NovelToon NovelToon
Jejak Janda Di Jantung Duda

Jejak Janda Di Jantung Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Duda
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Elena A

Elena hanya ingin menguji. Setelah terbuai kata-kata manis dari seorang duda bernama Rd. Arya Arsya yang memiliki nama asli Panji Asmara. Elena melancarkan ujian kesetiaan kecil, yaitu mengirim foto pribadinya yang tak jujur.

Namun, pengakuan tulusnya disambut dengan tindakan memblokir akun whattsaap, juga akun facebook Elena. Meskipun tindakan memblokir itu bagi Elena sia-sia karena ia tetap tahu setiap postingan dan komentar Panji di media sosial.

Bagi Panji Asmara, ketidakjujuran adalah alarm bahaya yang menyakitkan, karena dipicu oleh trauma masa lalunya yang ditinggalkan oleh istri yang menuduhnya berselingkuh dengan ibu mertua. Ia memilih Ratu Widaningsih Asmara, seorang janda anggun yang taktis dan dewasa, juga seorang dosen sebagai pelabuhan baru.

Mengetahui semua itu, luka Elena berubah menjadi bara dendam yang berkobar. Tapi apakah dendam akan terasa lebih manis dari cinta? Dan bisakah seorang janda meninggalkan jejak pembalasan di jantung duda yang traumatis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyanyian Harmoni Jiwa

Adrian berdiri di sana, hanya beberapa jengkal dari Elena. Angin yang tadi menderu, debu yang berterbangan dari reruntuhan bunker, hingga helai rambut Elena yang tertiup angin, semuanya membeku. Dunia seperti sebuah foto yang dipaksa berhenti berdenyut oleh tangan tak kasat mata.

Elena mencoba menyentuh pipi Adrian, suaminya yang seharusnya sudah menjadi abu bertahun-tahun lalu. Tangannya gemetar hebat. Sentuhan itu tidak terasa seperti daging, melainkan seperti getaran statis yang lembut.

"Mas... Adrian? Ini beneran kamu?" bisik Elena. Suaranya terdengar aneh, bergema di tengah kesunyian yang absolut ini.

Adrian tersenyum, tapi itu bukan senyum hangat yang Elena ingat. Itu adalah senyum seseorang yang sudah melihat akhir dari segalanya. "Waktunya nggak banyak, El. Aku bukan Adrian yang kamu kenal sepenuhnya. Aku adalah backup kesadaran yang tersimpan di dalam Neural Layer ke-nol. Lapisan yang nggak bisa dijangkau bahkan oleh Thomas atau Renata."

Elena menggelengkan kepala, air mata mulai jatuh, namun air mata itu pun membeku di pipinya seperti kristal bening. "Aku nggak paham. Tadi Aa Panji... dia mengorbankan diri buat menyelamatkanku. Dia hancur, Mas!"

"Panji nggak hancur, Sayang" Adrian melangkah mendekat, menatap mata Elena dalam-dalam. "Dia hanya pindah. Thomas benar tentang satu hal bahwa tubuh manusia itu wadah yang lemah. Tapi Thomas salah tentang kepatuhan. Panji lebih memilih untuk menyatukan dirinya dengan sistem Icarus untuk mengambil alih kendali dari dalam. Dia melakukan apa yang aku nggak sanggup lakukan dulu."

Adrian mengangkat jam sakunya. Jarum detiknya bergetar, mencoba bergerak melawan hukum fisika yang sedang menahannya.

"Dunia yang kamu lihat sekarang, El... ini adalah ambang batas. Thomas sedang mencoba me-reboot realitas ini. Ledakan tadi bukan cuma EMP, itu adalah penghapus memori kolektif. Dia mau semua orang lupa siapa mereka, supaya dia bisa menulis ulang sejarah sebagai penyelamat tunggal."

"Kenapa kamu baru muncul sekarang?" Elena berteriak, amarah yang selama ini ia pendam akhirnya meledak. "Kenapa kamu biarkan aku menderita sendirian? Kenapa kamu biarkan aku mencintai bayangan Panji sementara kamu bersembunyi di dalam kode?!"

