NovelToon NovelToon
Penjinak Hati Duda Hot

Penjinak Hati Duda Hot

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh / Tamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: fania Mikaila AzZahrah

“Sadarlah, Kamu itu kunikahi semata-mata karena aku ingin mendapatkan keturunan bukan karena cinta! Janganlah menganggap kamu itu wanita yang paling berharga di hidupku! Jadi mulai detik ini kamu bukan lagi istriku! Pulanglah ke kampung halamanmu!”

Ucapan itu bagaikan petir di siang bolong menghancurkan dunianya Citra.

“Ya Allah takdir apa yang telah Engkau tetapkan dan gariskan untukku? Disaat diriku kehilangan calon buah hatiku disaat itu pula suamiku yang doyan nikah begitu tega menceraikan diriku.”

Citra meratapi nasibnya yang begitu malang diceraikan oleh suaminya disaat baru saja kehilangan calon anak kembarnya.

Semakin diperparah ketika suaminya tanpa belas kasih tidak mau membantu membayar biaya pengobatannya selama di rawat di rumah sakit.

Akankah Citra mampu menghadapi ujian yang bertubi-tubi menghampiri kehidupannya yang begitu malang ataukah akan semakin terpuruk dalam jurang putus asa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29

Setelah ucapan spontan Ardhanza tentang kecantikan alami Citra Aulia meluncur begitu saja, tak ada lagi percakapan yang menyusul. Suasana seketika sunyi, seolah masing-masing kembali ke dunianya sendiri.

Citra memilih diam.

Ia memeluk kedua bayi kembar itu dengan penuh kehati-hatian, menepuk punggung kecil mereka perlahan, lalu mulai meninabobokan Jaylani dan Jianira dengan suara lirih yang menenangkan.

Dari bibirnya mengalun shalawat lembut—shalawat sederhana yang telah ia dengar sejak kecil. Shalawat yang menenangkan, bukan hanya bagi bayi-bayi suci di pelukannya, tapi juga bagi hatinya sendiri.

“Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad,

wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad…”

Di sela tarikan napasnya, Citra melanjutkan dengan dzikir pelan, ritmis, nyaris seperti bisikan seorang ibu kepada anaknya.

“Laa ilaaha illallah…”

“Astaghfirullah…”

“Subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar…”

Setiap lafaz keluar dari hatinya yang tulus, bukan sekadar dari bibirnya.

Lalu ia berdoa—doa paling sederhana, namun paling dalam maknanya. Doa seorang pengasuh yang menitipkan dua amanah kecil kepada Sang Pemilik hidup.

“Ya Allah…

Lindungilah Jaylani dan Jianira.

Jadikan mereka anak-anak yang sehat, tenang hatinya, bersih jiwanya.

Jauhkan mereka dari bahaya yang terlihat maupun yang tersembunyi.

Lapangkan perjalanan kami hari ini.

Jaga orang-orang yang mengantar mereka…

Aamiin ya Rabb.”

Saat itulah, sesuatu yang aneh terjadi.

Ardhanza, yang tengah mengemudi mobil mewahnya menuju salah satu panti asuhan di bawah naungan yayasan Nyonya Besar Hilda, tiba-tiba merasakan kepalanya seperti diremas dari dalam. Rasa sakit itu datang mendadak—menusuk, menekan, membuat dadanya sesak.

Ia mengerang pelan, lalu semakin keras.

Kepalanya berdenyut hebat. Tubuhnya terasa panas seolah terbakar dari dalam. Napasnya menjadi tak teratur.

Semua itu terjadi tepat saat dzikir Citra menggema pelan di dalam kabin mobil.

Padahal awalnya Ardhanza merasa takjub. Kagum, bahkan. Ada ketenangan aneh saat mendengar doa-doa itu dipanjatkan untuk anak-anaknya.

Namun perlahan, rasa itu berubah.

“Argh…! Apa yang terjadi padaku…!” geramnya tertahan.

Lalu bisikan itu datang.

“Suruh dia berhenti…”

Suara asing itu menggema di kepalanya.

“Jangan dengarkan… jangan biarkan dia melanjutkan…

Dzikir itu menyesakkan… cepat suruh perempuan itu berhenti…”

“Ah—sial…!” erangnya.

Rasa sakit semakin menjadi. Kepalanya seperti hendak pecah.

“Tidak! Pergi kalian!” pekiknya tanpa sadar.

Citra terlonjak.

Wajahnya pucat. Tatapannya membelalak ke arah Ardhanza yang tampak seperti orang linglung.

Mobil melaju cukup kencang di jalan yang lengang. Udara di dalam kabin mendadak terasa berat, hanya diisi dengusan mesin dan napas bayi-bayi yang teratur di dalam dekapan Citra.

Tiba-tiba setir berbelok tajam.

Mobil oleng.

