NovelToon NovelToon
Demi Apapun Aku Lakukan, Om

Demi Apapun Aku Lakukan, Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duda
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Naim Nurbanah

Kakak dan adik yang sudah yatim piatu, terpaksa harus menjual dirinya demi bertahan hidup di kota besar. Mereka rela menjadi wanita simpanan dari pria kaya demi tuntutan gaya hidup di kota besar. Ikuti cerita lengkapnya dalam novel berjudul

Demi Apapun Aku Lakukan, Om

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naim Nurbanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Hati Wanda berdegup lebih cepat. Wajahnya langsung pucat, tangan yang tadi ingin mengelak mendadak gemetar. Ia tahu, menolak Marcos bukan sekadar kata, tapi taruhan berbahaya. Jangan-jangan, kekecewaan pria itu bisa berubah jadi sesuatu yang tak ia inginkan.

Dia menunduk, berusaha menenangkan diri. Namun, ketakutan itu menggulung seperti ombak di hati yang sulit ditenangkan.

Wanda melangkah perlahan mendekati pria yang berdiri di bawah pancuran, air deras mengguyur tubuhnya hingga basah kuyup. Tangan Wanda sudah terasa licin oleh sabun cair saat dia mulai menggosok punggung tuan Marcos dengan lembut, seolah mencoba meredakan sesuatu yang tak terucap.

Tuan Marcos tiba-tiba berbalik, wajahnya menatap langsung ke arahnya. Mata mereka saling bertemu, dan sejenak waktu serasa membeku, suara air pun seperti lenyap. Dia diam, hanya melangkah perlahan mendekat sampai jarak di antara mereka hampir hilang.

Bibirnya menempel hangat di bibir Wanda, sebuah kecupan lembut yang membuat tubuhnya membeku, terkejut akan perasaan yang tiba-tiba membakar dadanya. Tanpa sadar, Wanda membalas dengan ciuman yang lebih dalam dan penuh semangat, sebuah dorongan liar yang mengejutkan dirinya sendiri.

Mata pria itu melebar, penuh keterkejutan, menatapnya seolah berkata, "Kenapa kamu seperti ini?" Tapi mereka tetap terperangkap dalam keheningan yang terasa begitu intens.

"No, hentikan!" suaranya tiba-tiba memecah keheningan, sambil menarik diri perlahan.

Dia terdiam, membeku di tempat. Apa yang baru saja terjadi? Kenapa dia tiba-tiba berhenti, padahal tadi dia yang memulai? Ada denyut kecewa yang menggelitik di dada, mengusik ketenangan yang mulai dia bangun. Kecewa... mungkin juga ada rasa sakit kecil yang tak dia sangka datang begitu saja. Matanya terpaku menatap wajahnya, berusaha membaca arti di balik pandangannya. Namun sebelum dia sempat bertanya, suaranya sudah terdengar lagi, datar dan membuat hatinya semakin berat.

"Aku harus menghadiri meeting pagi ini. Dan kamu juga tidak boleh terlambat jadi sekretarisku," ucap Tuan Marcos tanpa menoleh, seolah menyampaikan sebuah perintah biasa.

Wanda menelan keras kecewa itu, berusaha mengubur keinginan yang tiba-tiba kandas. Terkadang, wanita harus menanggung rasa pahit meski hanya sebentar.

"Cepat bersihkan tubuhmu! Nino akan bawakan pakaian kerja untukmu," kata Tuan Marcos, memberi isyarat bahwa pagi ini rutinitas lama tetap harus berjalan tanpa cela. Wanda mengangguk pelan, menyembunyikan kekalutan yang masih bersemayam di balik senyum tipisnya.

Senyuman lebar terpancar di antara keduanya setelah semalaman saling berbagi dan bekerja keras bersama. Kini, mereka benar-benar mandi dan membersihkan tubuh masing-masing.

"Semalam, apakah aku memanggilmu dengan nama lain?" tiba-tiba tuan Marcos bertanya pada Wanda. Wanda mengangguk cepat. Pria duda itu menyipitkan matanya.

"Maaf, aku tiba-tiba sangat merindukan almarhum istriku, dan aku melampiaskan perasaan itu padamu," ucap tuan Marcos.

"Tidak masalah, Om! Bukankah tugasku sekarang menjadi wanita kesayangan Om Marcos? Aku siap menemani Om kapan pun, sampai Om merasa nyaman," jawab Wanda.

Namun, pria itu tampak kurang senang dengan kata-kata Wanda, seolah merasa wanita itu menganggap dirinya hanya sebagai pelampiasan semata.

Wanda mengusap wajahnya dengan handuk tipis, busa sampo masih menetes di ujung rambutnya. Dari balik pintu kamar mandi, suara Marcos menyeru,

“Wanda, ayo cepetan mandinya! Aku mau ajak kamu sarapan bareng.”

Pria itu sudah keluar lebih dulu, langkahnya ringan, seperti tak ingin membebani Wanda dengan kerumitannya. Di dalam kamar mandi, Wanda menarik nafas dalam-dalam.

“Aku mulai suka sama om Marcos, ya? Tapi apa ini benar?” gumamnya dalam hati. Matanya menatap bayangan samar di cermin yang berembun.

 “Kita cuma partner ranjang, nggak lebih dari itu. Aku nggak boleh terbawa perasaan.”

