Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Mendapat pujian.
"Sekarang kalian baru menyesal. Kalian tahu apa yang telah kalian lakukan. Tindakan kalian bisa menghancurkan perusahaan saya. Buat apa saya mempekerjakan orang-orang macam kalian. Masih banyak orang di luar sana yang menginginkan posisi kalian." suara bariton Edgar bergema. Seperti titah seorang raja, ucapannya tidak bisa disanggah.
"Sudah Pak Edgar. Saya sudah memaafkan mereka." Ameera merasa tidak enak dan berusaha menengahi. Ameera hanya ingin mereka ditegur supaya ada efek jera dan berubah lebih baik. Bukan memecat mereka. Walaupun apa yang barusan mereka lakukan sangat tidak etis.
Ameera tidak menduga akan berujung dengan pemecatan ketiganya.Ameera merasa iba.Wajah ketiganya sudah pasrah mengahadapi ultimatum dari bos mereka. Dengan tertunduk dalam, mereka permisi.
Saat ketiganya sudah diambang pintu.
"Tunggu!" teriak Edgar tiba-tiba. Serentak ketiganya berpaling menoleh ke Edgar. "Saya akan berubah pikiran, jika Nona Ameera mau memberi mereka hukuman. Karena Nona lah yang menjadi korban mereka saat ini."
"Maksud Anda? Mereka adalah karyawan Anda, saya sama sekali tidak berhak melakukan itu!" Ameera sedikit bingung.
"Kalau begitu, saya tetap pada putusan semula." Edgar mengibaskan tangannya supaya Tya cs berlalu.
"Hukuman apa maksud Anda?" Ameera panik sendiri jadinya. Karena nasib ketiganya tergantung kebijakannya. Seperti memegang buah simalakama saja. Dibuang atau dipegang efeknya tetap sama.
"Terserah Anda." Edgar menjawab acuh.
"Kalau begitu, jangat pecat mereka." pinta Ameera.
"Itu bukan hukuman." delik Edgar menatap Ameera tajam.
"Aku tidak berhak untuk itu. Itu adalah wewenang Anda sebagai pemilik perusahaan. Saya kemari hanya u9ntuk menawarkan desain saya. Jika Anda terima kerja sama ini, saya bersyukur. Jika tidak, kami akan ke tempat lain." ucap Ameera tegas. Membuat Richi manggut-manggut.
Edgar sedikit kaget dengan jawaban Ameera. Tadinya dia mengira, Ameera akan dengan senang hati menghukum karyawannya.
"Kalian dengar sendiri kan jawaban Nona Ameera. Meskipun kalian sudah menjahatinya, tapi tidak membalas perbuatan kalian. Sekarang pergilah, kalian sudah diselamatkan olehnya."
"Mbak, terima kasih. Kami benar-benar menyesal. Maafkan kami Mbak." Tya lantas meminta maaf kepada Ameera.
"Iya, bekerjalah lebih baik lagi. Perlakukan semua orang dengan baik, tanpa memandang dari mana asal dan status mereka." setelah ketiganya meminta maaf dan mohon diri, Richi akhirnya berinisiatif menengahi suasana yang mendadak canggung.
"Oke, semua sudah clear sekarang. Tinggal masalah kita yang masih menggantung, Ame." ungkap Richi tersenyum menyindir sahabatnya. Soalnya dari tadi dia melihat Edgar selalu melirik ke arah Ameera.
Baru kali ini dia melihat Edgar plin plan menetapkan putusannya. Bahkan meminta orang lain mewakilkannya. Sepertinya bukan diri Edgar yang dia kenal selama ini, terkenal tegas dan sedikit arogan.
"Oh, iya. Maaf, urusan se urgent ini jadi tertunda. Saya minta maaf." Edgar merasa kikuk sendiri. Untuk menutupi perasaannya Edgar meraih salah satu gulungan kertas di atas meja. Sketsa hasil coretan Ameera.
Edgar mengamati sketsa itu dengan teliti. Setiap detailnya sangat menaruk perhatiannya. Edgar membayangkan, sketsa itu berubah jadi pakaian jadi, dari bahan tekstil milik perusahaannya. Diperagakan oleh model-model cantik.
"Bagaimana, apakah hasil rancangan ini memenuhi syarat?" sentil Richi sedikit was-was. Karena Edgar cuma mengamati sketsa itu tanpa memberi komentar. Sementara Ameera sudah menunggu dengan cemas juga. Takut kalau hasil rancangannya tidak sesuai.
Edgar meraih gulungan kertas lainnya. Membukanya, mengamatinya dengan cermat. Hingga gulungan yang terakhir. Edgar membeliakkan matanya, saking mengagumi rancangan Ameera yang menurutnya sangat-sangat luar biasa. Tapi belum juga keluar secuil komentar.