Ban berdecit keras mencium aspal. Jarak dengan pembatas jalan tinggal beberapa jengkal saja.

Citra refleks memeluk Jaylani dan Jianira lebih erat. Tubuhnya condong ke depan, punggungnya membungkuk, melindungi dua kepala kecil itu sepenuh jiwa.

“Kalian pasti selamat… jangan rewel ya, Nak…,” cicitnya gemetar.

Jantungnya berdegup liar. Napasnya tercekat.

“Astaghfirullah! Pak! Rem! Rem itu diinjak, bukan buat uji nyali!” teriaknya panik.

Tangannya gemetar, namun tetap menepuk punggung bayi-bayi itu agar mereka tetap tenang.

“Nggak apa-apa, sayang… kita semua pasti selamat,” bisiknya, lebih pada menenangkan diri sendiri.

Mobil nyaris menghantam pembatas.

Citra memejamkan mata sesaat, bibirnya komat-kamit membaca doa. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Ya Allah… Pak Ardhanza, ini mau ke panti asuhan atau langsung setor nyawa?” celetuknya spontan, suara bergetar namun tanpa sadar terdengar lucu.

Ardhanza membanting rem.

Mobil berhenti mendadak di bahu jalan.

Sunyi.

Hanya suara napas mereka yang tersengal-sengal memenuhi kabin.

Wajah keduanya pucat pasi. Baru saja mereka hampir bertaruh nyawa di jalan raya.

Citra menunduk, mengecek Jaylani dan Jianira satu per satu. Napas bayi-bayi itu tetap teratur. Wajah mereka damai, terlelap seolah tak terjadi apa-apa.

Lutut Citra terasa lemas.

“Masya Allah… alhamdulillah,” gumamnya lirih.

“Mereka sama sekali nggak terganggu,”

Ia menghela napas panjang. “Kalau bayi-bayi ini sampai bangun, saya yang pingsan duluan, Pak.”

Ia melirik ke depan. Ardhanza masih terlihat frustrasi dan kebingungan.

“Pak… nyetirnya pelan ya,” ucapnya lebih rendah, tapi tetap nyentil.

“Jantung saya sama bayi ini masih baru semua. Belum kuat diajak kaget. Untung Allah masih sayang sama kita.”

Ketegangan perlahan mencair. Dengan suara lebih lirih, lebih khusyuk, Citra kembali melantunkan dzikir kali ini hampir tanpa suara.

Doa-doanya seperti pagar tak terlihat yang melingkupi perjalanan mereka.

Doa-doa Citra meluncur lirih namun istiqamah, seperti pagar tak terlihat yang melingkupi perjalanan mereka.

Bibirnya tak henti bergetar, jemarinya sesekali menggenggam ujung jilbab, hatinya penuh waspada terlebih ketika ia teringat bagaimana Ardhanza tadi tampak seperti orang yang terselimuti sesuatu yang tak kasatmata, kehilangan fokus, hampir saja menabrak.

Dalam ketakutannya, Citra tak berteriak. Ia memilih berlindung.

Dengan suara tertahan, ia membaca Ayat Kursi, ayat penjaga langit dan bumi.

Seolah menjadi perisai, Citra melanjutkan dengan Al-Falaq dan An-Nas, memohon perlindungan dari kejahatan yang tersembunyi, dari sihir yang ditiupkan dalam buhul-buhul, dari keburukan yang tak terlihat mata.

Air matanya nyaris jatuh saat ia berbisik dalam hati, “Ya Allah, jika benar ada sesuatu yang mengganggu Tuan Muda Ardhanza, maka lindungilah kami. Jangan Engkau biarkan bahaya mendekat. Jadikan ayat-ayat-Mu sebagai penjaga di depan, belakang, kanan, dan kiri kami.”

Dan tanpa disadari siapa pun, kendaraan itu kembali melaju lebih stabil.

Seolah benar doa Citra telah menjadi pagar gaib, berdiri tegak menjaga mereka dari marabahaya yang nyaris merenggut segalanya.

Anehnya, Jaylani dan Jianira justru semakin terlelap.

Begitu Ardhanza mematikan mesin, Citra menegurnya tanpa sungkan.

“Pak CEO ini nyetirnya mau ke panti asuhan atau mau uji nyali?” bisiknya mendesis.

“Kalau mau bikin jantung copot, bilang dulu. Saya bisa siap-siap doa lebih panjang.” sungutnya Citra.

Ardhanza mendengus mendengarnya,“Harusnya kamu jangan dzikir keras-keras. Apa Kamu nggak bisa bedakan antara mobil ini dengan tempat ibadah!? Intinya mobilku ini bukan masjid keliling tau!”

Citra mendengus kecil.

“Kalau dzikir bikin orang pusing, berarti yang bermasalah bukan dzikirnya, Pak tapi hatinya bapak yang perlu dibawa ke bengkel hati ala ustadz trrpercaya dan alami..”