Rasa cemburu merayap pelan, hangat namun menusuk, tiap kali Marcos menyebut almarhum istrinya. Apalagi saat Lina, perempuan dari kantornya, tiba-tiba muncul dan terlalu dekat dengan om Marcos. Wanda meremas handuk, seolah ingin meredam kegelisahannya.

 “Kenapa aku harus begini?” pikirnya lirih, sambil membilas sisa busa sabun di lengannya.

Teriakan tuan Marcos memecah pagi itu. "Wanda! Cepat mandinya!"

Suaranya tajam, penuh tekanan. Di depannya, pria itu sudah berpakaian rapi, berdiri tegap dengan ekspresi serius yang sulit ditawar. Wanda mengangguk cepat, suaranya serak,

"Iya, Om!" Dengan sigap dia menyelesaikan mandi besar yang dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Tuan Marcos memang sosok yang disiplin, tak suka menunggu, apalagi jika sudah berhubungan dengan urusan kerja. Wanda menelan ludah, melihat pria itu yang tampak begitu tegas tapi sebenarnya sangat setia. Namun, hati kecilnya terus bertanya-tanya, apakah ia lebih dari sekadar partner ranjang bagi Marcos? Harapan itu, sayangnya, terlalu besar untuknya.

Perhatian tuan Marcos kadang membuatnya melayang, seperti ada harapan yang membumbung tinggi di udara. Apalagi jika dibandingkan dengan Lina, sang tunangan Marcos yang justru terlihat acuh dan dingin terhadap dirinya sendiri. Wanda menunduk, seiring tangan kerjanya mulai mengeringkan rambut basahnya.

"Sepertinya aku memang sulit menembus dinding Marcos," gumamnya pelan,

"Ditambah lagi harus menghadapi Lina yang tak bisa dilawan." Matanya menatap kosong ke cermin, terselip rasa sepi dan ragu yang sulit dihalau.

*****

Wanda tiba-tiba memegangi perutnya yang mual. Jantungnya berdebar tidak menentu, pikirannya hanya tertuju pada satu kemungkinan yang mengerikan.

“Benarkah aku hamil anak Tuan Marcos?” gumamnya lirih, suara yang nyaris tenggelam di antara keraguannya sendiri.

Mata Wanda menatap kosong ke luar jendela, seolah berharap jawaban yang menenangkan datang dari langit. Di sampingnya, Lina menepuk pundaknya perlahan, mencoba menyuntikkan keberanian meski wajahnya sendiri penuh kecemasan.

 “Kita hadapi ini bersama, Wanda,” bisiknya. Namun, di balik kata-kata itu, Lina tahu jika rahasia itu bisa menghancurkan mereka semua.

Tak lama kemudian, Lina menurunkan berat hati pada Kino, pria yang selalu jadi sumber informasi terpercaya mereka. Setelah mendengar kabar itu, Kino menatap Wanda dengan mata berat penuh dilema. Meski hanya menjalankan perintah untuk mengawasi, bahu pria itu merosot kecil, menandakan rasa bersalah yang tak bisa ia sembunyikan. Ketegangan di antara mereka pun menggantung, sulit diabaikan..

Kino duduk menunduk di mejanya, jarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu pelan, pikirannya menggelayut antara tugas dan rasa khawatir pada Wanda.

 "Gimana caranya aku bisa jaga dia, tapi juga nggak gagal di tugas ini?" gumamnya dalam hati.

Sementara itu, Wanda berdiri di depan cermin kamar mandi, tangannya menekan perutnya yang terasa tidak nyaman. Wajahnya mengerut, bibirnya bergetar kecil.

 "Kenapa tiba-tiba perutku kerasa nggak karuan gini? Gimana bisa konsen kerja kalau kayak gini terus?" lirihnya, suara penuh cemas dan frustrasi.

 Dari balik pintu, Lina mengawasi setiap gerak-gerik Wanda dengan tatapan waspada. Matanya terfokus saat Wanda melangkah keluar dari toilet, langkahnya agak pincang. Lina menggeleng pelan, tahu itu tanda Wanda kurang sehat. Beberapa menit kemudian, Wanda mengetuk pintu ruang Kino, napasnya masih agak terengah.

"Kino, aku kayaknya kurang enak badan. Boleh nggak aku pulang lebih awal hari ini?" suaranya mengandung nada lelah, berusaha terdengar tegas tapi juga memohon.

Kino menatap Wanda dengan mata yang sedikit menyipit, alisnya terangkat tipis, menyimpan kecurigaan yang sulit disembunyikan. Diam sesaat, ia mencoba membaca apa yang sebenarnya terjadi.

1
Celin Lin
lanjutkan Thor
Yuyun Yunita
terlalu bnyk kata kiasan... 🤔
Yuyun Yunita
knpby salsa selalu mendorong salwa untuk tidur dikamar ayahnya apakah salsa sengaja untk mengikat salwa dan ayahnya karena salsa tak pernah m3nyukai tunangan ayahnya
Sihna Tur
bagus. lanjutkan Thor
Ika Syarif
Luar biasa
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Momyyy ..
kau ini punya kekuatan super, yaaakk?!
keren, buku baru teroooss!!🤣💪
Xiao Li: beliau ini punya kuasa lima, sekali seeeetttt... langsung melesat. kagak kek kita yang lelet kek keong🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!