Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Crush
Vero merendahkan lagi tubuhnya agar tak ketahuan mengintip. Perlahan-lahan dia pun mulai berjalan ke lorong lain. Matanya langsung berbinar-binar saat melihat Sari berjalan di depannya sekarang di antara kerumuman manusia.
"Bu Sari," panggil Vero, tak peduli wanita yang di sapanya kepala ruangan. Secepat kilat dia menghampiri Sari.
Sari yang sudah mulai terbiasa dengan sikap Vero hanya bisa menghela napas berat, dan perlahan menghentikan langkah.
"Ada apa?" tanya Sari melirik malas ke arah Vero sekilas.
Tak seperti biasa, Vero pagi ini malah tersenyum lebar seperti orang yang baru saja mendapatkan uang kaget. Dan tentu saja Sari keheranan bin penasaran.
"Bu saya punya kabar loh tentang crush Ibu, mau dengar nggak?"
Kening Sari mulai berkerut kuat. "Crush apa maksudmu? Jangan aneh-aneh, aku ini janda ngapain punya Crush segala, ada-ada saja deh."
Mendengar balasan Sari, Vero tersenyum penuh arti. "Masa sih? Crush Ibu dokter Bobby, 'kan?"
Langsung melotot mata Sari, melirik ke kanan dan ke kiri lalu menarik Vero ke lorong lain. Vero hanya diam saja, masih tersenyum sambil mengikuti Sari.
Tak jauh dari lorong yang tadi, Sari menghempas tangan Vero seketika. "Jangan asal bicara kau, kali ini kau sangat keterlaluan, Ibu nggak suka sikapmu yang makin ngelunjak, masih syukur kau nggak dipecat, itu semua gara-gara aku yang kasihan sama kau dan mohon sama pihak HR," ucapnya, menatap tajam Vero.
Vero berdecak kesal. "Duh Bu, ya maaf, lagian aku cuma mau beritahu gosip hangat sama Ibu tentang dokter Bobby kok, sudahlah nggak usah malu, aku tahu Ibu suka sama dokter Bobby, aku bisa jaga rahasia Ibu."
Sari semakin melayangkan tatapan tajam kepada Vero. Benar, selama ini dia memang memiliki ketertarikan terhadap Bobby daripada Jayden. Namun, dia tak berani mengakuinya karena merasa malu dengan statusnya sebagai janda. Jika Jayden mungkin hanya hasrat untuk memuaskan khayalannya, apalagi Jayden mempunyai kekasih dan tidak mungkin bisa digapai. Sari heran mengapa Vero bisa tahu jika dia menyukai Bobby. Padahal dia sudah berusaha menyembunyikan ketertarikannya.
Andai saja, Sari tahu bila Vero mengetahui hal tersebut dari pengamatannya sendiri selama ini. Sari kadang kala tanpa sadar menatap Bobby terlalu lama jika mereka bertatap muka.
"Diam kau, aku nggak peduli, aku mau kerja! Lihat bentar lima belas menit lagi jam kerja kita dimulai, ayo ke ruangan!"
Sari hendak melengoskan muka. Namun, Vero menahan tangannya tiba-tiba, yang mulai muak dengan respons Sari saat ini.
Sari tersentak, ingin menghempas tangan Vero, tapi saat mendengar perkataan gadis muda ini, Sari terpaku.
"Bu, sudah nggak usah marah-marah, tapi menurutku Ibu harus dengar ini, tadi aku lihat dokter Casey sama dokter Bobby pegangan tangan di taman."
"Pegangan sama dokter Casey?" Semula Sari terlihat tak mau mendengarkan, tetapi sekarang malah penasaran dan dadanya terasa mulai panas.
"Iya, makanya aku kasi tahu Ibu, biar nggak kalah start, apalagi status dokter Casey masih single dan ditambah lagi sepupu dokter Jayden, apa Ibu nggak cemburu? Maksudku Ibu hanya diam saja gitu waktu tahu ada wanita yang mau dekat sama crush Ibu?"
Sari mendadak terdiam.
"Eh ada apa ini? Kok malah di sini, sebentar lagi harus sudah di ruangan kan?"
Sari dan Vero terbelalak kala Hannah tiba-tiba muncul dari lorong lain. Wanita itu tak mudah terdeteksi, kadang hadir seperti hantu tanpa permisi.
Sari dan Vero tampak gelagapan.
"Eh dokter Hannah, iya sebentar lagi kami ke ruangan, ini Vero lagi cerita tentang keluarganya, biasalah anak muda," kilah Sari, berharap Hannah tak mendengar obrolan mereka tadi.
Hannah mangut-mangut sambil memandang Sari dan Vero bergantian dengan mimik muka serius. "Oh begitu, tunggu apa lagi pergilah, aku juga mau pergi ke ruanganku, selamat berkerja."
Vero enggan menimpali, hanya melempar senyum kaku sambil mencolek sedikit tubuh Sari.
"Iya Dok, yuk Vero." Sari pun mengajak Vero berjalan ke lorong menuju ruang mereka.
Meninggalkan Hannah masih menatap serius punggung Sari dan Vero.
"Crush? Siapa crush bu Sari ya, hmmm," gumam Hannah, sempat mendengar obrolan akhir Sari dan Vero.
****
Dari pukul delapan pagi sampai sore, rumah sakit selalu ramai pengunjung. Pasien dan keluarga pasien datang silih berganti dengan berbagai diagnosa penyakit.
