Kakak dan adik yang sudah yatim piatu, terpaksa harus menjual dirinya demi bertahan hidup di kota besar. Mereka rela menjadi wanita simpanan dari pria kaya demi tuntutan gaya hidup di kota besar. Ikuti cerita lengkapnya dalam novel berjudul
Demi Apapun Aku Lakukan, Om
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naim Nurbanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Tuan Marcos baru saja melangkah melewati pintu rumah ketika sosok kecil itu tiba-tiba berlari ke arahnya. Salsa, putri semata wayangnya, tanpa ragu memeluk tubuh ayahnya erat-erat, seolah takut terlepas lagi. Wajahnya masih basah oleh sisa tangis, tapi sorot matanya penuh harap.
“Ayah, aku ingin bicara,” katanya manja sambil menggenggam tangan Tuan Marcos erat.
Sejak ibu pergi, ayah selalu jadi dunia Salsa. Namun, kali ini, raut wajah Marcos berubah, dahinya mengerut seperti menyembunyikan beban berat. Sesaat ia terdiam, tapi pelan ia menarik napas panjang.
“Ayo, kita duduk di ruang keluarga dulu,” ucapnya, mengurungkan niat ke kamar lantai atas.
Dengan langkah pelan namun pasti, mereka berjalan bersama, membiarkan udara di rumah itu terisi dengan cerita-cerita yang tak terucap selama ini.
Salsa menelan ludah pelan, hatinya mencurigai sesuatu. "Apakah Ayah sedang ada masalah?" gumamnya dalam hati, melihat raut wajah ayahnya yang berbeda dari biasanya, seperti menyimpan beban yang berat. Namun untuk sementara, ia memilih diam, menyimpan semua pertanyaan itu, berjanji pada dirinya sendiri untuk menunggu saat yang tepat.
Tuan Marcos duduk di sofa, melepaskan sepatu dan kaos kakinya satu per satu dengan gerakan lelah. Jas coklat yang biasanya membuatnya terlihat rapi kini sudah tergantikan oleh kemeja hitam kusut. Matanya menatap Salsa dengan senyum menggoda.
"Oh iya? Mau bicara sama Ayah soal apa? Nilai ujiannya? Atau kamu lagi suka sama teman laki-lakimu di kampus?" godanya, suaranya ringan namun menyimpan tanya. Salsa mengerutkan kening, cepat-cepat menepis,
"Ishh, Ayah! Bukan itu, Ayah salah paham." Tuan Marcos mencondongkan badan, menyipitkan mata penuh penasaran.
"Kalau bukan itu, soal apa dong?" Dengan hati-hati, Salsa menghela napas sebelum akhirnya membuka suara,
"Ayah, ini soal Tante Lina." Secepat kilat, mata Tuan Marcos membulat, ekspresi wajahnya berubah tegang.
"Tante Lina? Ada apa lagi dengan dia?" tanyanya dengan nada suara yang tidak biasa, penuh kekhawatiran dan sedikit amarah yang tersembunyi.
Pria karismatik itu, meski sudah berusaha tampak tenang, sulit menyembunyikan rasa tidak sukanya pada wanita itu, apalagi sejak hatinya beralih pada Wanda.
"Tante Lina bicara pelan-pelan di ruang tamu, sebelum Ayah sampai rumah."
“Kamu tahu, aku dengar Ayah sudah mengkhianati Tante,” katanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
“Apa benar Ayah sudah punya wanita lain? Calon ibu tiri kamu, mungkin?”
Salsa duduk diam, napasnya jadi sedikit tercekat. Di dalam hati, dia menahan perasaan campur aduk, penasaran, takut, tapi juga bingung. Ayah Marcos masuk ruangan, langkahnya tenang tapi matanya tajam menatap Tante Lina. Senyum tipis terukir di bibirnya, tapi Salsa sulit menebak maksudnya.
“Sementara ini, Ayah belum mau menjalin hubungan serius dengan siapa pun,” katanya pelan, suara yang mengandung ketegasan tapi juga kehangatan yang aneh.
“Kalau ada dekat dengan seseorang, itu belum berarti apa-apa.”
Salsa memandang Ayah, mencoba mencari kebenaran di balik kata-kata yang terdengar damai tapi menyisakan tanya besar di dadanya.
Namun, meskipun Salsa mencoba percaya pada kata-katanya, ada bagian dirinya yang merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu. Wanda, wanita yang sering disebut-sebut belakangan ini, bukanlah sosok asing baginya. Meski Ayah selalu menganggap hubungan mereka tidak lebih dari sekadar... kesepakatan sederhana tanpa emosi mendalam, dia merasa seolah ada dinding yang membatasi mereka untuk benar-benar memahami apa yang ada di dalam hatinya.
