Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Terpisah Jarak
Waktu terus berlalu seperti detik hitungan mundur sebelum perpisahan, hingga jadwal keberangkatan Arvin tiba hari itu.
Tamara bukan hanya membantu menyiapkan segala keperluannya, tapi juga mengantarnya ke bandara malam itu.
Pengumuman boarding terdengar samar, di antara langkah keduanya yang bergema pelan pada lantai marmer.
Langit terbentang gelap dari balik dinding kaca bandara, tapi Tamara nyaris tak benar-benar melihatnya.
Perhatiannya tertuju penuh pada Arvin, yang sedang mendorong koper.
Udara dari mesin pendingin ruangan, membuat jemarinya terasa dingin. Namun, telapak tangannya menghangat saat masih menggenggam tangan Arvin.
Laki-laki itu berjalan dengan langkah tenang, seolah ini adalah rutinitas perjalanan biasa. Padahal bagi Tamara, setiap detiknya terasa semakin menuju perpisahan.
Sesekali Arvin berbicara tentang jadwal perjalanan, hotel, dan kegiatan selama di negara tujuan. Tamara mendengarkan, dan hanya mengangguk pelan.
"Nanti aku akan berkabar kalau lagi senggang," kata Arvin.
Tamara mengiyakan. "Yang penting, fokus utama kamu tetap pada kegiatan selama di sana."
"Iya."
Langkah mereka tetap pelan, namun seirama.
Arvin terlihat berpikir, lalu kembali menatap istrinya.
"Kamu tau nggak," katanya tiba-tiba, membuat Tamara menoleh.
"Sebenarnya, bandara ini tempat pertama kali aku melihat kamu," ungkap Arvin.
Tamara mengerjap. "Hah? Maksud kamu?" tanyanya dengan dahi berkerut.
Arvin tertawa pelan, mencoba membuat suasana lebih santai.
"Jauh sebelum perjodohan, aku pernah melihat kamu di sini."
Tamara menghentikan langkahnya. "Kamu bercanda ya?" tanyanya, tak percaya.
Arvin yang ikut berhenti, menggeleng. "Aku serius," ujarnya.
Tangannya tetap menggandeng erat, seolah tak ingin melepaskan sedetik pun.
"Aku inget banget, waktu itu aku lagi nunggu penerbangan ke Kyoto, dan kamu duduk di dekat jendela, entah nunggu siapa."
Arvin sedikit mendekat, lalu berbisik. "Kamu waktu itu kelihatan jutek, nggak mudah didekati, tapi... entah kenapa bikin aku kepikiran."
Sorot matanya melembut. "Itu pertama kalinya, ada yang mengusik pikiranku, selain materi-materi keilmuan."
Tamara terdiam beberapa detik, pipinya mulai menghangat.
Mereka kembali meneruskan langkah, dengan tangan yang masih saling menggenggam erat.
"Jadi, aku pernah diperhatiin diam-diam sama profesor kalem?" kata Tamara di sela perjalanan mereka.
"Terus, waktu perjodohan?" tanyanya, polos.
Arvin tersenyum kecil. "Jujur aku nggak nyangka waktu itu, orang yang pernah ku pikirkan, benar-benar ada di depanku. Apalagi dikenalkan sebagai calon istri."
Tamara tak kuasa menahan senyum.
"Terus... waktu kamu ngotot mau nikahin aku, itu bukan kebetulan?" tanyanya lagi.
Arvin pura-pura berpikir. "Hmm... kayaknya, iya."
Tamara geleng-geleng tak percaya. "Bisa-bisanya nekat menikahiku, hanya karena pernah melihatku duduk diam di bandara."
Ia tak bisa menahan diri untuk tidak menyeletuk, tapi dadanya terasa hangat dengan pengakuan itu.
"Sejujurnya, itu keputusan paling berani yang pernah ku buat... " kata Arvin.
Ia tersenyum lembut, sekilas memandang wajah sang istri. "...dan aku nggak menyesalinya."
Wajah Tamara semakin memerah. Ia mencoba tetap terlihat biasa, walau hatinya terharu.
"Kok kamu jadi sok romantis gini, sih... "
Arvin tergelak ringan, lalu berucap dengan suara tetap tenang.
"Bukan sok romantis. Ini bagian strategi, biar kamu nggak nangis saat aku berangkat."
Tamara memukul pelan lengannya. Sedikit kesal, tapi matanya mulai berkaca-kaca juga pada akhirnya.
"Telat... " sungutnya, " ...tapi makasih atas pengakuannya."
Langkah mereka berhenti di depan garis pembatas area imigrasi. Di sana, terlihat dua orang rekan Arvin yang sepertinya tiba lebih dahulu.
Tamara merapikan jas Arvin yang sebenarnya tidak perlu dirapikan, sekadar untuk menggantung waktu yang tersisa.
"Jaga diri selama di sana," bisik Tamara.
Arvin mengangguk. "Kamu juga, ya. Jangan telat makan."
Matanya berkilat hangat. "Kalau mau marah-marah, minimal minum dulu," ujarnya, setengah meledek.
Tamara mengusap sudut mata yang mulai basah. "Kamu tuh nyebelin, tau nggak."
Arvin langsung memeluknya, sambil menciumi puncak kepalanya beberapa kali.
Pelukan mereka tak lama, tapi cukup untuk menyimpan rasa hangat yang akan mereka bawa masing-masing.
Arvin membelai singkat kepalanya.
"Nanti pulangnya hati-hati ya," ujar Arvin mengingatkan.
Saat Arvin melangkah melewati batas area, ia menoleh sekali lagi, mengangkat tangan dan melambai kecil sebagai salam perpisahan.
