Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidup Serene Avila. Terbangun di samping pria asing, ia memilih kabur tanpa menoleh—tak tahu bahwa pria itu adalah Raiden Varendra, konglomerat muda yang bisa mengguncang seluruh kota hanya dengan satu perintah. Dua bulan kemudian, Serene hamil… kembar. Di tengah panik dan putus asa, ia memutuskan mengakhiri kehamilan itu. Hingga pintu rumah sakit terbuka, dan pria yang pernah ia tinggalkan muncul dengan tatapan membelenggu.
“Kau tidak akan menyentuh anak-anakku. Mulai sekarang, kau ikut aku!”
Sejak saat itu, hidup Serene tak lagi sama.
Dan ia sadar, kabur dari seorang konglomerat adalah keputusan terburuk yang pernah ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indriani_LeeJeeAe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 > Di Ambang Kehilangan
Lampu merah di depan ruang operasi terus menyala.
Tak berkedip. Tak memberi harapan. Tak memberi jawaban.
Raiden Varendra berdiri membeku di lorong rumah sakit khusus itu. Jas hitamnya masih berlumuran darah dan jelaga. Namun tak satu pun staf medis berani menegurnya. Aura dingin yang menguar dari tubuhnya cukup membuat siapa pun menunduk dan menjauh.
Ia tidak duduk. Ia tidak bergerak. Seolah jika ia berpaling sedetik saja, dunia akan benar-benar runtuh. Detik demi detik berlalu seperti siksaan. Di balik pintu itu, istrinya.
Perempuan yang masuk ke hidupnya dengan cara paling tak terduga. Perempuan yang perlahan meruntuhkan tembok baja yang selama ini ia bangun. Dan kini… ibu dari dua anak yang bahkan belum sempat ia sentuh. Raiden mengepalkan tangan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia benar-benar tak berdaya.
Arlo berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajah asisten kepercayaannya itu pucat. “Tuan… kami sudah mengamankan Ezra Kael. Kondisinya kritis, tapi masih hidup.”
Raiden tidak menoleh. “Jangan biarkan dia mati.”
“Perintah?”
“Orang mati tidak bisa bicara,” jawab Raiden dingin.
“Aku ingin semua nama. Semua wajah. Semua yang terlibat.”
“Baik, Tuan.”
Ezra Kael hanyalah pion. Raiden tahu itu sejak awal. Serangan ini terlalu rapi. Terlalu mahal. Terlalu berani untuk dilakukan oleh satu orang yang hanya digerakkan dendam pribadi.
Ada tangan lain di baliknya. Tangan yang menginginkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada nyawa Serene. Itu adalah warisan Varendra yang merupakan anak-anaknya. Raiden menutup mata sejenak. Nafasnya terasa berat.
Di balik kelopak matanya, wajah Serene terbayang pucat, berkeringat, matanya penuh ketakutan namun masih berusaha tersenyum padanya. “Jangan biarkan mereka…”
Kalimat itu terus terngiang. Raiden membuka mata. Tatapannya mengeras. “Tidak ada lagi peringatan,” katanya lirih namun mematikan. “Jika mereka menyentuh keluargaku… dunia mereka akan berhenti berputar.”
Di dalam ruang operasi, waktu terasa kabur. Serene setengah sadar. Suara mesin berdengung di telinganya, bercampur dengan suara langkah cepat dan instruksi medis yang samar. Lampu putih menyilaukan membuat matanya perih. Rasa sakit menjalar dari perutnya, tajam dan menusuk, membuat tubuhnya menggigil.
“Tekanan darah turun!”
“Siapkan transfusi!”
“Detak jantung janin satu melemah!”
Serene ingin berbicara. Ingin bertanya. Ingin tahu apakah bayi-bayinya baik-baik saja. Namun bibirnya terlalu berat. Air mata mengalir di pelipisnya.
Dalam kesadaran yang terombang-ambing, satu nama muncul jelas. Raiden. Ia mengingat cara pria itu memeluknya dengan panik. Cara suaranya bergetar saat memanggil namanya. Cara tangannya melindungi perutnya seolah itu adalah hal paling berharga di dunia.
Serene tersenyum lemah. Jika ini akhirnya… setidaknya ia tahu satu hal. Ia dicintai. “Nona Serene!” suara seorang dokter perempuan memanggil dengan tegas. “Dengarkan saya. Anda harus bertahan. Anak-anak Anda membutuhkan Anda.”