Salsa tahu, Ayah nya masih mencintai mendiang Ibu. Itu jelas terlihat dalam caranya memandang foto-foto lama mereka atau menghabiskan waktu di ruang kerjanya yang penuh dengan kenangan bersama Ibu. Tapi benarkah ia hanya mencari kesenangan sesaat dengan Wanda, tanpa ada rasa bersalah pada ingatan tentang cinta sejati yang pernah ia miliki? Benarkah itu alasan yang bisa diterima?
Salsa menatap Ayah nya yang duduk di sudut ruang, wajahnya tampak kosong meski matanya menatap jauh ke luar jendela. Dia tak tahu pasti apa yang berputar dalam benaknya, tapi ada luka lama yang masih membekas di sana, di balik senyum tipisnya. Cinta pertama yang tak tergantikan itu sepertinya jadi bayangan yang tak pernah benar-benar pergi. Salsa menarik napas pelan, lalu mengumpat keberanian.
"Ayah, tolong jangan gantungin perasaan Tante Lina yang benar-benar tulus mencintai Ayah," suaraku agak berat tapi tegas, seperti anak dewasa yang sedang menasihati orangtuanya.
"Kalau Ayah cinta, cepetan nikahi Tante Lina! Jangan bikin Tante Lina sakit hati dan kecewa." Tuan Marcos terkekeh pelan, menoleh padaku dengan senyum setengah geli, setengah haru.
"Salsa sayang, Ayah belum siap menikah," jawabnya sambil mengusap dagu.
"Ingat, kenangan sama ibu kandungmu itu masih jelas terukir di hati Ayah. Itu nggak gampang diganti. Lagian, kamu kan belum paham betul apa itu cinta sama lawan jenis. Hehehe."
Salsa cuma bisa menatapnya, setengah kesal, setengah mengerti. Rasanya, aku masih kalah usia dalam hal patah hati.
Salsa menyipitkan mata, bibirnya bergetar sebelum akhirnya memprotes, "Ayah, aku sudah besar! Aku tahu apa itu cinta!"
Suara kerasnya tak mampu menyembunyikan kekesalan yang menggunung. Dari sudut ruangan, tawa terbahak-bahak Tuan Marcos pecah, suaranya nyaring menggema. Salsa merengut, dagunya naik turun, lalu dengan langkah gesit berbalik dan berlari menuju kamar, pura-pura merajuk sambil menekan dadanya seakan menahan amarah.
"Tunggu, Salsa sayang! Ayah mau bicara," teriak Tuan Marcos sambil menahan tawanya, matanya berbinar geli memandangi anak gadisnya yang begitu mudah terpancing emosi. Ia menepuk dahinya pelan, lirih bergumam,
"Lina itu benar-benar lihai memanfaatkan putriku untuk mendekatkanku padanya. Kekanakan sekali wanita itu."
Senyum sinis terbentuk di bibirnya, menambah ketegangan yang tersisa di ruangan itu.
*****
Malam itu, Marcos melangkah masuk ke klub dengan langkah berat. Sekali lagi, dia tenggelam dalam gelas demi gelas minuman yang menyesakkan. Di sudut ruangan, Lina mengintip dari balik tirai, mendengar kabar dari Kino, asisten pribadinya. Walau Kino tak ikut, ia baru saja menelepon Marcos untuk mengingatkan jadwal padat esok hari.
Malam ini, langkah Marcos berat bagai membawa beban dunia. Tubuhnya tersandar ke bar, gelas demi gelas terisi dan tumpah, menyatu dengan kepedihan yang menyesak di dadanya. Di balik tirai gelap, Lina menatap penuh was-was, matanya menyimpan rahasia dari kabar yang baru saja disampaikan Kino, asisten setianya. Meski Kino tak ikut malam ini, suaranya di telepon masih membayang di kepala Marcos, peringatan tentang jadwal brutal esok hari yang seolah menambah berat rantai dalam hidupnya. Hening itu berbicara, menambah jurang antara mereka yang perlahan melebar tanpa bisa dihentikan.
“Marcos, jangan kebanyakan minum, sayang,” Lina mencoba mendekat, lengannya melingkari leher pria duda itu dengan harap. Tapi tangan Marcos langsung menyingkir dengan kasar, membuat Lina terpaku seolah ditolak tiba-tiba.
“Itu urusan gue, Lina! Dari mana lo tahu gue di sini?”
Marcos mengerutkan kening, suaranya dingin penuh kemarahan yang tersimpan. Hadirnya Lina membuat dadanya sesak, mengingatkannya pada istri tercinta yang sudah tiada karena kecelakaan. Sunyi dan berat, malam itu membawa kenangan yang menekan hati pria itu.
kau ini punya kekuatan super, yaaakk?!
keren, buku baru teroooss!!🤣💪