Tamara membalasnya, sambil menahan napas, sampai sosok suaminya benar-benar membaur di antara penumpang lain.
Baru setelah itu, suasana bandara jadi terasa terlalu luas dan sunyi bagi Tamara.
Ia melangkah pelan, larut sendiri dalam rasa sesak bercampur rindu yang menumpuk.
...
Hari setelahnya, hidup Tamara benar-benar terasa terlalu sunyi dan gelisah lebih dari biasanya.
Ia terbangun di pagi hari, dengan tangan refleks meraih sisi ranjang sebelahnya. Lalu langsung terdiam, saat sadar tidak ada suaminya.
Kadang ia menatap langit-langit kamar lebih lama. Lalu memaksa diri untuk bangkit, karena ada hari yang harus terus dijalani, meski dengan semangat yang menurun drastis.
Sesekali, Arvin memberi kabar lewat panggilan video singkat. Sekadar saling memberi perhatian kecil, dan bercanda ringan, membahas seputar rutinitas masing-masing.
Tapi begitu panggilan selesai, Tamara kembali terdiam, sepi sendiri. Untuk pertama kalinya, ia merindukan seseorang sampai segininya.
Di kantor, Tamara menjalani kesehariannya seperti biasa, walau ada yang sedikit berubah.
Biasanya ia datang dengan langkah cepat dan ekspresi wajah tegas. Kini, ia berjalan lebih pelan, dengan pandangan lebih sering terlihat kosong.
Ia masih bisa berusaha tetap profesional, memimpin rapat dengan suara tenang, menyimpulkan poin-poin penting, dan mengoreksi presentasi tim.
Tidak ada yang tahu, setelah pintu ruangannya tertutup, ia tak ubahnya seperti seorang perempuan yang sedang tersiksa dilanda rindu.
Tamara duduk di balik meja kerjanya. Layar komputer menyala, tapi ia tak benar-benar melihatnya.
Ia menyandarkan punggung. "Gini amat sih, Ta... rindu sama suami sendiri udah kayak remaja baru jatuh cinta," gumamnya, meratapi nasib.
Ia melirik ke arah kalender di atas meja, lingkaran kecil mengelilingi tanggal kepulangan Arvin. Masih beberapa hari lagi, dan itu baginya masih terlalu lama.
Ia mencoba memeriksa ponselnya, belum ada pesan baru yang masuk.
Tamara menarik napas. "Cuma seminggu padahal, tapi berasa kayak... setahun," keluhnya.
Pintu ruangan terbuka pelan, Tamara menoleh, masih dengan wajah kusut.
"Siang, Bu," sapa Jenna.
Perempuan itu berjalan masuk dengan wajah ceria seperti biasa, sambil membawakan satu cangkir kopi.
Ia meletakkannya di atas meja, lalu memandang bosnya dengan mata menyipit, ada yang tak biasa.
"Ibu kenapa? Lagi nggak enak badan?" tanyanya perhatian.
Tamara meraih gagang cangkir. "Lagi breakdown," jawabnya asal, tanpa menoleh. Lalu menyeruput kopinya.
"Oh my God!" Jenna langsung heboh, kemudian suaranya melemah, "Pantesan dari kemaren-kemaren kayak ada yang aneh."
Bosnya itu biasanya suka cerewet bahkan untuk hal kecil, tapi beberapa hari terakhir, lebih banyak diam.
Jenna langsung mencondongkan tubuh ke arah meja. "Ibu, mau saya panggilkan dokter?" tawarnya.
Tamara mendengus. "Saya nggak sakit, Jen. Cuma... " Ia tidak ingin menceritakannya lebih lanjut..
Jenna mengangguk-angguk paham. "Tapi Ibu nggak lupa kan, kita ada rapat sama tim dari marketplace, nanti?" tanyanya, sedikit hati-hati.
"Ya, jam dua kan?" Tamara menyahut cepat.
Jenna menatapnya lebar, semakin yakin ada yang aneh. "Jam satu empat lima, Bu," katanya.
Tamara terdiam sejenak. "Oh ya?"
Jenna memberi satu anggukan mantap. "Hmm... nggak biasanya lupa," katanya ringan, khas seorang sekretaris yang sudah lama memahami karakter bosnya.
Kalimat itu menyentil Tamara. Ia memang baru menyadari kalau ia mulai sering kehilangan fokus, tapi lagi benar-benar tidak memiliki tenaga untuk membela diri.
"Jen, mending kamu keluar, deh."
Hanya itu yang keluar dari mulut Tamara akhirnya. Suaranya pelan, tapi tegas.
Sekretarisnya itu langsung permisi, berjalan pelan meninggalkan ruangan itu dengan beberapa tanda tanya di kepala.
Sedangkan Tamara menunduk, jemarinya memijat pelipis.
"Jadi budak cinta nggak enak banget, sumpah," gerutunya.
Satu bunyi singkat dari ponselnya, membuatnya menoleh cepat.
Senyumnya muncul, mengira itu pesan dari Arvin yang ditunggu-tunggu sejak tadi.
Tangannya dengan sigap mengambil ponsel, membuka layar, dan membaca satu pesan.
Senyumnya langsung berubah kecut. Pesan itu bukan dari suaminya, tapi dari sahabatnya: Tyas.
Ta, jangan lupa acara ntar malam!
Tamara menarik napas, meletakkan kembali ponsel di meja.
Tubuhnya kembali menyandar pada kursi. "Kayaknya aku memang perlu sedikit hiburan," gumamnya.
BERSAMBUNG...
arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
. yg lagi mahal sekarang🥺