Ucapan itu membuat Ardhanza tercekat.

Namun dibalik semua itu, ada suara lain yang jauh lebih gaduh.

Suara di dalam hatinya sendiri. “Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Kenapa kepalaku seperti disambar petir saat dia berdzikir? Kenapa tubuhku menolak, tapi jiwaku justru terguncang?

Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan gusar.

“Ya Allah… apa yang terjadi denganku kenapa sampai aku mengalami hal yang tak bisa diterima akal sehat?”

Saat Ardhanza akhirnya meminta Citra berhenti, dzikir itu terhenti.

Alis Citra bertaut. Wajahnya menunjukkan kebingungan sekaligus khawatir.

“Tuan Muda Ardhanza maaf,” ucapnya pelan.

“Bukan maksud saya lancang. Tapi saya heran saja. Soalnya setahu saya, orang normal kalau dengar orang mengaji atau berdzikir itu biasanya hatinya jadi tenang. Ada yang terharu, ada yang takut, ada juga yang jadi ingat mati.”

Ia ragu sejenak, lalu berkata polos.

“Kalau yang dirasakan malah pusing dan panas jangan-jangan ada gangguan.”

Melihat ekspresi Ardhanza, ia buru-buru menambahkan.

“Maksud saya bukan langsung guna-guna atau ilmu hitam,” katanya cepat.

“Bisa juga stres, capek pikiran. Tapi orang-orang tua di kampung saya bilang, reaksi seperti itu sebaiknya jangan disepelekan.”

Citra kembali menunduk, menepuk lembut dada bayi-bayi itu agar tidurnya bisa lebih nyenyak dan damai tanpa terganggu apapun.

“Saya cuma khawatir, Tuan Muda. Dzikir itu niatnya menenangkan, bukan menyakiti. Kalau tubuh Tuan Muda sampai menolak mungkin ada yang perlu dibereskan dan dipersiapkan jangan dibiarkan berlarut-larut sampai semakin parah. Entah di badan ataukah itu entah di hati.”

Ia terdiam dan tidak ada lagi yang bersuara. Namun bibirnya tetap bergerak pelan melafalkan doa dalam hati, berharap apapun yang mengganggu lelaki itu perlahan luruh.

Ardhanza terdiam cukup lama mencerna perkataan Citra sang janda muda yang bekerja sebagai pengasuh kedua anak kembarnya yang baru berusia 7 bulan lebih.

“Apa hal semacam itu memang benar-benar ada? Kalau ada apa yang harus aku lakukan?” Tanyanya dalam hati.

Ucapan Citra tentang kemungkinan adanya gangguan sihir, guna-guna, atau sesuatu yang tak kasatmata terus terngiang di kepalanya.

Ia bukan orang yang mudah percaya hal-hal seperti itu. Logikanya selalu berdiri di depan, jauh sebelum keyakinan.

Namun apa yang barusan ia alami sungguh sangat jelas tak masuk akal, namun dirasakan dan dialaminya langsung saat ini.

Ia menarik napas dalam, menenangkan debar dadanya yang belum sepenuhnya stabil.

“Citra…” ucapnya akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Yang kamu bilang tadi soal sihir itu…” ucap Ardhanza dengan ragu.

Ia berhenti sejenak, seolah menimbang harga diri dan rasa penasarannya sendiri.

“Apakah memang ada? Maksudku, apakah benar itu ada dalam ajaran agama?” tanyanya yang benar-benar tidak mengetahui akan hal yang dia pertanyakan.

Citra terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia menoleh perlahan, menatap Ardhanza dengan ekspresi hati-hati bukan sok tahu, bukan pula merasa paling benar.

“Iya, Tuan Muda,” jawabnya pelan.

“Dalam Al-Qur’an, sihir itu disebutkan benar-benar ada. Bukan cerita orang kampung, bukan mitos ataupun hasil karangan dari orang tertentu.”

Ia menggeser sedikit posisi Jaylani dan Jianira agar tetap nyaman di pelukannya, lalu melanjutkan dengan nada sederhana.

“Allah menyebutkan tentang sihir dalam Surah Al-Baqarah ayat 102,” katanya hati-hati, seolah takut salah.

“Di situ dijelaskan bahwa sihir memang ada, tapi tidak akan bisa membahayakan siapa pun kecuali dengan izin Allah.”

Citra menghela napas kecil.

“Artinya, Tuan Muda sihir itu bukan lebih kuat dari Allah. Dia cuma ujian. Yang berbahaya itu bukan ilmunya, tapi ketika manusia jauh dari perlindungan-Nya.”

Ardhanza terdiam sedangkan Citra melanjutkan, masih dengan bahasa yang membumi.