Adrian terdiam sejenak. Sorot matanya meredup dengan rasa bersalah yang nyata. "Karena aku butuh kamu untuk menjadi kuat, Sayang. Jika aku muncul lebih awal, kamu akan bergantung padaku. Phoenix butuh seseorang yang punya kemurnian emosi untuk bisa menjinakkan mesin itu. Dan itu cuma kamu yang bisa."

Tiba-tiba, dunia di sekitar mereka mulai retak. Seperti kaca yang dipukul palu, garis-garis hitam muncul di langit biru yang membeku. Suara glitch statis yang menyakitkan telinga mulai terdengar.

"Thomas mulai menembus lapisan ini," ujar Adrian panik. "Dengar, Sayang. Di telapak tanganmu... lihat."

Elena melihat telapak tangan kanannya. Di sana, muncul sebuah pola cahaya geometris yang berpendar kemerahan.

"Itu adalah Source Code yang asli. Bukan di dalam micro-SD, bukan di dalam darah. Tapi di dalam ingatan emosionalmu. Kamu harus menemukan Panji di dalam jaringan itu sebelum Thomas memformatnya. Jika kamu berhasil, kamu bisa membawa dia kembali... dalam bentuk apa pun yang tersisa."

"Gimana caranya?"

"Kamu harus tidur, Sayang. Kamu harus masuk ke dalam inti reaktor Icarus yang sedang meledak itu secara sadar. Ini adalah perjalanan satu arah. Kalau kamu gagal, kamu akan terjebak di dalam kegelapan digital selamanya."

Dunia kembali berdenyut secara mendadak. BAM!

Waktu kembali berjalan dengan kecepatan penuh. Adrian menghilang dalam sekejap, meninggalkan Elena yang terjerembap di tanah laboratorium yang hancur.

Sari sedang menyeretnya dengan paksa. "Elena! Ayo, cepat! Tempat ini mau runtuh!"

"Sari, lepasin aku!" Elena memberontak. Dia melihat ke arah pusat mesin Icarus yang kini dikelilingi oleh pusaran energi biru yang mengerikan. Di tengah pusaran itu, dia bisa melihat siluet Panji yang perlahan-lahan mulai memudar, tersedot ke dalam inti mesin.

"Aa Panji masih di sana!" Elena menunjuk ke tengah ledakan cahaya.

"Dia sudah mati, Elena! Jangan gila!" Sari mencoba menariknya, tapi Elena menggunakan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri.

Elena berlari. Dia tidak peduli lagi pada tembakan anak buah Thomas yang tersisa. Dia tidak peduli pada beton yang berjatuhan. Dia berlari menuju pusat cahaya biru itu, membiarkan tubuhnya ditelan oleh radiasi energi yang menyakitkan.

Thomas, yang berdiri di balkon atas, berteriak gila. "Berhenti, Elena! Kamu akan hancur jadi atom!"

Elena tidak berhenti. Dia melompat tepat ke dalam inti energi Icarus.

Rasa sakitnya tidak bisa dilukiskan. Rasanya seperti setiap inci sel tubuhnya ditarik ke seribu arah yang berbeda. Tapi di tengah rasa sakit itu, dia melihatnya.

Bukan kode. Bukan angka. Tapi sebuah taman bunga melati yang sangat luas. Di tengah taman itu, Panji sedang duduk sendirian, menatap langit yang berwarna perak.

"Aa Panji..." bisik Elena dalam pikirannya.

Panji menoleh. Dia tampak bingung, tubuhnya transparan, perlahan-lahan mulai pecah menjadi partikel cahaya. "Dek Anin? Kenapa kamu ada di sini? Kamu seharusnya pergi..."

"Aku nggak akan pergi tanpa kamu, Aa" Elena meraih tangan Panji.

Saat tangan mereka bersentuhan, seluruh taman itu berguncang. Suara Thomas terdengar seperti guntur dari langit. "Temukan dia! Musnahkan dia! Jangan  biarkan kunci  itu menyatu dengan target!"

Bayangan hitam besar mulai muncul dari tanah taman itu, mencoba menarik kaki Panji. Itu adalah virus penghapus yang dikirim oleh Thomas.

"Pergi, Dek Anin! Selamatkan dirimu!" Panji mencoba mendorong Elena keluar dari zona bahaya.

