NovelToon NovelToon
Syakila: Sandiwara Cinta

Syakila: Sandiwara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Ibu Tiri / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:51.7k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Hidup Syakila hancur ketika orangtua angkatnya memaksa dia untuk mengakui anak haram yang dilahirkan oleh kakak angkatnya sebagai anaknya. Syakila juga dipaksa mengakui bahwa dia hamil di luar nikah dengan seorang pria liar karena mabuk. Detik itu juga, Syakila menjadi sasaran bully-an semua penduduk kota. Pendidikan dan pekerjaan bahkan harus hilang karena dianggap mencoreng nama baik instansi pendidikan maupun restoran tempatnya bekerja. Saat semua orang memandang jijik pada Syakila, tiba-tiba, Dewa datang sebagai penyelamat. Dia bersikeras menikahi Syakila hanya demi membalas dendam pada Nania, kakak angkat Syakila yang merupakan mantan pacarnya. Sejak menikah, Syakila tak pernah diperlakukan dengan baik. Hingga suatu hari, Syakila akhirnya menyadari jika pernikahan mereka hanya pernikahan palsu. Syakila hanya alat bagi Dewa untuk membuat Nania kembali. Ketika cinta Dewa dan Nania bersatu lagi, Syakila memutuskan untuk pergi dengan cara yang tak pernah Dewa sangka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria dibalik topeng

Pelan namun pasti, Zara menaiki tangga dengan jantung berdegup kencang. Atmosfer langsung berubah. Dingin dan aura mencekam langsung menyergap. Terutama, saat langkah Zara tanpa sadar malah membawanya menuju ke depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna hitam yang tidak tertutup rapat.

Hatinya memberontak, meminta dia untuk segera pergi. Namun, otaknya malah memerintahkan sebaliknya.

Tangan putihnya mulai menyentuh gagang pintu itu. Pelan, didorongnya pintu yang tidak tertutup rapat itu.

Dan...

Grep.

Seseorang tiba-tiba mencengkram kedua bahunya, menariknya masuk ke dalam ruangan, lalu memojokkan tubuhnya di dinding, tepat di sebelah kiri pintu yang kini sudah ditutup rapat.

"Ternyata, masih ada perempuan matre lain, rupanya. Ku pikir, sudah habis," desis laki-laki dengan topeng hitam itu.

Matanya terlihat sangat tajam bagai seekor elang yang siap mencabik mangsanya. Gaya rambut comma hair mullet itu membuat auranya terlihat seperti anak orang kaya yang nakal.

"Ma-maksud Anda, apa?"

"Jangan pura-pura tidak tahu!" Laki-laki itu mencekik leher Zara. Mata setajam silet itu tampak memerah. Memancarkan kemarahan yang luar biasa.

"Sa-saya memang tidak tahu," timpal Zara. Napasnya mulai sedikit sesak. Tenggorokannya sedikit sakit karena ditekan secara perlahan. Semakin lama semakin kuat.

"Kamu pikir, kamu akan jadi istriku? Heh, mimpi!"

Brak!

Zara reflek membeku saat tinju lelaki itu mengenai tembok yang hanya berjarak sekitar tiga inci saja dari wajahnya.

Dan, belum sempat keterkejutan itu hilang, laki-laki itu kembali memberi kejutan yang lain. Dia mendorong kasar Zara hingga jatuh diatas sofa.

Lalu, dia mendekat dengan cepat. Menancapkan sebilah pisau di sandaran sofa, yang juga memotong beberapa helai rambut dari perempuan itu.

"Bagaimana? Masih berani bermimpi untuk menjadi Nyonya kaya?" tanya lelaki itu.

Zara sekuat tenaga berusaha menenangkan dirinya. Pantas saja, gadis-gadis itu berlarian keluar sambil menangis ketakutan.

Ternyata, yang mereka hadapi adalah laki-laki gila seperti ini.

"Se-sepertinya, ada kesalahpahaman," ucap Zara dengan suara gemetar.

"Satu-satunya kesalahpahaman yang terjadi adalah... kamu berani memimpikan sesuatu yang tidak akan pernah kamu dapatkan. Ingin jadi istriku? Memangnya, kamu punya nyawa berapa, hah?"

Laki-laki itu kemudian berdiri tegak. Dia menarik lengan Zara dengan paksa kemudian mendorongnya kembali hingga jatuh ke lantai.

"Keluar!" titahnya dengan suara dingin.

