Nayara Kirana seorang wanita muda berusia 28 tahun. Bekerja sebagai asisten pribadi dari seorang pria matang, dan masih bujang, berusia 35 tahun, bernama Elvano Natha Prawira.
Selama 3 tahun Nayara menjadi asisten pria itu, ia pun sudah dikenal baik oleh keluarga sang atasan.
Suatu malam di sebuah pesta, Nayara tanpa sengaja menghilangkan cincin berlian senilai 500 juta rupiah, milik dari Madam Giselle -- Ibu Elvano yang dititipkan pada gadis itu.
Madam Gi meminta Nayara untuk bertanggung jawab, mengembalikan dalam bentuk uang tunai senilai 500 Juta rupiah.
Namun Nayara tidak memiliki uang sebanyak itu. Sehingga Madam Gi memberikan sebuah penawaran.
"Buat Elvano jatuh cinta sama kamu. Atau saya laporkan kamu ke polisi, dengan tuduhan pencurian?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Siapa Yang Memancing Kamu?
“Kenapa kamu melihat saya seperti itu? Masih belum puas? Mau John bertamu lagi?” Tanya Elvano dengan nada meng—goda.
Pria itu berdiri di tepi ranjang, sementara Nayara tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur. Mereka baru saja selesai menghabiskan siang yang panas di lantai satu penthouse mewah itu. Dan berlanjut di dalam kamar mandi sembari membersihkan sisa pergulatan mereka.
“Kenapa bapak menjadi narsis seperti ini?” Tanya Nayara yang terdengar seperti gumaman.
Elvano terkekeh, kemudian bergabung bersama dengan sang asisten pribadi di atas ranjang.
“Sekarang kamu benar - benar menjadi asisten plus - plus saya, Ra.” Pria itu menarik tubuh Nayara agar menempel pada tubuhnya.
Nayara berdecak pelan. Namun, ia juga membenarkan ucapan pria itu.
Asisten pribadi plus - plus!
Memang julukan yang tepat untuk dirinya karena melayani Elvano secara lahir dan batin.
“Kenapa bapak tidak memakai baju?” Tanya Nayara sebab Elvano hanya menggunakan celana pendek saja.
Sementara, Nayara menggunakan salah satu kemeja dan celana pendek milik pria itu.
“Kalau sama kamu, lebih baik tidak memakai apapun, Ra.” Elvano mengecup puncak kepala sang asisten pribadi.
“Darimana bapak belajar menggombal seperti ini?” Nayara mendongak. Seketika itu Elvano mengecup bibirnya.
“Saya seperti ini hanya sama kamu, Ra. Kamu yang sudah merubah saya.” Ucap pria itu.
“Pak, bagaimana jika keluarga bapak tidak setuju dengan hubungan kita?” Tanya Nayara kemudian.
“Sebelumnya, berhenti memanggil saya bapak. Setidaknya saat kita sedang dalam keadaan in—tim seperti ini. Saya terkesan seperti menye—tubuhi anak sendiri.”
“Baiklah. Hmm, pak — El. Sekarang, kamu harus menjawab pertanyaan aku.” Tangan Nayara berada tepat di atas dada bidang pria tampan itu.
“Aku tidak perduli, Ra. Mau mereka setuju atau tidak. Aku akan tetap menikahi kamu.” Pria itu berbicara dengan tegas.
“Kalau seandainya aku melakukan kesalahan, apa kamu akan memaafkan dan tetap menikahi aku?” Tanya Nayara dengan hati - hati.
Elvano menunduk untuk menatap wajah wanita itu.
“Kenapa kamu berbicara seperti itu? Memangnya kesalahan apa yang telah kamu lakukan?” Selidiknya.
Kepala Nayara menggeleng pelan. “Siapa tau kedepannya nanti. Aku bukan manusia sempurna, El.”
“Aku tidak perduli, Nara. Kamu sangat sempurna di mata aku.” Elvano kembali mengecup puncak kepala wanita itu.
Hening.
Nayara tidak mengatakan apapun lagi. Pikirannya kini tengah bergelut dengan kemungkinan yang akan terjadi, setelah Madam Giselle kembali dari London.
“Sayang.”
“Hmm.”
“Aku boleh meminta sesuatu?” Tanya Elvano.
Nayara pun mendongak. “Apa?”
“Jauhi Adrian dan pria - pria lain yang ingin mendekati kamu. Karena aku sangat cemburu. Dan akan melakukan apapun pada mereka jika berani mendekati kamu.”
Mata Nayara berkedip berulang kali mendengar ancaman pria itu.
“Jadi, akhir - akhir ini kamu cemburu sama aku dan Adrian?” Tanya wanita itu.
“Ya. Aku cemburu. Sejak kamu memakai gaun tanpa lengan saat acara Award itu. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam hati aku. Tetapi, aku selalu menyangkalnya, karena kamu asisten pribadi aku.” Jelas Elvano.
Nayara mencoba mencerna ucapan Elvano.
“Bukannya waktu itu, kamu mengatakan gerah?”
“Iya. Aku gerah melihat bahu kamu.” Ucap pria itu.
“Gerah karena melihat bahu?” Ulang Nayara.
