Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Evolusi Sang Naga Abyssal
Lokasi: Hutan Terlarang "Blackwood", Wilayah Tak Bertuan.
Waktu: Tiga Hari Setelah Pelarian.
Hutan Blackwood adalah tempat di mana peta kerajaan berakhir. Ini adalah wilayah yang dikutuk oleh dewa-dewa lama. Pohon-pohon di sini tumbuh raksasa dengan kulit hitam yang keras seperti besi, dan dedaunan ungu gelap yang meneteskan racun. Sinar matahari tidak pernah menyentuh lantai hutan karena tertutup kanopi yang rapat, menciptakan dunia abadi dalam keremangan. Di sini, hukum rimba berlaku mutlak: Memakan atau dimakan. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada pahlawan.
Leon Gremory sedang sekarat.
Dia meringkuk di dalam sebuah gua kecil yang lembap dan dipenuhi tulang belulang binatang purba. Tubuh monsternya penuh luka menganga yang bernanah. Bukan luka dari ksatria kerajaan, tapi luka dari monster lain yang menghuni hutan ini—Ogre berkepala dua, Basilisk yang tatapannya mematikan, dan Beruang Iblis yang kulitnya tidak mempan dipotong.
Sejak dia melarikan diri, Leon terus diburu oleh penghuni hutan yang melihatnya sebagai ancaman baru atau makanan lezat. Dia belum tidur. Dia belum makan.
Perutnya melilit sakit yang tak tertahankan. Rasa laparnya bukan rasa lapar biasa. Itu adalah rasa lapar Mana yang membakar organ dalamnya. Tubuh barunya yang terus bermutasi membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk mempertahankan bentuknya. Jika dia tidak makan, sel-sel iblis di tubuhnya akan mulai memakan dagingnya sendiri.
"Sakit..." Leon merintih. Suaranya parau, hancur, campuran aneh antara geraman hewan dan bahasa manusia yang rusak. "Lapar... Tolong..."
Ingatannya tentang masa lalu mulai kabur seperti lukisan cat air yang terkena hujan deras. Wajah Aeliana yang cantik, wajah Varian yang tersenyum, wajah orang tuanya yang hangat... semuanya mulai terasa jauh, asing, seperti mimpi dari kehidupan orang lain yang sudah mati.
Yang tersisa dengan jelas di benaknya hanyalah emosi negatif yang pekat.
Rasa sakit pengkhianatan.
Rasa benci karena dibuang.
Rasa kesepian yang mencekik.
Mereka membuangmu... bisik suara di kepalanya.
Mereka membencimu...
Mereka ingin kau mati karena kau berbeda...
Bisikan darah iblis di kepalanya semakin keras, menggantikan akal sehatnya, meracuni logikanya.
Dum. Dum. Dum.
Di luar gua, terdengar suara langkah berat yang menggetarkan tanah.
Seekor Manticore—monster legendaris berbadan singa raksasa, berekor kalajengking, dan bersayap kelelawar—sedang mengendus bau darah Leon. Manticore itu lapar. Matanya bersinar kuning jahat dalam kegelapan. Ia melihat Leon yang terpojok di dinding gua, lemah dan berdarah. Mangsa mudah.
Manticore itu meraung, memamerkan tiga baris giginya, dan menerjang masuk ke dalam gua sempit itu.
CRAAAK!
Cakar Manticore merobek bahu Leon. Darah hitam muncrat ke dinding gua.
Rasa sakit itu memicu sesuatu di otak reptil Leon.
Bukan rasa takut. Tapi Amarah Mutlak.
"GGRRRRR!"
Leon tidak menghindar. Dia tidak mencoba lari dan memohon ampun seperti manusia. Dia justru menerjang balik. Dia melupakan semua teknik pedang suci yang dulu dia pelajari dengan disiplin di akademi. Dia menggunakan gigi. Dia menggunakan cakar. Dia bertarung seperti binatang buas yang putus asa dan gila.
Leon melompat ke punggung Manticore itu, mengabaikan sengatan ekor kalajengking yang menusuk paha kakinya berulang kali. Dia menggigit leher Manticore itu. Rahangnya yang kuat, diperkuat oleh DNA naga, mengatup dengan kekuatan ribuan kilogram.
KRETEK.