Zara mengembuskan napas dengan kasar. Dia berusaha berdiri meski lututnya masih terasa gemetar.

"Siapa juga yang mau jadi istrimu," sungut Zara kesal. Dia berbalik, buru-buru hendak meninggalkan tempat itu.

Perasaan, dia tidak bermimpi buruk tadi malam. Tapi, kenapa harinya sial sekali?

"Kau bilang apa?" tanya laki-laki itu seraya berkacak pinggang.

Zara hanya menoleh sebentar kemudian mendekat ke arah pintu. Langkahnya sedikit pincang. Mungkin, kaki kirinya sempat terkilir saat laki-laki itu mendorongnya hingga jatuh.

"Tidak bilang apa-apa," jawab Zara. "Sekarang, tolong buka pintunya!"

Lelaki itu menatap Zara cukup lama. Dari sekian banyaknya perempuan yang pernah bertemu dengannya di ruangan itu, hanya Zara yang tidak meneteskan air mata.

Gadis itu masih berusaha bersikap biasa-biasa saja meski sebenarnya dia sedang sangat ketakutan.

Lihat saja! Pintu itu sebenarnya tidak terkunci. Tapi, dia tidak bisa membukanya karena tangannya lemas dan gemetaran.

"Kau cukup hebat juga. Sudah ketakutan begitu, tapi masih sok berani."

Laki-laki bertopeng itu duduk di sofa. Satu kakinya dinaikkan ke kaki yang satunya. Kedua lengannya terentang diatas sandaran sofa.

"Saya ke sini hanya untuk melamar jadi pelayan. Jadi, tolong jangan persulit saya! Kalau Anda memang tidak mau saya bekerja di sini, bilang baik-baik! Tidak perlu melakukan hal segila ini."

"Kau... ke sini untuk jadi pelayan?" tanya laki-laki itu dengan nada suara yang terdengar sedikit terkejut.

"Tentu saja," angguk Zara. "Bukannya, keluarga kalian sedang mencari pengganti untuk pelayan yang baru saja mengundurkan diri? Saya ke sini untuk mengambil posisi itu."

"Kalau memang melamar jadi pelayan, kenapa malah naik ke sini?"

Zara menghela napas panjang. Dia membungkuk sebentar. Mengelus-elus kedua lututnya agar berhenti gemetar.

"Orang-orang yang ada di lantai bawah yang meminta saya untuk naik ke sini."

Lelaki itu menghela napas panjang. "Kau tidak menjelaskan kalau kau ke sini untuk melamar jadi pelayan?"

Zara menggeleng. "Tidak ada yang mau dengar," jawabnya.

Kini, dia merosot dan duduk di lantai. Pergelangan kaki kirinya semakin terasa sakit.

"Kau... benar-benar datang untuk jadi pelayan?" Lelaki itu bertanya sekali lagi.

Zara mengangguk. "Iya. Sekarang, bisa tolong biarkan saya keluar? Saya harus pulang."

Tatapan matanya tampak memelas. Lelaki yang duduk di sofa itu seketika jadi goyah. Tingkat kewaspadaannya perlahan menurun.

"Ada apa dengan kakimu?" tanya lelaki itu.

Dia berdiri. Mendekat ke arah Zara namun gadis itu justru dengan cepat berusaha menghindar.

"Jangan pukul lagi!" pekik gadis itu. "Saya benar-benar tidak memiliki niat lain. Jadi, tolong biarkan saya pergi."

Lelaki itu menarik napas panjang. Dia menatap Zara untuk beberapa detik sebelum memutuskan untuk menggendongnya dan mendudukkan dia diatas sofa.

"Anda mau apa lagi?" tanya Zara waspada.

"Kakimu terkilir. Harus diobati," jawab lelaki itu.

"Tidak per... lu." Ucapan Zara tertelan di tenggorokan saat dia melihat lelaki itu membuka topengnya.

Mata Zara sedikit melebar. Jujur saja, lelaki itu adalah lelaki tertampan yang pernah Zara temui seumur hidupnya.

Matanya setajam elang. Alis tebal, hidung mancung, bibir tipis, serta dagu belah dua. Tubuhnya terlihat kurus, namun Zara tahu jika otot di perut serta lengannya terbentuk dengan sempurna.

Akhh!!!

Saat dirinya sedang terpana, lelaki itu tiba-tiba memutar pergelangan kakinya.

"Sakit," ringis Zara.