Menjelang petang, beberapa dokter sudah pulang ke rumah termasuk Casey yang saat ini melangkah masuk ke rumah dengan wajah lesu. Selama berkerja Casey selalu mendapat shift pagi, shift malam selalu diambil alih Bobby.
"Sore eh malam Non Casey," sapa Lala, di dekat tangga.
"Malam juga La, Jayden sudah pulang?" tanya Casey sambil melebarkan mata. Merasa aneh karena menanyakan Jayden pada Lala tiba-tiba.
Casey heran dengan dirinya sendiri, mengapa seolah-olah mengkhawatirkan Jayden. Padahal Jayden sama sekali tak memikirkannya.
Lala keheranan dan mulai menggaruk kepala. "Hehe, belum Non, apa Non nggak ketemu sama Den Jayden di rumah sakit," katanya, terlihat mulai khawatir dengan hubungan majikannya ini.
Casey tersenyum kikuk. Bagaimana mau berbicara, kalau sudah di rumah sakit semuanya sibuk masing-masing. Kalau pun bertemu Jayden, lelaki itu malah melayangkan tatapan tajam. Seperti tadi sore ketika tak sengaja berpapasan saat sama-sama mendorong bed pasien, tatapan Jayden seolah-olah ingin membunuhnya.
"Ketemu sih, sudah nggak apa-apa, aku ke atas dulu, oh ya nggak usah masak banyak malam ini, aku sudah kenyang, masak saja untuk kalian makan."
"Oke Non."
Setelah berkata demikian, Casey mulai menapaki tangga demi tangga, meninggalkan Lala di bawah sana menatap kepergiannya.
"Lala!"
"Eh ayam ayam ayam!" Lala terkejut kala Tarno tiba-tiba menepuk pundaknya.
Tarno terkekeh pelan. "Nggak ada ayam La."
Lala mencibir sambil mengerling tajam. "Ish."
"Non Casey ngomong apa samamu?" tanya Tarno penasaran, sempat melihat Casey dan Lala berinteraksi tadi.
"Non Casey nanyain Den Jayden sudah pulang atau belum terus bilang masaknya untuk kita-kita saja, dia masih kenyang."
"Hah? Aku nggak salah dengar Non Casey nanya Den Jayden sudah pulang, bukannya mereka satu tempat kerja," balas Tarno, tampak keheranan.
Lala mengedikkan bahu sejenak, lalu saling lempar pandang dengan isi pikiran berbeda-beda.
Sementara itu di lantai atas, Casey dibuat kebingungan ada nomor tak di kenal meneleponnya sekarang.
"Siapa ya?" Sebelum mengangkat Casey menatap sesaat layar gawai tersebut. Lalu mengeser tombol hijau.
"Hallo."
"Casey ini aku."
Casey terbelalak, jantungnya berdetak kencang kala mendengar suara berat yang akhir-akhir ini membuatnya menangis dalam diam, tiba-tiba menghubunginya.
"Iya, kenapa?" Casey mencoba bersikap biasa saja. Walau sebenarnya senang bukan main.
"Sudah sampai rumah?"
"Sudah."
Singkat dan padat balasan Casey. Dia tak mau menunjukkan ketertarikannya. Hei, wanita itu dikejar, bukan mengejar.
Seketika hening, Casey mendadak resah. Gengsinya tinggi sekali, ingin bertanya tapi enggan, apalagi teringat Jayden tadi menatapnya sangat tajam.
"Bagus, aku nggak bisa pulang ke rumah malam ini, ada pasien kecelakaan parah baru masuk."
"Oke."
Percakapan itu mendadak canggung kembali. Di ujung sana Jayden bingung harus membalas apa, karena selama ini Dea lah yang selalu mencari topik obrolan. Sementara Casey sekarang hanya diam saja, Jayden mulai tak nyaman.
Sedangkan Casey tengah berperang dengan batinnya sendiri untuk bertanya balik atau tidak.
"Aku tutup dulu ya, selamat malam."
"Malam."
"Jayden!"
Casey terkejut kala mendengar suara yang tak asing di ujung sana.
Suara Dea.
Langsung panas dada Casey. Dia hendak membuka suara tapi Jayden sudah terlebih dahulu menutup panggilan.
Casey mendadak resah dan gelisah. "Tenanglah Casey, Jayden kan lagi di rumah sakit, mungkin Dea ..., eh kan ini bukan jamnya manajemen rumah sakit di sana."
Casey semakin gelisah dan disadarkan dengan satu fakta bahwa Dea seharusnya sudah pulang.
Malam itu Casey akhirnya tak bisa tidur, memikirkan Dea dan Jayden di rumah sakit, hingga pada dini hari dia baru saja memejamkan matanya.
Keesokan harinya, masih shift pagi dengan hati yang gelisah, Casey terpaksa berangkat berkerja.
Sesampainya di sana, Casey buru-buru melangkah menuju mesin fingerprint guna mengisi absensi. Namun, tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang berjalan sama-sama ke arah mesin tersebut.
Casey terkejut, dengan cepat melirik ke samping, melihat Dea ada di sekitarnya.
"Astaga, maafkan aku dokter Casey, aku buru-buru, oh ya mumpung ketemu di sini, aku titip calon suamiku padamu sebentar ya," katanya.
Membuat mata Casey membola dengan ucapan ambigu Dea.
"Apa maksudmu?"
Dea seketika menunjukkan ekspresi kaget. "Ya ampun aku baru ingat, sebenarnya Jayden menyuruhku merahasiakan ini, tapi apa boleh buat, jadi begini aku sudah tahu kok kalau kau istri Jayden, dan Jayden bilang sama aku akan menceraikan kau nanti."