Suara tulang leher yang remuk terdengar mengerikan di gua sempit itu. Manticore itu mengejang liar, membanting tubuhnya ke dinding gua, berusaha melepaskan Leon. Tapi Leon tidak melepaskan gigitannya. Dia terus menggigit, merobek, dan mengoyak daging leher itu sampai Manticore itu berhenti bergerak.
Sunyi.
Leon jatuh di samping bangkai monster itu, napasnya memburu. Mulutnya penuh bulu dan darah Manticore. Racun dari sengatan ekor mulai menyebar di kakinya, tapi regenerasi tubuh iblisnya bekerja cepat menetralkannya.
Rasa lapar di perutnya menggila saat mencium bau jantung Manticore yang penuh mana sihir liar. Jantung predator tingkat tinggi.
Makan... bisik instingnya.
Makanlah agar kau kuat...
Makanlah agar kau bisa membalas mereka yang menyakitimu...
Dengan tangan gemetar, Leon merobek dada Manticore itu. Dia mengambil jantungnya yang masih hangat, basah, dan berdenyut di tangannya.
Leon ragu sejenak. Sisa kemanusiaannya berteriak ngeri. Jika aku memakan ini, aku tidak akan pernah bisa kembali menjadi manusia. Aku akan menjadi monster seutuhnya. Aku akan kehilangan diriku.
Tapi kemudian, bayangan wajah Aeliana yang menatapnya dengan ketakutan dan jijik muncul di benaknya. Kata-kata Varian bergema: "Kau adalah Bencana."
"Jika menjadi manusia hanya memberiku rasa sakit..." geram Leon, matanya berkilat merah. "Maka persetan dengan manusia."
Dia membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigit jantung itu.
Crot.
Darah kental dan energi liar meledak di mulutnya. Rasanya memuakkan, tapi memabukkan. Dia menelannya rakus. Jantung, daging, mana... dia memakan semuanya. Dia tidak berhenti sampai tulang rusuk Manticore itu bersih.
Saat suapan terakhir masuk ke perutnya, tubuh Leon kejang hebat. Dia berguling-guling di lantai gua, menjerit kesakitan.
Evolusi Dimulai.
Sisik abu-abunya yang retak mulai rontok satu per satu, digantikan oleh sisik baru berwarna Hitam Pekat yang berkilau metalik, lebih keras dari baja Adamantite.
Tanduk di kepalanya tumbuh memanjang dan melengkung ke belakang, membentuk mahkota alami yang agung namun mengerikan. Sayapnya yang robek sembuh seketika, membentang lebar dengan selaput yang kuat dan cakar di ujungnya. Ekornya tumbuh duri-duri beracun seperti Manticore yang baru dimakannya. Otot-ototnya memadat, menjadi mesin pembunuh sempurna.
Rasa sakit hilang.
Rasa lapar hilang.
Yang tersisa hanyalah Kekuatan.
Leon berdiri. Tingginya kini stabil di angka 2,5 meter. Dia merasakan aliran mana yang deras di tubuhnya. Dia melihat tangannya yang kini menjadi senjata pembunuh sempurna. Dia merasa... bebas.
Di atas pohon di kejauhan, tersembunyi di antara dedaunan hitam, seekor burung gagak bermata ungu sedang menonton dalam diam. Itu adalah mata-mata Varian.
Dari jarak jauh, di dalam asrama akademi yang nyaman, Varian tersenyum puas melalui koneksi penglihatannya sambil meminum teh hangat.
"Selamat datang di dunia barumu, Leon," bisik Varian. "Makanlah yang banyak. Tumbuhlah yang kuat. Jadilah rajanya para monster. Karena sebentar lagi, aku akan menjemputmu."
Kembali ke gua, Leon melangkah keluar. Dia tidak lagi berjalan membungkuk dan takut. Dia berjalan tegak dengan aura predator puncak. Hewan-hewan lain di hutan itu—yang sebelumnya memburunya—kini lari ketakutan hanya dengan mencium baunya.
Dia melihat ke arah Selatan, ke arah di mana cahaya kota terlihat samar-samar di ufuk malam.
"Varian..." suara Leon berat dan menggema, dalam dan penuh dendam yang dingin. "Aeliana..."
"Aku akan datang..."
Dia bukan lagi Leon si Pahlawan. Dia adalah Abyssal Dragonoid. Bencana yang diciptakan oleh kekejaman manusia dan manipulasi Varian yang sempurna.