Namun, lelaki itu malah tersenyum kecil. "Kau sedang memikirkan apa? Apa baru pertama kali melihat pria tampan?" tanyanya seraya duduk di ujung ranjang dengan sprei hitam diatasnya.

"Cih, tampan kalau suka bersikap kasar pada perempuan juga buat apa? Tidak ada gunanya," gerutu Zara.

"Kau sedang mengataiku?" Ekspresi lelaki itu mulai serius lagi.

"Itu kenyataan," timpal Zara. Buat apa bersikap sopan? Toh, tidak diterima juga, kan?

"Aku baru saja menyembuhkan kakimu yang terkilir. Tapi, begini caramu berterimakasih?"

"Kaki saya terkilir juga karena Anda," balas Zara.

"Sekarang, tolong buka pintunya!" lanjutnya.

"Buka sendiri! Aku bukan pelayan mu."

Sedikit susah payah, Zara berdiri kemudian berjalan pelan-pelan menuju pintu. Sekali putar, pintu itu langsung terbuka.

Gubrak!

Tiga orang langsung jatuh ke dalam kamar. Sepertinya, mereka menguping didepan pintu sejak tadi.

"Mami?" seru lelaki itu.

"Ah, anakku!" balas Nyonya yang tadi memerintahkan Zara untuk naik ke atas.

"Apa yang Mami, Paman Din, dan Bibi Nath lakukan di sana? Menguping?" tanya lelaki itu.

"Ka-kami hanya tidak sengaja lewat. Iya kan?" tanya sang Ibu kepada dua orang yang berdiri di belakangnya.

"Ya, itu benar," angguk pria tua dengan kepala botak dan janggut putih itu.

"Kalian pikir, bisa membodohi aku, ya?" Lelaki itu mendengkus kasar.

"Anakku, maaf! Mami hanya penasaran dengan aktivitas kalian berdua. Masalahnya, dia adalah perempuan satu-satunya yang bisa bertahan lebih dari lima menit didalam kamarmu."

"Kenapa Mami mengirimkan seorang pelayan ke kamarku? Ku pikir, dia perempuan matre ke sekian yang berniat Mami jodohkan denganku. Makanya..."

Lelaki itu tak melanjutkan ucapannya. Dia hanya menatap Zara sambil mendesah samar. Akibat kesalahpahaman, dia sudah melukai gadis yang tidak bersalah.

"Pelayan? Mana?"

"Dia," tunjuk lelaki itu pada Zara.

Nyonya itu menatap ke arah Zara dengan sedikit terkejut.

"Kamu... Ke sini bukan untuk melamar jadi istrinya Arthur?"

"Tidak," geleng Zara. "Saya ke sini untuk jadi pelayan. Anya yang merekomendasikan saya."

"Astaga!" Nyonya itu menepuk jidatnya. "Ah, maaf! Aku lupa. Kamu... Zara yang itu?"

Mau tak mau, Zara mengangguk patah-patah.

"Maaf! Aku tidak tahu kalau kamu adalah Zara yang direkomendasikan oleh Anya untuk menggantikannya. Masalahnya, kamu sangat cantik dan masih sangat muda. Makanya, aku berpikir kalau kamu ke sini untuk melamar jadi calon menantuku."

Nyonya itu memeluk Zara dengan tulus sebagai permintaan maaf.

"Astaga... sepertinya, Arthur sudah sangat keterlaluan. Bisa-bisanya, dia menyakitimu sampai separah ini."

"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya baik-baik saja."

"Perkenalkan, aku Eria Avilas. Dan, dia putraku, Arthur Avilas."

Zara tersenyum kemudian mengangguk sebagai bentuk sapaan.

"Aku benar-benar minta maaf atas kesalahpahaman ini. Semuanya salahku. Bagaimana, kalau aku memberimu uang sebagai bentuk ganti rugi? Seratus juta, bagaimana?"

Mata Zara membulat sempurna mendengar nominal itu.

"Sa-saya hanya luka ringan. Tidak perlu," tolak Zara sungkan.

"Walaupun hanya luka ringan, tapi psikis mu pasti juga ikut terganggu. Arthur pasti mengancam mu menggunakan pisaunya, kan?"

Itu benar juga. Psikis Zara memang sedikit terganggu gara-gara perbuatan lelaki itu.

"Tidak usah berpikir panjang. Terima saja uang ganti ruginya, ya! Kalau tidak, nanti aku akan selalu merasa bersalah."