Wajah Ameera sudah pasrah, kalau setiap rancangannya ditolak dan tidak memenuhi target.
"Hem, sangat luar biasa. Aku memilih semua rancangan ini untuk diwujudkan menjadi nyata. Sungguh amazing. Bagus sekali. Saya suka!" pujian ifu akhirnya meluncur deras dari celah bibir Edgar.
"Hah! Anda memilih semuanya?" pekik Ameera surprise. Sama sekali tidak menduga kalau hasil rancangannya terpilih semua. Tadinya dia hanya berharap beberapa biji saja yang akan terpilih. Ini semua masuk kategori. Sangat luar biasa sekali, bagi Ameera.
"Anda tidak salah bicara kan?" celetuk Ameera tiba-tiba.
"Terima kasih Edgar." Richi menyikut Ameera lantas buru-buru meraih tangah telapak tangan Edgar. "Kapan kita akan menandatangani MOU untuk menjalin kerja sama?"
"Hem, sekretarisku akan menyiapkan soal itu. Sekarang aku akan menjamu kalian di sebuah restoran favoritku. Yuk, kebetulan jam makan siang sudah tiba." Edgar berdiri dan merapikan jasnya. Richi menyusun kembali gulungan kertas itu.
"Ayok, perutku juga sudah mendadak konser dari tadi. Yuk, Ame," Richi menyenggol lengan Ameera pelan. Karena sepertinya cuma raga Ameera saja yang berada dalam ruangan. Pikirannya entah kemana. Karena dia nampak bengong saja.
Ameera tersentak! Menatap Richi dengan pandangan tidak percaya. Richi mengangguk, mengedipkan matanya bahwa semua itu nyata bukan mimpi. Richi bisa merasakan euforia bahagia dari sinar mata Ameera. Dia sedang shok saat ini. Richi paham betul itu. Karena dia pernah dalam posisi itu, dulu.
"Terima kasih, Mas." bisik Ameera lirih. Karena Richi telah membantunya mengepakkan sayap.
"Iya, sama-sama. Mas berharap kamu tidak akan mengecewakan beliau. Jarang-jarang lho dia mau bermurah hati. Susah menaklukkan hatinya. Sketsa saya palingan hitungan biji diterima. Ini malah dapat bonus makan siang di resto favoritnya. Luar biasa mood nya saat ini." bisik Richi pula di sela menyusun gulungan kertas.
O-wh begitu ya?"
"Iya, Mas sendiri juga kaget."
Ek-hem!" Edgar sengaja berdehem saat melihat Richi dan Ameera berbisik-bisik tidak jelas. Merasa diabaikan, Edgar kembali memasang wajah dinginnya.
"Sepertinya undangan saya ditolak ya?" sindirnya pada Richi.
"Oh no, kami malah sangat, sangat senang sekali, Gar. Mood kamu susah terdeteksi, jadi butuh konsentrasi untuk mencernanya." balas Richi menyindir sahabatnya.
"Alah sok banyak cincong kau. Buruan atau aku berubah pikiran."
"Cabut yuk. Ayo Ame, lets go. Keburu undangannya basi. Nyesel kita nantinya." kelakar Richi. Edgar tergelak mendengar guyonan sahabatnya itu.
Tawanya begitu lepas tanpa beban. Senyumnya juga terlalu lebar, yang biasanya cuma nongol segaris. Sampai sekretarisnya terheran-heran. Tidak biasanya suara gaduh terdengar dari ruangan kantor si bos.
Edgar merentangkan sebelah lengannya mempersilahkan Richi dan Ameera keluar dari ruangannya. Lalu dia menyusul. Dimeja sekretarisnya, Edgar mengintruksikan untuk membuat perjanjian kontrak. Helen mengangguk saja tanda mengerti.
"Siapkan hari ini juga."
"Baik Pak."
"Rich! Kita berangkat bareng saja. Kali ini kamu yang jadi supir." Edgar melempar anak kunci ke Richi. Membuat Richi bengong. Heleh, sahabatnya ini lagi kenapa sih. Tingkahnya hari ini di luar nalar.
"Sopirku cuti. Kamu protes ya!" ancam Edgar. Ameera cuma tersenyum melihat mimik lucu Richi yang mendadak alih profesi jadi sopir.
Sepanjang jalan dia merutuk terus. Sementara Edgar dan Ameera duduk di kursi penumpang. Astaga, Edgar sukses mengerjainnya.
Dia melihat lewat kaca spion, kalau sahabatnya itu tersenyum penuh kemenangan seraya memejamkan matanya.***