Anak-anak? Kata itu seperti jangkar. Serene mengumpulkan sisa kekuatannya, berusaha tetap sadar. “Tolong…” suaranya nyaris tak terdengar. “Selamatkan… bayi saya…”
“Kami akan melakukan segalanya,” jawab dokter itu cepat. “Tapi Anda juga harus kuat.”
Serene mengangguk samar. Gelap kembali menyelimuti. Sementara di luar, pintu ruang operasi masih tertutup. Lampu merah belum padam.
Raiden melangkah mendekat, satu tangannya menyentuh pintu dingin itu. Sebuah gerakan kecil yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Biasanya, pintu adalah sesuatu yang ia dobrak. Dunia adalah sesuatu yang ia paksa tunduk.
Namun pintu ini… Ia tidak bisa membukanya dengan kekuasaan. Tidak dengan uang. Tidak dengan senjata. Hanya dengan harapan.
“Raiden.”
Suara itu membuatnya menoleh. Seorang pria tua berdiri di ujung lorong, didampingi dua pengawal. Rambutnya memutih, wajahnya keras dan penuh wibawa. Pria tua itu adalah Leonard Varendra, yang merupakan ayahnya.
Pria yang membesarkannya dengan disiplin dingin dan ambisi tanpa kompromi. Pria yang mengajarinya bahwa kelemahan adalah dosa. “Kau di sini,” kata Leonard datar, matanya menelusuri kondisi Raiden.
“Aku mendengar serangan itu.”
Raiden tidak menyambutnya. “Ini bukan waktu yang tepat.”
Leonard melangkah mendekat. “Justru ini waktu yang paling tepat. Dunia luar sudah bergerak. Dewan mulai bertanya. Musuh mencium darah.”
Raiden menoleh tajam. “Jika mereka berani memanfaatkan situasi ini-”
“Mereka akan,” potong Leonard. “Dan kau tahu itu.”
Raiden tertawa pendek, tanpa humor. “Biarkan mereka mencoba.”
Leonard menatap putranya lama. “Kau berubah.”
Raiden kembali menatap pintu operasi. “Aku belajar.”
“Karena perempuan itu?”
“Karena keluargaku.”
Leonard terdiam. Ada sesuatu yang melintas di wajahnya, sesuatu yang jarang terlihat. Sebuah penyesalan. “Dulu,” kata Leonard pelan, “aku juga pernah berdiri seperti ini.”
Raiden menoleh, terkejut. “Ibumu,” lanjut Leonard. “Aku memilih kekuasaan. Dan aku kehilangan dia.”
Lorong itu sunyi. Untuk pertama kalinya, Raiden melihat ayahnya bukan sebagai raja, melainkan sebagai pria yang gagal melindungi orang yang dicintainya. “Aku tidak akan mengulang kesalahan itu,” kata Raiden tegas.
Leonard mengangguk perlahan. “Pastikan kau tidak melakukannya.”
Lampu di atas pintu ruang operasi akhirnya berubah.
Dari merah menjadi hijau. Raiden menegang. Seluruh dunia seakan berhenti. Kemudian pintu terbuka.
Dokter keluar dengan wajah lelah namun serius. “Bagaimana?” suara Raiden parau.
Dokter menarik napas. “Istrimu selamat.”
Raiden menghembuskan napas berat, lututnya hampir melemah. “Namun-” dokter melanjutkan. Kata itu seperti pisau.
“Bagaimana bayi-bayi saya?” tanya Raiden cepat.
Dokter menatapnya. “Satu bayi berhasil kami stabilkan. Yang satunya…”
Raiden membeku.
“…masih berjuang.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Raiden mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. “Bawa aku padanya,” katanya pelan namun tegas.
Dokter mengangguk. Di balik kaca ruang perawatan intensif, Raiden melihat Serene terbaring lemah, dipenuhi selang dan alat medis. Wajahnya pucat, namun napasnya stabil. Raiden menyentuh kaca.
“Aku di sini,” bisiknya. “Aku tidak akan pergi.”
Namun di ruang lain... yang bahkan lebih kecil, lebih sunyi, sebuah inkubator dikelilingi alarm yang berbunyi pelan. Dan di sanalah, salah satu dari darah dagingnya… sedang bertarung untuk hidup. Raiden berdiri di ambang pintu, hatinya terbelah antara harapan dan ketakutan. Dan jauh di luar sana, bayangan musuh belum sepenuhnya lenyap.
***
Bersambung…