"Tapi..."

"Pasti pura-pura sok suci dengan menolak uang itu," gumam Arthur seraya tersenyum sinis. "Permainan tarik-ulur untuk mendapatkan uang lebih banyak, sudah sering aku lihat," lanjutnya bermonolog.

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata, gadis ini sama saja dengan gadis-gadis kaya yang pernah datang ke rumahnya. Mereka berpura-pura memainkan drama menolak ganti rugi hanya untuk mendapatkan jumlah yang jauh lebih besar.

"... Nyonya ikhlas, kan?" tanya Zara melanjutkan kalimatnya.

"Tentu saja ikhlas," jawab Nyonya Eria.

"Kalau begitu, saya tidak akan sungkan. Terimakasih, Nyonya. Uang seratus juta itu akan saya ambil."

Eh?

Arthur terkejut bukan main. Gadis itu... menerima uang pemberian Ibunya tanpa drama yang panjang?

Dia... Tidak salah dengar, kan? Bahkan, jika gadis itu meminta sepuluh kali lipat, sang Ibu pasti bersedia memberikannya.

"Dia bodoh atau memang sangat polos?" gumam Arthur tak habis pikir.

1
Ariany Sudjana
kamu kenapa masih memikirkan Shakila dewa? kan sudah ada si jalang murahan Nania itu, yang dulu selalu kamu bela? dan kamu tidak pernah percaya sama Shakila. Shakila sudah bahagia dengan laki-laki pilihannya, jangan kamu ganggu lagi, urus saja Mak Lampir kesayangan kamu itu
Ariany Sudjana
hahaha Morgan dan rona, siap-siap jadi gembel kalian, apalagi itu jalang murahan, yang rela berselingkuh dengan suami orang, supaya jadi nyonya besar? ternyata hanya jadi gembel... kamu bilang Erick lebih berpendidikan, karena kuliah di luar negeri ? tapi ga bisa apa-apa tuh, kalah kelasnya dibanding Arthur, yang kamu bilang hanya punya bengkel
Ariany Sudjana
hahaha skak mat buat kamu rona 🤣🤣🤭🤭 kamu pikir semua aset Morgan akan jadi milik kamu ?
Vie
karena waktu kebersamaan dengan istri sah tentunya tidak akan sependek dengan kebersamaan selingkuhan.... istri sah pertama akan memulai membentuk keluarga mulai dari nol sampai keberhasilan dan kesuksesan datang, sedangkan selingkuhan hanya berada pada tahap sukses dan berhasil itu sudah diraih, makanya walaupun kamu bilang sangat mencintai selingkuhan, tetap saja didalam hatimu yang paling... paling dalam tidak akan bisa berbohong, itu hanya sekedar nafsu sesaat saja... dikemudian hari hanya akan menjadi sesal...
mariammarife
kami akan berhadapan dgn Arthur,dewa bila kau mengusik syakilla alias Zara
astr.id_est
astaga demi dewa... sungguh menyedihkan
partini
uhhh otw face to face,,dewa sama viola Thor secara dewa kan dulu oon cinta buta ma Kunti
Seela New
mantulll mantull mommy Eriaaaa
astr.id_est
mantep Arthur
astr.id_est
keren mami eria
Aidil Kenzie Zie
si jalang bakal hidup melarat makan tu sayang
partini
semoga kalian pasangan begundal lendir jadi gembel
kymlove...
mampus kau!!! gembel2 lah kau valakor gila,!!!
Tini Uje
aduhhh..selamatt jdi gembel ronaria 🤣🤣
partini
Rona Rian berharap jadi ratu malah jadi gembel,,aduh mommy kenapa ga dari dulu malah nunggu 10th anda ga kasihan sama Arthur kecewa selama 10 th
partini
lah ternyata bokap mu suka fefek Thor Arthur, penyesalan dari Hongkong kalau nyesel harusnya di selidiki tuh GUNDIK mu dasar BEGE plus idiot
Ariany Sudjana
kan namanya juga pelakor Morgan, kalau sakit, pasti ngakunya waktunya ga lama lagi, padahal masih segar bugar 🤣🤣🤭🤭 kamu dibohongi Morgan
ayudya
siapa tu... yg datang.
Mundri Astuti
wahhh siapa tuh
partini
nah ini laki atau perempuan yg datang kalau laki bisa bisa saling serang perempuan emmmma apa laki laki jiwa prempuan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!