Ongoing
Lady Anastasia Zylph, seorang gadis muda yang dulu polos dan mudah dipercaya, bangkit kembali dari kematian yang direncanakan oleh saudaranya sendiri. Dengan kekuatan magis kehidupan yang baru muncul, Anastasia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya yang jahat dan memulai hidup sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Angin malam berhembus dari arah utara, dingin dan membawa aroma salju yang menusuk tulang. Namun, di balkon tinggi Kastel Silas, Anastasia tidak merasa dingin sedikit pun. Kulitnya berpendar halus setiap kali hembusan angin menyentuhnya—efek dari sihir kehidupan yang mulai stabil di tubuhnya.
Di kejauhan, lampu-lampu dari ribuan pasukan kekaisaran terlihat seperti bintang-bintang yang dipaksa turun ke tanah. Barisan mereka menghalangi seluruh dataran, seolah dunia di bawah sana telah ditelan lautan baja.
Anastasia mendesah pelan.
“Jadi… mereka akhirnya sampai juga,” gumamnya.
Pintu balkon terbuka. Aloric melangkah keluar, mantel hitamnya dikibaskan angin. Mata hitam legamnya menatap lurus ke arah yang sama—tanpa berkedip, tanpa takut. Dingin, tajam, kejam… namun entah kenapa, pandangannya malam ini terasa lebih manusiawi.
“Aku tahu kau akan berdiri di sini,” katanya rendah.
“Kau selalu muncul ketika ada ancaman besar,” balas Anastasia, separuh menggoda, separuh jujur.
Aloric menoleh. “Mereka datang bukan untuk perbatasan. Mereka datang untukmu.”
Anastasia tersenyum tipis. “Untuk kita, Duke. Kau lupa aku bukan gadis yang sama seperti dulu?”
Aloric menatap wajahnya lama, seolah membaca sesuatu di balik ekspresi polos itu.
“Tidak. Kau bukan gadis itu lagi. Dan itu… masalahnya.”
Di Ruang Strategi
Lima jenderal Silas sudah berkumpul. Meja panjang penuh peta, penanda perang, dan laporan tertulis cepat. Aloric duduk di kursi panglima—posisi yang hanya diisi oleh anggota Silas generasi ketiga.
Jenderal Rowan berdiri, wajahnya tegang.
“Yang Mulia Duke. Pasukan kekaisaran membawa perintah penangkapan… bukan hanya untuk Lady Anastasia, tapi juga untuk Anda.”
Suasana menegang.
Anastasia mengangkat alis. “Untuk Duke? Dengan alasan apa?”
Rowan menelan ludah. “Mereka menuduh Duke melakukan pemberontakan diam-diam setelah menolak perintah pernikahan dari kaisar… dan juga menuduh Anda, Lady Anastasia, sebagai penyihir yang menghidupkan orang mati.”
Tatapan semua orang tertuju kepada Anastasia.
Ia hanya tersenyum kecil, tak mengelak.
Aloric bersuara, suaranya rendah namun bergema.
“Kaisar mulai takut.”
Rowan mengangguk. “Kekalahan Pangeran Mahkota membuat kaisar kehilangan separuh kekuasaannya. Sekarang ia butuh kambing hitam.”
Anastasia meraih penanda kecil di meja—lambang kekaisaran—lalu menjatuhkannya.
“Jadi kita akan dipaksa memilih antara tunduk… atau melawan?”
Aloric menatapnya dalam-dalam. “Tidak ada tunduk untuk keluarga Silas.”
Jenderal lain menahan napas.
Wajah mereka berubah tegang, tetapi ada api kecil yang menyala—kesetiaan bercampur semangat perang.
“Perintahku sederhana,” lanjut Aloric. “Kita bertahan. Tidak ada pasukan kekaisaran yang akan melewati perbatasan utara.”
Anastasia mencondongkan tubuh, suaranya halus tetapi menusuk.
“Tapi Duke… kekaisaran masih punya satu hal yang bisa mereka gunakan untuk menghancurkanmu.”
Aloric mengerutkan kening. “Apa?”
Anastasia tersenyum tipis.
“Tunanganmu.”
Ruangan langsung membeku.
Sebuah Kenyataan Pahit
Setelah rapat bubar, Aloric berdiri di balik jendela koridor panjang. Bayangan tubuhnya menaungi lantai batu, tampak seperti siluet seorang raksasa yang siap menghancurkan segala sesuatu yang menghalangi.
Anastasia mendekat tanpa suara.
“Kau tidak pernah membicarakan Putri Kaisar,” katanya lembut.
Aloric tidak menoleh. “Karena tidak penting.”
“Tidak penting bagimu, ya.” Anastasia berhenti beberapa langkah darinya. “Tapi penting bagi kaisar. Dia bisa menggunakan putrinya sebagai alasan moral untuk menyerangmu.”
Aloric mengepalkan rahang.
“Pertunangan itu bukan pilihanku.”
“Aku tahu.” Anastasia menatapnya dari samping. “Tapi dunia tidak peduli apa yang kau inginkan.”
Ia menghela napas pelan.
“Duke… kau harus bersiap melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan.”
Aloric akhirnya menoleh. “Apa itu?”
Anastasia menatap matanya dengan tenang, suaranya hampir berbisik tetapi menusuk hati.
“Memutuskan pertunangan itu.”
Aloric terdiam lama.
Sangat lama.
Hanya suara angin dingin yang menjawab.
Saat Bayangan Kekaisaran Bergerak
Di luar kastel, salju turun semakin deras. Namun tidak menyamarkan barisan lampu pasukan kekaisaran yang semakin mendekat. Suara trompet perang terdengar jauh, seperti raungan binatang besar yang kelaparan.
Anastasia memejamkan mata—merasakan denyut sihir kehidupan dalam dirinya merespons rasa takut ratusan orang yang kini mengarah ke perbatasan.
“Duke…”
Ia berbalik. Aloric berdiri di belakangnya, menatap medan salju yang akan segera berubah menjadi medan perang.
“Katakan saja,” kata Aloric.
Anastasia tersenyum tipis, samar, namun mengandung ketegasan seorang wanita yang pernah mati dan hidup kembali.
“Aku akan berdiri di sisi utara bersamamu.”
“Sampai kapan?”
“Sampai kerajaan ini runtuh… atau kita yang runtuh duluan.”
Aloric menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya, ia memejamkan mata sejenak—sebuah pengakuan sunyi bahwa keputusan itu lebih berarti bagi dirinya daripada yang terlihat.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kalau begitu… mari kita hadapi kekaisaran bersama.”
Salju turun lebih deras. Langkah perang telah dimulai. Dan malam itu… kerajaan resmi retak.