“Kamu sekarang pasti mengerti ‘kan, gerah apa yang aku maksud?” Elvano menuntun tangan Nayara untuk meraba John di balik celana pendeknya.
“Astaga, Elvano. Kenapa kamu jadi seperti ini.” Delik wanita itu sembari menjauhkan tangannya. Namun Elvano kembali membawanya ke sana.
“Karena ini.” Tangan Elvano berpindah pada dua buah melon yang menempel tepat di depannya.
“Mmhh. El, stop, please. Aku masih lemas. Di bawah sana masih sangat kebas.” Rengek Nayara.
“Maafkan aku, Ra. Aku tidak bisa mengontrol diri sekarang. Ayo kita tidur.”
“Tapi John bangun lagi.” Gerutu Nayara.
“Biarkan saja. Dia sudah terbiasa tersiksa melihat kamu. Tapi tidak bisa melakukan apapun.”
“Tapi, El —
“Tidur atau aku tidur—i kamu lagi?”
Nayara mengatupkan bibirnya. Ia memilih untuk tidur, daripada harus melayani pria itu lagi.
.
.
.
Keesokan harinya.
Nayara merasa dirinya sudah lebih baik, dan tenaganya pun telah kembali pulih. Maka, ia memutuskan untuk pergi ke kantor.
Merasa tidak enak hati pada Gilang dan Dewi yang mendapatkan limpahan pekerjaan dari Elvano.
Apalagi Dewi, sang sekretaris CEO itu mengatakan akan mampir ke kontrakan saat pulang kerja nanti. Sementara ia tidak ada disana. Yang ada, Nayla akan curiga karena tau sang kakak tidak bekerja.
“Kamu yakin mau ke kantor hari ini?” Tanya Elvano saat sang asisten pribadi memakaikan dasi.
Tangan pria itu memeluk mesra pinggang Nayara agar menempel padanya. Tidak seperti sebelumnya, yang masih menyisakan jarak diantara mereka.
“Hmm. Aku sudah lebih baik, El. Terima kasih karena semalam kamu membiarkan aku tidur dengan tenang.”
Elvano menganggukkan kepala pelan. Memang semalam, setelah mereka terbangun dari tidur sore itu, keduanya tidak lagi melakukan pergulatan panas.
Saat bangun tidur, langsung membersihkan diri lagi, kemudian makan malam. Setelah itu kembali tidur.
Elvano tidak setega itu, meski keinginan untuk menggempur Nayara selalu ada.
“Aku hanya berusaha untuk menjadi pasangan yang pengertian, Ra. Jika menuruti naf—su, bahkan saat ini aku ingin menerkam kamu.” Elvano menekan pinggang Nayara tepat di depan John berada.
Mata wanita itu mendelik tajam.
“El. Sepertinya kamu benar - benar harus memeriksakan diri ke dokter ahli kejiwaan.” Ucap Nayara yang kemudian melepaskan diri dari secara paksa.
“Aku masih waras, sayang.” Delik Elvano.
“Tetapi, itu kamu tidak wajar.” Nayara menunjuk ke arah si John yang mengembung di balik celana pria itu.
“Kenapa tidak wajar? Dia dekat dengan kamu.”
“Ya. Tapi ‘kan tidak setiap waktu juga, El!” Geram Nayara.
Elvano menangkup kedua lengan wanita itu.
“Tidak setiap waktu, sayang. Hanya dalam situasi tertentu. Misalnya kamu memancing dia dengan suatu objek rang—sangan.” Ucap pria itu.
“Siapa yang memancing kamu —
Ucapan Nayara terpotong ketika mata Elvano tertuju pada dua buah melon miliknya. Ia pun seketika menunduk.
Dua kancing kemeja yang Nayara gunakan terbuka lebar, sehingga menampilkan belahan buah melon yang terhimpit di dalam sana.
“Aku lupa menggunakan tank top.” Wanita itu dengan cepat mengancingkan kemejanya.
“Sengaja?” Tanya Elvano dengan penuh selidik.
“Tidak! Kamu tau di penthouse ini, hanya ada beberapa pasang pakaian aku. Dan yang kemarin belum di cuci karena ulah kamu yang membuat aku tidak bisa berdiri dengan baik.” Wanita itu mendengus kesal.
“Jangan marah. Nanti siang kita berbelanja. Beli beberapa pakaian untuk disini. Karena, mulai sekarang, kamu akan lebih sering menginap.” Elvano menangkup kedua pipi Nayara kemudian mengecup bibir wanita itu dengan lembut.
“Nanti malam aku mau pulang ke rumah. Kasian Nayla sendirian.” Ucap Nayara setelah pagutan mereka terlepas.
“Pulang sebentar, setelah itu kembali kemari.” Itu bukan tawaran, tetapi perintah.
“Tapi, El —
“Atau aku yang meminta ijin langsung sama adik kamu?”
Kepala Nayara menggeleng dengan cepat. Pria itu bisa saja mengatakan tentang hubungan mereka pada Nayla.
“Aku pulang sebentar. Setelah makan malam, aku kembali kemari.” Putus Nayara.
Elvano tersenyum penuh kemenangan. Ia kemudian mengusap kepala wanita itu penuh sayang.
😝😝😝