
angel
semangat up nya thorr
angel
lanjut thorr
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
angel
plis areta coba pikir" lagi jangan ambil tindakan yang bikin rumit donk,plisss kali ini aja yahh nanti kalau kau pergi bakal bagaimana vincent😭😭, SEMANGAT THORRR
putrie_07
cinta gila😆😆😆😆
lanjut Thor💪😘
اختی وحی
ikut gemeter😄
اختی وحی
semangat thor,makin seru
my name is pho: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!