“Makanya dalam Islam, kita diajarkan berlindung. Bukan dengan takut berlebihan, tapi dengan dzikir, doa, dan ayat-ayat perlindungan.”

Ia menunduk, suaranya makin lirih.

“Seperti Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Itu bukan jampi, Tuan Muda tapi sebagai tameng dari hal-hal yang bersifat ghoib.”

Ia menatap Ardhanza kembali, matanya jujur.

“Kalau tadi Tuan Muda merasa tidak nyaman saat dzikir bisa jadi bukan karena dzikirnya yang salah, tapi karena ada sesuatu dalam diri Tuan Muda yang belum tenang.” tuturnya yang berbicara sesuai dengan apa yang diketahuinya.

Ia buru-buru menambahkan, takut ucapannya terdengar menuduh.

“Saya juga bisa salah, ya. Saya cuma menyampaikan apa yang saya tahu.” ucapnya.

Citra kembali menepuk punggung bayi-bayi itu untuk menenangkan mereka yang sama sekali tidak bangun.

“Yang jelas dzikir dan Al-Qur’an itu nggak pernah menyakiti orang. Kalau ada rasa panas, sesak, atau gelisah biasanya itu tanda hati atau jiwa lagi butuh didekatkan ke Allah.” imbuhnya.

Ardhanza terdiam lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah, tidak mengejek ataupun tidak menyela.

Hanya memandangi jalan di depan, sambil bertanya dalam hati.

“Kalau semua ini benar lalu selama ini, sejauh apa aku dari Tuhan?”

Hingga akhirnya, satu celetukan polos Citra memecah ketegangan itu.

“Lagipula, Tuan Muda,” katanya sambil menepuk pelan punggung Jaylani yang masih terlelap.

“Kalau memang ada sihir sekuat itu di tubuh Tuan Muda, berarti yang kena bukan cuma Tuan Muda.”

Ia melirik sekilas, lalu menambahkan dengan wajah serius-serius lucu, “Bayi kembar ini pasti sudah bangun dari tadi. Nyatanya mereka malah tidur kayak habis makan kenyang.”

Citra mengangkat bahu kecil. “Berarti sihirnya mungkin salah alamat, Pak. Atau nggak berani sama bayi-bayi Sholeh dan sholeha ini.”

Ucapan itu meluncur begitu saja tanpa maksud meledek, tanpa sadar kalau nadanya begitu mengena.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian menegangkan itu, sudut bibir Ardhanza terangkat.

Tipis bahkan sangat tipis hampir tak terlihat, namun jelas itu adalah senyuman.

Senyum kecil dari Ardhanza—CEO TD Corp yang dikenal dingin, kaku, dan dijuluki karyawan sebagai “kulkas lima pintu”.

Ia mendengus pelan, lalu berkata singkat,

“Kamu ini bisa juga bercanda di saat genting dan mendebarkan begini.”

Citra tersenyum lega setelah ucapannya barusan.

1
Intan Melani
y banyak Napa thor upnya
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: makasih banyak 😍
total 1 replies
Aqella Lindi
lanjut ya thor jgn lama
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: insha Allah...
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎💎
Aqella Lindi
tetap d tguya thor semangat💪
Aqella Lindi
jgn lama2 ya thor nti lupa ceritany
Dew666
🍒🍒🍒🍒🍒
Evi Lusiana
dasar laki² gila lo yg nyakitin,nyerai in tp msih jg mo ngganggu hidupny dasr gak waras
Evi Lusiana
sungguh kluarga ardian yg toxic itu pst dpt balasan tlh menyakiti mendholimi mnsia ber akhlak baik sprti citra
Evi Lusiana
menggelikan satu kluarga toxic tunggu sj karma kalian
Dew666
💥💥💥💥💥
Dew666
💃💃💃💃💃
Sastri Dalila
😅😅😅 semangat Citra
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: makasih banyak kak 🙏🏻🥰
total 1 replies
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
Adrian tabur tuai pasti ada .ingat apa yg kamu tuai itu yg akan kamu dpt, dasar mantan suami iblis
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
Bagus Citra.. usah di balas dgn kejahatan pd org yg tlh berbuat jahat kpd kamu.
Sastri Dalila
👍👍👍
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
semoga bener Citra itu anak pak Ridho yg hilang. aduhhh Citra terima saja pekerjaan yg ditawarkan semoga kehidupan kamu berubah dgn lbh baik lagi.
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
rose pasti akan menerima nasib yg sama seperti Citra, jgn terlalu sombong kerna karma itu ada. apa yg dituai itu yg kamu dpt begitu juga dgn ibu serta sdra Andrian yg sudah menyakiti hati dan mental Cutra
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
siapa yg dtg ya
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: ditebak kira-kira siapa???
total 1 replies
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
ayuh Citra ga usah peduli dgn kata2 pedas dari keluarga mantan sok percaya diri bgt mereka.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!