"Nggak! Mas Adrian bilang akulah kuncinya!" Elena memeluk Panji dengan erat. Dia memfokuskan seluruh cintanya, seluruh kerinduannya pada pria ini, tidak peduli apakah dia klon, mesin, atau manusia asli. Baginya, jiwa Panji adalah satu.

Cahaya di telapak tangan Elena meledak, menghancurkan bayangan hitam itu. Namun, di saat yang sama, Elena merasakan kesadarannya sendiri mulai menipis. Dia mulai melupakan namanya sendiri. Dia mulai melupakan wajah ibunya. Harga untuk menyelamatkan Panji adalah menghapus eksistensi dirinya sendiri dari realitas fisik.

Di dunia nyata, Sari dan Bram menatap mesin Icarus dengan ngeri. Mesin itu mendadak menjadi sangat tenang. Cahaya birunya berubah menjadi putih susu yang lembut.

Lalu, mesin itu hancur. Bukan meledak, tapi luruh menjadi debu halus.

Di tengah puing-puing, hanya ada satu tubuh yang tergeletak.

Panji. Ya, tubuh itu adalah tubuh Panji

Dia menarik napas panjang, matanya terbuka. Dia hidup. Benar-benar hidup dengan jantung yang berdetak kuat. Namun, ada yang aneh. Tatapannya tidak lagi tajam seperti dulu. Ada kelembutan yang sangat familiar di sana.

"Dek Anin?" Panji memanggil nama itu dengan suara yang penuh kerinduan.

Dia melihat ke sekeliling, tapi Elena tidak ada di sana. Yang ada hanya sebuah kalung perak dengan liontin kunci milik Elena yang tergeletak di lantai beton, tepat di samping tempat Panji bangun.

"Di mana Dek Anin?" Arsya bertanya pada Sari dengan panik.

Sari hanya menunduk, air mata jatuh ke pipinya yang kotor. "Dia... dia masuk ke dalam mesin itu untuk menjemputmu, Panji. Dia nggak pernah keluar."

Panji mengambil kalung itu, meremasnya dengan kuat. Tiba-tiba, dia merasakan sebuah getaran di telapak tangannya. Dia melihat ke arah bayangannya sendiri di genangan air di lantai laboratorium.

Di dalam pantulan matanya, dia melihat sesuatu yang mustahil.

Panji tidak melihat wajahnya sendiri. Di dalam pantulan matanya, dia melihat wajah Elena yang sedang tersenyum manis padanya. Dan di telinganya, dia mendengar suara Elena yang sangat jernih, seolah-olah wanita itu sedang berbisik tepat di dalam otaknya.

"Aku nggak pergi, Aa. Aku cuma pindah rumah. Sekarang, kita benar-benar satu."

Panji mematung. Dia menyadari bahwa pengorbanan Elena bukan hanya menyelamatkannya, tapi menyatukan kesadaran Elena ke dalam sistem sarafnya sendiri. Namun, di kejauhan, pintu laboratorium itu kembali digedor.

Suara logam yang beradu dengan beton terdengar berat. Sosok-sosok robotik dengan desain futuristik mulai masuk. Dan di belakang mereka, berdiri Thomas dengan wajah yang sudah sepenuhnya digantikan oleh komponen mesin perak.

"Terima kasih, Elena," ujar Thomas dengan suara sintetik yang dingin. "Kamu telah menyatukan dua subjek terbaikku dalam satu wadah. Sekarang, aku tidak perlu lagi mencari kunci dan gemboknya secara terpisah. Tangkap dia. Kita akan memulai pengunggahan massal sekarang juga."

Panji berdiri, namun kali ini gerakannya sangat anggun, persis seperti gerakan Elena saat bertarung. Dia menatap Thomas dengan tatapan dingin, namun ada dua suara yang keluar dari mulutnya secara bersamaan, suara pria dan suara wanita yang berharmonisasi.

"Kamu membuat kesalahan besar, Thomas. Kamu menciptakan sesuatu yang bahkan kamu sendiri nggak akan sanggup mengendalikannya."

1
Elena A
Kamu adalah tubuh baruku.....
Elena A
Je
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!